This Is Our Love

This Is Our Love
Hubungan Kita Sudah Berakhir



"Selamat malam semuanya!" Suara MC memecah suasana yang cukup riuh acara resepsi Anggara dan Azzura. 


"Malam." Koor sahutan yang bertalu menyambut sapaan semangat MC. 


"Selamat datang di resepsi spektakuler pekan ini, everybody! Sebentar lagi kita akan memulai rangkaian acara yang terakhir yakni pesta dansa. Yo siapa saja yang sudah menantikan acara terakhir dan paling dinanti ini?" MC melempar pertanyaan pada para tamu. 


Sahutan didominasi oleh kaum hawa. Baik pasangan tua dan muda begitu antusias. Mereka bahkan sudah bersiap untuk berdansa. 


"Aru kau bisa berdansa?"tanya Ken, dengan berbisik. 


"Sure," jawab Bella mantap. 


"Jika begitu, Aru mau kan kau berdansa denganku?" Ken membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Bella, ala-ala pangeran yang mengajak putri untuk berdansa. Bella menerimanya, keduanya kini berdiri berhadapan. 


"Sebelumnya saya secara pribadi, sekali ingin mengucapkan happy wedding untuk Prince Anggara dan Princes Azzura. Selamat menempuh hidup baru. Semoga sakinah, warahman, dan mawaddah. Tak lupa selamat juga untuk kedua keluarga mempelai yang berbahagia."


MC sedikit membungkuk pada mempelai yang masih duduk di pelaminan. Anggara mengangguk. Azzura semakin melebarkan senyumnya dengan tangan memeluk erat lengan Anggara.


 Tuan dan Nyonya Adhitama mengangguk kecil. Begitu juga dengan Clara dan Bayu. Sejujurnya, mereka tidak menduga bahwa pernikahan akan dirayakan dengan resepsi yang begitu mewah. Dalam benak keduanya hanya menduga kalau ini dilakukan demi memenuhi permintaan Azzura. Sebagai putri tunggal, Azzura adalah kesayangan keluarga Adhitama di balik kekurangannya.


Angkasa mulai merasa lega setelah mengikuti acara dari awal sampai saat ini. Sedang Cia, ia percaya pada Anggara. Di tempat duduk untuknya di atas pelaminan, matanya menatap lekat Ken dan Bella yang bertatapan dalam penuh cinta. Cia menarik senyum kecut, "dulu tatapan itu hanya untukku. Ken aku masih berharap tatapan itu juga masih menjadi milikku walau harus terbagi," gumam Cia.


"Prince dan Princes yang berbahagia, dimohon untuk berdiri dan mengikuti acara terakhir kita," ujar MC. Anggara berdiri dan mengulurkan tangannya pada Azzura. Azzura menerimanya. Keduanya melangkah menuruni pelaminan ke lantai untuk berdansa. Gaun yang Azzura kenakan tidak terlalu besar, simple untuk bisa bergerak bebas. Gaunnya kali ini mengambil potongan gaun yang dikenakan untuk Princes Bella. Di bawah lampu gantung ballroom membuatnya tampak bersinar. 


"Acara dansa kita mulai!"ucap MC penuh semangat disusul dengan alunan melodi syahdu dan romantis.


"Kakak?"panggil Angkasa yang melihat wajah Cia begitu sedih, dan sepertinya juga kesal. Angkasa menyentuh tangan Cia yang terkepal. Tatapannya lekat pada Bella dan Ken yang berdansa dengan begitu bagus. 


"Kakak tidak rela?"tanya Angkasa pelan.


"Dia … tidak mungkin berpaling dariku. Aku tahu di hatinya masih ada aku."


"Kakak …." Angkasa begitu cemas. 


"Kak lebih baik kita ke kamar. Kakak harus istirahat. Besok pagi kita harus kembali ke Singapura," ajak Angkasa. Cia menggeleng. 


"Aku akan pergi setelah berbicara dengan Ken. Aku harus berbicara dengannya. Akas setelah acara ini kau temui Ken katakan padanya aku ingin berbicara dengannya!"


"Kakak?!"protes Angkasa pelan. Ia tidak setuju dengan keinginan Cia. 


"Aku akan tenang  setelah memastikannya!" Angkasa menghela nafas kasar. Kakaknya sudah bertekad dan sulit untuk diubah. 


"Baiklah. Akan aku usahakan." Pada akhirnya Angkasa hanya bisa menyetujui.


*


*


*


"Aru … kau berdansa begitu mahir. Katakan padaku dengan siapa saja kau pernah berdansa?" Pertanyaan yang mengandung rasa cemburu keluar dari mulut Ken. Mereka mengobrol dengan tetap berdansa. 


