This Is Our Love

This Is Our Love
Ken dan Bella



"ARU!!" Ken berteriak dari bangunnya. Wajahnya pucat dengan nafas memburuh. "Aru." Ken bergumam. Ia memejamkan mata, teringat insiden di bandara tadi. Ken mengedarkan pandang sejenak. 


Ini di rumah sakit. "Tuan." Tuan Adam muncul dari balik pintu. 


"Paman, di mana Aru?"tanya Ken langsung. Ia melepas infus lalu turun dari ranjang dan menghampiri Tuan Adam. Ken memegang kedua bahu Tuan Adam. 


Tuan Adam menunjukkan wajah datarnya, "Tuan tenang saja. Kami akan segera menemukan Nona," ucap Tuan Adam, serius.


"Maksudmu istriku hilang?"tanya Ken dengan mata membola.


"Seberapa handal mereka, kami pasti akan menemukan mereka dan menyelamatkan Nona. Tuan tidak perlu terlalu cemas. Nona juga tidak mudah dihadapi walaupun berada di tangan mereka," jelas Tuan Adam, menepuk bahu Ken. 


"Siapa mereka? Siapa yang menculik istriku?" 


Bella tidak pernah mengatakan dia ada masalah dengan orang lain di negara ini selain dengan keluarga Nero. Dan rasanya tidak mungkin juga itu adalah keluarga Nero. 


Keuangan keluarga Nero telah jatuh dan nama mereka telah hancur. Mereka akan lebih fokus kepada bagaimana caranya bertahan hidup di tengah ultimatum yang menimpah mereka. 


Tuan Adam menggeleng, "siapapun itu … ada kemungkinan mereka bukan lawan yang mudah," ucap Tuan Adam. Keberanian menerobos dan melakukan penculikan di dalam area parkir pesawat, orang amatiran tidak akan seberani itu. 


Bandara punya keamanan ketat, yang berani bertindak di pagi bolong seperti itu, kemungkinan besar adalah mafia. 


"Bagaimana aku bisa tenang?!" Ken berteriak kesal. "Isteriku tengah hamil dan kau menyuruhku tenang? Are you crazy?" Ken kembali berteriak kesal. 


Tuan Adam tetap dengan wajah datarnya. 


"Anda marah-marah pun tidak akan mengubah keadaan. Lebih baik Anda diam atau ikut membantu! Atau setidaknya jangan buat kamu semakin pusing dengan kekesalan dan kekhawatiran Anda! Kami juga sangat khawatir dengan keselamatan Nona. Namun, apa kami marah dan kesal seperti Anda? Ya … tapi memang seperti itu. Tapi, kami tidak menunjukkan!!" Tuan Adam merasa kesal dengan sikap Ken. 


Hei! Bella itu Nonanya! Dan anak yang dikandung Bella itu bakal menjadi pewaris selanjutnya. 


"CCTV?" Ken baru agak jernih ketika Tuan Adam mencercanya. 


"Kami sudah mengeceknya. Akan tetapi, seperti tidak ada jejak. Namun, tidak ada sesuatu yang sempurna. Kami pasti akan menemukan celah dan petunjuknya," ucap Tuan Adam dengan penuh keyakinan. 


"Aku ingin melihatnya!"ucap Ken serius. 


Melihat sorot mata Ken, Tuan Adam mengangguk walaupun sebenarnya ia sedikit ragu. 


Mereka berada di klinik bandara dan segera mereka ke ruang keamanan. Bandara tampak lenggang karena penerbangan banyak yang dibatalkan sebagai imbas dari insiden penculikan yang melibatkan keluarga bisnis ternama Los Angeles.


Tuan Adam yang melangkah di belakang Ken, menatap Ken dengan tatapan sukar. Ia masih belum bisa sepenuhnya paham mengapa Bella menikah dengan pria yang usianya lebih mudah dan sedikit labil. Karakter Ken bisa dikatakan bertolak belakang dengan Bella. Bella dengan karakter kerasnya. Sementara Ken lebih kepada mengikuti arus. Bella menghadapi masalah dengan kepala dingin. Dan Ken, lebih menduluankan perasaan. 


