
"Abel belum turun ya, Bik?"tanya Silvia pada Pelayan yang tengah sibuk memasak sarapan. Biasanya saat ia turun, Bella sudah berada di dapur.
"Nona Abel dan Tuan Muda Ken sudah berangkat ke kantor, Nona Silvia," jawab Pelayan tersebut.
"Berangkat ke kantor?" Silvia melihat jam tangannya. "Sepagi ini?" Waktu masih menunjukkan pukul 05.45.
Pelayan tersebut mengangguk. "Ah aku mengerti." Silvia mengangguk kecil. Ia ingat bahwa Bella merangkap tugas ganda, jadi wajar sepagi ini sudah berangkat.
Silvia melangkah untuk minum. Ia memperhatikan Pelayan yang masih sibuk memasak. Biasanya ia hanya membantu Bella. "Nona ingin ikut masak?"tawar Pelayan tersebut.
"Emm … kalau ada yang salah kasih tahu ya, Bik," ujar Silvia sebelum akhirnya menggantikan posisi bibi masak. Sedang bibi masak melakukan tugas lain dengan memantau Silvia yang masih tampak tegang.
Karena sudah setengah jalan, maka waktu Silvia di dapur cukup singkat. Pukul 06.10, ia sudah kembali ke atas untuk bersiap berangkat ke kantor dengan suaminya.
"Loh yang lain mana?" Nada tanya itu begitu datar. Brian menatap meja makan yang kosong, hanya ia, Dylan, dan Silvia serta pelayan yang menunggu tak jauh dari keduanya.
"Abel dan Ken sudah berangkat lebih dulu, Mas," jawab Silvia.
"Oh." Hanya itu yang sahutan dari Brian. Ia kemudian menyantap sarapannya.
"Kak Abel benar-benar sangat sibuk," gumam Dylan. Sedikit sedih karena tak punya banyak waktu untuk berbincang dengan Bella. Silvia menyadari kemurungan itu, Brian juga tapi ditutupi dengan wajah datarnya. Namun, Silvia tak tahu bagaimana caranya untuk menghibur Dylan.
*
*
*
Bella dan Ken berangkat lebih pagi untuk menjenguk Nesya. Kemarin, perkiraan dokter, Nesya akan sadar sekitar pukul 06.00 pagi.
Oleh karenanya setelah subuh Bella dan Ken langsung menuju rumah sakit.
Benar saja! Perkiraan dokter tidak meleset. Bella dan Ken tiba di rumah sakit lima menit lebih awal dari jam perkiraan.
Baru saja Bella duduk dan menggenggam jemari Nesya. Mata Nesya terbuka namun tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkan Nesya. Ia diam dengan menatap langit-langit ruangan.
Panggilan Bella pun ia abaikan. Bella yang cemas langsung memanggil dokter yang stay selalu.
Dokter mengatakan Nesya seperti tengah mengalami shock ringan. Diharap agar Bella terus mendampingi dan mengajak Nesya berinteraksi. Mendengarkan lagu atau suatu bacaan juga bisa merangsang Nesya agar terbangun dari shock yang diderita.
Bella menghela nafas pelan. Ia bersandar pada Ken yang memeluk dirinya.
"Sepertinya ini salahku. Aku tidak hati-hati bicara di sampingnya kemarin," ucap sesal Ken. Andai ia tidak berkata walau lirih tentang hubungannya dengan Bella, pasti Nesya tidak akan seperti ini.
"Bukan. Ini bukan salahmu. Ini salahku dan dalang penyebab keluarga kami runtuh!"
Ken sudah tahu. Bella memiliki masalah dengan keluarga Nero, sebuah masalah masa lalu yang telah terpendam kembali mencuat ke permukaan. Dan nyaris membahayakan nyawa mereka bertiga.
"Masih ada waktu. Temanilah Nesya sebentar lagi. Aku cek jadwalmu dulu," tutur Ken. Bella mengangguk dan Ken beranjak duduk di sofa dan fokus pada benda pipih yang menyala di tangannya.
"Hei bukankah kau sudah berjanji tidak akan marah? Kediamanmu ini lebih kepada marah ketimbang shock." Nesya masih tidak menghiraukan Bella. Tatapannya kosong, mulutnya terkunci rapat.
