
"Masuk!"ucap Pak Surya yang mendengar pintu diketuk.
"Tuan," sapa sekretaris Frans, menunjukkan wajah bingung.
"Ya."
"Mengapa Nona tadi keluar dengan wajah emosi? Apakah ada salah paham?"
"Begitulah. Mungkin ia salah paham karena syarat yang aku ajukan. Anak itu, mengira bahwa aku memintanya menikah denganku. Padahal aku meminta untuk menikah dengan Ken," ucap Pak Surya seraya memijat pelipis.
"Menikah dengan Tuan Muda Ken? Bukankah …?"
"Itulah alasannya. Frans aku harap kau tutup mulut soal ini. Hanya aku, kau, dan nyonya yang tahu!"tegas Pak Surya.
Sekretaris Frans mengangguk, "baik, Tuan."
*
*
*
"Kurang ajar! Mata keranjang! Tua bangka tak tahu diri! Berani sekali ia memintaku menikah dengannya!"geram Bella saat tiba di apartemennya. Pintu ia banting dengan keras, duduk di sofa dengan wajah teramat kesal.
"Apa dia kira aku ini nggak punya harga diri hah? Mentang-mentang pemilik perusahaan bebas gitu ngajuin syarat tak masuk akal?"
"Apa dia kira aku mau nikah dengannya hanya karena diterima kerja dengan jabatan tinggi?! Tidak mungkin! Sampai kapanpun aku nggak akan mau!"
Bella teramat kesal pada Pak Surya, segala jenis makian sudah ia keluarkan selama di jalan tadi, sampai-sampai orang lain menganggapnya tidak waras.
"HUH! Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ternyata kabar-kabar angin itu benar! Tahu begini lebih baik aku melamar di perusahaan lain saja! Akgghkk sialan!"
"Tampangnya saja tegas dan baik, tapi mata keranjang!"gerutu Bella lagi. Ia lantas berdiri dan menuju dapur. Membuka kulkas dan mengambil air dingin. Bella meminumnya untuk mendinginkan hati yang masih memanas.
Bella merasakan earphonenya berbunyi. Bella segera menekan tombol untuk menjawab panggilan tersebut.
"Morning Abel Sayang!"sapa seseorang yakni Louis.
"Nachmittag, Bruder," jawab Bella datar dengan masih mengandung nada kekesalan.
"Nachmittag?"beo Louis.
"Aku di Indonesia, Kakak," sahut Bella.
"Ah aku lupa. Hehehe."
"Hm ada apa Kak?"tanya Bella yang kini melihat pemandangan dari balkon.
"Bagaimana interviewmu? Aku yakin kau pasti diterima bukan?"tanya Louis penasaran.
Bella diam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin Bella menceritakan apa yang terjadi selama interview tadi. Pasti Louis akan marah besar dan bisa berakibat fatal. Bella tidak ingin dua perusahaan besar yang tidak pernah saling bertemu hanya saling kenal, berperang gara-gara dirinya. Ia juga masih punya hati dan akal sehat. Ia boleh marah tapi tidak boleh terperangkap dalam amarah.
Hah.
"Aku menolaknya, Kak," jawab Bella.
"Loh kok ditolak? Kamu kurang puas karena apa?"heran Louis.
"Aku tidak mau dikirim ke Papua, Kak. Tahu sendiri kan alasanku pulang. Masa' iya aku pergi merantau lagi? Kasihan adikku, aku nggak mau ninggalin dia sendirian lagi," jawab Bella.
"Bukanlah perusahaan bisa memberi keringanan? Kau kan bisa membawa adikmu ikut ke sana?"
"Memang Benar. Tapi adikku masih kuliah. Selain itu, aku punya banyak hutang padanya. Ia pasti akan marah padaku jika aku setuju. Kakak, sekarang prioritas utamaku adalah adikku!"jawab Bella tegas.
Biarpun alasan ini bagi Bella kurang menyakinkan, tapi Bella yakin Louis akan percaya. Terdengar helaan nafas pelan di sana.
"Baiklah. Jika itu keputusanmu, aku pun tidak ada hak ikut campur. Masih banyak perusahaan lain di sana, dan jika tidak ada yang menerima atau tetap kau tolak, pintu Kalendra Group terbuka lebar untukmu," tutur Louis.
Bella tersenyum tipis, "Danke, Bruder."
