This Is Our Love

This Is Our Love
Kecurigaan Leo



Di sebuah ruang kerja, di kursi kebesarannya, seorang pria tampak begitu fokus pada pekerjaannya. Ketikkan jari pada keyboard begitu lincah. Kacamata dengan frame putih, memperlihatkan aura kepemimpinan yang pekat. Tatapan matanya begitu tajam, jeli dan cepat membaca dokumen dan mengetik di laptop. 


Papan nama yang berdiri berada di atas mejanya, menunjukkan siapa dan apa posisinya. Dia adalah Leo, Presdir dari Kalendra Group yang telah menggantikan posisi sebelumnya selama 4 tahun. Leo adalah anak sulung keluarga Kalendra, sekaligus kakak dari Louis.


 Leo dan Louis dikenal dan dikagumi oleh keluarga, teman, dan publik dengan sebutan dua berlian dari surga. Wajah yang sama-sama rupawan sejalan dengan kemampuan yang mumpuni. Saling menjaga dan menyayangi satu sama lain, saling mendukung, bukan menjatuhkan dan saling mencurigai. 


Leo, pria berusia 30 tahun itu sudah memiliki istri dan juga sudah menjadi Papa muda. Helena dan Key adalah istri dan anak Leo. 


"Tuan Muda." Leo mengangkat pandangannya dari layar laptop. Luce, sekretaris sekaligus asisten pribadi Leo berdiri tegak di depan Leo, tablet tak pernah lepas darinya.


"Ada apa?"tanya Leo, datar.


Luce berpindah menjadi di sisi Leo kemudian membisikkan sesuatu. Netra Leo sedikit melebar mendengar apa yang Luce sampaikan, "sudah kau pastikan?"


"Saya sudah pastikan sendiri, Tuan Muda. Sepertinya Nyonya Besar sedikit cemas dengan Tuan Muda Louis hingga melakukan hal ini," ujar Luce, kembali berdiri di depan Leo.


"Hm bukan itu yang aku herankan. Membahas cemas, aku pun cemas dengannya. Anakku sudah berusia 6 tahun, sedangkan Louis belum menikah. Untung saja kami kompak, jika tidak pasti akan banyak pihak yang berusaha mengadu domba kami," ucap Leo, melepas kacamatanya dan sedikit melonggarkan dasi.  


"Lalu apa yang Anda herankan, Tuan Muda? Bukankah itu hal bagus? Tuan Muda Louis akan menikah dan perlahan melupakan Nona Bella. Hal itu akan membungkam pihak-pihak yang ingin menghancurkan hubungan Anda bersaudara," heran Luce, pria berusia sama dengan Leo itu menyentuh tangkai kacamatanya, membenarkan posisi kacamata penderita rabun jauh itu. 


"Ya aku paham hal itu." Louis menghela nafas kasar. 


"Tapi apa kau pernah pikiran reaksi Louis saat tahun bahwa Daddy dan Mommy merencanakan perjodohan untuknya?" 


Luce menatap Leo, ia mengangguk lemah, "berdasarkan sifat Tuan Muda Louis, beliau pasti akan menolak dan jika dipaksa akan memberontak," jawabnya, mengingat tentang Louis sejenak. Leo tersenyum tipis.


"Dan jika pun Louis setuju, apa kau pernah pikirkan bagaimana kehidupan pernikahannya nanti? Hati Louis sangat sukar ditaklukkan, di hatinya telah bertahta nama Abel, aku kasihan dengannya dan istrinya nanti. Hah sepertinya aku harus membicarakan tentang hal ini pada Daddy dan Mommy," ucap Leo, meraih gelas berisi kopi tak jauh darinya.


"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"tanya Leo setelah menghabiskan kopinya.


Luce menggeleng, "saya permisi, Tuan Muda." Luce membungkuk kecil, setelah mendapat lambaian tangan setuju, baru keluar dari ruangan Loe.


Mengapa baru sekarang? Leo menyatukan ke sepuluh jarinya dan meletakkannya di bawah hidung. Mata Leo bergerak mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. 


Juga diam-diam tanpa memberitahuku tentang rencana mereka? Apa alasannya? Leo semakin bertanya-tanya. Dahinya mengerut tipis. Leo menurunkan tangannya, mengigit bibirnya sendiri. 


Hal penting apa yang tidak aku ketahui belakangan ini?


