This Is Our Love

This Is Our Love
Tidak Menduga



Bella memasuki perpustakaan yang sekaligus menjadi tempatnya berkerja. Duduk di sofa kayu itu dengan mata terpejam. 


Pagi-pagi sudah membuatku kesal!decak Bella dalam hati. 


Cemburu? CK! Percaya diri sekali dia!!


Kesal. Bella membuka matanya. Ia berdiri, menuju jajaran rak buku. Mengambil salah satu buku dalam bahasa Rusia. Mengenai management keuangan. Bella membuka lembar pertama yang tak lain adalah lembar pengesahan. 


Membaca, lembar demi lembar. Saat masuk ke lembar ke enam, ada yang membuka pintu ruangan. Bella mendongak. 


Wajahnya tenang melihat dua orang paruh bayah. Pria dan wanita. Pakaian sang pria formal dan untuk sang wanita begitu anggun. 


Kedua melangkah masuk. "Kau, Bella?!"


Bella menaikkan alisnya. "Ya, itu aku," jawab Bella tenang. 


Kedua orang itu duduk di depan Bella. Tampak angkuh dan sinis pada Bella. 


"Beraninya kau!"sarkas wanita itu tiba-tiba. Bella mengeryit.


"Saya tidak melakukan apapun," jawab Bella , santai. Memilih mengacuhkan kedua orang itu yang masih menatapnya tajam. Bella kembali membaca. 


"Apa kau tidak tahu siapa kami? Di mana sopan santunmu?! Berdiri!!" Wanita itu kembali menyentak Bella. Mendengar itu, Bella tersenyum. Menutup dan meletakkan buku yang ia baca.


"Anda bertanya saya menjawab. Darimana Anda mengatakan saya tidak sopan? Lagipula, saya tidak mengenal Anda berdua. Tolong jangan buat keributan di sini!"tegas Bella. 


Bohong jika Bella tidak tahu siapa dua orang di depannya ini. Mereka adalah orang tua Desya, Dimitri Volcov dan Aleandra Orlova. 


Keduanya semakin tidak menyukai Bella. Bella malah tersenyum lebar melihat wajah kesal orangtua Desya membuat dirinya merasa senang. 


Bella sudah bisa menebak apa yang membuat keduanya langsung memasang wajah angkuh dan kesal begitu menemuinya. Ya tentu saja menemuinya, karena mereka yang menghampiri Bella. 


Bella yakin, Ariel menantu pilihan mereka pasti sudah mengadu yang tidak-tidak pada keduanya. Ya, wajar saja. Ariel pasti menganggapnya sebagai saingan. 


"Sebagai menantu kau sudah tidak sopan kepada kami!"ucap Dimitri, walau kesal nadanya tetap tenang. 


"Menantu?" Bella membeo. Omong kosong apa itu? Mengapa menyebutnya sebagai menantu Bella. 


"Wait. Sepertinya Anda berdua salah paham. Me, saya Nabilla Arunika Chandra bukan menantu kalian! I'm not Desya wife!!"tegas Bella. 


Dimitri dan Aleandra malah mengeryit, mereka terlihat bingung. "Aku dibawa paksa ke sini. Jika bertanya mengapa, tanyakan saja pada putra kalian!"tegas Bella lagi.


"Jadi, kau bukan menantu kami? Desya tidak menikah lagi?"tanya Aleandra memastikan. Bella menggeleng. 


"Yes. Aku bukan menantu kalian. Ah, kalian pasti menyadari bahwa menantu kalian itu berbohong," jawab Bella dengan tersenyum miring. 


"Jadi, itu juga bukan milik Desya?"tanya Aleandra, menunjuk perut Bella. 


"Tentu saja bukan! Ini milikku dan suamiku!"tegas Bella. 


Ada gurat malu di wajah datar mereka. Mereka telah salah sangka. "Tapi, walaupun kau bukan istri Desya, kau tetaplah miliknya. Dan anak itu, akan jadi salah satu cucuku!"


