This Is Our Love

This Is Our Love
Kunjungan Anjani dan Arka



"Menagih hutang!"


Surya menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Bella. "Menagih hutang? Ke keluarga Nero?"tanya Surya memastikan. Bella menggeleng.


"Hanya pada Tuan Tuanya saja."


Surya menimbang. Keluarga Nero keluarga besar di daratan Amerika sana. Tuan Tua Nero juga bukan orang sembarangan. Namun, dalam Bella akan pergi sebulan lagi. Artinya Bella sudah punya persiapan untuk melakukan apa yang ia rencanakan. "Baik. Tapi, ingat. Jangan terjebak di dalam dendam!"


Bella mengangguk. Jika ia terjebak di dalam dendam mana mungkin bisa sesabar dan menahan gejolak amarahnya kepada keluarga Nero.


"Kasus kecelakaan kakekmu akan Papa usahakan bisa didapat kepastiannya. Kau tenang saja dan fokuslah pada rencana proyekmu," ujar Surya. Bella kembali mengangguk mengerti. 


*


*


*


"Bunda!" Dylan berlari menuruni tangga yang membuat Rahayu memekik khawatir dan kesal dengan Dylan. 


"Bunda …." Dylan langsung memeluk Rahayu. Anak itu sangat merindukan Rahayu. Rahayu mau tak mau, ia juga sangat merindukan Dylan, membalas pelukan itu.


"Bagaimana kabarmu, Dylan? Bunda dengar kau sangat kelelahan dan tidur lagi setelah subuh," tanya Rahayu lembut, membawa Dylan duduk di sampingnya.


Hanya mereka berdua yang ada di ruang tengah. Sedangkan Surya dan Bella masih ada di ruang belajar. Brian dan Silvia sedang berada di beranda kanan mansion. Sementara Ken tengah melihat dan tes drive mobilnya yang akan digunakan untuk acara wisuda besok. Ia terbiasa menyetir sendiri kecuali di beberapa kondisi. Mobilnya yang sudah dimodifikasi, melaju dengan kecepatan pelan di jalanan kompleks perumahan elit mereka. Kembali ke Dylan dan Rahayu. 


"Jika aku tidak berkerja keras, bagaimana bisa aku mencapai target yang telah aku buat, Bun? Tenang saja. Kak Abel, Kak Via, Kak Ken, bahkan Kak Brian sangat perhatian padaku. Hm … Kak Brian juga perhatian pada Nesya," terang dan cerita Dylan pada Rahayu.


Rahayu tak bisa untuk tidak terperangah. Putranya yang dingin, cenderung tidak menyukai seseorang yang mempunyai citra buruk, apalagi sampai berhubungan dengan narkoba dan zina, perhatian pada Nesya? Bagaimana ceritanya? 


"Kak Brian sering ikut menjenguk Nesya. Bahkan saat ke menjenguk ke lapas kemarin, Kak Brian membeli banyak makanan untuk Nesya," lanjut Dylan.


"Nesya sudah kembali ke lapas? Bukankah ia masih sakit?" Entah memang tidak mendengar kabar ini atau Surya tidak memberitahunya, yang pasti Rahayu sangat-sangat merasa melewatkan hal yang super langka. 


"Operasi Nesya diperkirakan sekitar satu atau dua bulan lagi. Dan menunggu itu, Nesya rawat jalan di lapas karena status Nesya saat ini adalah narapidana," jelas Dylan yang sudah menerima sepenuhnya keputusan Nesya yang kembali ke lapas. Rahayu mengangguk mengerti.


*


*


*


Sebuah mobil mercedes benz berwarna putih memasuki gerbang perumahan elit setelah mendapat izin. Melaju dengan kecepatan sedang dan berhenti di depan sebuah gerbang mansion yang paling besar dan mewah. Gerbang terbuka dan mobil putih itu melaju masuk. 


Mobil berhenti mulus di depan mansion mewah nan besar keluarga Mahendra. Sopir turun dan membukakan pintu untuk pemilik mobil tersebut. 


Anjani dan Arka, itu keduanya yang berkunjung ke kediaman Mahendra. "Assalamualaikum," sapa Anjani saat memasuki ruang tengah dengan menggandeng jemari Arka, menyapa Rahayu dan Dylan.


"Waalaikumsalam," jawab Rahayu dan Dylan. Keduanya tidak heran dengan kehadiran Anjani dan Arka karena Bella sudah memberitahu mereka. 


"Bun, Kak Jani, Aka, Dylan ke kamar sebentar ya," ujar Dylan. Rahayu mengangguk dan Dylan beranjak.


