This Is Our Love

This Is Our Love
Nonton



Selarut apapun Bella tidur, alarm di tubuhnya selalu berbunyi mendekati waktu subuh. Bella menggeliat mengusir rasa kantuknya. Ken, pria itu Bella dapati memeluk dirinya. 


Bella menyingkirkan tangan Ken dari tubuhnya kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang. Bella memijat pelan pelipisnya, ia mengingat semua ucapan Surya dan Rahayu mengenai rumah tangga tadi malam. Dahinya mengernyit seakan mencari maksud dari kata-kata tersebut. 


Haruskah aku melarang Ken berhubungan dengan Cia? Tapi bukankah itu merugikan tiga pihak? Atau haruskah …?


Bella langsung menggeleng menepis pemikirannya. Tak berselang lama azan subuh berkumandang dari ponsel Bella juga Ken. Ken tampak menggeliat, Bella segera membangunkan dirinya. Perlahan manik mata hitam itu terbuka dan mengerjap.


"Bangun, sudah subuh!"ucap Bella, turun dari ranjang lalu menghidupkan lampu kamar.


Tidak ada sahutan, pria itu bangun dan langsung menuju kamar mandi. Sajadah sudah digelar, Ken keluar dengan rambut, wajah, lengan, dan telapak kaki yang basah. Wajahnya tampak berseri.


Bella mengedikkan bahunya saat merasa Ken menjaga jarak darinya. Hallo, bukankah seharusnya ia yang canggung akibat ciuman kemarin? 


*


*


*


Selesai subuh berjamaah, Bella langsung turun menuju dapur. Sedangkan suaminya itu, kembali tidur karena jadwal bimbingannya agak siangan.


Ternyata menu sarapan pagi ini adalah bubur ayam. Wangi ayam yang tengah digoreng menyambut indera penciuman Bella. 


"Eh Nona, mau gabung masak ya?"sapa pelayan ramah.


"Benar. Tapi saya nggak terlalu paham cara membuat bubur ayam. Bagaimana jika Bibi yang memberi instruksi saya yang memasak?"tawar Bella.


"Boleh, Non." Pelayan itu tak kuasa menolak. Lagipula majikan utamanya, Surya tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Bella mulai memasak bubur, satu demi satu instruksi pelayan itu lakukan dengan baik. Saat hampir matang, Silvia datang dengan mengendus wangi yang menyebar. Bella hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Silvia itu.


"Aduh sepertinya aku telat lagi, hehehe." Silvia menyengir dengan mata polosnya. 


"Hahaha benar-benar. Selalu saja saat hampir matang Kakak baru datang," kekeh Bella, meledek Silvia. Silvia tersipu malu.


"Aku jamin besok pagi pasti aku dulu yang berada di sini!"tekad Silvia yakin.


"Benarkah? Kalau begitu aku tunggu, Kakak!"


"Pasti!" Silvia mengangguk mantap. Bella tersenyum. 


"Baiklah. Kalau begitu bantu aku menghidangkan sarapan kita," ujar Bella.


"Okay!"


"Oh iya, apa benar Kakak jadi sekretaris Kak Brian?"tanya Bella. Silbia mengangguk.


"Setelah pertimbangan panjang dia mengizinkan aku bekerja tapi tidak mengizinkan aku kerja di divisi manapun. Kebetulan sekertaris lamanya resign hamil. Ya sudah aku terima saja," jelas Silvia, ia tampak sangat senang karena bisa bekerja.


"Wow Kak Brian romantis sekali!"kagum Bella.


"Hahaha …." Silvia tertawa. Bella menangkap kesan canggung di sana. 


Bubur sudah matang. Bella dengan cekatan menyajikan bubur di dalam mangkuk sementara Silvia menambahkan suwiran ayam dan pelengkap lainnya. Setelah pas 7 porsi, pelayan membawanya ke meja makan. 


Di meja makan sudah menunggu Surya, Rahayu, Brian, dan El.


"Kamu belum bersiap?" Brian menatap Silvia datar.


"Aku …."


"Sudahlah lain kali bangun lebih awal kalau mau ke dapur!"ucap Brian, menatap semangkuk bubur ayam di hadapannya.


"Ya."


Silvia menunduk. 


"Kita sarapan dulu. Bel Ken mana?" Surya menatap Bella yang baru duduk.


"Tadi tidur lagi, Pa. Sepertinya kelelahan," jawab Bella.


"Kelelahan apanya? Tadi malam kan aku yang bawa mobilnya. Harusnya yang lelah itu adik ipar. Ckckck lemah sekali fisiknya," decak El yang mendapat lirikan kesal Surya.