Leo mengingat-ingat apa saja yang disampaikan padanya belakangan ini. Ia menggeleng pelan, "aku harus bertanya pada Daddy dan Mommy," gumam Leo, memutuskan.


Sementara di ruangannya, Louis mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Siapa yang membicarakanku?batin Louis kemudian bersin.


*


*


*


Sejujurnya Leo juga merasa curiga dengan sikap baik Max dan Rose pada Bella. Awalnya ia merasa itu hal wajar, budi Bella pada keluarganya memang tak bisa terbalas dengan berapa banyak ucapan terima kasih yang mereka berikan. Namun, mereka adalah keluar besar, sudah hal biasanya budi dibalas total, tak pernah ingin memiliki hutang. 


Bella, ingatan Louis menerawang pada saat keluarganya memberikan hadiah untuk membalas budi Bella yang telah mendonorkan darah untuk Key. Akan tetapi, Bella hanya mengambil jam tangan dari sekian banyak hadiah yang mereka bawa. Dan jam tangan itu masih digunakan oleh Bella hingga sekarang.


Rasa curiga itu semakin kuat saat Leo mendapati Bella menjadi anak angkat keluarganya. Bukankah keluarganya paling anti dengan orang asing, apalagi beda agama, tapi mengapa begitu lembut dan ramah pada Bella? Apa sebabnya? Rasa sayang pun semakin tumbuh dari waktu ke waktu.


Pernah Leo mencurigai bahwa Bella adalah adiknya, namun mengingat usia Bella dan Louis yang sangat dekat, mustahil. Ia bahwa mencari laporan rumah sakit keluarganya, dan tidak terbukti kecurigaan. Kecurigaan itu perlahan memudar setelah Leo melakukan tes DNA secara diam-diam, hasilnya negatif bukan adik kakak. 


Saat bertanya pada orang tuanya, jawaban orang tuanya sangat simple yang membuatnya hanya bisa menghela nafas. 


*


*


*


"Di mana Daddy dan Mommy?"tanya Louis saat tiba di rumah. Louis belum pulang, pria itu ada jadwal meeting jam 20.00 nanti. 


"Tuan dan Nyonya besar sedang keluar, Tuan Muda, baru saja. Katanya tadi mau dinner dengan rekan lama," jawab pelayan.


"Ah baiklah." Leo mengangguk paham dan segera menuju kamarnya.


Leo mendapati sang isteri tengah sibuk bekerja di ruang kerja yang tetap berada di dalam kamar,  hanya dipisahkan oleh sekat tipis nan transparan. 


"Sore, Sweetheart," sapa Leo, masuk ke ruang kerja Helen dan memberikan kecupan singkat pada puncak rambut sang istri.


"Sore, Honey. Bagaimana harimu?" Ibunda dari Key itu bertanya setelah memberikan ciuman pada pipi Leo. Helen kembali fokus pada layar laptop dengan jemari yang terus menari di atas keyboard.


"Seperti biasa, aku berkencan dengan dokumen yang tidak pernah absen. Kau sendiri, belum selesai pacaran dengan naskahmu?" Leo menarik kursi dan duduk di samping Helen. Helen melirik Leo, ia tersenyum tipis.


"Bagan? Apa semua naskah cerita yang kau tulis sudah selesai?"tanya Leo. Helen menggeleng, "hanya bagan agar aku tidak lupa nanti. Bagan ini adalah kerja samaku dengan Abel. 


Helen berhenti mengetik, ia menutup laptop lalu melepas kacamatanya. Helen memutar tubuhnya menghadap suaminya.


 "Abel? Apa hubungannya? Bukankah prospek keahliannya ke bisnis real estate dan properti? Untuk apa naskahnya nanti?"tanya Leo bingung. Helen tersenyum geli melihat wajah bingung Leo.


"Katanya untuk membantu teman. Aku hanya mengembangkan garis besar yang Abel kirim. Aku akan mulai mengerjakannya setelah naskahku ini final," jelas Helen.


"Hm apa temanya? Aku tidak yakin romance," ucap Leo.


"Dari judul yang ia berikan sih lebih kepada perjuangan seorang anak. Kebetulan latarnya Jerman jadi cukup mudah bagiku menentukan latar tempat. Dan sinopsis yang Abel kirim, ada campuran romance, action, dan teen. Tapi entahlah aku menunggu kepastian dari Abel saja," tutur Helen, meraih kertas dan pulpen lalu menuliskan judul karya dari Bella.


