This Is Our Love

This Is Our Love
Langkah



"Lantas apa aku harus menangis?"tanya Ken. 


"Ah jangan! Eh kurangi! Kau sudah banyak menangis. Nanti kolam air matamu bisa kemarau!"


"Aku juga lelah menangis, Kak," balas Ken. 


"Hem? Bagaimana perasaanmu? Merasa lebih baik? Ada yang kau butuhkan?"tanya El beruntun. 


"Aku merasa lebih baik. Tapi, aku lapar," jawab Ken.


"Lapar? Kau ingin makan apa?"


"Apa saja," jawab Ken.


"Hm. Baiklah. Akan segera aku ambilah. Kau jangan lakukan hal yang aneh! Aku akan segera kembali!"tegas Ken. Ken mengangguk lemah. 


Aish, melihatnya tersenyum aku malah merinding. Aku harap dia tidak berpikiran sempit. 


Harus cepat. Harus cepat kembali!


Tak berapa lama kemudian, El kembali dengan membawa makanan dan segelas susu serta air mineral. 


"Bisa bangun?" Ken sudah mencoba berulang kali. Tapi, tubuhnya sama sekali tidak ada tenaga.


Ken menggelengkan kepalanya, "help me, Brother," pinta Ken dengan tersenyum. 


El mendengus senyum. "Baiklah. Aku akan menjadi kakak yang baik," sahut El, meletakkan nampan di atas nakas kemudian membantu Ken untuk duduk. 


"Kau berat juga, ya," celetuk El. 


"Aku sudah dewasa, Kak," sahut Ken. Menghela nafas saat ia sudah duduk. Melihat jarum infus di tangannya. Lalu mendongak melihat botol infusnya. Masih setengah lagi.


"Iya-iya. Kau sudah sangat dewasa sampai-sampai tidak memperdulikan kondisi tubuhmu. Mengurung diri, dipanggil, ditanya tidak menjawab, kau mau mati hah? Menanggungnya sendiri? Kau anggap kami ini apa, Ken? Keluarga atau bukan?!"omel El dengan menyendokkan makanan untuk Ken, bersiap untuk menyuapi Ken. 


Ken tersenyum pahit. Mungkin ia sudah lelah menangis. "Menangis terus, seberapa barang stok air matamu?"omel El lagi. Menyodorkan sendok berisi makanan pada Ken. 


"Ya, aku memang kekanakan, maaf, Kakak," sesal Ken. 


"Kau sadar?"


"Aku lapar," jawab Ken yang membuat El berdecak pelan. 


"Makanlah," ujar El. Ken menerima suapan itu. 


"Sudah lebih baik?"


"Ya. Aku sudah sadar. Maaf membuat kakak dan yang lain khawatir," sesal Ken lagi. 


Kali ini El tersenyum lembut. "Yakinlah, Abel pasti akan kembali."


El terus menyuapi Ken hingga makanan yang ia bawa habis. Setelah minum air mineral, El menyodorkan susu.


 "Kau butuh banyak energi untuk pagi nanti."  Ken merasa aneh dengan ucapan kakaknya itu. Namun, segera ia tepis. Berpikir bahwa pasti karena akan membahas rencana. 


"Tidurlah lagi. Nanti subuh aku bangunkan," ujar El. 


"Sebentar lagi. Kepalaku terasa sakit kalau dibawa tidur lagi," jawab Ken. Ia sudah mencobanya tadi. Saat menutup mata, rasa sakit malah menyerang dirinya. 


"Aku akan mengembalikan ini." Ken mengangguk.


Setelah El keluar, Ken mengambil ponselnya yang ternyata sedang di charger. Tubuhnya terasa mulai bertenaga. Membuka album. Melihat foto dan video kebersamaan dengan Bella. 


"Kita akan segera bertemu dan bersama lagi!!" 


Yakin dan bertekad. Ken tersenyum. Setidaknya kerinduannya sedikit terobati. 


"Hei Ken, kau butuh sesuatu tidak?"tanya El setelah kembali ke kamar Ken.


"Tidak."


"Okay. Kalau begitu aku tidur ya. Aku masih sangat mengantuk." El naik ke atas dan membaringkan tubuhnya. 


"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti," sahut Ken. El kembali menarik selimut dan memejamkan matanya tidur. 


"Terima kasih telah menjagaku," gumam Ken. Kembali fokus melihat kenangan bersama dengan Bella yang diabadikan lewat ponselnya. 


Hingga mata Ken lelah sendiri dan akhirnya tertidur. Tidurnya terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Bibirnya melengkungkan senyum dengan memeluk ponselnya.


