This Is Our Love

This Is Our Love
Malam Desya dan Evalia



Ditemani oleh Irene, Desya meninggalkan kamarnya. Mantel membungkus tubuhnya. Menetralisir udara diri yang menyapanya. Langkahnya teratur. Pandangannya fokus ke depan. 


Melewati koridor dan akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kamar. "Kau bisa kembali, Irene," ucap Desya. 


"Jaga diri Anda, Tuan," ucap Irene. Desya mengangguk. Membuka pintu kamar dan menutupnya rapat. Irene berbalik, meninggalkan tempat. 


Aroma kamar yang begitu harum. Aroma mawar. Pencahayaan kamar tidak begitu terang, juga tidak gelap. 


Desya masih belum melangkahkan kakinya lebih jauh. Ia mengedarkan pandang. Ranjang yang cukup besar, dilengkapi dengan kelambu. Di tepi ranjang, duduk seorang wanita. Wanita itu menggunakan mantel. Menunduk seakan menunggu. Dialah Evalia, istri ketiga Desya. 


Menghela nafas. Desya tahu siapa yang mendekor kamar ini. Nuansanya benar-benar bak kamar pengantin baru. 


Desya melepas mantelnya kemudian melangkah mendekati Evalia. Evalia mengangkat pandangnya. "Tuan." Nada memanggilnya begitu lembut. 


Desya mengangguk kecil. Ia kemudian duduk di samping Evalia. Evalia, wanita itu kembali menunduk dan merapatkan mantelnya. 


Desya memperhatikan wajah istri ketiganya itu. Wajahnya bulat, putih dan mulus. Hidungnya mancung dengan rambut panjang yang tergerai. Cantik, memang cantik. 


Evalia semakin menunduk. Ia jelas merasakan tatapan Desya padanya. 


Hah.


Desya menghela nafas kemudian tersenyum.


"Mereka mempersiapkan semuanya dengan baik. Padahal aku memberitahunya mendadak," ujar Desya. Itu seperti pujian untuk para pelayan yang bertugas mendekorasi kamar ini. 


"Kau pasti juga menerima perlakuan seperti waktu kita menikah, bukan?" Evalia mengangguk kecil. Sebelum duduk di ranjang ini, Evalia menjalani serangkaian perawatan. Mulai dari kuku, dan mandi dengan wewangian yang berbeda dari biasanya. Dan pakaian yang ia kenakan, juga adalah pilihan dari pelayan yang bertugas. 


"Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau kaget?"tanya Desya. 


"Iya, Tuan," jawab Evalia pelan.


Desya tersenyum. Ia kemudian menggerakkan tangannya membuka mantel Evalia. Saat mantel itu jatuh ke lantai, bahu mulus Evalia terlihat jelas, begitu juga dengan pakaian dalamnya karena ia mengenakan lingerie tipis dan menerawang. 


Malu, Evalia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. 


"Aku heran, apakah saat aku mengatakan akan bermalam dengan salah satu istriku, apakah hanya karena ingin berhubungan suami istri? Tidak ada hal lain?" Desya sama sekali tidak tergoda. Ekspresinya datar. 


"Maksudnya, Tuan?" Evalia mengangkat wajahnya. Ia terkejut dan bingung. Apa maksud Desya ke kamarnya bukan untuk melakukan hubungan suami dan istri? 


"Tidak. Tujuanku memang untuk itu," ucap Desya. Evalia semakin bingung. 


"Hanya saja, sebelum melakukannya, kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu," lanjut Desya. 


Evalia mengangguk. 


"Karena saya mencintai dan masih menyimpan nama tunangan saya," jawab Evalia. Ya, mereka meninggal tak lama setelah tunangan Evalia dikebumikan. Desya juga bukan pria yang pemaksa dan penuntut. Ia tidak akan melakukan hubungan itu dengan wanita yang tidak tidak menginginkannya. Apalagi jika di dalam hati masih ada nama pria lain. 


"Bagaimana sekarang?" Memastikannya. Seperti saran dari Bella. Evalia memberanikan diri menatap mata Desya. Tatapan menyelidik, mencari kejujuran.


"Saya, menerima Anda dengan sepenuh hati saya, Tuan. Saya adalah milik Anda."


"Begitu ya?" Tampak ragu. 


"Satu tahun menjadi istri Anda, dengan segala perhatian yang Anda berikan kepada saya, saya menyadarinya. Perlahan saya bisa merelakan, dan menerima kepergiannya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyukai Anda. Saya mengakuinya, saya jatuh hati pada Anda." Sebuah pengakuan. Terdengar begitu tulus. Desya menangkap kejujuran di sana. Terlebih Evalia mengatakannya dengan menatap mata Desya. Desya tampak puas dengan hal itu. 


"Aku akan melakukannya, apakah kau bersedia?"tanya Desya. 


Evalia mengangguk. Sudah saatnya, mereka melakukan kewajiban mereka, memenuhi kebutuhan batin, dan menjadikan mereka suami istri yang sesungguhnya. 


Perlahan, Desya mengerakkan tangannya, menyentuh leher Evalia. 


Evalia memejamkan matanya. Terlihat ia tegang. "Jangan tegang. Nikmati saja," ucap Desya, menuntun Evalia agar berbaring. 


Jantung Evalia berdebar kencang saat Desya melepas pakaiannya. Evalia memegang pakaiannya sendiri kala melihat Desya telah telanjang dada. 


Badan yang kekar, perut yang sixpack. 


Desya tidak banyak bicara. Naik ke ranjang dan melakukan pemanasan. Menunduk, memberi kecupan pada leher Evalia. 


Evalia melenguh pelan. Sensasi asing ia rasakan. Desya kembali mengecup, menjelajahi leher Evalia. Dari leher naik ke dagu. Desya kemudian mengecup bibir Evalia. Keduanya berciuman. Tangan Desya bergerak, melepaskan lingerie Evalia. 


Desya yang lembut, membuat Evalia melayang dan begitu menikmati malam pertamanya. Meskipun, setelah pemanasan ia merasakan sakit karena selaput daranya dirobek oleh Desya. 


Lenguhan dan *******, mewarnai malam pertama Evalia dan Desya. 


Keduanya terengah saat mencapai puncak. Desya berguling, berbaring di samping Evalia yang memejamkan matanya. Menikmati sisa-sisa penyatuan. 


Desya menatap langit-langit kamar. Menarik senyum. "Terima kasih, Tuan," ucap Evalia.


"Sudah seharusnya," jawab Desya.


"Tidurlah. Kau pasti sangat lelah." Evalia merapatkan tubuhnya pada Desya. Desya juga turut memejamkan matanya. Ia lelah, ia butuh istirahat dan terlelap.