"Oma!"sapa Arka pada Rahayu.


"Sini, Aka." Rahayu mengulurkan kedua tangannya meminta Arka duduk di sisi. Arka segera duduk di samping Rahayu.


Segera Rahayu menghujani Arka dengan ciuman. Bocah yang sudah dianggap cucu itu, ah tidak, tak berapa lama Anjani dan Arka akan resmi menjadi bagian dari keluarga Mahendra. Walau belum ada pernikahan ataupun pertunangan, antara El dan Anjani, akan tetapi Anjani sudah diakui oleh keluarga Mahendra sebagai calon istri El.


Ya restu dan pengakuan itu lebih penting, daripada pertunangan ataupun pernikahan yang hanya sebuah formalitas biasa. Arka tertawa geli karena ulah Rahayu. 


"Bagaimana kabarmu, pangeran kecil?"


"Cukup buruk, Oma," jawab Arka, ia sepertinya hendak mengadu. 


"Buruk? Mengapa? Apa Mamamu tidak punya waktu untukmu atau bagaimana?" Anjani menggaruk tengkuknya menerima tudingan spontan Rahayu padanya.


Arka langsung menggeleng, "Mama tidak pernah melupakan Aka, Oma. Setiap pulang sekolah, Aka selalu pulang ke kantor Mama baru sorenya pulang ke rumah," jelas Arka. 


"Begitu, Jani? Kok nggak pulang ke rumah saja?"


"Kan di rumah sepi, Oma. Di kantor Mama, Aka tetap bisa main, belajar, dan nemani Mama. Jadi, Mama sama Aka nggak kesepian dan nggak saling merasa bersalah."


Arka yang menjawab. Rahayu terkesiap dengan jawaban Arka. Jika begini ceritanya, Arka benar-benar menjadi malaikat untuk Anjani. Bahkan di usianya yang sebentar lagi barulah enam tahun sudah bisa berkata demikian. 


Anjani kita semakin sibuk. Perusahaan yang terus berkembang dan sudah mencapai kancah internasional dan dua minggu lagi akan mengikuti pemeran di Singapura. Perhiasan yang berkelas dengan desain elegan, terlebih dengan variasi harga membuat brand perhiasan milik Anjani menjadi primadona. Belum lagi, mereka sudah mengembangkan brand jam tangan. Kemungkinan tahun depan akan masuk dalam daftar 50 perusahaan berpengaruh. 


"Anjani juga nggak mau melewatkan perkembangan Aka, Bun," tutur Anjani menimpali penjelasan Arka. 


Rahayu mengangguk, "tapi, mengapa tadi Aka tadi bilang cukup buruk?"


"Itu … Papa yang mengganggu Mama lagi," jawab Arka dengan nada kesalnya. 


"Jani?" Anjani menghela nafas kasar. Wajahnya menjadi kesal, "Dia dan keluarganya sepertinya menyesal karena aku dan dia bercerai …."


"Menyesal karena harta? Cih, mereka bisa dikenakan sanksi mengganggu ketenangan, jika sampai melakukan kekerasan, kau bisa mempidanakan mereka. Heran deh! Mengapa banyak banget orang seperti mantan suamimu itu. Saat masih bersama tidak pernah dianggap, saat bercerai dikejar-kejar, apalagi mengejar karena harta. Tapi, dasar tidak tahu malu, apa mau dikata? Otak mereka itu sudah tidak sinkron." Anjani terkekeh pelan mendengar kekesalan Rahayu.


"Lalu, Aka tidak diganggu di sekolah, kan?"


"Keamanannya ketat, Oma. Tidak sembarang orang bisa keluar masuk dengan bebas. Dan ada aturan ketat akan siapa yang menjemput anak didiknya. Misal, walau Aka kenal pada Papa, asal Aka berkata tidak mengenalnya, Aka nggak akan pulang sama Papa. Kalau Papa memaksa, akan diseret paksa oleh Pak Satpam," terang Arka. Sebagai Nyonya keluarga besar, tentu saja Rahayu paham. 


"Eh iya, Bun, Abel mana?"


"Masih di ruang belajar. Mungkin membahas pekerjaan dengan Papa," jawab Rahayu.


"Yang lain?"


"Pada mencar semua. Tapi, setelah Abel dan Papa nanti turun, kita bakalan piknik di taman belakang sekalian main golf." 


"Golf? Yang main bola putih kecil dipukul lalu masuk ke lubang gitu ya, Oma?"


"Ihhh pintarnya cucu Oma," puji Rahayu, mencubit hidung Arka.