"Bukankah kau sama juga bahkan lebih parah?"sinis Surya.


"Itukan dulu Pa. Sekarang, lihatlah perubahanku!" El menatap angkuh Surya kemudian beralih menatap Rahayu meminta dukungan.


"Benar, Mas. El mulai ada perubahan," tutur Rahayu.


"Pertahankan kalau begitu!"


El tersenyum, begitu juga dengan Rahayu yang menepuk punggung El, memberi semangat. 


"Jadi apa aku harus membangunkan Ken atau tidak?"tanya Bella meminta pendapat.


"Biarkan saja. Ntar kalau lapar pasti bangun sendiri!"jawab Surya. 


***


Selesai sarapan, Bella dan Silvia kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap berangkat kerja. Brian menunggu Silvia di ruang tengah bersama dengan orang tua dan adiknya.


Sementara di kamar, Ken masih betah berada di balik selimutnya. 


Mengingat ucapan Surya tadi, Bella urung untuk membangunkan Ken. Ya jujur saja, di hatinya ada rasa canggung karena ciuman kemarin. Tapi itu disembunyikan sedalam mungkin. 


Ken mengintip saat mendengar pintu kamar mandi dibuka lalu ditutup. 


Duh jadi canggung begini ya? Tapi ahh biarin lah!


"Ken aku pergi kerja!"ucap Bella di samping ranjang. 


"Hm."


Jawaban singkat.


"Assalamualaikum."


Tanpa menunggu jawab, Bella langsung keluar kamar.


Setelah mendengar pintu ditutup, Ken menyibak selimutnya. Ia meraih ponselnya.


Gimana kabar Cia ya? Aku hubungi Angga saja.


Ken mencari nomor Anggara. 


"Nggak aktif? Tumben."


Hati Ken mendadak diliputi rasa cemas saat nomor Angkasa juga tidak aktif dan dua nomor lainnya juga tidak diangkat. Ken langsung turun dari ranjang. Secepat kilat ia masuk ke kamar mandi kemudian ke ruang ganti. 


Kini Ken sudah siap dengan setelan kasual juga tas kuliahnya. 


"Ken mau ke kampus?"tanya Rahayu yang melihat Ken buru-buru turun dari tangga.


"Iya, Ma."


"Sarapan dulu," ujar Rahayu.


"Di kampus saja, Ma. Jadwal bimbingan Ken dimajukan," tolak Ken.


"Makanya jangan main-main ke rumah orang kalau malam, lihat kan kamu nya jadi buru-buru," sindir Rahayu. Ken tersenyum kaku.


"Ya sudah, nanti jangan lupa ya. Jam dua di Senayan. Kita nonton film baru kakakmu," ujar Rahayu.


Ken tertegun sesaat. Ah benar, jadwalnya hari ini. 


"Ingat jangan nggak hadir!"ancam Rahayu.


"Iya, Ma. Nanti ingatkan Ken lagi ya," pinta Ken seraya menyalami Rahayu.


"Baiklah." Rahayu mencium singkat kening Ken.


"Ya sudah, Ken berangkat ya Ma. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Jangan lupa sarapan, Ken!"


Ken yang sudah melangkah menjauh menganggukkan kepalanya tanpa berbalik. 


Sepertinya aku harus segera mengakhiri hubungan mereka. Aku tak ingin suatu hari nanti hubungan Ken dan Cia jadi bumerang untuk keluarga ini dan aku tak mau Ken semakin terjerumus ke arah yang salah, tekad Rahayu.


*


*


*


Bella melihat bunga edelweis pemberian Louis kemarin berada di dalam vas, cantik. 


"Hei kemana saja kalian kemarin? Mantan bosmu itu mantanmu kan? Makanya kau tak jatuh dalam pesona bocah tengik itu. Ayo jawab, jangan senyum-senyum begitu. Kau membuatku penasaran semalaman," cerca Anjani, menggandeng lengan Bella.


Bella masih tersenyum, ia tidak menjawab.


"Coklat itu coklat mahal, aku sudah mencari tahunya. Dan bunga adelweis itu melambangkan cinta yang abadi. Duh-duh gini ceritanya bagaimana bisa rumah tanggamu dan Ken nggak dingin. Orang kalian masing-masing punya tambatan hati," ungkap Anjani lagi.


"Terus kata Bik Santi kemarin, kalian romantisme di dapur. Aka saja paham jika kalian mirip sepasang kekasih. Jadi ayo katakan apa hubunganmu dengan Louis itu?"desak Anjani. Bella menghela nafas kasar. 


