
"Nona." Tuan Adam langsung menyapa siapa yang memasuki ruang meeting, seorang wanita yang mengenakan hijab dan seorang pemuda tampan di belakangnya.
"Saya belum terlambat, bukan?"
Mata Marco dan Aldric terbelalak. "Kau? Untuk apa kau di sini? Bagaimana bisa kau ada di sini?!"
"Tentu saja untuk membeli saham Anda, Tuan Marco yang terhormat," jawab wanita itu yang tak lain adalah Bella.
Ken?
Ini menunjukkan raut wajah bingung. Apa ini?
Marco berdiri karena terperanjat. Ia sungguh shock. Bagaimana bisa? Bagaimana Bella menjadi ahli waris Tuan Williams?!
Itulah yang ada dalam benaknya. Aldric pun begitu, langsung terpikir olehnya, pantas Bella tidak merasa gentar dalam menghadapi apapun. Kuasanya lebih tinggi dari keluarga Nero bahkan keluarga Mahendra ataupun Kalendra. Namun, mengapa baru sekarang? Bella singa itu baru menunjukkan ketajaman taringnya sekarang?
Tuan Adam melangkah menghampiri Bella dan menyapanya secara formal. "Semua sudah berada di sini, Nona. Anda bisa segera menandatangi surat pembelian saham atas keluarga Nero," ucap Tuan Adam.
Bella mengangguk. "Terima kasih atas kerja kerasnya, Paman," ucap Bella.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa mengerjakan hal penting ini," ujar Tuan Adam sembari membungkuk kecil.
"Aru … ini sebenarnya apa? Nona? Saham? What this? Bukankah kau mengatakan kita akan menagih hutang?" Ken masih belum mengerti dengan apa yang ada di hadapannya. Mengapa pria berpenampilan rapi itu membungkuk hormat pada Bella, dan memanggilnya Nona? Nona dari mana? Bukankah Bella Nona dari keluarga Chandra? Ken sama sekali tidak mengerti. Bella menoleh pada Ken.
"Simpan dulu semua pertanyaanmu, Ken. Setelah ini aku akan menjelaskannya padamu. Dan kau tanya what this? Ini adalah menagih hutang!!"jawab Bella dengan tersenyum penuh arti. Mendengar itu, Ken hanya bisa mengangguk kecil.
Aura Bella kini lebih menekan ketimbang saat Bella mengumpulkan dan menegur semua karyawan Mahendra Group tempo hari.
Aura benar-benar seorang Nona besar dengan segala kemampuannya. Langkahnya tegas, menuju tempat duduk yang telah diperuntukan untuknya.
"Bagaimana bisa kau? Bagaimana bisa, ini tidak masuk akal. Aku tidak percaya!" Marco berkata dengan nada tinggi. Jarinya menunjuk Bella. Bella yang telah duduk memberikan senyum lebar penuh kepuasannya.
"Bagaimana bisa aku? Apa kalian tidak percaya? Atau karena tidak tidak pernah muncul kalian mengatakan aku membual? Atau karena penampilanku? Okay. Bagaimana dengan Tuan Adam? Beliau adalah kepercayaan Tuan Williams. Apa aku salah tempat, Paman?"
"Tuan dan Nyonya sekalian, perkenalan beliau adalah Nona Nabilla Arunika Chandra, ahli waris Tuan Williams. Beliaulah yang memegang kendali atas semua aset yang ditinggalkan Tuan Williams. Saya hanya sebagai perantara yang melaksanakan tugas beliau," jelas Tuan Adam.
Walau malah shock, tidak menyangka bahwa selama ini yang mewarisi seluruh aset Tuan Williams adalah seorang wanita. Dan sangat-sangat berkemampuan. Di tangannya, Bella berhasil mengembangkan dan memperbanyak saham awal. Betapa kayanya wanita muda itu. Tapi, ada dua hal utama yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Tuan Williams memberikan posisi ahli waris pada Bella? Orang Asia dan Amerika, jelas berbeda. Dan kebanyakan orang yang sudah senior dalam bermain saham, mengetahui bahwa Tuan Williams adalah seorang yang taat dalam agamanya. Mengapa memberikan seluruh asetnya pada Bella yang jelas-jelas tidak satu rumpun ataupun agama?