"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku tidak pernah menduga, orang yang sudah kita anggap sebagai keluarga, tega mengkhianati keluarga kita. Ah tidak, itu salah. Sejak awal memang sudah direncanakan. Ia hanyalah boneka yang dijalankan keluarga itu! Dia orang yang setia, sudah memilih seorang tuannya, mustahil berpaling ke tuan yang lain." Nesya masih bergeming. Bella menarik senyum pahit.
"Aku memberitahu mengenai semua ini, bukan untuk menambah beban pikiranmu. Kakak ingin kau lebih hati-hati lagi dan tidak terpengaruh dengan ucapan liar orang di luaran sana tentang keluarga kita. Masalah ini jangan terlalu kau pikirkan. Fokuslah pada pengobatanmu. Kakak akan menangani semuanya!"ucap Bella.
Hah ….
Bella menghela nafas kasar. Masih tiada
respon.
"Baiklah. Tenangkan dirimu dulu."
Bella berdiri dan mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaketnya.
"Tapi, Nesya. Jangan kau pendam rasa marahmu. Jangan pula lampiaskan dengan cara yang salah." Nesya sedikit melirik saat mendengar lantunan merdu ayat suci al-Qur'an. Bella tersenyum tipis. Tiada yang bisa abai mendengar firman Allah.
"Selain itu … aku sudah memberitahumu tentang apa yang menjadi rahasiaku. Aku harap kau juga terbuka padaku. Nesya, aku menanti kejujuranmu!"
Kali ini Nesya menatap Bella. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan. Bella menangkapnya namun tidak bertanya.
"Kakak harus berangkat kerja. Oh ya, suster perawatmu akan tiba pukul 07.00 nanti. Jaga dirimu, Assalamualaikum," pamit Bella. Sebelum beranjak ia mengecup lembut kening Nesya.
Apa Kakak tahu sesuatu? Nesya bergumam dalam hati.
*
*
*
Setelah Bella dan Ken meninggalkan rumah sakit, sebuah mercedes benz berwarna biru berhenti di depan lobby. Sopir turun dan membukakan pintu untuk atasannya.
"Mas kita ngapain ke rumah sakit?" Pintu sebelah juga terbuka. Seorang wanita berambut panjang yang mengenakan blazer setelan kerja bertanya heran pada pria yang menunjukkan raut wajah datar.
"Ada klien atau direksi yang sakit?"tanya wanita itu lagi, mengejar langkah sang pria yang memasuki lobby tanpa menjawab pertanyaannya.
"Mas!!" Namun pria itu tetap tidak menjawab dan setia wajah datarnya. Wanita itu memcembikkan bibirnya. Pasrah mengikuti langkah kaki pria itu. Keduanya naik lift dan keluar dari lantai 3. Langkah keduanya berhenti di depan sebuah ruangan, VIP 3. Tanpa sepatah katapun, pria itu memutar handle pintu dan masuk ke dalam.
"Kosong? Mas sebenarnya siapa yang mau kita jenguk?" Pria itu tetap tidak menjawab. Ia mengeryit melihat ruang rawat yang kosong dalam keadaan rapi.
Ia lantas berpaling keluar. "Sus," panggilnya pada seorang perawat yang melintas di depannya.
"Ada yang bisa dibantu, Tuan?"tanya perawat itu ramah.
"Pasien atas nama Nesya yang dirawat di sini, ada di mana ya?" Ya dia adalah Brian dan Silvia.
Nesya? Silvia menatap bingung Silvia. Bukankah itu nama adiknya Abel? Apa dia sakit?
"Keluarganya."
Brian melihat ekspresi perawat itu ragu. "Lebih tepatnya kakak iparnya. Kami baru mendengar kabar bahwa Nesya dirawat di sini," jelas Brian dengan wajah dan nadanya yang datar.
"Ah baiklah. Nona Nesya sudah pindah ruang rawat di lantai 4, kamar VVIP 3," jawab perawat tersebut setelah memperhatikan dengan seksama penampilan Brian dan Silvia.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan." Brian dan Silvia kembali menuju lift untuk naik ke lantai empat.
"Mas apa benar dia Nesya adiknya Abel?"tanya Silvia saat berada di dalam lift. Brian mengangguk.
