
Ternyata suami Hani dulu berbeda agama dengan Umi Hani. Kedua keluarga yang berasal dari keluarga yang taat beragama di mana ayah Umi Hani pemilik pondok pesantren dan ayah suami Umi Hani adalah seorang pendeta di salah satu gereja di kota Bandung. Mereka pertama kali dipertemukan di Universitas Indonesia. Di mana Umi Hani jurusan agama dan suaminya jurusan kimia murni.
Cinta tidak bisa memilih kepada hati akan berlabuh. Walau kedua keluarga menentang keras, suami Umi Hani tidak menyerah dan menentang keluarganya sendiri dan memilih masuk ke agama Umi Hani.
Dua tahun usia mereka dan telah dikarunia dua orang anak yang berusia tiga bulan, terjadi hal yang tidak mereka duga. Keluarga suami Umi Hani belum bisa menerima keputusan putra tunggal mereka. Dua tahun ini mereka diam karena ingin melihat kehidupan keluarga kecil itu, rupanya bahagia dan mereka tidak rela!
Sedang mereka sendiri harus menahan rasa malu dan kehilangan harga diri, terlebih kehilangan keturunan karena suami Umi Hani meninggalkan agama yang selama ini dianut oleh orang tuanya. Hancur sudah harga diri dan mencari celaan masyarakat. Mendidik masyarakat bisa, mendidik anak tidak, mengapa masih jadi pendeta?
Mengatasi masalah itu, akhirnya keluarga suami Umi Hani memutuskan untuk menculik Umi Hani dan kedua bayinya. Akan dibebaskan dalam keadaan baik-baik saja asal suami Hani bersedia menceraikan Umi Hani dan kembali pada keluarganya.
Ancaman yang bukan sekadar ancaman. Kala itu, leher Umi Hani ditempeli pisau yang suka untuk menyayat lehernya. Begitu juga dengan kedua bayinya. Suami Umi Hani yang tidak punya pilihan, akhirnya menyetujuinya. Dengan berlinang air mata, dengan suara terbata, diwarnai dengan suasana hujan deras di malam hari dengan kilat petir mewarnai langit, Suami Umi Hani menceraikan Umi Hani secara verbal.
Puas dengan keputusan anaknya, orang tua suami Umi Hani meninggalkan Umi Hani dengan satu anaknya dan membawa anak yang lain dan mantan suami Umi Hani pergi. Sebelum berpisah, Umi Hani dan mantan suaminya, berpelukan erat dan Umi Hani memakaikan liontin berbentuk hati berwarna biru, di mana di dalamnya ada foto keluarga mereka.
Setelah itu barulah meninggalkan Umi Hani yang masih menangis sebelum akhirnya keluarga Umi Hani datang dan menerima serta mengikhlaskan apa yang telah terjadi.
Seminggu kemudian, Umi Hani menerima surat cerai dari mantan suaminya. Juga terselip sebuah pesan di dalamnya. Yang mengatakan bahwa mantan suami Umi Hani sungguh tidak punya pilihan lain. Berharap Umi Hani dan Nizam hidup bahagia. Berharap Umi Hani jangan terpuruk karena putusnya hubungan mereka.
Mantan suami Umi Hani juga berpamitan. Ia dan keluarga akan meninggalkan Indonesia ke Jerman. Melanjutkan study di salah universitas guna mewujudkan impian menjadi seorang profesor.
Sejak itu, mereka benar-benar putus hubungan. Menata kembali hati dan kehidupan. Umi Hani memfokuskan dirinya untuk merawat Nizam dan membantu orang tuanya mengelola pesantren. Tidak ada niatan untuk berumah tangga lagi, karena hatinya terpatri untuk mantan suaminya seorang.
Hingga sampailah usia Nizam yang mulai menanyakan soal ayahnya. Tidak mau membuat anaknya berharap, Umi Hani hanya bisa berbohong. Mengatakan bahwa ayah Nizam tewas dalam kecelakaan kapal dan mayatnya tidak ditemukan.