Bella tercengang dengan apa yang Dimitri ucapkan. Bella tetap milik Desya? Anaknya akan jadi cucu pria di depannya ini? 


Sungguh tidak mengerti dengan pola pikir anggota keluarga Volcov ini. 


Kedua orang itu kemudian bangkit dan keluar dari ruangan ini tanpa pamit. 


Dasar jailalangkumg!dengus Bella dalam hati. Suasana hatinya kembali buruk. Melirik buku, sudah tidak ada lagi hasrat untuk membaca. 


Bella berdiri. Memutuskan keluar ruangan untuk mencari udara segar sekaligus dengan harapan bisa berjumpa dengan Liev dan Lesta. Tak lupa Bella memakai mantelnya karena musim dingin sudah tiba. Walaupun matahari bersinar, udara tetap dingin. 


Pepohonan sudah hampir kehilangan seluruh daunnya. Dedaunan masih berserakan dan bertebaran kesana kemari ditiup angin dingin. 


"Ah andai aku tidak di sini, pasti sibuk dengan laporan akhir tahun. Mungkin juga akan mempersiapkan pesta," gumam Bella dengan duduk di bangku yang terbuat dari keramik, yang terdapat di pinggiran koridor ataupun tersebar di beberapa titik. 


"Aunty Bella!" Bella mendongak kalau mendengar sapaan akrab tunjukkan padanya. 


Bocah perempuan dengan rambut pirang dan mata biru, bersama dengan dua orang dewasa yang berjalan di belakang gadis kecil itu. 


"Lesta."


Ya, gadis itu adalah Lesta. Berusaha untuk duduk di samping Bella. Tubuh kecilnya tampak kesulitan namun Lesta menolak bantuan. 


"Kata Ibu, Lesta tidak boleh mengandalkan orang lain!"tegas Lesta, dan akhirnya ia berhasil. Bella tersenyum seraya mengusap rambut Lesta. 


"Meskipun begitu, jangan sungkan untuk bertanya atau meminta bantuan jika kau benar-benar kesulitan," ujar Bella lembut. Tidak ada salahnya Lucia berkata seperti itu. 


Lesta mengangguk kecil. "Aunty sendiri?"


"Tidak. Sekarang aku denganmu," jawab Bella. Lesta mengerucutkan bibirnya dan itu membuat Bella gemas. 


"Mengapa tidak dengan ayah?"tanya Lesta. Mungkin dalam benaknya, Bella dan Desya selalu bersama. 


"Hm. Mungkin ayahmu sibuk jadi tidak bersama dengan Aunty," jawab Bella. Bocah cantik itu manggut-manggut. 


"Mana Liev?"tanya Bella kemudian. Biasanya dua bocah itu selalu bersama bukan?


"Sejak kemarin aku belum bertemu dengannya," jawab Lesta lesu. 


"Why? Kalian bertengkar?" Lesta menggeleng sebagai jawaban. 


"Tidak?" Bella menggerakkan matanya berpikir.  Tidak bertengkar namun dari kemarin tidak bertemu? 


Ah jika tebakan Bella benar, pasti karena Liev dilarang untuk bermain dengan Lesta. Atau mungkin juga dilarang keluar kamar. Bella tersenyum kecut. 


"Ya sudah. Hari ini bermain dengan Autny saja, okay," tawar Bella.


Lesta tersenyum sumringah. Ia berseru senang.


...****************...


"Desya!"panggil Dimitri pada Desya yang baru saja selesai meeting. 


"Ayah, Ibu, kalian sudah pulang?"tanya Desya, bangkit dari duduknya.


_


"Iya, Putraku," jawab Aleandra, memeluk putra semata wayangnya dengan penuh kasih. 


Dimitri duduk di sofa yang tersedia di dalam ruang kerja Desya. Istri dan anaknya melepas diri. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. 


