
"Jani, makan malam nanti kita makan di luar ya," ujar Bella memberitahu. Anjani yang masih menyantap makan siangnya, menatap Bella dengan heran, "tumben?"tanyanya penasaran.
"Ya sekalian bertemu seseorang," jawab Bella. Anjani mengernyit tipis, "seseorang? Kekasihmu?"terka Anjani yang membuat Bella tersedak air minum.
"Tidak!"jawab tegas Bella sembari mengusap jilbabnya yang sedikit basah.
"Lalu? Sepertinya orang itu sangat penting hingga mampu membuatmu makan makan dengannya," ujar Anjani melayangkan candaan.
"Ya begitulah. Tapi yang pasti mereka lebih penting dari kekasih!"jawab Bella.
"Lebih penting dari kekasih? Maksudnya?" Anjani kebingungan dengan jawaban Bella itu. Bella tidak menjawab, membiarkan Anjani semakin penasaran dengan siapa gerangan yang akan makan malam dengan Bella, juga dirinya dan Arka. Terlebih senyum tipis Bella, sungguh menggelitik hati Anjani, tak sabar menunggu nanti malam.
*
*
*
Sebuah mobil masuk ke dalam sebuah kompleks perumahan mewah. Jajaran rumah mewah tertata rapi di kanan dan kiri jalan dengan gerbang dan pagar yang kokoh dan menjulang tinggi.
Mobil sedan berwarna putih itu berhenti di depan sebuah gerbang berwarna biru yang senada dengan warna rumah yang didominasi warna biru dan putih.
Sang sopir turun dan membunyikan bel gerbang. Penjaga gerbang mendekat dan bertanya pada sang sopir. Tak butuh waktu lama, sang sopir kembali masuk, gerbang terbuka lebar, sedan putih itu masuk dan berhenti manis di depan rumah. Seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahunan, menunggu di depan teras, menanti penumpang sedan putih itu keluar. Sang sopir bergegas membukakan pintu, "Silakan, Nyonya," ujarnya penuh hormat.
Sepasang kaki jenjang turun, rambut yang digerai, wanita itu melepas kacamata hitamnya, senyumnya mengembang. "Clara!"sapanya penuh semangat seraya melambaikan tangan.
"Rahayu!"balas wanita yang menunggu di teras, melangkah maju dan kini berhenti di depan tangga yang hanya terdiri 3 anak tangga. Ya wanita itu adalah Rahayu, segera melangkah dan kini berpelukan dengan wanita yang disapa Clara itu.
"Assalamualaikum, Clara. Bagaimana kabarmu?"tanya Rahayu.
"Waalaikumsalam, Yu. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, suami, dan anak-anakmu?"tanya balik Clara.
"Alhamdulillah, kami semua baik. Ah ya mana Cia?"tanya Rahayu sembari menilik sekitar mencari seseorang.
"Cia? Hm jadi kau datang tanpa kabar kemari hanya mencari Cia?" Clara memanyunkan bibirnya, ia bersedikap tangan menatap kesal Rahayu. Rahayu mendengus senyum melihat reaksi Clara yang tak lain adalah sahabat dekatnya.
"Tentu saja tidak. Aku datang dengan tujuan silahturahmi, ya memang sih point utamanya ingin berbincang dengan Cia. Sudah dong jangan ngambek, sudah tua kok masih suka ngambek?! Bagaimana, surprise bukan?"ucap Rahayu yang melayangkan keluhan seraya memukul pelan bahu Clara.
"Ya … ya. Kejutan yang mengejutkan dari Nyonya Surya Mahendra. Saya menyambut Anda di kediaman sederhana ini," ucap Clara yang masih kesal, hanya pura-pura.
Senyum Rahayu mengembang, "apakah aku tidak dipersilakan masuk?"tanya Rahayu.
"Ya ayo masuk," sahut Clara. Rahayu mengulurkan tangannya. Clara mendengus senyum, menarik tangan Rahayu masuk.
"Jadi apa gerangan yang ingin kau bicarakan dengan Cia? Sepertinya sangat penting sampai kau sendiri yang datang. Apa ada hubungannya dengan hubungan Ken dan Cia?"tanya Clara yang langsung tepat pada intinya. Rahayu mengangguk dengan wajah sendu, meletakkan cangkir teh yang isinya baru ia minum.
"Ya ini berhubungan dengan Ken dan Cia. Ini menyangkut masa depan keduanya. Keluarga Mahendra telah memutuskan sesuatu untuk Ken."
"Aku awalnya juga menolak keputusan Mas Surya, tapi mengingat kondisi Cia yang semakin menurun juga hiruk pikuk perusahaan, akhirnya aku setuju. Clara, keputusan yang kami putuskan ini, aku harap tidak akan membuat hubungan kita berubah. Terlebih menganggu jalinan kerja sama perusahaan kita," ucap Rahayu.
