
Pukul 11.30, keluarga Kalendra meninggalkan gereja menuju gedung resepsi. Para tamu undangan juga sudah bubar dan kembali ke aktivitas masing-masing.
Sama halnya dengan Bella dan keluarga Kalendra yang meninggalkan gereja namun tidak langsung ikut menuju gedung resepsi pernikahan Louis dan Teresa melainkan lebih dulu menuju masjid agung Berlin, Sehitlik yang terletak di pusat kota Berlin.
Ken yang menyetir dan mengikuti panduan maps. Sebenarnya Bella yang ingin menyetir, ia sudah hafal betul seluk- beluk kota besar ini. Jadi, Bella sendirilah maps tersebut. Namun, hal itu tidak setujui.
Inikan bukan keinginan Bella sejak lama seperti saat menjemput Teresa tadi. Lagipula mereka pergi bersama, ada Ken dan ada El.
Dan Bella, mood ibu hamilnya membuatnya mencembik sesaat. Namun, mood nya kembali membaik saat menikmati perjalanan. Ken menggeleng pelan melihat mood istrinya.
Sementara El, Anjani, Dylan, Key dan Arka yang duduk di kursi penumpang bercengkrama ria dan membuat beberapa kesempatan mengenai destinasi wisata yang ingin mereka kunjungi, sekalian browsing di internet.
Key? Ya pangeran kecil keluarga Kalendra itu memang ikut dengan Bella. Walaupun dikatakan mereka mau ke masjid agung, Key tidak masalah karena ia ingin ikut. Ia dan Arka duduk satu kursi di barisan paling belakang bersama dengan Dylan.
"Eh iya. Kak Abel, apa universitas Pak Habibie ada di sini?"tanya Dylan.
Bella menoleh ke belakang, ia menggeleng.
"Universitas beliau ada di kota Aachen. Jaraknya dari sini sekitar 640 km. Mengapa? Mau berkunjung ke sana, Dylan? Selagi kita cukup lama di Jerman. Dengan pesawat hanya satu jam penerbangan," jawab dan tawar Bella pada Dylan.
"Boleh?"tanya Dylan antusias.
Bella mengangguk, "jika mereka tidak mau ikut kita berdua saja yang pergi," imbuh Bella, melirik Ken.
"Siapa yang mengatakan kami nggak mau ikut?"sahut El. Rupanya ia mendengarkan walaupun sibuk memotret jalanan, mungkin sebagai dokumentasi.
"Okay, berarti setuju semua dong kita besok pagi jalan-jalan ke Aachen," putus Bella. Dan Ken, pria itu sudah jelas ikut.
"Key boleh ikut juga, Aunty?"tanya Key.
Walaupun Key belum paham bahasa Indonesia. Namun, mendengar kota Aachen, itu artinya kemungkinan besar Bella akan ke sana.
"Kalau Mama dan Papa Key mengizinkan, it's okay," jawab Bella, dalam bahasa Jerman.
"Pasti diizinkan!"sahut yakin Key.
Bella tersenyum sebagai jawaban.
Untuk Umi Hani dan Nizam, mereka akan bergabung langsung dengan keluarga Mahendra di masjid Agung Berlin.
Bella sudah memberitahu sopir di kediaman Kalendra untuk mengantar mereka berdua.
Setelah menempuh perjalanan sekian menit, akhirnya mobil memasuki halaman masjid dan berhenti di tempat parkir yang disediakan.
"Ayo, Key." Key menggandeng tangan Bella.
Surya, Rahayu, Brian, dan Silvia juga sudah bergabung dengan mereka. "Eh Abel, boleh anak ini ikut masuk?"tanya Brian menatap Key yang balik menatap datar dirinya. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
"Lantas anak ini mau ditinggalkan di mobil atau di luar? Kalau hilang tanggung jawab siapa?"sahut Bella sedikit ketus. Brian mengernyit, mengapa nadanya kesal?
"Mood ibu hamil, Mas," bisik Silvia agar Brian tidak tersinggung.
"Sah-sah saja non muslim masuk ke dalam masjid selagi tidak menyalahi aturan agama. Anak ini hanya akan duduk menunggui kita selesai shalat," timpal El. Ia menjadi penengah.
"Anak ini sudah biasa ikut denganku ke masjid ini. Jadi, tidak masalah," ucap Bella, sedikit menghela nafas.
Entah apa yang membuatnya sensian hari ini? Ken bahkan tidak mengerti lagi dengan apa yang Bella pikirkan. Wajah istrinya itu masam sejak melihat ponsel sebelum turun tadi dan berubah saat berhadapan dengan Key, dan kini wajah masamnya kembali.
"Aku tidak tahu jika pertanyaanku tadi menyinggungmu. Aku minta maaf," ucap Brian, nadanya menyesal.
El dan Ken saling tatap, Brian meminta maaf? Padahal ia tidak salah?
Apakah Brian menerapkan yang meminta maaf belum tentu salah?