"Ah iya aku hampir lupa. Hei Abel, sahabatmu itu sungguh cerewet ya? Ia berulang kali mengajukan saran agar perusahaan melakukan darmawisata ke Indonesia. Telingaku sampai mau pecah mendengarnya. Ia bagai bom yang menerorku, pagi, siang, malam," omel Louis kesal.
"Resa?"
"Siapa lagi?"sahut Louis.
Bella tertawa. "Mengapa tak kau setujui saja?"
"Hei kau kira segampang itu memutuskan darmawisata? Tentu saja harus ada suatu pencapaian luar biasa. Belum lagi biaya segala macam yang ditanggung perusahaan. Lalu transport, penginapan, dan akomodasi lainnya. Harus ada persiapan yang matang," cerca Louis.
Bella terkekeh. "Kau masih saja perhitungan, Bruder."
Terdengar dengusan. "Ya sudah. Semoga perusahaan cepat mendapatkan pencapaian luar biasa agar kalian bisa segera ke Indonesia. Fighting, Bruder!"
"Hm."
Panggilan diakhiri. "Resa, Louis?"gumam Bella.
Sepertinya cocok, batin Bella, berbalik dan meninggalkan balkon kala mendengar bel pintu berbunyi.
"Jani?"kaget Bella mendapati Anjani berdiri di depan pintu apartemennya dengan menggendong seorang anak laki-laki yang tengah tertidur.
Mata Bella memicing, melihat mata sembab Anjani."Waalaikumsalam, Jani, mengapa kau kemari?"
"Boleh aku masuk?"tanya Anjani mengabaikan pertanyaan Bella.
"Ya silakan," sahut Bella mempersilakan Anjani masuk. Anjani masuk dengan membawa tas yang ia letakkan di lantai. Anjani duduk di sofa, sedangkan putranya ia tidurkan di sofa.
"Kau habis menangis? Ada masalah apa sebenarnya dirimu?"tanya Bella to the point seraya menyodorkan sebotol air mineral pada Anjani.
Anjani menatap Bella dengan mata bersalah," maaf. Aku kasar padamu hari itu," ujar Anjani setelah minum.
Bella tersenyum simpul, "aku tahu kau pasti punya masalah. Apa kau dan suamimu bertengkar? Apa dia melakukan KDRT? Selingkuh? Atau apa?"cerca Bella langsung.
Mata Anjani sedikit membulat mendengar cercaan Bella. Tak lama kemudian mengangguk pelan.
"Darimana kau tahu?"tanya Anjani, sedikit penasaran. Padahal ia tidak pernah membahas tentang rumah tangganya pada Bella.
"Tempo hari aku melihat ruam biru pada lenganmu. Wajahmu juga berbeda saat izin pulang kemarin. Menjemput anak juga tidak perlu secemas itu bukan? Dan kemarin saat di telepon, suaramu ketus, perasaanmu pasti sedang kacau. Aku kenal baik dirimu, tidak mungkin kau marah hanya karena aku bertanya soal pekerjaan," tutur Bella.
Mata Anjani kembali berkaca-kaca. Dengan segera memeluk Bella dan menumpahkan tangis dan kesedihan di pelukan Bella. Bella menepuk-nepuk pelan punggung Anjani.
"Keluarkanlah seluruh keluh kesahmu padaku, Jani," ucap Bella.
Hiks
Hiks
Hiks
Tangis Anjani pecah. Bella dapat merasakan kesedihan Anjani yang begitu besar. Wajahnya kini terlihat sangat kesal, kesal dengan suami Anjani yang ia hanya tahu orangnya via media sosial. Tangis Anjani sedikit mereda kala mendengar putranya yang bangun dan ikut menangis.
"Mama! Mama jangan nangis. Aka nggak mau Mama nangis lagi …."
Putra Anjani itu mendekat dan ikut menangis memeluk Anjani. Hati Bella terenyuh sedih melihat anak dan ibu yang kini berpelukan dan menangis pilu.
"Mama jangan nangis lagi ya. Nanti Aka yang ngasih hukuman buat Papa jahat," ucapnya lagi. Anjani yang sudah berhenti menangis, mencium sayang pucuk kepala anaknya.
"Mama nggak akan nangis lagi. Asalkan tetap sama Aka, Mama akan tetap bahagia," janji Anjan.