"Oma?!"rengek Arka yang disambut tawa lepas Anjani dan Rahayu. 


*


*


*


Ken, Brian, Surya, dan Dylan serta Arka tengah bermain golf sedang Bella, Rahayu, Silvia, dan Anjani duduk di bawah pohon dengan beralaskan tikar. Makan siang dan cemilan terhidang di tengah tikar. 


"Jadi, Abel, Via, sudah ada tanda-tanda?"tanya Rahayu yang membuat Silvia dan Bella saling melempar pandang. Sedangkan Anjani yang sudah mengerti menatap keduanya ingin tahu.


"Tanda - tanda apa ya, Ma?"tanya Bella dengan wajah bingungnya.


"Hah?" Rahayu terhenyak. 


Anjani sudah tepuk dahi lebih dulu. Ya, urusan seperti ini Bella loading Bella memang lama. 


"Oh cucu … eh?" Silvia dan Bella kembali saling tatap. 


"Iya."


"Belum, Ma," jawab Bella.


"Oh." Rahayu sepertinya sedikit kecewa dengan jawaban Bella. Sedangkan Silvia tersenyum simpul. 


"Ma, tenang saja. Bella yakin sebentar lagi akan hadir cucu Mama di sini dan di sini," ujar Bella menenangkan Rahayu dengan mengusap perutnya sendiri lalu mengusap perut Silvia.


"Jika kalian hamil barengan, it's very good!"ucap Anjani, mengacungkan jempolnya. 


Keesokan paginya, Ken sudah ready dengan pakaian wisudanya. Sedangkan Bella perfect dalam setelan kerjanya. Bella tidak bisa langsung ke universitas Ken, melainkan harus ke perusahaan guna meeting penting yang tidak bisa ia undur dan jika diundur jadwalnya akan berantakan. Ken tidak masalah, yang penting Bella menghadiri acara wisudanya. 


Surya dan Rahayu juga sudah tampil elegan dengan setelan batik. Lain dengan Brian yang setia dengan pakaian formalnya yakni kemeja dan jas. Silvia juga dengan pakaian kerjanya. Keduanya ke juga perusahaan dulu. Lagipula acara wisuda dimulai pukul 10.00. 


Dylan juga ikut. Pemuda berusia 23 tahun itu sangat tampan dengan memakai batik. 


Surya, Rahayu, dan Dylan satu mobil dengan Pak Jo sebagai sopirnya. Sementara Brian dan Silvia jelas satu mobil dan Bella mengendarai motornya. Begitu juga dengan Ken yang mengendarai mobilnya sendiri. 


Dalam perjalanan menuju kampusnya, di mana acara wisudanya akan dilangsungkan, Ken tenggelam dalam alunan lagu yang biasa diputar Cia saat keduanya masih bersama. 


Senyuman terlukis di wajahku


Di saat ku mengingat kamu


Tawamu manjamu membuatku rindu


Tak sabar, ingin bertemu


Suara lembut menyapa aku


Lembutnya, selembut hatimu


Tulusnya, setulus cinta padaku


Kusadar beruntungnya aku


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhku


Berbagi suka duka


Saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau separuhku


Suara lembut menyapa aku


Lembutnya, selembut hatimu


Tulusnya, setulus cinta padaku


Kusadar beruntungnya aku


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhku


Berbagi suka duka


Saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau... kau separuhku


Separuh jalan hidupku


Kau separuhku


Tak ada penyesalan


Hidup lebih mudah


Bila kita berdua


Jalaninya


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhku


Berbagi suka duka


Saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau separuhku


Hidupku tanpamu (hidupku)


Takkan pernah terisi sepenuhnya (ah)


Karena kau separuhku


Berbagi suka duka (aa-ah)


Saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau separuhku 


"Cia," gumam Ken mengingat mantan kekasihnya itu. Lima tahun, bukan waktu yang singkat. Bohong jika Ken mengatakan Cia sudah hilang dari hatinya.


Namun, takdir tidak mengatakan mereka akan bersatu selamanya. Cinta tak selalu tentang memiliki. Cinta itu sebuah pengorbanan. Jika boleh jujur, Ken ingin Cia hadir di acara resepsinya. Karena dulu, Ken pernah mengatakan bahwa akan memakaikan toga dan ijazah yang terima pada Cia.


Akan tetapi, janji tinggal janji karena semua hancur saat hubungan mereka berakhir.


"Maaf," gumam lirih Ken sebelum menyeka sudut matanya dan mengembangkan senyum.


"Hanya ada Aru. Aru adalah hanya, satu, selamanya untukku!"