Okay, wajar Ken bersikap demikan. Namun, sebagai seorang Tuan Muda yang harusnya sudah bisa dikatakan pernah atau beberapa kali menghadapi hal seperti ini, harusnya lebih fokus kepada mencari, bukan menyesali. Itulah yang ada dalam benak Tuan Adam. 


Setibanya di ruang keamaman, Ken dihadapan pada puluhan layar komputer yang merupakan rekaman CCTV dari seluruh seluk beluk bandara. Mengingat sekitar pukul berapa kejadian itu terjadi, Ken mulai memperhatikan satu demi satu rekaman CCTV, berurutan dari gerbang utama bandara sampai memasuki area parkir pesawat. 


Hanya mobil van hitam. Kaca mk mobil menggunakan film gelap. Dan orang-orang yang menculik Bella tidak terlihat jelas wajah mereka. Selain karena asap putih yang tebal juga karena para pelaku menggunakan penutup wajah. 


Ken mengepalkan kedua tangannya. Kejadian itu begitu cepat. "Cara kerja mereka ini … seperti cara mafia."


"Anda benar, Tuan," sahut Tuan Adam. 


"Mafia mana di kota ini yang punya pengaruh dan kekuasaaan besar?" Ken menoleh pada Tuan Adam. Karena jika tidak punya pengaruh dan kekuasaan besar serta keberanian, bagaimana bisa mereka menculik Bella? Sedangkan Bella tidak terlalu menunjukkan dirinya di depan publik dan apa motifnya?


"Saya sudah mengirim orang yang menyelidikinya, Tuan. Akan tetapi … ada satu hal yang cukup aneh jika penculiknya adalah mafia kota ini. Mafia kota ini pun sangat berhati-hati dalam memilih lawan ataupun kawan. Dan Tuan Williams punya pengaruh penting di kota ini. Beliau disegani dan wibawa itu turun pada Nona. Dan ada satu hal lagi yang cukup mencurigakan." Setidaknya pengamatan Ken cukup bagus. Tuan Adam memilih untuk bekerja sama ketimbang menyuruh Ken diam.


"Apa itu?" Ken bertanya. 


"Ada satu pesawat dan itu adalah pesawat pribadi yang tetap lepas landas meskipun bandara mengumumkan pembatalan penerbangan," ucap Tuan Adam. Wajahnya menjadi sangat serius. 


"Dan kemungkinan besar itu adalah pesawat milik orang yang menculik Nona karena ada yang melihat mobil van seperti mobil penculik masuk ke dalam kargo pesawat tersebut," jelas Tuan Adam lagi. 


"Maksudmu penculik isteriku, membawa istriku kabur keluar begitu?" Tuan Adam mengangguk.


"Melihat hal itu … kemungkinan besar motif penculiknya adalah tertarik dengan Nona Bella. Karena dia memilki pesawat pribadi dan itu erat kaitannya dengan orang yang berasal dari kalangan atas," jelas Tuan Adam lagi. 


Ken merenung, apakah artinya ada orang yang menginginkan istrinya? 


"Cari tahu siapa orang itu!" 


"Ah Paman, berita ini sudah tersebar belum?"tanya Ken. Kini ia gelisah. Jika keluarganya tahu Bella diculik, maka akan menciptakan kepanikan dan kecemasan, terlebih Bella tengah hamil. Besar kemungkinannya Ken yang akan disalahkan. Terlebih jika keluarga Kalendra tahu. 


"Kami sudah memblokirnya, Tuan," jawab Tuan Adam. Ia juga tahu tindakan apa yang harus dilakukan.


Aru … di mana kau sekarang? Maafkan aku yang gagal melindungimu. Aku harap kau baik-baik saja dan tunggu aku menjemputmu, gumam Ken.


*


*


*


Di sebuah kamar yang terkesan elegan dan mewah, dindingnya berwarna coklat susu senada dengan wajah sprei ranjang.


Di ranjang tersebut, terbaring seorang wanita dengan selimut menutupi sampai batas dada. Wajah cantik wanita itu berbingkai cantik dengan hijab. Matanya terpejam rapat dan nafasnya terdengar beraturan. Di dekat pintu, seorang wanita dengan berpakaian seperti pramugari duduk, seperti menjaga dan menunggui wanita itu sadar. 