"Aka akan selalu sama Mama. Aka nggak mau sama Papa jahat. Aka benci Papa!"
Bella terhenyak mendengar nada yang penuh kebencian pada suami Anjani.
"Syut … kamu boleh marah tapi nggak boleh benci Papa. Papa itu tetaplah Papa kandung Aka. Aka janji ya?"
Bocah laki-laki itu tidak menjawab, memilih memeluk Anjani kemudian memejamkan matanya. Dengan tepukan ringan Anjani, anaknya yang bernama Arka itu kembali tertidur.
"Bawa ke kamarku saja," ujar Bella, berdiri dan mengajak Anjani ke kamarnya. Anjani mengekor. Setibanya di kamar, Anjani menuturkan Arka di ranjang. Setelah itu, keduanya keluar.
"Aku nggak kuat lagi, Bel. Aku nggak kuat. Aku mau pisah sama Mas Arman, Bel. Sudah cukup luka yang ku terima di pernikahan kami. Sakit, Bel. Sakit sekali," ucap Anjani dengan nada lemah.
"Pisah?"
Separah itukah masalah rumah tangga Anjani dan suaminya?
"Suamiku mendua, Bel. Dan tadi dia … dia bawa maduku ke rumah, Bel. Dia minta aku nerima istri keduanya satu atap. Mereka … mereka juga sudah punya anak. Selama ini, aku masih bisa tahan jika dia selingkuh di luaran sana. Asalkan tetap ingat pada keluarga kecil yang menantinya di rumah. Asalnya ia tetap ingat dan sayang sama Arka, aku nggak masalah Bel. Tapi … tapi belakang ini, sikapnya mulai berubah drastis. Dulu ia hanya main lidah sekarang dia berani main tangan, Bel. Dia … dia bahkan tega memukul Arka yang masih kecil. Aku nggak sanggup lagi, Bel. Dan maduku itu sungguh tidak punya sopan santun. Dia dengan berani menempati kamarku dan mas Arman. Aku lelah Bel. Aku lelah terlihat bahagia di depan semuanya. Aku nggak mau lagi senyum dalam sakit."
"Jadi intinya kamu sekarang pergi dari rumah dan berniat pisah? Apakah keluarga kalian setuju?"
Soalnya Bella tahu bahwa pernikahan Anjani dan suaminya adalah akibat sebuah perjodohan.
"Setuju nggak setuju, aku tetap mau pisah! Demi kebahagian Arka, juga diriku. Cukup sudah aku menanggung luka mendalam. Aku akui aku ini bodoh, tapi aku tidak ingin bodoh selamanya. Aku akui aku lemah sampai bisa diinjak-injak oleh Mas Arman. Tapi cukup, aku sudah muak. Bella, aku mohon ajari aku cara mengurus perusahaan. Aku harus mengambil hakku kembali demi memenangkan hak asuh Arka di pengadilan nanti."
"Kau serius?"tanya Bella memastikan. Anjani mengangguk pasti.
"Tapi itu sudah lama sekali, Jani. Apa kau yakin?"ragu Bella.
"Aku yakin. Tidak ada yang namanya mantan anak di dunia ini. Aku tetaplah putrinya! Mengenai keluarga tiriku itu, aku mohon bantu aku. Bantu aku mencapai tujuanku, Bel. Aku mohon."
Bella tampak berpikir. Anjani menunjukkan wajah penuh harap, memelas pada Bella.
Bruk.
Bella terkejut saat melihat Anjani berlutut padanya.
"Aku mohon, Bel. Kamulah harapanku satu-satunya. Bantu aku Bel, aku rela membayar dengan apapun untuk itu!"
Hati Bella tersentuh. "Baiklah. Aku akan membantumu. Jangan berlutut seperti ini. Aku ikhlas membantumu. Duduklah di sini," ujar Bella, memegang pundak Anjani dan membawanya duduk di sampingnya.
"Terima kasih, Abel."
Ya kebanyakan wanita akan berubah drastis karena cinta dan buah hati. Kedua sahabat itu lantas berpelukan.
"Em Bel, boleh aku menginap di sini?"tanya Anjani, ragu.
"Hahaha. Tentu saja. Tapi kamar tamu belum aku sentuh," jawab Bella tersenyum.
"Akan aku bereskan," sahut Anjani, bergegas menuju kamar tamu.
"Baiklah. Aku akan memasak kalau begitu."