
Sebuah pernikahan yang dipenuhi dengan kemewahan harusnya adalah sebuah pernikahan impian bagi setiap pasangan. Gaun yang indah, pasangan yang serasi, tamu yang berpengaruh, hingga penyanyi kelas atas, mewarnai resepsi pernikahan Ken dan Bella. Para tamu tak hentinya memuji ketampanan dan kecantikan pasangan baru itu yang kini sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu.
Surya tentunya tersenyum bangga akan hal itu. Wibawanya semakin naik di kalangan pebisnis. Menantu hebat untuk putra tersayang. Begitu juga dengan Rahayu, yang menggandeng lengan Surya, menerima pujian dan ucapan selamat.
Sementara itu, Ken dan Bella bisa menghela nafas lega sedikit. Biarpun tamu undangannya terbatas, tetap saja lelah menerima tamu yang datangnya bergantian. Bella tetap tersenyum, bukan pura-pura, tapi benar-benar tulus dari hati. Bagi Bella, biarpun ini bukan pernikahan impiannya, setidaknya pernikahan ini dialah yang memilihnya. Nikmati saja apa pilihannya. Ibarat pepatah sekali mendayung dua tiga pulang terlampaui, itulah yang kini tengah Bella lakukan.
Berbeda dengan suaminya, yang tersenyum paksa. Bella tidak terlalu mempedulikannya. Ia yakin Ken bukanlah anak yang tidak berpikir. Kehormatan dan wibawa keluarganya dipertaruhkan di sini.
"Memikirkan kekasihmu?"tanya Bella menatap Ken yang senyumnya sudah menghilang berubah menjadi raut wajah gelisah yang disembunyikan. Ken menatap Bella, perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Tenanglah. Setelah hari ini aku akan bersama dengannya lagi," ujar Bella memalingkan wajah ke arah pintu masuk.
"Apa kau tidak terusik dengan hal itu?"tanya Ken.
"Tidak. Cia lebih butuh dirimu ketimbang aku. Dan ku rasa aku tidak membutuhkan dirimu," sahut Bella acuh, mengedarkan pandang dan kini matanya menatap seorang pria yang masuk dengan gaya pakaian casual yang cenderung nyentrik.
Celana panjang dengan kemeja bermotif bunga-bunga dan syal berwarna coklat. Kaca mata hitam dan melangkah dengan kedua tangan berada di saku celana. Bella mengernyit tipis, penampilannya tak seperti Tuan Muda yang penuh dengan keeleganan tapi anehnya, para tamu malah menghormati pria tersebut.
"Hei kau kenal dia?"tanya Bella, menepuk pundak Ken yang melamun. Ken menatap Bella kemudian menatap ke arah yang dituju Bella.
"Oh …." Ken tersenyum kecut.
"Dia kakak keduaku, Elvano," jawab Ken dengan nada yang sama sekali tidak bahagia lebih kepada acuh.
Bella ber-oh-ria. Ternyata itu rupa yang selalu dirumorkan buruk. Wajahnya memang tidak setampan Ken maupun Brian. Jika memakai ukuran maka El 10, Brian 11, dan Ken 12. Ya dari penampilannya memang tidak meyakinkan bahwa ia adalah putra keluarga Mahendra tapi itulah kenyataan.
"Yo apa aku terlambat?"tanyanya dengan nada yang terdengar menyebalkan di telinga Surya.
"Jaga sopan santunmu, El! Jangan buat malu aku di sini!"ucap Surya menahan geram. Apa katanya? Apa aku terlambat? Ini sudah beberapa jam setelah akad.
"Mas sudahlah." Rahayu mengelus lengan Surya.
"Urus penampilannya!"ucap Surya, melepaskan pegangan tangan Rahayu dan melangkah pergi menemui relasi bisnisnya yang lain.
"El ayo ganti pakaianmu, Sayang," ujar Rahayu lembut. El menatap Rahayu, senyumnya tetap mengembang.
"Bunda … El mau pakai ini. El nyaman dengan ini. Boleh ya?" El bergelayut manja pada lengan Rahayu. Rahayu tersenyum, mengusap lembut rambut El.
"Tapi Sayang, ini acara resmi. Pernikahan adikmu. Menurut ya sama Bunda," bujuk Rahayu.
El memalingkan wajah menatap Ken dan Bella. El terperangah melihat wajah Bella, berbeda dengan Ken yang memberi tatapan tajam pada El.
"Mengapa adik ipar terlihat lebih dewasa dari Ken, Bun?"tanya El penasaran. Ia memang acuh dengan pernikahan Ken. Ia datang hanya karena ancaman Surya.
"Karena adik iparmu itu lebih dewasa dari Ken, El," jawab Rahayu. El mencembikkan bibirnya. Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan itu sendiri.
"Ayo El, jangan buat Papa semakin marah. Nanti fasilitasmu kembali ditarik loh," ajak Rahayu melayangkan ancaman. Wajah El langsung berubah takut.
"Baiklah. El juga mau ngasih kesan baik untuk adik ipar. Ayo, Bun …." Ekspresi El berubah cepat menjadi semangat. Dengan merangkul pundak Rahayu, mereka melangkah menuju ruang ganti.