"Kau ingin tahu?"tanya Bella dengan tersenyum menggoda.


"Dengan Louis?"terka Ken. Lihatlah wajah cemburunya. "Salah satunya."


"Salah satunya?" Wajah cemburu Ken semakin terlihat jelas. Dan Bella mengangguk membenarkan. 


"Siapa saja itu?"


"Hei kau cemburu dengan kakek dan Papa mertuamu sendiri?"cibir Bella. Ken tertegun. Ia salah duga. Tak lama, "mana bisa aku cemburu pada mereka sedang aku lah yang mengambilmu dari mereka," tutur Ken. 


"Saat kecil aku pernah berdansa dengan kakaknya Dylan. Saat di Jerman aku pernah berdansa dengan Daddy, ya terhitung hanya lima orang. Enam denganmu," jelas Bella. 


"Tapi, mulai sekarang kau hanya boleh berdansa denganku saja," tuntut Ken.


"Bagaimana jika di situasi yang tidak memungkinkan?"


"Misal?"


"Jika nanti kita punya anak dan anakku mengajakku untuk berdansa, apa aku harus menolaknya?""


"Hm, tetap saja. Aru is mine!" Bella mendengus senyum. Bahkan nanti pada anak sendiri Ken akan tetap cemburu bahkan protektif padanya. 


"Dasar kau, Tuan Pecemburu!"gerutu Bella.


"Hanya padamu, My Aru."


Sedangkan Bella dan Ken berdansa dengan saling mengobrol. Maka Brian dan Silvia berdansa tanpa sepatah kata apapun. Keduanya hanya fokus menyelami dan mengikuti gerak alunan melodi. Biar begitu, wajah bahagia tak bisa tidak terpancar dari Silvia. Tanpa kata, Brian menunjukkan sikap posesif pada Silvia. Contohnya saat ini saja, Brian merengkuh erat pinggang Silvia dan menjaga jarak dari para pria yang ikut berdansa dengan pasangan masing-masing. 


Aku menyukainya. Aku sangat senang. Tetaplah seperti ini, Mas. Maka, aku akan bersabar menantikan moment menjadi istrimu yang seutuhnya, batin Silvia.


Selesai acara dansa, Ken menarik Bella menuju balkon ballroom. Angkasa yang sedikit terlambat langsung menyusul keduanya. 


"Lihatlah, langit begitu indah," tutur Ken, memeluk Bella dari belakang. Kedua tangan bersatu memeluk pinggang Bella dengan dagu berada pada pundah Bella. 


"Mengapa kita keluar? Lebih baik kita pulang," ucap Bella. Tadi ia melihat jamnya sudah hampir pukul 22.00. 


"Tidak jadi menginap?" Tadi mereka, berikut dengan Brian dan Silvia sepakat untuk menginap di hotel. Pakaian mereka untuk esok pagi juga sudah berada di dalam kamar masing-masing. Oleh karenanya mereka berempat tidak ragu untuk meninggalkan ballroom semalam ini. 


"Aku ingin tidur di kamar kita." Sejujurnya Bella tidak nyaman berada satu gedung dengan Cia. Walaupun terpisah lantai, dan lantai tempat mereka menginap itu memang dikhususkan untuk anggota keluarga Mahendra, tetap saja tidak menutup kemungkinan berhadapan dengan Cia. Tatapan lekat Cia bukan tak luput dari penglihatan Bella. Inderanya begitu peka. Bella percaya pada Ken. Namun, ketakutan tetap ada dalam dirinya. Lebih baik mengantisipasi bukan?


"Aku mengerti." Ken juga bukannya tak mengerti dengan apa yang disembunyikan oleh Bella. Kegusaran hati Bella dapat ia rasakan.


"Kalau begitu kita pulang sekarang."


"Ayo." Saat berbalik keduanya mendapati Angkasa yang baru tiba di balkon. Ramainya tamu serta jarak yang cukup jauh antara pelaminan dan balkon di mana Bella dan Ken berada cukup jauh. 


"Angkasa?"gumam Ken. Bella menunjukkan raut wajah waspada. Hatinya berbisik pasti hadirnya Angkasa di hadapannya dan Ken ada hubungannya dengan Cia. 


"Kak Cia ingin berbicara dengan Kakak. Mengingat penyakit Kak Cia aku harap Kakak tidak menolaknya," ucap Anggara menatap Ken.


Bella menatap Ken yang tampak terkesiap dengan ucapan Anggara. Bella menanti jawaban Ken. Apakah akan menolak atau menerimanya. 