"Baik, Ibu. Ibu dan Ayah sendiri?"balas Desya. 


"Sama sepertimu," jawab Dimitri. Aleandra kemudian duduk di sisi suaminya. 


"Duduk!"titah Dimitri pada Desya. 


Desya menurut. "Tadinya kami senang. Karena mengira dia istrimu."


"Bella?"


"Ya, kami tidak akan kecewa jika dia benar-benar istrimu. Mengapa tidak kau jadikan istrimu?"timpal Aleandra. 


Di luar dugaan , keduanya malah mendukung Bella untuk menjadi istri Desya. Hal itu membuat Desya sedikit canggung.


"A-aku tidak tahu kalau kalian menyukainya." Desya kira mereka akan menentang.


Wait!


"Kalian sudah menemuinya?"tanya Desya memastikan.


"Ya, dia tidak buruk. Berani dan tegas. Juga terlihat cerdas. Tak ada salahnya menambah satu istri lagi," ucap Aleandra dengan antusias. Cantik dan cerdas, siapa yang tidak mau punya menantu seperti itu?


"Ya. Aku kira juga begitu tapi tidak mudah menjadikannya sebagai istriku, Ibu. Dia dan aku punya banyak perbedaan. Aku … tidak tahu bagaimana caranya menaklukan hatinya. Sudah ku jauhkan dari suaminya , hatinya tetap pada suaminya," terang Desya, lesu.


"Ya, dia sudah mengatakannya. Anak itu juga terlihat keras kepala," imbuh Dimitri.


"Tenang saja. Ada Ibu. Ibu akan membantumu agar bisa menikahinya," ujar Aleandra.


Desya mengangkat pandangannya. Terkejut dengan apa yang dikatakan Ibunya.


"Ibu, serius?"


"Aku tahu kau menyukainya, Ale. Tapi, ingat, putra kita ini sudah memiliki tiga istri dan dua anak. Selain itu, Ariel yang dicap sebagai menantu pilihan kita itu, pasti tidak akan tinggal diam jika kau menyukai dan menginginkannya sebagai menantumu!"tutur Dimitri.


"Ah … aku melupakannya," gumam Aleandra. Wajahnya berubah murung. Dimitri tersenyum simpul. Sementara Desya menerka-nerka.


Ada apa dengan orang tuanya? Mengapa malah mendukung Bella?


"Tapi, bukannya tidak ada cara membuatnya menjadi kenyataan," ucap Dimitri kemudian sembaru merangkul pundak istrinya.


...****************...


Dimitri dan Aleandra kini berada di dalam kamar mereka. Dimitri membuka mantel dan juga jasnya.


Dimitri kemudian menggulung lengan kemejanya. Tak dapat dipungkiri, meskipun sudah berumur, Dimitri tetap tampan dan gagah. Bentuk tubuhnya juga idaman. Belum lagi saat Dimitri menyugar rambutnya ke belakang, pesonanya semakin bertambah.


Sedangkan Aleandra baru saja selesai melepas satu persatu perhiasan. Juga menghapus make up sebelum mandi.


Sama seperti Dimitri, kecantikan Aleandra juga begitu terawat. Kulitnya putih bersih. Keriput tipis yang hadir karena faktor usia tidak mengurangi kadar kecantikan. Belum ia yang seorang fashionable. Tubuhnya tinggi semampai bak seorang model.


Maka tak heran, jika Desya begitu tampan karena lahir dari bibit yang begitu unggul.


"Kita harus membantu Desya," ucap Aleandra.


Mereka yang sudah melepaskan urusan pekerjaan, tidak bisa seenaknya saja mencampuri urusan Black Rose. Akan tetapi, mereka tetaplah memiliki posisi penting dalam Black Rose.


Mereka juga tidak bisa mengatur kehidupan rumah tangga Desya. Yang bisa mereka lakukan adalah memantau dan membantu apabila diperlukan. Karena bagaimanapun Black Rose ini selama mereka masih hidup tetaplah tanggung jawab mereka.