"Berhenti bertele-tele Rahayu! Katakan apa sebenarnya inti ucapanmu itu?!"tanya Clara yang merasakan firasat tak baik. Hati seorang Clara sangat sensitif jika sudah menyangkut putri tercintanya itu. Clara menatap tajam Rahayu yang menghela nafas pelan.
"Keluarga Mahendra akan menikahkan Ken dengan perempuan pilihan Mas Surya!"jawab Rahayu yang sontak membuat Clara membulatkan mata, sangat terkejut.
"Apa?!"pekik Rahayu, tangannya mengepal, raut wajahnya memerah, Clara terlihat sangat marah dengan jawaban Rahayu.
"Apa maksudmu, Yu? Apa maksud keluarga Mahendra hah?! Mau kalian kemanakan hubungan Cia dan Ken? Kalian mau mencampakkan dan membunuh putriku hah?!"seru Clara, berdiri dan menuding Rahayu dengan telunjuknya. Rahayu menghela nafas kasar, sudah ia duga akan seperti ini. Selama ini, kedua belah pihak selalu mendukung hubungan Cia dan Ken, walaupun Cia kini mengidap penyakit ganas.
"Jawab Rahayu! Apa maksud kalian?!"bentak Clara yang tak mampu menahan emosinya lagi. Bentakan itu menarik perhatian para pelayan, untung saja kepala pelayan sigap mengurus hal itu.
"Inilah yang ingin aku bicarakan dengan Cia. Ku mohon, kau tenang sedikit. Kita selesaikan ini dengan kepala dingin!"ucap Rahayu.
"Kepala dingin? Kepala dingin katamu?! Tindakan kalian itu bisa membuat putriku drop!!"sarkas Clara tajam, tatapan matanya sangat bermusuhan dengan Rahayu.
"Aku tahu, Yu. Aku tahu jelas! Tapi ijinkan aku menjelaskan semuanya. Dengarkan dulu perkataanku selanjutnya!"jawab Rahayu, berusaha menenangkan Clara.
"Apa? Penjelasan apa lagi? Kau kemari untuk memutuskan hubungan Ken dan Cia bukan? Maaf … aku menolak hal itu! Aku tidak ingin kondisi Cia semakin buruk! Silahkan keluar dari sini!"ucap Clara, dingin seraya menunjuk ke arah pintu.
Rahayu menggeleng, "bukan! Bukan itu maksud kedatanganku! Aku ingin berbicara dengan Cia. Memintanya mengizinkan Ken menikah dengan wanita lain, juga memintanya membujuk Ken agar menerima pernikahan yang keluarga Mahendra atur!"jelas Rahayu, menatap harap Clara.
Clara mendapat dingin Rahayu, bibirnya melengkung sinis. "Jadi kau ingin memanfaatkan Cia sebagai cinta Ken untuk menekan Ken? Kau egois, Yu! Keluargamu itu egois!"desis Clara dingin.
Rahayu tersenyum tipis, tatapannya datar pada Clara, "kau hanya tahu permukaan keluarga Mahendra, Clara. Tapi kau tidak tahu seberapa dalam dan berbahaya sebuah air tenang apalagi air berarus, yang kami lakukan ini juga penuh pertimbangan, ini adalah hal yang tepat untuk keduanya. Ken akan menikah dengan perempuan pilihan kami setelah Cia memberi izin!"ucap Rahayu datar.
"Kau!" Clara kembali menunjuk Rahayu dengan mata marah.
"Yang ku lakukan ini, masih sangat menghormati dan menganggap keluarga Utomo sebagai sahabat. Aku masih meminta dengan baik-baik, jangan paksa aku bertindak dengan kekuasaan keluarga Mahendra! Percayalah Clara, ini adalah keputusan yang terbaik. Izin kan aku berbicara dengan Cia. Aku akan berbicara dari hati ke hati dengannya. Pernikahan Ken dan Nabilla sangat penting untuk keluarga Mahendra," tutur Rahayu, masih penuh harap. Clara mengepalkan tangan, tatapan matanya masih penuh dengan penolakkan.
"APA?!" Kedua wanita itu sontak menoleh ke arah tangga di mana seorang perempuan muda yang tampak pucat dan berdiri gemetar memegang pegangan tangga, menatap mereka berdua dengan tatapan rumit. Terlihat jelas bahwa ia sangat terkejut.
"CIA!"seru keduanya cemas, segera naik ke anak tangga teratas di mana Cia mulai tak sadarkan diri. "Apa maksud Tante?"tanyanya lirik sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
...****************...
...****************...
...****************...
Assalamualaikum Wr.Wb semua, author ingin mengucapkan terima kasih untuk semua dukungan yang telah readers dan authors berikan. Tetap dukung karya ini ya, semangat selalu. Dan sebagai penutup, Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H Tahun 2021.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.