Ya. Dia Bella yang belum sadarkan diri. Jika dilihat dari kamar dan cara penculik memperlakukan Bella saat ini, benar perkiraan Tuan Adam. Ada seseorang yang menginginkan Bella. Oleh karenanya, Bella mendapat perlakukan yang baik.


Pramugari itu berdiri dan melangkah menuju sisi ranjang begitu saat mendapati jemari Bella bergerak. Gerakan jemari itu diikuti dengan kelopak mata Bella yang mulai bergerak. Pemilik netra hitam itu akhirnya sadar. Bella mengerang pelan. Kemudian mengerjapkan matanya, seakan mengingat apa yang terjadi padanya.


"Who are you?"tanya Bella saat menoleh dan mendapati pramugari itu menatapnya dengan tersenyum.


"I'm Irene, Miss," jawab pramugari itu.


"I don't know about you?!"ucap Bella. Ia berusaha untuk duduk. Irene segera membantunya. "I am thirsty."


Bella merasa haus dan sedikit merasa sesak. "Silahkan, Nona." Irene menyodorkan sebuah air minum kemasan lengkap dengan sedotannya.


"Di mana ini?"tanya Bella setelah minum. 


"Kita berada di dalam pesawat, Nona."


"Pesawat?" Bella mengeryit. Ia kembali mengedarkan pandang. Ya, desain kamar seperti kamar pada pesawat pada umumnya. 


"Di mana Tuanmu?"tanya Bella. "Tuan berada di luar, Nona. Beliau sedang bekerja. Apa Nona ingin menemui beliau?"tanya Irene. Bella menggeleng. 


"Kepalaku masih pusing dan aku lapar," ucap Bella. 


"Saya akan segera membawakan makanan untuk Nona," ucap Irene yang kemudian segera keluar dari kamar, meninggalkan Bella sendiri di kamar. 


"Siapa yang menculikku? Mengapa aku mendapat perlakukan baik?" Bella bertanya-tanya. Dia memang sengaja tidak bertindak impulsif dan gegabah karena melihat perlakuan ini dan pramugari yang ramah dan bisa diajak bicara. Cara bicaranya juga sopan. Bella juga harus pandai memposisikan dirinya untuk menjaga keselamatan dan keamanan diri sendiri juga anaknya. 


Tapi, tunggu pesawat?! Ke mana pesawat ini akan terbang dan apa motifnya?


"Silakan dinikmati, Nona," ucap Irene yang masuk dengan membawa makanan untuk Bella. Bella mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Irene kembali duduk di kursi dekat pintu. 


"Irene," panggil Bella di sela-sela makannya.


"Saya, Nona," sahut Irene.


"Ke mana pesawat ini akan terbang?"tanya Bella. "Dan di mana tas dan semua barang-barangku?"tanya Bella lagi yang tidak menemukan tasnya. Itu semua adalah barang penting. Harga barangnya memang tidak seberapa, namun apa yang terdapat di dalamnya sungguh berharga. 


"Maaf, Nona. Tuan melarang saya untuk memberitahu kemana kita akan pergi. Tapi, Nona tenang saja. Tuan dan saya sendiri tidak berniat buruk pada Nona. Kami akan memperlakukan Nona dengan baik. Mengenai barang-barang Nona, kami simpan dengan baik dan Nona tenang saja. Barang-barang Anda aman dan kami pastikan tidak akan kurang satupun," terang Irene. Bella mengangguk pelan. 


"Aku penasaran dengan siapa Tuanmu. Mungkin saja aku mengenalnya," cetus Bella.


"Hm … Nona mengapa Anda tidak merasa seperti orang yang diculik? Anda begitu tenang dan santai?" Irene menyuarakan keheranannya.


"Lalu? Aku harus bagaimana?"balas Bella, masih dengan nada santainya.


"Dan aku tidak merasa sedang diculik. Kau memberiku sebuah pelayanan yang baik. Dan apa gunanya aku histeris? Aku masih sayang nyawa."


"Hah?"


"Jika aku berontak, aku ragu Tuanmu tidak akan melemparku keluar dari pesawat. Benar, bukan?"


"Hah?"