Bagaimana pertemuan awal mereka? Kapan hal itu terjadi? Lalu mengapa Bella memilih bekerja di balik layar? Ah sayu pertanyaan lagi, siapa sebenarnya Bella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Nero hingga membuat keluarga Nero tidak bisa berkutik?
Dan reaksi Marco dan Aldric, dari keringat dingin mereka, dari ketegangan wajah mereka, mereka sangat ketakutan dan hampir mati karena rasa terkejut dan ketakutan.
Apa ini? Mereka, walaupun hanya sebagai pemilik saham minoritas, juga punya hak untuk mengetahui apa yang terjadi di antara dua pemilik saham mayoritas bukan?
Ken mengamati ketegangan itu dari tempat duduknya yang biasa digunakan sebagai tempat duduk notulen rapat.
Dalam benak dan tatapannya terpancar banyak tanda tanya. Jika Bella seorang yang memiliki banyak harta, bahkan lebih kaya dan berpengaruh dari keluarganya, mengapa menerima perjodohan dengannya? Mengapa harus bersusah payah menjadi seorang wakil Presdir?
Mengapa harus menunggu waktu untuk membangun kembali keluarga Chandra? Dengan kuasanya, dalam waktu singkat Bella bisa membangun kembali keluarga Chandra.
Dan menagih hutang, mengapa juga harus menunggu waktu? Dan ini sungguh … sungguh mengejutkan. Bella bisa dikatakan sebagai pemilik Nero Group dilihat dari jumlah sahamnya. Benar-benar menyimpan banyak rahasia. Ken tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran Bella.
Dan sekarang, perasaan insecure pada Bella semakin bertambah. Dari yang awalnya hanya masalah pendidikan dan kemampuan, kini dari segi kekayaan.
Perfect. Bahkan satu kata itu Ken rasa kurang untuk mengambarkan bagaimana seorang Bella, his wife. Ken menundukkan dan memejamkan matanya. Ada ambisi baru yang tercipta di benaknya, Ken ingin jadi seorang Presdir. Ken harus menjadi Presdir Mahendra Group untuk mengikis jarak mereka yang terlalu jauh. Biarpun Bella tidak mempermasalahkannya, bagi Ken itu sebuah masalah. Ken tidak ingin menjadi seorang yang terhempas kelakiannya. Ken harus membangun dirinya sendiri, ia harus bekerja dan berusaha keras agar setara dengan Bella!
Ken sudah bertekad. Saat membuka mata, matanya berkilat tajam, itu sebuah tekad yang besar dan keyakinan yang tinggi.
"Mengapa Anda baru muncul sekarang?" Salah seorang dewan direksi wanita melempar pertanyaan pada Bella.
"Karena saya merasa saya muncul atau tidak, tidak ada bedanya. Lebih baik kalian mengenal saya hanya sebagai seorang ahli waris Tuan Williams dengan inisial B," jawab Bella dengan tersenyum.
"Siapa sebenarnya Anda?" Sungguh ingin tahu dengan identitas Bella. Nabilla Arunika Chandra, nama itu asing dan tidak ada dalam pesohor bisnis Amerika Serikat. Dari mana asalnya? Asia mana? Apa latar belakangnya?
"Keluargaku bernama Chandra dari Indonesia. Keluarga Kalendra dari Jerman adalah kerabat kandungku. Keluarga Mahendra dari Indonesia adalah keluarga suamiku," jawab Bella. Selain Marco dan Aldric, yang lain tertegun, termasuk Tuan Adam.
"Nona, Anda sudah menikah?"tanyanya dengan berbisik. Bella mengangguk singkat dan melirik ke arah Ken. Tuan Williams mengikuti arah lirikan Bella.
Tuan Adam tercengang, terpana saat melihat Ken. Pria muda yang tatapannya penuh dengan tekad. "Selamat untuk Anda, Nona," bisik Tuan Adam lagi.
Bella mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia mengalihkan pandangnya pada Marco dan Aldric yang duduk tepat di hadapannya. Bella menarik senyum tipis, "bagaimana, Tuan Marco? Ini hadiah pertemuan yang berkesan, bukan?"