"Baiklah-baiklah. Kami bukan sepasang kekasih karena cinta kami tidak direstui oleh Sang Pencipta. Kami saling mencintai tapi kami menjalani hubungan tanpa status. Paham?"


"Ah pantas saja. Ternyata beda agama."


"Sudahkan? Kalau begitu ayo mulai kerja. Hal pribadi bahas nanti saja."


Bella menuju meja kerjanya dan mengeluarkan laptop dari ranselnya. Anjani mendekat dan kini duduk di depan Bella.


"Apa kau sudah memberitahunya mengenai pernikahanmu?"


"Belum saatnya," jawab Bella tanpa menatap Anjani.


"Kenapa?"


"Rahasia!"


"Ah ayolah beritahu aku. Aku janji nggak ngasih tahu orang lain."


"Oh come on, Jani. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Sekarang waktunya kerja. Waktu full ku di sini tinggal sebentar lagi."


"Baiklah." Walau sedikit enggan, melihat tatapan tajam dan wajah Bella yang mulai masam, Anjani kembali ke mejanya dan mulai menghidupkan laptopnya.


"Belum saatnya, Jani. Suatu hari kau pasti akan tahu," ucap Bella datar.


*


*


*


Pukul 13. 00 lewat beberapa menit, Bella dan Anjani keluar dari perusahaan menuju Senayan City. Jalanan yang ramai lancar membuat waktu tempuh lumayan lama. Tiba di Senayan, di lantai di mana bioskop berada, sudah berada di sana Rahayu, Surya, Brian, dan Silvia. El dan Ken belum menunjukkan batang hidung mereka. Untuk El mereka tak begitu cemas karena El sibuk untuk penayangan perdana. Dan benar saja, tepat pukul 14.00, El menghampiri keluarganya setelah semua persiapan selesai.


"Ayo masuk, filmnya sudah mau mulai," ajak El sumringah. Ia bahkan memeluk Surya dan Brian walau tak mendapat balasan.


"Eh iya Ken mana?"


"Ponselnya nggak aktif," sahut Bella. 


"Paling juga di rumah Cia," celetuk Brian.


"Padahal sudah Bunda ingatkan tadi loh. Gimana ini, nggak lengkap dong kira," ucap Rahayu cemas.


"Mas gimana ini?" Rahayu cemas dengan Ken dan sedih dengan El yang tampak murung sesaat dan kembali berubah sumringah. Ia seperti menutupi kesedihannya dengan kebahagian yang lebih besar.


"Biarkan saja. Nanti Mas yang beri dia pelajaran kalau nggak dateng sampai film selesai!"ucap Surya, menarik lengan Rahayu dengan lembut, masuk ke dalam bioskop. Disusul oleh Brian dan Silvia.


"Ayo adik ipar, Anjani."


***


Selama dua jam film diputar. Selama itu pula Ken tidak kunjung datang dan ponselnya tidak kunjung aktif. Bella tidak terlalu fokus pada film, berbeda dengan yang lain. Berbeda dengan Surya yang sedari tadi menahan geram, wajahnya memerah dan kini memalingkan wajahnya dari layar lebar itu. Brian menonton dengan ekspresi datar, hanya Silvia dan Anjani yang menjiwai sebab Rahayu sibuk menenangkan Surya.


Kemana dia? Apa yang terjadi padanya? Apa dia benar-benar di rumah Cia sampai-sampai melupakan keluarganya sendiri?


"Abel ayo keluar," ujar Anjani seraya menepuk bahu Bella. Bella tersadar. 


"Ah ya." Bella tergagap. 


"Kau melamun? Ah tapi syukurlah kau melamun. Filmnya kurang bagus menurutku!"


"Oh benarkah? Kenapa?"


Belum sempat Anjani menjawab, terdengar bentakan Surya.


"Anak tak tahu agama! Mengapa kau buat film menjijikkan seperti itu hah? Lihat semua adegannya, soundtrack nya juga! El aku tahu kau ini peminum dan playboy, tapi jangan bawa kebiasan burukmu ke dalam pekerjaan! Filmmu ini sangat tidak cocok dan pantas ditayangkan! Merusak generasi muda! Papa kecewa denganmu! Mau sampai kapan kamu mencoreng nama baik keluarga hah?"


"Papa mau hari ini juga tarik film vulgarmu itu! Pantas saja selama ini reputasimu sebagai Sutradara buruk, filmmu tidak ada yang beres!" Setelah menyampaikan komentar pedasnya, Surya melangkah pergi dengan diikuti oleh Rahayu setelah tersenyum menyemangati El.


