This Is Our Love

This Is Our Love
Terapi



"Ya hallo, Calia. Ada apa?"tanya Bella, menjawab panggilan dengan aerphonenya. Tangan dan matanya tetap berfokus pada pekerjaannya. 


"Aku hanya mau mengingatkanmu. Jangan lupa nanti sore, jam 17.00 harus sudah berada di rumah! Jangan sampai lupa dengan terapi perdanamu!"


"Aku akan tiba di rumah sepuluh menit lebih awal," jawab Bella.


"Sekarang sudah jam 16.10, kau sudah akan pulang?"


"Sebentar lagi. Kau tenang saja, aku tidak akan terlambat!"ujar Bella meyakinkan. 


"All right."


Panggilan berakhir. Lima menit kemudian, Bella menutup laptopnya. Membereskan berkas barulah melepas kacamatanya. "Aku pulang lebih dulu," ujar Bella seraya memakai jaketnya. 


"Hati-hati," sahut Ken. Bella mengangguk. Ken berdiri dari tempatnya dan menghampiri Bella.


"Maaf, di hari pertama aku tidak bisa menemanimu," ucap Ken, menyesal. Bella tersenyum, memeluk Ken dan memberi kecupan manis pada pipi suaminya.


"Bukan maumu," balas Bella. 


"Hm."


"Aku berangkat, assalamualaikum," pamit Bella, mencium punggung tangan Ken.


"Waalaikumsalam," jawab Ken, mendaratkan kecupan pada dahi Bella. Ken tersenyum simpul melepas kepulangan Bella ke mansion. Semalam, mereka sepakat untuk begini, mengingat Bella pulang lebih awal namun jadwalnya tidak bisa dipadatkan ke pas jam Bella pulang. Alhasil, pekerjaan Bella setelah pulang dipegang dengan Ken dengan resiko Bella dan Ken pulang sendiri-sendiri dan tak menutup kemungkinan Ken lembut. Ya begitulah nasib sekretaris sekaligus asisten Bella. 


Terlebih ini bisa dianggap sebagai latihan Ken sebelum benar-benar Bella lepas tanpa pengawasan dirinya. Rencananya pun nanti, setelah perizinan selesai dan proposal yang Bella buat masuk ke meja tender, setelah semua tim terbentuk, setelah perusahaan mana saja yang akan digandeng, maka Bella akan menunjuk Ken sebagai kepala proyek untuk pembangunan kawasan apartemen yang di dalamnya terdapat pusat perbelanjaan, taman hiburan, dan beberapa spot lainnya.


"Ayo cepat selesaikan pekerjaanmu, Ken! Semangat!" Ken kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. 


*


*


*


Di mansion keluarga Mahendra, Calia sudah menunggu di dekat gerbang. Dengan celana training, sweater berwarna peach, Calia berulang kali melihat jam tangannya. Wajahnya terlihat gelisah sekaligus kesal. 


"Siapa yang Nona Calia tunggu? Kok nggak sabaran gitu sepertinya," tanya penjaga gerbang menyapa Calia. Penjaga gerbang bertanya dengan bahasa inggris. Calia tahu bahwa setiap pekerja di rumah ini, punya kecakapan dalam bahasa inggris. 


"Abel, Pak," jawab Calia sopan.


"Oo Nona Bella. Memang katanya akan tiba jam berapa?"tanya Penjaga gerbang lagi. Dalam pengamatan Penjaga gerbang setiap harinya hanya Brian dan Silvia yang sering pulang tepat waktu. Lain hal dengan Ken dan Bella yang paling cepat pulang ya jam pulang kerja, selebihnya di atas pukul 19.00 malam. 


"Dua menit lagi," jawab Calia, wajahnya semakin menunjukkan ketidaksabaran. Penjaga gerbang itu lalu melihat ponselnya. "Wah jam 16.50 ya Nona?"


"Bapak hobi ngobrol ya?"tanya Calia, ia sedikit kesal. Sudah tak sabar menunggu Bella tiba, malah ditanya-tanya lagi.


"Ya kalau ditanggapi ya salah senang ngobrol, Non. Kalau tidak ya saya diam saja," jawab penjaga gerbang santai. 


Calia terhenyak. Wajar bukan jika penjaga gerbang menyapanya? Jika tidak, bukankah seharusnya ia yang merasa tidak nyaman di mana salah satu penghuni rumah acuh ataupun saling acuh?