"Kau benar, Ale. Aku sudah muak dengan tingkah keluarga itu," sahut Dimitri dengan wajah kesal.


"Desya pandai memilih orang. Akan tetapi, mengapa baru sekarang? Andai saja Desya bertemu dengannya lebih awal pasti dia sudah menjadi menantu kita," keluh Aleandra sembari melepas sanggulan rambutnya. Dimitri tertawa renyah melihat bibir isterinya yang mengerucut.


Hah!


Tiba-tiba saja Aleandra menghela nafas.


"Ternyata kita ini pernah ortodoks, ya?"


"Ternyata Desya tidak hanya butuh wanita yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah tetapi juga membantu pekerjaannya," lanjut Aleandra.


"Kau tahu bukan mengapa aku menyukai anak itu?"balas Dimitri.


"Hm. Biodatanya saja sudah sangat mengagumkannya. Aku yakin dia benar-benar berkemampuan." Itu diangguki oleh Dimitri.


"Tapi, perlu diingat, bahwa keluarganya juga merupakan keluarganya yang berpengaruh!"


"Meskipun begitu, mereka juga akan kewalahan menghadapi kita. Mereka memang berpengaruh. Namun, kitalah yang memegang kendali!" Aleandra tersenyum.


"Ya. Tapi sebelum mereka berhasil kita harus sudah mendapatkan hati anak itu!"


Dan orang tua Desya yang sangat bersemangat untuk menaklukkan hati Bella. Mungkin mereka merasa bahwa keluarga Ariel terlalu menuntut dan seakan-akan hendak memegang kendali atas organisasi besar ini.


Tanpa terucap, mereka satu hati dengan Desya. Sudah waktunya untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Ariel dan pastinya itu butuh perencanaan yang matang!


Untuk Lucia dan Evalia, keduanya tidak terlalu peduli. Karena itu adalah hak Desya. Lagipula keduanya itu berasal dari keluarga biasa. Tidak seperti Ariel. Yang penting keduanya tidak menuntut dan menyusahkan Desya. Menikmati peran mereka sebaik mungkin sebagai istri Desya, mungkin itu sudah bantuan besar.


...****************...


Pagi telah tiba. Ken merapikan dasinya di depan cermin. Penampilannya begitu formal dengan setelan jas hitam. Rambutnya disisir ke belakang, menampilkan dahinya yang putih mulus nan bersih.


Tak lupa, jam tangan melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ken menghela nafas. Satu kata untuk penampilannya, perfect!


Sayangnya, ada yang kurang. Ken menoleh ke nakas, di sana ada foto Bella. Ya tentu saja istrinya.


"Aru bagaimana penampilanku? Sudah tampan bukan? Ah aku selalu tampan dalam keadaan apapun." Ken bertanya dan menjawabnya sendiri.


Diraih dan dikecupnya foto Bella tersebut.


"Aru, hari ini aku akan naik jabatan menggantikanmu. Aku harap kau tidak marah ya. Hahaha aku rasa kau merasa bangga padaku. Meskipun ada nepotisme di sini, aku berjanji padamu bahwa aku pantas untuk duduk di jabatan ini!"


Rupanya hari ini adalah hari di mana Ken anak dilantik menjadi wakil Presdir Mahendra Group menggantikan Bella. Di sana juga nanti Surya sebagai Presdir akan mengumumkan Bella yang mengambil cuti karena hamil.


"Pasti mereka akan geger mendengar alasan kau cuti. Ah … sudah terbayang bagaimana membosankan dan menyebalkannya itu!" Ken mengadu.


"Aru, di sini aku berusaha bertahan dan mencarimu. Aku harap, di sana kau bertahan menungguku. Tim terbaik sudah diturunkan termasuk adikmu, Azzura," beritahu Ken.


My Lovely, My Aru, hold me!