"Lalu mengapa dia tidak memberitahu kita? Adiknya anggota keluarga Mahendra juga bukan? Dan sampai sekarang masih belum membawa adiknya bertemu dengan kita."
"Alasan tertentu," jawab Brian singkat, melangkah keluar lift. Ia mencari kamar rawat yang disebutkan perawat tadi.
"Mas …," panggil Silvia sebelum Brian masuk. Ia menahan lengan Brian.
"Ada apa?" Brian melihat tangan Silvia pada lengannya.
"Ah aku refleks." Silvia melepaskan tangannya dari Brian.
"Kita akan bertemu dengannya tanpa Abel? Maksudku ini pasti akan sangat mengejutkannya. Bisa saja Abel belum memberitahunya tentang kita. Bagaimana caranya ia akan percaya bahwa kita sudah jadi kerabatnya? Aku takut kondisinya akan dorp nanti. Terlebih dengan ekspresimu itu." Brian diam mendengar ucapan Silvia.
Mereka mundur saat melihat pintu terbuka. Seorang perawat keluar dengan tatapan bertanya.
"Tuan, Nona, ada yang bisa dibantu?"tanya perawat yang tak lain adalah perawat Winda yang ditugaskan menjadi suster Nesya.
"Apa keluarga dari pasien ini masih ada di dalam?"tanya Brian.
"Nona Bella sudah pergi sekitar 10 menit yang lalu. Anda berdua mau menjenguk Nona Nesya?"tanya perawat Winda ranah.
"Ah begitu ya. Baiklah. Dan jangan katakan pada siapapun kalau kami kemari!"ucap Brian. Perawat Winda yang merasa takut dengan ekspresi Brian mengangguk mengerti.
"Ayo."
"Eh?" Silvia terkesiap sendiri mendengar itu. Saat tersadar ia mendapati Brian sudah hampir tiba di lift. Dengan langkah tergesa ia menyusul suaminya.
"Siapa mereka?"gumam perawat Winda penasaran. Ia lantas mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.
*
*
*
Brian dan Silvia ke rumah sakit untuk menjenguk Nesya namun tidak jadi karena aku tidak ada di sana?
Bella menyimpulkan isi pesan yang masuk padanya.
"Sepertinya sudah saatnya," gumam Bella, meletakkan ponselnya.
"Apa yang sudah saatnya?" Ken meletakkan berkas di atas meja kerja Bella.
"Mempertemukan Nesya dengan keluargamu," jawab Bella.
"Apa Kak Bri mau?" Ken ragu dengan kakak sulungnya itu.
"Dia sudah tahu. Kemungkinan tidak akan menolak," jawab Bella.
Ken mengangguk. Tidak ada raut wajah terkejut saat mendengar Brian sudah tahu tentang Nesya.
*
*
*
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Brian. Brian masih berkelut dengan pekerjaannya padahal sudah jam makan siang.
"Siang, direktur Brian."
Brian mendongak.
"Abel? Ah tidak wakil Presdir, ada kepentingan apa Anda ke ruangan saya?"tanya Brian yang tidak menduga Bella mendatangi ruangannya. Silvia tengah mengambil makan siang, begitu juga dengan Ken.
"Pulang kerja nanti, kita ke rumah sakit menjenguk adikku," ucap Bella santai.
"Aku tahu tadi ke rumah sakit tapi urung untuk masuk," timpal Bella menjawab keryitan Brian.
"Oh, ternyata kau tahu."
Bella mengendikkan bahunya.
"Ah ya, Abel. Apa Papa ada intruksi untuk membantu XA Corp?"tanya Brian memastikan. Ia sudah mendengar berita yang menimpa perusahaan keluarga Utomo itu. Bella menggeleng.
"Sejauh yang ku amati, harga saham mereka masih bertahan di posisi waktu jatuh itu. Keluarga itu juga tidak ada mengontak aku ataupun Ken. Menurutmu apa mereka memang tidak berniat meminta bantuan keluarga Mahendra?"
"Dari sifat Tante Clara, tidak. Kemungkinan mereka tengah melakukan negosiasi dengan suatu perusahaan untuk menyelamatkan XA Corp. Secara tidak ada bank yang memberikan bantuan untuk mereka."
"Aku penasaran bagaimana caranya XA Corp bangkit."
"Kita lihat saja nanti," sahut Brian.