"Ah, maafkan saya Pak. Saya terlalu gelisah menunggu Abel. Maaf …," ucap Calia menyesal dan penjaga gerbang itu mengangguk kecil. 


Tin....


Tin....


"Itu sepertinya Nona Bella," ucap Penjaga gerbang, langsung membuka gerbang tanpa harus keluar dari posnya. 


"Abel!"sapa Calia setelah Bella menghentikan dan mematikan mesin motornya. 


"Tepat waktu bukan?"tanya Bella setelah membuka helmnya. 


"Ya, kau tepat waktu," jawab Calia, mendengus senyum.


"Tuan Muda Ketiga mana, Non?"tanya penjaga gerbang heran, bukannya keduanya pulang pergi selalu barengan?


"Masih di kantor, Pak," jawab Bella dan penjaga gerbang hanya ber-oh-ria. 


"Ayo," ajak Calia menarik Bella setelah Bella menyerahkan ransel dan jaketnya pada pelayan.


"Aku tidak mandi dulu?"tanya Bella disela-sela mereka berlari kecil menuju paviliun.


"Selesai terapi baru mandi!"jawab Calia.


Kini keduanya tiba di paviliun. Salah satu kamar diubah menjadi tempat terapi. Dokter Susan, dokter terapi psikologis Bella sudah berada di tempat dan kini duduk berhadapan dengannya sedangkan Calia menunggu di luar kamar. 


"Selamat sore, Nona Bella," sapa dokter muda yang usianya sepelantaran dengan Bella.


"Sore, Dok," balas Bella ramah. Bella sudah menanggalkan jasnya. Menyisakan celana panjang, kemeja biru lengan panjang dan hijabnya. 


"Sebelum kita mulai, boleh saya tahu bagaimana perasaan Anda akan terapi ini?"tanya dokter Susan.


"Sejauh ini sangat merasa biasa saja," jawab Bella jujur. 


"Gugup? Gelisah? Ketakutan berlebih? Atau tentang metode terapi, Anda tidak ada merasakan kekhawatiran di dalamnya?"tanya dokter Susan, sedikit tercengang. Bella menggeleng.


Bella bisa berbicara dengan santai dan tenang, tatapan matanya tegas, jernih, senyum tipis di bibirnya menambah kesan meyakinkan. 


"Bisa kita mulai?"


"Kita mulai ya, Nona. Harap fokus pada pertanyaan saya," ujar dokter Susan.


"Bagaimana perasaan Anda melihat foto ini?"tanya dokter Susan menunjukkan foto kendaraan roda empat yang terdapat pada laptopnya. 


"Biasa saja," jawab Bella.


Dokter Susan mengangguk. Ia kemudian kembali menanyakan beberapa pertanyaan pada Bella setelah menunjukkan foto mobil dari roda empat sampai yang paling banyak. Kemudian menanyakan perasaan Bella saat berada di sisi mobil yang diam atau melaju, saat berdampingan dengan kendaraan lain, atau menyalip kendaraan lain. Jawaban Bella tetap sama, biasa saja.


Bahkan saat ditunjukkan foto kecelakaan yang menyebabkan mobil hancur dan korban jiwa, Bella tetap tenang, malah menutup matanya dan berkata, "semoga tenang di alam sana." Sejauh ini, dokter Susan tidak menemukan tanda-tanda trauma akan kendaraan roda empat dan di atasnya. Bahkan Dokter Susan mulai merasa bahwa Bella tidak mengidap trauma.


"Lalu dengan ini? Coba Anda lihat dan pegang, bagaimana perasaan Anda terhadap miniatur-miniatur ini."


Tangan Bella terulur dengan mimik wajah merasakan setiap gerakan yang ia lakukan. Disentuhnya miniatur mobil dengan merk mercedes benz berwarna biru itu. "Biasa saja," ujar Bella kemudian setelah meminang-minang perasaanya. 


"Kalau yang truck?" Pandangan Bella terakhir pada miniatur truck roda sepuluh berwarna hijau muda itu. Diletakkannya miniatur mobil pribadi itu. Bella menyentuh roda, naik body, dan terakhir ia mengangkat truck dan menatap bagian depannya.