"Aku … tidak ada bisa. Sudah terlalu malam dan kami harus segera pulang. Sampaikan maafku padanya," jawab Bella. Bella tersenyum tipis.


Aku harap kau selalu tegas seperti ini, Ken.


"Nya?" 


"Kak Cia?" Angkasa terkejut mendapati Cia berada di belakangnya. Cia dengan wajah tak percaya menatap Ken rumit. Ken bergeming, ia menatap datar Cia. Ken mengeratkan genggamannya pada Bella. Dan itu tak luput dari penglihatan Cia.


"Sejauh dan semarah itu kah kau padaku, Ken? Hingga kau tak mau memanggil namaku?"tanya Ken sendu. Ia maju, ingin menyentuh Ken. Namun, Ken menghindar. Tangan Cia terhenti di udara.


"Maaf, Nona Cia dan Tuan Muda Angkasa. Saya dan istri saya harus segera pulang. Kami begitu lelah, mohon jangan persulit kami," ucap Ken, datar. Hati Cia berdenyut nyeri. Sejauh itu kah mereka sekarang? Hubungan lima tahun, hanya karena ia pergi tanpa memberitahu Ken, dan memutuskan hubungan sepihak itu pun karena ada alasannya, Ken sudah melupakannya? Ken sudah berpaling sepenuhnya darinya? Apa Ken benar-benar mencintainya? Mengapa secepat itu? Mengapa singkat sekali?


Tatapan Cia beralih pada Bella menunjukkan wajah tenangnya. Pesona apa yang Bella miliki? Cara apa yang Bella lakukan sampai Ken bisa bersikap seperti ini? Bahkan selain berbentur tatap tadi, Ken terlihat selalu menghindari tatapan dengannya. 


"Hanya sebentar saja, please," pinta Cia memelas. 


Sesungguhnya Ken tidak tega dan sampai hati menolak Cia. Namun, ia harus lebih menjagakan hati dan perasaan Bella, istrinya. Hubungannya dengan Cia sudah berakhir dan itu Cia sendiri yang mengakhiri dan meninggalkannya. Ken sudah rela dengan itu. Ia menerima dengan lapang dada. Lalu, hal apa lagi yang mau dibicarakan? Terlebih tatapan Cia yang masih menyimpan cinta dan sejuta rindu padanya. Itu sungguh membuatnya tidak nyaman.


"Kalau begitu bicaralah sekarang," ucap Ken.


"Empat mata," ucap Cia.


"Nona Cia, please. Hubungan kita sudah berakhir. Di sini ada istri saya, tolong katakan saja sekarang. Jika enggan, tidak masalah. Kami pamit, assalamualaikum!"tukas Ken, melangkah dan menarik tangan Bella. Namun, Bella tidak bergerak. Ia tetap diam dengan saling tatap dengan Cia.


"Aru, ayo!"


"Bicaralah empat mata dengannya. Aku percaya padamu," ucap Bella. 


"Aru?!" Ken protes. 


"Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Jangan buat jadi bertele-tele." Bella melepas genggaman tangan Ken dan menarik kerah kemeja belakang Angkasa meninggalkan ballroom.


Kini hanya tinggal Ken dan Cia berdua. Ken memilih berbalik dan menatap langit. Cia berdiri tepat di belakangnya. 


"Kau masih mencintaiku, Ken."


Ken bergeming mendengarnya. Cia beralih berdiri di sampingnya.


"Kau bersikap begitu karena menjaga perasaannya. Aku tahu tidak semudah itu bagimu melupakan aku. Aku adalah cinta pertamamu yang akan terus tersimpan di dalam hati seumur hidup." Ken masih bergeming. Ia membiarkan Cia berbicara tanpa niat menjawab. 


"Kau selalu menepati janjimu padaku. Aku percaya padamu, pada janjimu. Sekalipun aku telah pergi, aku, cintamu untukku tidak akan pernah hilang dari hatimu. Itu abadi. Sekalipun ada penggantinya, aku tidak akan terganti. Aku benar kan, Ken?"


"Katakan terus terang, apa yang ingin kau katakan!"sela Ken cepat sebelum Cia kembali berucap.


"Katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku. Dengan begitu aku akan merasa sangat tenang."


"Lantas apa? Jangan lupa jika kau yang mengakhiri hubungan kita! Semua janjiku padamu ikut hancur dengan putusnya hubungan kita! Aku sudah memiliki kehidupanku sendiri dan kau juga begitu!"


"Kau berbohong, Ken!"


"Kau yang berbohong padaku! Tolong jangan ganggu hidupku lagi. Kau tampaknya bahagia dengan hidup yang sekarang. Sayonara!"