"Apa yang kau pikirkan, Abel? Ada sesuatu yang mengganggumu?"tanya Anjani dengan menepuk pelan punggung Bella.
Menerima tepukan itu, Bella tersentak dan mengedarkan pandangnya. Semua menatap heran sekaligus cemas pada Bella.
"Ahhh maaf. Aku terbawa emosi tadi. Kak Brian, maaf aku tanpa sengaja berbicara ketus denganmu," sesal Bella.
Brian mengangguk singkat. Sudah sama-sama minta maaf dan hal sepele untuk apa diperbesar?
"Ada apa memangnya, Abel? Apa yang membuatmu emosi?"tanya Rahayu.
Bella menggeleng pelan, "nanti saja, Ma. Abel selesaikan urusan Umi Hani dan Nizam dulu baru mengurusnya. Masih ada waktu kok, ayo."
Bella melepas alas kakinya. Begitu juga dengan Key. Bella lalu masuk ke dalam masjid bersama dengan Key diikuti Arka tanpa memperdulikan tatapan bingung Ken dan lainnya.
"Kita tunggu saja jika kata Aru nanti," ujar Ken, karena jika Bella sudah berjanji pasti akan menepatinya.
Mereka kemudian membuka alas kaki masing-masing dan menuju tempat untuk berwudhu karena adzan dzuhur sudah berkumandang.
Saat memasuki lafazh Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah, mobil yang ditumpangi oleh Umi Hani dan Nizam tiba di masjid. Mereka yang sudah berwudhu langsung memasuki masjid.
Nizam mengambil posisi di bagian pria dan Umi Hani menunggu di bagian wanita. Beliau duduk, menjawab adzan dalam hati dan merasakan debaran hatinya yang serasa tidak menentu.
Umi Hani sangat menantikan namun di saat yang sama ia juga takut.
Bagaimana jika sang anak nanti tidak mau mengakuinya?
Tidak mau mengakui Nizam sebagai saudaranya?
Hal itu ditilik dari besarnya perbedaan mereka yakni agama. Terlebih kembaran Nizam itu pasti diasuh oleh kakek dan neneknya yang sangat membenci dirinya, sedikit banyaknya akan menanamkan kesan ataupun pernyataan buruk di dalam diri Evan.
Namun, pikiran buruk itu sedikit sirna diterpa kumandang adzan yang begitu merdu, menenangkan hati dan mengingat ucapan Bella saat pertama kali bertemu.
Sekalipun orang tua mantan suami menanamkan kesan buruk akan dirinya pada Evan, mantan suaminya pasti akan menyiramnya dengan kesan baik, yang sangat baik malah.
"Assalamualaikum, Hani," sapa Rahayu. Umi Hani membuka matanya.
"Waalaikumsalam, Yu," jawab Umi Hani.
"Kau gugup?"tanya Rahayu.
"Tentu aku gugup, Yu. Puluhan tahun kami berpisah tanpa kabar, jantungku rasanya berdetak sangat kencang," jawab Umi Hani dengan memegang dadanya.
Rahayu tersenyum. Keduanya lantas berhenti berbicara karena sudah iqamah.
Key duduk manis di samping Bella karena kebetulan Bella berada di shaf paling ujung kanan. Jadi, ada ruang untuk Key. Bocah itu hanya duduk diam mengamati orang shalat.
Key bukan sekali dua kali berada menginjakkan kakinya di masjid. Saat hari libur dan ia jalan-jalan bersama dengan Bella dan memasuki waktu shalat, maka mereka akan mencari masjid terdekat.
Dan untuk hari raya kurban tahun lalu pun Key ikut dengan Bella. Katanya ia ingin melihat bagaimana hewan kurban disembelih. Alhasil selesai shalat idul adha, Bella menemani Key melihat bagaimana hewan kurban disembelih.
Masjid ini dibangun sebagai bentuk keharmonisan hubungan dua kerajaan yakni Turki Usmani dan Prusia (Jerman).
Masjid Sehitlik berdiri dengan kubah besar dan dua menara lancip yang menjadi ciri khas arsitektur Ottoman. Komplek masjid ini satu area dengan komplek pemakaman. Luas keseluruhan mencapai 2.805 meter persegi.
Selesai shalat dan berdoa, mereka kembali berkumpul di teras masjid. Bella memberi intruksi.
"Aku dan Ken akan menjemput Evan di laboratorium. Mama, Papa, dan yang lainnya menuju tempat pertemuan karena kita tidak berkumpul di laboratorium," ucap Bella.
"Lantas kita berkumpul di mana?"tanya Nizam. Ia sudah sangat tidak sabar namun tidak terlalu menunjukkannya. Ia bersikap tenang bahkan meminta nanti setelah ini El mengambil foto untuknya dengan latar masjid yang turut menjadi saksi sejarah ini.
"Di taman kota," jawab Bella.
"Sebentar," lanjut Bella kemudian melangkah menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Umi Hani dan Nizam tadi.