Entah berapa Ken tidur. Rasanya baru sebentar dan alarm berbunyi dengan nyaringnya. 


Ken langsung membuka matanya. Pukul 04.30, waktu alarm yang sama. Namun, tidak dengan orang yang di sampingnya. 


El menggeliat. "Ah … aku kalah cepat dengan alarm," keluhan yang seperti celetukan. Ken tertawa ringan.


"Tolong bantu aku lepaskan infusku, Kak," ujar Ken. 


"Aku mau mandi."


"Aku tidak berani. Biar dokter saja yang melepasnya nanti," jawab El dengan wajah yang mendukung. 


"Serius? Kapan dia datang?"


"Mungkin pukul delapan nanti. Atau aku telepon sekarang saja?" El sudah memegang ponselnya. 


"Ah tidak perlu," cegah Ken. Ia sudah bisa duduk sendirinya. Setelah makan dan tidur, energinya terisi. 


Ken menurunkan kedua kakinya. Rasa dinginnya lantai langsung mengalir ke kakinya. Ken diam sejenak. "Butuh bantuan? Ah kau pasti butuh!" 


El turun dan mengambil botol infus Ken. Sebelum Ken sempat menolak, El sudah memapahnya. "Perlu aku mandikan juga?" Pertanyaan itu diucapkan dengan wajah polos. 


Tentu saja Ken menolak. "Hei kita ini saudara. Mandi bersama juga tidak masalah!" El berseru dengan mengetuk-ngetuk pintu. 


"Aku bisa sendiri!!"sahut Ken dari dalam. Saudara sih saudara. Tapi, kan mereka sudah dewasa. El mencembik. 


"Tentara yang bukan saudara saja mandi bersama!"gerutu El. 


El kembali ke ranjang, duduk di tepi. El mengedarkan pandang.


Sepertinya memang sudah aman, gumamnya dalam hati tersenyum. El kembali membaringkan tubuhnya, menunggu selesai mandi. 


"Kak El." El membuka matanya ketika mendengar panggilan itu. 


"Kau masih di sana?"


"Ya, ada apa?"sahut El. Kembali duduk..


"Bisa aku minta tolong? Ambilkan handuk di ruang ganti," ucap Ken meminta tolong.


"Dewasa apanya? Mandi saja handuk masih ketinggalan," celetuk El, berdiri dan menuju ruang ganti. 


"Namanya juga lupa," sahut Ken, bersungut. 


Di dalam ruang ganti yang juga merupakan walk in closet, El mengambil handuk dengan segera memberikannya pada El. 


"Thanks."


"Okay."


"Cepatlah, aku juga mau mandi."


"Malas aku ke sana," jawab El santai. 


"Hem." Ken keluar dengan handuk melingkar menutupi bagian pinggang ke bawah. 


"Wow. Kau sixpack juga ya."


Ken tidak terlalu menanggapinya. "Ku kira kau kurus kering," imbuh El. 


"Sepertinya belakangan ini kau sangat bahagia, Kak," sahut Ken, menyindir.


"Tentu saja," balas Ken.


"Ya, terlihat dari perutmu yang berlemah!" 


"Eh?" El terkesiap dan langsung melihat perutnya. 


"Ah hanya nambah beberapa kilo." Belakangan ini El memang disibukkan dengan comeback dan pembuatan filmnya. Ia jadi jarang berolahraga. Ditambah lagi karena efek bahagia. Sudah ada calon belahan jiwa. Keluarga yang tidak lagi sinis padanya. Luka batin yang sudah  sembuh, turut memberi dampak pada tubuhnya. 


"Awas ntar kayak ibu hamil," ledek Ken. 


"Kau juga jangan sampai kayak ikan teri," balas El, meledek Ken. 


Ken mendengus senyum. Dan segera masuk ke ruang ganti. 


El juga tersenyum. "Juga sudah sangat berenergi," gumam El, segera masuk ke dalam mandi. 


"Gawat! Ken tolong ambilkan handukku!!"teriak El setelah terdengar suara air berhenti. 


Ken yang baru keluar dari ruang ganti memutar bola matanya, "sama saja rupanya."


*


*


*


Apa aku akan dimarahi habis-habisan? 


Ken menunduk saat dihadapkan dengan tatapan Max, Leo, dan Louis. Kamar Ken terasa sesak karena semua anggota keluarga Kalendra dan Mahendra dan berkumpul di kamarnya. 


Selesai ia shalat subuh, mereka semua masuk bak sedang mengintrogasi Ken..