Marco mengepalkan tangannya. Skatmat. Tamat sudah riwayatnya. Ternyata selama ini ia telah memprovokasi orang yang salah. Menyinggung dan mencari masalah dengan orang yang sangat berpengaruh pada kekuasannya.
Amarah? Itu sudah tidak terlukiskan oleh kata lagi. Hancur. Dia sendiri yang membawa kehancuran pada dirinya dan juga keluarganya. Inikah karma? Inikah balasannya? Marco tidak pernah menyangka hal seperti ini. Kucing kecil yang ia anggap berbahaya itu ternyata adalah seorang singa yang berkamuflase.
Dia benar-benar titisanmu, Risa.
Aldric? Dia teringat ucapan Bella kala peresmian bandara baru di Indonesia. Bella tidak akan melepaskan dan memaafkan keluarga Nero. Aldric yang walaupun begitu merasa bersalah, percaya diri kalau Bella tidak akan bisa menyentuh keluarga Nero. Nyatanya dia salah. Salah!!
"Stabilkan dulu perusahaan ini. Setelah itu kita selesaikan masalah pribadi kita, Nona," ucap Marco, lebih kepada sebuah pinta. Dadanya sudah sangat sesak, ingin segera keluar dari ruang meeting setelah menandatangani surat penjualan saham.
"Tentu saja."
Wanita under 30 tahun itu adalah seorang triliuner. Tepuk tangan meriah, Bella mengangkat kepalanya seusai tanda tangan dengan sorot mata dan senyum penuh kemenangan.
Apakah sudah selesai? Belum! Ini belum selesai!
"Selamat, Nona. Tuan Williams pasti sangat senang dengan performa Anda," puji Tuan Adam.
"Sudah kewajibanku untuk menjaga amanahnya."
"Selamat untuk Anda, Nona Chandra!"ucap dewan direksi.
Hanya tiga orang yang tidak mengucapkan selamat untuk Bella, yakni Marco, Aldric, dan Ken yang hanya diam melihatnya
"Terima kasih. Selamat juga untuk Anda sekalian!"jawab Bella.
Setelah itu, satu persatu dewan direksi meninggalkan ruang meeting. Meninggalkan Bella bersama dengan dua orang yang sudah kehilangan kuasa atas Nero Group dan sekarang sama sekali bukan bagian dari perusahaan transportasi udara di negeri Paman Sam itu.
"Bagaimana rasanya, hm?" Bella bertanya dengan nada dingin. Tatapannya hanya tertuju pada Marco yang tampak begitu lemas tak berdaya.
"Tidak berdaya bukan?? Tidak terima bukan? Tidak menyangka juga bukan jika keluarga yang Anda banggakan itu, hancur di tangan Anda sendiri. Di hari ini, Anda juga resmi kehilangan hak atau kuasa apapun atas perusahaan besar ini. Bagaimana perasaan, Anda? Apakah Anda ingin mengakhiri hidup? Atau Anda yang berbuat yang gila?"
Bella bertanya beruntun dengan nada tenang, namun dingin dan menusuk.
Marco mengangkat wajahnya, menatap Bella yang menatapnya tajam. Marco merasa sebuah mata pedang tengah berada di pelupuk matanya. Dan dalam sekali gerakan maju, itu akan menusuk matanya.
"Nona Bella, Anda seorang yang mempunyai toleransi tinggi. Tolong, lepaskan keluarga kami yang telah jatuh ini. Kami akan pergi jauh dan tidak akan pernah mengusik Anda ataupun keluarga Anda lagi." Aldric berlutut. Ia memohon dengan kepala menunduk.
Ekspresi Bella menggelap seketika. Tangannya meraih gelap dan melemparnya ke jendela kaca tepat di belakang Aldric.
Pyarrrhh!!
Aldric membeku. Gelas itu nyaris membentur kepalanya. Setelah sadar, Aldric memberanikan diri melihat ke arah jendela. Gelas itu hancur menjadi serpihan dan pecahan yang berserakan di lantai.