Jawaban itu melekat di dalam ingatan Nizam. Hingga pada akhirnya kisah kelam masa lalu terbongkar. Nizam yang memiliki akhlak yang baik, tidak pernah sekalipun ia mendendam pada seseorang. Menanggapi cerita Uminya, Nizam menangis. Tidak ada perasaan marah, ia malah merasa senang kalau ternyata ia memiliki saudara kembar dan ayahnya juga masih hidup.
***
Bella tersadar dari lamunannya, mengingat kembali cerita Umi Hani tentang masa lalunya saat Ken menepuk ringan pundaknya. "Sudah mau landing, Aru," ujar Ken memberitahu.
"Hem." Mereka berdua memang langsung pamit setelah shalat Ashar. Walaupun besok hari minggu. Namun, besok bukan hari free. Besok Bella ada jadwal mengisi seminar di salah satu universitas untuk mahasiswa/i jurusan fakultas ekonomi.
"Memikirkan cerita Umi tadi?" Bella mengangguk.
"Sama-sama single parent. Sama-sama tidak menikah lagi setelah berpisah. Sama-sama mendidik anak berdasarkan pendidikannya, alangkah baiknya jika mereka ditakdirkan bersatu selamanya," ujar Bella, turut prihatin dengan cinta orang tua Nizam.
"Em … menurutmu Aru, apa jika mereka bertemu kembali nantinya, akankah mereka kembali bersatu?"tanya Ken.
"Maybe," jawab Bella singkat.
Semua kemungkinan bisa terjadi.
*
*
*
"Hei mengapa kau murung?" Tepukan ringan hinggap pada pundak Nizam saat ia tengah melamun di tangga beranda masjid.
"Hm." El duduk di samping Nizam.
"Aku mencarimu di ruang belajarmu. Tapi, santri lain mengatakan bahwa kau masih ada di masjid," ucap El.
"Ada apa kau mencariku, Tuan Muda?"tanya Nizam, menoleh pada El. Seingat Nizam, ia tidak memberi tugas apapun pada El. Selain catatan dan itu sudah ia periksa tadi siang.
"Ini." El menyodorkan sekotak kecil berisi kue nastar pada Nizam.
"T-Tuan Muda … i-ini?"
"Titipan calon isteriku untukmu. Sebagai ucapan terima kasih karena sebulan yang lalu kau telah mengantarkan suratku padanya," jawab El.
"Ah terima kasih." Nizam menerimanya dengan senang hati. Pria itu tersenyum. El memcembikkan bibirnya, "jika bukan amanah, tak mau aku membaginya padamu!"ucap El.
"Mau tak mau aku harus ikhlas. Jika tidak, aku akan banyak menanggung dosa. Jika aku tak amanah, sudah masuk golongan munafik, jika aku tidak ikhlas, artinya kebaikan Anjani sia-sia. Benar, bukan?" Nizam tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya menyetujui.
"Lalu mengapa kau melamun di sini? Memikirkan ayah dan saudara kembarmu?"
"Hm. Walau sebelum ini, Umi mengatakan bahwa Abi sudah tiada. Tak bisa mencegah hatinya untuk merindukan dirinya setiap saat. Abi waktu masih dengan Umi begitu tampan. Apa Abi masih setampan itu sekarang? Dan kembaranku? Apa dia setampan diriku? Akankah kami punya banyak kemiripan baik dari segi wajah atau kebiasaan? Rasanya tidak sabar menunggu waktu sebulan lagi. Tuan Muda, ingin rasanya aku terbang malam ini kita ke Jerman."
Nizam menatap langit malam yang cerah dengan mata sendu. Kerinduan yang begitu mendalam.
"Jika kau terbang malam ini, kau mau mencari di mana? Mau menjelajahi seluk beluk Berlin? Memangnya kau tahu tempatnya di mana?"tanya El.
"Bukankah kata Nona Bella, nama kembaranku Evan, seorang peneliti di institute penelitian Berlin? Bukankah itu tempat umum?"
"Ckck dasar kau ini! Kau kira sesimple itu menemui seorang peneliti dengan title profesor? Terlebih kau ini, seorang tidak dikenal, walau wajahmu mirip dengan Evan, tapi kalian punya perbedaan yang mencolok!"