Mengapa Kak El tidak memberitahu mereka ada di sini? Ken melirik El yang berada di sampingnya. 


El malah tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putihnya. Jari membentuk huruf V, peace. 


Rupanya ini maksudnya, merujuk pada "Kau butuh banyak energi untuk pagi nanti."


Energi untuk berhadapan dengan keluarga Kalendra. 


Tapi, mengapa diam saja? Tidak ada yang bicara?


"Kami sudah mendengar semuanya." 


Ken mengangkat wajahnya, menatap Max. 


Semuanya? Termasuk surat itu?


"Itu bukan salahmu. Penculiknya memang bukan orang sembarangan. Bisa menerobos masuk dan menggunakan asap bius, tidak hanya kuat tapi cerdas," lanjut Max.


Itu benar. Ken beralih menatap keluarganya yang tersenyum. Pasti karena keluarganya. 


"Tapi, itu tidak serta-merta menghapuskan bahwa kau memang lemah dan kekanakan," ucap Louis dengan menatap sinis Ken. 


Ken terhenyak. "Ya …." Tidak mengelak. 


Louis tampak tertegun. Bocah ini tidak membantah? Malah membenarkan? 


"Hei-hei! Adikku ini baru sadar! Mengapa kau sudutkan lagi?"tunjuk El pada Louis. 


"Kalau drop lagi bagaimana? Mau tanggung jawab? Mau ku pukul kau hah?" 


"Stop." Brian menarik kerah baju El yang hendak menghampiri Louis.


"Sudahi kesedihanmu. Mari kita bahas rencananya!"tegas Leo.


"Huh! Untuk saja kau sadar jika tidak aku akan benar-benar memukulmu!"cetus Louis. 


"Eh-eh. Siapa kau beraninya hendak memukul adikku? Kami ini tidak kau anggap hah?" El merangkul Brian dan Dylan. Tatapannya tajam pada Louis. 


Meskipun Brian dan Dylan tidak menunjukkan ekspresi setuju. Tapi, tatapan mereka menunjukkan ekspresi yang sama dengan El. 


Louis kembali terhenyak, "okay," ucapnya. 


"Kalian, hentikan!" Surya menatap tajam ketiga putranya itu. Brian melepaskan rangkulan El. Sementara Dylan tidak. 


"Jadi, kita bahas rencana dalam waktu dekat ini." Pembicaraan benar-benar serius. 


"Ken tugasmu hari ini adalah mengunjungi Nesya. Kau harus memberitahunya apa yang terjadi tanpa membuatnya drop!"ucap Surya. 


"Aku? Sendiri?" Ken merasa belum berani berhadapan dengan Nesya.


"Itu resiko yang harus dihadapi. Dylan akan menemanimu," ujar Rahayu. 


Ya Dylan kan calon suami Nesya. 


"Lalu yang kedua papa akan mengumum kan bahwa Abel mengambil cuti karena hamil. Dan jabatan wakil presiden jatuh kepadamu, Ken!" 


Hal kedua mengagetkan Ken. Dia? Menjadi wakil Presdir? 


"Mengapa bukan Kak Brian?"tanya Ken. 


"Tugasku di keuangan. Dan aku rasa memang kau yang harus menggantikannya karena kau sudah menjadi sekretaris Abel. Kau juga menghandle beberapa pekerjaan. Kau pasti paham cara kerja Abel, bukan?"jawab Brian. Kakaknya itu tampak tidak keberatan. Dan sepertinya itu sudah final. 


"Baiklah." Ken paham. Dunia bisnis ini keras. Jika tahu Bella tidak hadir di perusahaan karena diculik itu akan membawa dampak kurang baik. Maka lebih baik alihkan ke alasan cuti karena hamil. Lagipula kemarin sempat ada isu bahkan wanita hamil akan kurang kompeten dalam bekerja. Dan itu bisa dijadikan sarana.


"El, tugasmu memberitahu Anjani," ucap Surya. 


"Okay." Langsung disanggupi. 


"Brian kau tetap stay pada tugasmu." Brian mengangguk singkat. 


"Dylan, kau ikut dengan kami melanjutkan penyelidikan. Dan satu, sepertinya kita butuh tambahan orang." 


"??"


"Seorang hacker. Ada yang punya kenalan?" 


Semua berpikir. "Sepertinya aku tahu." Ken mengangkat tangannya. 


Semua tatapan tertuju pada Ken. "Siapa?"


"Kalian tahu orangnya," jawab Ken, tersenyum. 


Hayoo siapa kira-kira yang Ken maksud?