"Wow dari judulnya sepertinya akan banyak mengandung bawang," komentar Leo.


"Ya sudah ku tebak."


"Kau mandilah sana. Baumu sangat asam!"suruh Helen, menutup hidupnya, mendorong Leo agar bangkit.


"Bukankah kau suka aroma keringatku?"


"Sekarang tidak suka. Cepatlah, perutku mulai mual!"usir Helen lagi. Leo mengerjap bingung. Ia buru-buru keluar setelah Helen menunjukkan gelagat mual.


Wangi kok? Helen aneh, batin Leo seraya mencium bau badannya.


Sementara Helen kembali bekerja. Helen adalah seorang novelis yang karyanya sudah banyak yang menjadi best seller, juga telah banyak memenangkan penghargaan. Karyanya juga telah diadaptasi menjadi drama atau film. Hobi Helen dari kecil memang menulis, dari hari ke hari semakin menunjukkan bakat dalam dunia sastra. Sejak SMP, Helen sudah menulis di platform online. Hingga kini, hobinya sukses mengantarnya menjadi penulis terkenal.


Semerbak wangi mint menguar dari tubuh Leo yang telah selesai mandi. Dengan celana pendek dan kaos oblong hitam, menambah kadar ketampanan Papa muda itu.


"Oh ya, Key mana, Sweetheart?"tanya Leo yang sedari pulang tadi tak menemukan anaknya. Biasanya di jam segini, jika tidak bermain di ruang tengah, maka menemani Helen bekerja sembari mengerjakan tugas sekolah jika ada.


"Key? Sepertinya tadi pergi ke taman belakang dengan pelayan," jawab Helen.


Leo ber-oh-ria.


"Ah ya bagaimana wangiku?"


"Seperti mandi parfum. Apa kau menumpahkan semua parfum?" Helen kembali menutup hidungnya.


"Kau aneh!"gerutu Leo, keluar dari ruang kerja Helen. Helen mengendikkan bahunya acuh. Ia kembali fokus pada kerjaannya. 


Leo kini membuka jajaran rak yang ada di kamar. Ia tengah mencari sesuatu. Lelah mencari namun tak menemukan apa yang ia cari. Leo menghembuskan nafas kasar, kesal. 


"Helen apa kau yang menyimpan berkas sakit Rey dulu?"


"Yang mana?"sahut Helen.


"Yang waktu Key dapat donor darah dari Abel."


"Oh itu di gudang. Aku pikir berkas itu sudah tidak penting lagi karena Rey sudah sembuh total," jawab Helen. 


Tidak terdengar sahutan dari Leo. Malah terdengar suara pintu yang dibuka dan ditutup. 


Apa yang dicari di dalam berkas itu?gumam Helen dalam hati.


*


*


*


Di gudang, Leo mencari berkas yang ia cari. Cukup lama Leo mencari hingga menemukan berkas itu di tumpukan di bawah meja. Leo membersihkan debu yang menempel pada kertas kemudian mulai membacanya. Posisinya masih berjongkok.


Hah 


Leo menghela nafas kasar. "Untuk apa aku mencari ini lagi? Sudah jelas Abel tak ada hubungan darah dengan keluarga ini, aku malah berharap," gumam Leo, kembali menyimpan berkas itu. Namun, saat ingin berdiri, matanya menyipit melihat sesuatu. Leo mendekatinya, itu sebuah brankas.


"Brankas apa ini?" Brankas berwarna hitam dan terkunci itu Leo angkat dan letakkan di atas meja. Lokasi tempat brankas ini cukup tersembunyi. 


Leo mencari paku dan linggis untuk membuka brankas. Ia berfikir mustahil membukanya dengan memasukkan kombinasi sandi karena sandi sudah tidak berfungsi lagi, dan ia tidak yakin orang tuanya tahu sandinya. Ia sangat penasaran dengan isinya, mana tahu sebuah hal yang sangat penting dari masa kakek atau buyutnya. Butuh usaha cukup keras karena brankas usang itu telah terkunci sangat lama. 


"Akhirnya." Brankas terbuka. Leo mencari lembaran kertas juga puluhan foto. Leo mengambil foto secara acak juga kertas. 


Foto seorang wanita yang sangat cantik. Leo melihat keterangan tentang siapa wanita itu. Matanya melebar saat membaca isi kertas.


"Mustahil. Bagaimana bisa?"gumam kaget Leo.