"Simpan dulu rasa rindumu. Kau sudah memendamnya selama selama ini, menunggu satu bulan lagi tidak sabar?"
"Dan ku beritahu kau satu hal, keluarga Abel itu sangat berpengaruh di Jerman. Abel juga kenal dengan Evan. Jadi, lebih mudah kita menemuinya jika punya kenalan dan latar belakang."
"Ah aku lupa," ringis Nizam.
*
*
*
Hari senin pagi, Bella datang ruangan Brian tanpa ditemani oleh Ken. Bella menyodorkan map di atas meja Brian. Brian menerimanya dan membuka lembarannya. Rupanya itu seperti proposal tentang proyek yang Bella pilih untuk pembuatan tender besar selanjutnya yang akan nantinya akan menggandeng beberapa perusahaan.
"Ini … kau serius memilih yang ini?"
"Ya, apartemen di kawasan Papua. Itu peluang yang sangat bagus."
"Aku rasa ini akan langsung ditolak. Abel, izin pembangunan di Papua itu cukup sulit. Jangankan kita yang perusahaan swasta, pemerintah mau membangun jalan saja sulit. Harus dijaga dengan keamanan ketat tentara. Terlebih di sana daerah rawan dan targetmu itu konsumen asing. Di sana itu rawan konflik, Abel. Aku tidak menyetujuinya. Terlebih dana yang sangat besar dengan resiko sebanding!" Brian langsung menolak mentah-mentah proposal Bella.
"I know, Brian. Namun, di sana rawan konflik karena mereka tidak puas dengan perkembangan wilayah mereka yang jauh tertinggal dari pulau lainnya. Kekayaan alam mereka digali namun mereka belum merasakan kesejahteraan. Proposal itu aku ajukan bukan asal tulis tanpa pertimbangan apapun," sahut Bella tenang.
"Dengan adanya proyek pembangunan apartemen, kita bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Tentu saja dalam hal ini kita harus menggandeng pemerintah. Selain apartemen, kita juga bisa membangun taman bermain bertaraf internasional. Kita tidak sekadar membangun tapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata. Untuk pekerja proyek, kita bisa menggunakan masyarakat. Mengenai izin, itu bisa kita dapatkan seiring dengan jalannya negosiasi."
"Abel, tidak semudah itu!! Akan banyak konflik yang ditimbulkan nanti!"
"Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Aku yang memegang proyek ini, maka aku yang akan menanganinya."
"Masalah ini, perlu kita bicarakan dengan Papa. Jangan sampai karena langkah gebrakan yang berbahaya ini, perusahaan terkena imbas yang sangat besar!"tukas Brian.
*
*
*
"Abel, kau serius dengan proyek yang kau pilih? Sudah mempertimbangkan semua resikonya?"tanya Surya. Saat ini Bella, Brian, dan Surya tengah melakukan pembicaraan via panggilan video. Bella mengangguk.
"Abel, proyek yang kau pilih ini lebih kepada membangun kawasan baru, membangun sebuah kota kecil di Papua dengan taraf internasional."
"Benar. Itu mirip dengan kawasan yang dibangun oleh Podomoro. Namun, kita tidak hanya membangun bangunan namun juga berusaha meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dengan pembinaan. Mall butuh staff, toko buruh pegawai, butuh keamanan pulang. Itu akan jadi solusi. Jadi, aku rasa walau proyeknya masuk tahap sedikit berbahaya mengingat konflik panas di Papua, itu akan sebanding dengan apa yang akan dihasilkan. Oleh karenanya, kita butuh kerja sama dengan pemerintah, kepolisian, atau tentara," jawab Bella.
Bella begitu percaya diri seolah proposal itu sudah Bella persiapkan sejak lama. Padahal, sepengetahuan Ken, Bella baru menyusunnya kemarin, sepulangnya dari seminar. Namun, yang Ken tidak ketahui adalah Bella telah merancangnya setelah Frans, sekretaris Surya menyampaikan tentang pemilihan proyek padanya.
"Baiklah. Papa akan mengizinkannya setelah kau mendapat izin pembangunan," tukas Surya, memutuskan. Dan Brian tidak ada komentar lagi.