Aldric kembali menoleh ke depan. Bella berdiri, berjalan ke arahnya dan berdiri tepat di sampingnya. Aldric merasa ngilu kala mendengar suara pecahan kaca yang diinjak oleh Bella.
"Toleransi tinggi? Aku tersanjung mendengarnya." Nadanya sungguh-sungguh menusuk tulang. Aldric menelan ludah kasar.
"Aku juga niatnya begitu. Setelah ini, semua selesai. But, apakah Anda telah melupakan apa saja yang ayah Anda lakukan pada keluargaku?"
Bella mendengus kemudian mendecih. "Anda mungkin lupa. Ya, penjahat memang sering lupa akan hal jahat yang mereka lakukan. Karena saat berhadapan dengan pengadilan, mereka para penjahat itu kebanyakan tidak mengaku. Dan jikapun mengaku, tidak ada rasa penyesalan di matanya. Dan itu berlaku juga untuk kalian berdua! Dengan beraninya Anda memintaku untuk melepaskan keluarga Anda yang telah jatuh, lantas bagaimana dengan keluargaku? Tidaklah Anda berpikir demikian juga?"sarkas Bella.
Kalimat itu menggetarkan Aldric. Ia memejamkan matanya.
"Ayah Anda berniat mengakhiri keluarga Chandra. Adikku yang sudah menderita juga tidak ia lepaskan, bagaimana bisa saya melepaskan keluarga Anda? Aku yakin Anda masih ingat apa yang aku katakan terakhir pada Anda!!" Tatapan Bella kurus ke depan.
"Mata dibalas mata. Darah dibalas darah. Nyawa dibalas nyawa, bukan begitu Tuan Marco?" Bella bertanya seraya mengeluarkan sebuah jam kalung dari saku jasnya.
"M-maksud Anda, Nona?" Aldric gemetar mendengar. Benarkah tidak ada kesempatan lagi? Apakah tiada kata maaf lagi untuk mereka?
"Pertama kakekku." Ken mengangkat wajahnya saat Bella mengatakan hal itu. Kematian kakek istrinya ada hubungannya juga dengan keluarga Nero?
"Lalu perusahaan keluarga Chandra."
"Jika ayah Anda selesai sampai di sana. Mungkin, masalah hari ini akan selesai sampai di sini. Sayangnya tidak …." Bella menjeda ucapannya. Bella membalikkan tubuhnya.
"Kau yang berenang dalam lautan dendam, kau yang gelap mata karena masa lalu, kau merenggut nyawa orang tuaku!!"tunjuk Bella pada Marco. Nafasnya terengah, matanya memerah, Bella sungguh menatap Marco penuh amarah.
"Ku kira selesai. Kau sudah mengambil suami, anak, dan menantu yang sangat nenekku sayangi! Namun, kau kembali ingin mengambil nyawaku bahkan adikku meskipun nenekku sudah tiada! You're crazy! You're bastard! Kau harus membayar semua hutangmu pada keluarga Chandra, Marco!!"
"Ah aku terlalu jauh. Aku belum menanyakan apa alasannya. Apa yang membuatmu melakukan semua itu pada keluarga Chandra, hah? Atas dasar apa?!"
Bella melangkah dan menempatkan wajahnya di hadapan Marco. "Atas dasar apa?!" Pertanyaan dingin dan penuh tekanan.
"Aku yakin kau tahu," jawab Marco dengan memejamkan matanya. Bella tersenyum miring lalu mendengus.
"Aku ingin mendengarnya langsung darimu!!"
"Cinta." Satu jawaban dari Marco yang membuat Bella terkekeh.
"Love?"ulang Bella. "Anda sadar akan jawaban Anda?"
"Love, what's love?" Bella menggelengkan kepalanya. Antara geli dan geram.
"Anda mencintai nenekku? Dengan cara membunuh semua yang ia cintai?" Bella tidak bisa untuk tidak tertawa.
Itukah definisi cinta menurut Marco? Itu cinta atau obsesi? Itu cinta atau kecemburuan yang kejam? Itu cinta yang tulus, atau cinta yang kejam?
"Hukumlah aku. Akhiri nyawaku untuk membayar semua yang aku lakukan pada keluargamu," ucap Marco.
"Membunuhmu?"