Tiba-tiba saja Bella memejamkan matanya. Kepalanya terasa pusing, sekelabat ingatan tentang kecelakaan hadir di pikirannya. 


Truck miniatur yang Bella pegang jatuh karena Bella memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Nona Bella?" Dokter Susan sangat yakin jawaban kali ini tidak akan biasa saja lagi.


"Bagaimana, Nona Bella?'


"Aku … aku merasa sangat pusing. Aku merasa diriku kembali pada saat kecelakaan itu!"


"Tenangkan dirimu, Nona. Minumlah dulu," ujar dokter Susan, tersenyum pada Camelia. Kini hatinya benar-benar yakin kalau Bella menderita trauma psikologis. 


Nafas Bella sedikit memburu setelah minum. "Silangkan kedua tangan Anda di dada, Nona. Dengan posisi tangan kanan di atas. Lalu tepuk lembut bahu Anda. Itu dapat membantu Anda menjadi tenang," tutur Dokter Susan, mempraktikkan apa yang ia katakan pada Bella.


Cara menenangkan diri yang sama dengan cara yang dilakukan pada salah satu adegan drama korea tahun 2019.


Bella melakukannya. Matanya terpejam dan kedua tangan menepuk lembut bahunya. 


"Sudah merasa lebih baik?" Bella menurunkan tangannya. Matanya membuka lalu menghela nafas pelan.


"Mengapa saat aku melihat dan memegang, membawa mobil kecil ini ke hadapanku aku merasa biasa saja? Semantara saat aku menatap bagian depan truck ini, aku langsung merasa pusing dan teringat akan kecelakaan itu?"tanya Bella bingung. Dokter Susan tersenyum. 


"Karena saat kecelakaan, yang ada di pelupuk mata Anda adalah truck, bukan mobil kecil ini. Yang terbayang saat Anda melihat bagian depan truck adalah saat truck ini datang dan menghantam kendaraan yang Anda tumpangi. Itu hal wajar," terang dokter Susan.


"Begitu kah?" Dokter Susan mengangguk. "Terapi hari ini cukup sampai di sini. Anda boleh kembali ke aktivitas Anda selanjutnya," lanjut dokter Susan.


"Sudah selesai? Begitu saja?" Bella tertegun.


"Iya. Hari pertama cukup sampai di sini. Persiapkan diri Anda untuk hipnoterapi lusa," pesan dokter Susan.


Dengan wajah yang masih tak percaya, Bella meninggalkan ruangan, "sesingkat itu?"


"Abel, bagaimana?"tanya Calia saat Bella keluar.


"Sudah selesai katanya."


"Kau merasa fine?"tanya Calia cemas.


"I'm fine," jawab Bella. 


"Lalu apa katanya?"


"Aku boleh kembali ke aktivitasku."


"Baiklah." Bella mengangguk dan keluar dari paviliun. Di luar paviliun, Bella mengendikkan bahunya, "ku kira aku akan muntah hebat," gumam Bella. 


*


*


*


"Masalahnya bukan pada objek melainkan pada subjek," ucap dokter Susan pada Calia.


"Maksud Anda rasa bersalah yang masih bersarang pada Bella yang menyebabkan traumanya tidak kunjung hilang?"


"Kurang lebih seperti itu." Dokter Susan membuka satu file di laptopnya. "Hari ini aku hanya memastikan apa efek terapi yang telah lalu masih ada atau sudah hilang. Ternyata masih ada."


"Artinya hari ini Anda hanya memastikan?"


"Hm."


"Oh God! Abel itu bukan anak yang dikurung, bukan anak yang tidak tahu dunia luar. Kuliahnya bahkan di Amerika dan kerja di Jerman. Berdampingan dengan kendaraan besar kecil, tiada artinya sama Bella. Ia tidak takut, malah aku yang dibonceng yang ketakutan. Ini hal tidak berguna, dokter Susan!"


"Kan saya katakan, saya hanya ingin memastikan. Hari Jum'at nanti baru langsung ke lapangan. Sediakan satu mobil untuk alat media terapi," ucap dokter Susan santai.


"Saya punya cara tersendiri untuk Nona Bella, Nona Calia. Dan saya tidak membuat apa yang saya lakukan sia-sia. Semua sudah saya perhitungkan!" Calia tidak menjawab lagi. Dokter Susan membereskan meja kemudian pamit pulang pada Calia.


*


*


*