El tertunduk lesu. Ia merasa bersalah. Memang film yang dibuatnya lebih kepada pergaulan bebas, kehidupan malam, serta hubungan layaknya suami dan istri tanpa status dan parahnya itu dilakukan oleh lebih dari satu pasangan dan satu ruang. 


Jelas Surya marah besar. Jika bukan di tempat umum, pasti tamparan keras sudah mendarat di pipi El.


"Lebih baik kau hidup tenang tanpa melakukan apapun yang pada akhirnya membuatmu rugi sendiri!"sinis Brian, ikut pergi menyusul Surya disusul oleh Silvia.


"Untung saja aku tidak ajak Aka." Anjani bernafas lega.


"Abel aku pulang duluan ya," pamit Anjani meninggalkan Bella dan El berdua.


"Adik ipar, Papa semakin membenciku," ucap El sedih.


"Tak heran jika Papa marah besar, Kak! Tapi Kakak jangan patah semangat. Nanti aku bantu deh Kakak biar bisa buat film yang pas sama selera Papa," hibur Bella.


"Kamu juga penulis?"


"Nggak. Tapi aku punya teman yang merupakan penulis hebat!"


"Baiklah. Kamu harapanku, adik ipar." Senyum El mengembang. 


*


*


*


Setibanya di rumah, Surya langsung masuk dengan wajahnya yang masih geram. Bujukan dan hiburan Rahayu seakan tak mampu memadamkan api amarah Surya.


"Stop, Ayu! Cukup! Jangan kamu bela lagi anak tak tahu malu itu!"


"Mas!"


"Ini semua karena kamu yang terlalu memanjakannya! Kamu selalu membelanya!"tuduh Surya.


"Mas aku tahu! Tapi Mas juga terlalu keras pada El. Jika Mas bisa lebih perhatian, lebih lembut lagi sama El dan Mas bisa memahami arah minat El dan menuntunnya dengan sabar, bukan keras tidak menentu seperti ini!"balas Rahayu.


"Mas egois! El itu butuh perhatian lebih bukan malah terus ditekan dan dibandingkan dengan Brian dan El!"tambah Rahayu. Surya terhenyak, biasanya Rahayu sekalipun marah tidak pernah membalas ucapannya dengan nada tinggi. 


"Sayang …." Nadanya melemah. 


"Mas materi bukan segalanya bagi anak. Yang terpenting ada kasih sayang! Mas cobalah Mas tunjukkan kasih sayang Mas lebih nyata. Bimbing El, bawa dia kembali ke jalan yang sebenarnya. Atau jika Mas sudah benar-benar angkat tangan dengan El, lebih baik kirim El ke pesantren!" Suara Rahayu juga mulai melemah. Ia menatap sendu Surya yang tampak memikirkan saran Rahayu. 


"Tapi Sayang apa tidak ketuaan?"tanya Surya ragu. Memang Rahayu sudah sering menyarankan agar El dididik di pesantren, akan tetapi gengsi Surya dan ketidaksetujuan mamanya El semasa hidup usulan itu tidak diterima. Dan sekarang Rahayu memberanikan diri untuk kembali menyarankan hal tersebut.


"Mas tidak ada kata tua dan terlambat untuk belajar. El pasti bisa berubah di sana. Jika Mas setuju, aku akan menghubungi sahabatku yang mengajar di pesantren di Bandung," ujar Rahayu.


"Baiklah. Akan Mas pertimbangkan."


"Tuan Muda Ken!" Pekikkan pelayan membuat Surya dan Rahayu saling tatap dan melangkah keluar. 


"Ken! Ada apa denganmu, Nak?"cemas Rahayu, memegang pipi Ken yang dipakai oleh Pria. Ken tampak kacau, dengan mata sembab penuh kesedihan juga putus asa. 


"Ma …." Ken memanggil lirik, langsung memeluk Rahayu.


"Ada apa, Ken?"


"Ma … Cia Ma …."


Suara Ken parau. Surya mengeryit, kenapa dengan Cia?


"Kenapa dengan Cia?"


"Cia pergi, Ma. Cia ninggalin Ken."


"Apa maksud kamu, Ken?"tanya Surya.


"Cia dibawa sama Om Bayu dan Tante Clara pergi." Dan tangis Ken pecah seketika. Rahayu, Surya, Brian, dan Silvia saling tatap dengan wajah tidak percaya. Why? Kenapa mereka membawa Cia pergi?


Belum lagi mereka menemukan jawaban, Ken limbung dan tak sadarkan diri dalam pelukan Rahayu.


"KEN!"