Bella berbicara dengan sang sopir dan sopir itu mengangguk mengerti.
"Selain aku dan Ken, kalian ikut dengan Paman ini ke taman kota. Di sana nanti kita akan berkumpul lagi," ujar Bella.
Mereka mengangguk karena Bella lah yang mengenal wilayah ini. Segera mereka masuk ke dalam mobil.
Key yang ikut dengan Bella tentu saja Arka mengajukan diri untuk ikut juga. Bella mengizinkan, mereka hanya akan menjemput bukan masuk ke dalam laboratorium.
Bella, Ken, Arka, dan Key berangkat dengan mobil yang ditumpangi oleh Umi Hani dan Nizam karena. Dengan cekatan Ken mengemudikan mayback berwarna hitam itu membelah jalanan kota Berlin menuju institute penelitian Jerman.
"Aunty, kita mau ke mana?"tanya Arka.
"Ke institute penelitian," jawab Bella.
"Itu apa?"tanya Arka lagi.
"Itu tempat kerja untuk ilmuwan atau penelitian," jawab Bella.
"Ilmuwan? Mars?"
"Termasuk," jawab Ken.
Arka mengangguk mengerti.
Dalam waktu 20 menit, Ken memberhentikan mobil di depan gerbang institute penelitian. Bella turun dan menyuruh ketiganya untuk tetap di dalam mobil.
Bella menghampiri pos penjaga. "Entschuldigung, guten Tag, Sir," sapa Bella pada penjaga pos.
(Permisi, selamat siang, Pak.)
"Nachmittag, Fräulein. Kann ich etwas für Sie tun, Miss?"balas lenjaga pos ramah.
(Siang, Nona. Ada yang bisa saya lakukan untuk Anda, Nona?)
Bella tersenyum. "Saya ingin bertemu dengan Profesor Evan," jawab Bella.
"Profesor Evan? Sebelumnya sudah membuat janji dengan Profesor?"tanya penjaga gerbang. Bella mengangguk.
"Saya sudah membuat janji dengan temu Profesor Evan lewat Presdir Kalendra Group. Saya tidak bisa menghubunginya karena Anda sendiri tahu kan …."
Bella tidak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah penjaga pos itu paham maksudnya.
Evan tidak punya ponsel.
Serius?
Di era digital seperti ini tidak punya ponsel?
Ya karena selama ini, Evan mendedikasinya dirinya ke laboratorium seakan laboratorium itu adalah dunianya. Jika ingin berbalas pesan dengannya harusnya lewat email.
Itulah cara Evan berkomunikasi dengan sang ayah saat jarak memisahkan keduanya.
"Baik, Nona. Saya akan mengkonfirmasinya lebih dulu. Sebelumnya kalau boleh tahu saya berbicara dengan …."
"Bella. Dia kenal saya," jawab Bella.
Segera setelahnya, penjaga pos itu mengangkat gagang telepon untuk menghubungi divisi Evan. Bella menunggu dengan duduk di kursi yang disediakan.
"Profesor Evan akan segera tiba," ujar penjaga gerbang.
"Thank you," jawab Bella.
Dan benar saja, tak menunggu lama seorang pemuda yang wajahnya mirip dengan Nizam, dengan mengenakan jaket panjang dengan kerah berbulu berwarna abu-abu, masih mengenakan sepatu laboratorium yang juga berwarna putih serta rambut yang diikat lengkap dengan kacamata membingkai wajah pemuda berusia 23 tahun itu.
Dan itu sungguh ber demage. Pemuda bernama Evan itu sudah berdiri di hadapan Bella.
"Anda kembali ke Jerman, Nona Bella?"tanya Evan dengan mengulurkan tangannya.
"Tidak, Profesor. Saya hanya ke Jerman untuk menghadiri pernikahan Tuan Muda Louis dan Teresa," balas Bella menerima uluran tangan Evan, keduanya berjabat tangan.
"Aku ingat kita pernah sepakat untuk tidak berbicara dengan formal, Bella."
"Kau yang memulainya, aku hanya mengikuti alurnya," sahut Bella dengan tersenyum.
Evan, ikut tersenyum bahkan ia tertawa.
"Jadi, Tuan Leo yang mengutusmu untuk menjemputku?"tanya Evan.
"Sebenarnya yang ingin bertemu denganmu bukan keluarga Kalendra melainkan yang selama ini ingin kau temui bahkan katamu sekalipun dalam mimpi," terang Bella, memberikan kode yang terasa begitu jelas.
Namun, profesor muda itu malah mengeryit, seseorang yang sangat ia temui?
Siapa?
"Ayo kita berangkat. Kau sudah ambil izin kan?"
"Aku free sampai nanti sore," jawab Evan.
"Baiklah, ayo."
"Ya."
Mengapa hatiku berdecak kencang seperti ini? Siapa yang akan aku temui?
Evan tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Bahkan saat di dalam mobil, Evan lebih banyak ke melamun.