"Hubungan istri dan anak Anda sangat harmonis ya, Tuan Surya," ucap salah seorang rekan bisnis Surya. Surya yang melihat hal itu, tersenyum simpul.
Ya tapi itu hanyalah di permukaan, batin Surya.
Ken menatap interaksi itu dengan tangan mengepal, Bella yang menangkap ekspresi itu mengernyit tipis. "Why?"
"Tidak ada!" Tapi ekspresi Ken tidak berubah, menatap hal itu tajam dan terlihat ada api cemburu di sana. Ken tidak bisa menyembunyikan perasaannya walaupun bibirnya bisa berbohong. Bella semakin penasaran, seperti apa hubungan antar saudara ini.
"Kau cemburu pada kakakmu sendiri?"tanya Bella yang dijawab oleh tatapan datar Ken.
"Ya kau cemburu. Aku semakin penasaran dengan keluarga kalian," gumam Bella yang masih terdengar oleh Ken.
*
*
*
"Bunda …." El kembali merengek saat Rahayu menyodorkan setelan jas bersama biru padanya.
"Ada apa lagi, El? Ini bukannya warna kesukaanmu?"heran Rahayu.
"Hm … tapi El nggak mau memakai ini," ujar Ken, mengambil lalu meletakkan jas tersebut di atas meja.
"Lantas? Ayolah Ken, Bunda harus kembali ke resepsi," ucap Rahayu. El menggeleng pelan, dengan lembut ia bersandar pada bahu Rahayu.
"El?!"seru Rahayu.
"Bunda … terima kasih banyak," ucap El dengan penuh ketulusan. Rahayu mengeryit, dan kini mengusap lembut punggung El.
"Mengapa hm?"
"Terima kasih telah menyayangi El. Menerima dan mengerti El apa adanya. Saat Papa marah, Bunda selalu membela El. Saat Papa, Kak Brian, dan Ken memandang rendah El, Bunda selalu mendukung El. Padahal dulu, Papa dan Mama sama selalu marah dan menatap rendah El tapi Bunda, Bunda selalu menyayangi El tanpa memandang kelakuan El. Mengapa Bunda? Mama juga sudah tiada, mengapa Bunda tetap sayang sama El? Harusnya kan Bunda berubah, sudah tidak ada lagi yang menghalangi Bunda. Mengapa Bun?" El mengeluarkan keluh kesahnya pada Rahayu. Rahayu tersenyum lembut.
"Karena Bunda sangat menyayangi El. Bagi Bunda, El bukanlah anak yang tidak berguna. Bukan sebuah aib bagi keluarga hanya saja El belum mendapatkan jati diri El yang sesungguhnya. Anggap saja, El masih dalam masa pencarian jati diri," tutur Rahayu.
"Tapi Bun … usia El sudah jauh dari masa pencarian jati diri. Apa El benar-benar anak yang tidak berguna? Semua yang El kerjakan tidak ada yang berhasil. El …."
"Shut! Jangan rendah diri, El. Ingatlah ini … kedewasaan bukanlah tentang usia. Mendapatkan jati diri bukan juga dengan masa. Saat batin kita siap, hati menerima semua takdir yang telah digoreskan, baik dan buruk, saat itukah kedewasaan itu kau dapatkan. Bunda yakin, kelak pasti El akan sukses. Kegagalan adalah jalan menuju ke keberhasilan. Jadi, El jangan menyerah ya," ucap Rahayu lembut dan penuh ketulusan.
"Bunda!!" El memeluk Rahayu erat. Rahayu tersenyum dan menepuk-nepuk pelan pundak El.
Terima kasih, Bunda. El sangat sayang sama Bunda.
*
*
*
"Ken, Nabilla, ayo kemari," panggil Surya. Ken segera melangkah. Bella menyusul langkah Ken, tak bergandengan tangan. Anjani yang mengekor di belakang Bella mendengus sebal.
Ck anak ingusan ini berani mengabaikan Abel!gerutu Anjani dalam hati.
"Abel suamimu ini membuatku kesal!"aduh Anjani, berbisik pada Bella.
"Ya aku tahu," sahut Bella, santai.
"Sini-sini. Perkenalan ini Mr. Aldric dari Nero Group, perusahaan yang tengah menjalin kerja sama besar dengan kita," ujar Surya.
"Salam kenal, Mr. Aldric. Perkenalan saya Ken," ucap Ken dengan bahasa inggris.
"Hallo Ken. Nice too meet you," balas Mr. Aldric ramah.
"Hello Mr. Aldric. Perkenalan saya Nabilla, nice too meet you, Mr Aldric," ucap Bella ramah. Bella hanya sedikit penasaran dengan kerja sama Mahendra Group dengan Nero Group, mungkin setelah ia resign kerja sama ini baru terjalin.
"Hello Nabilla. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"tanya Mr. Aldric yang merasa familiar dengan Nabilla.
"Hm? Nabilla?" Mr. Aldric seperti berusaha keras mengingat.
Surya menaikkan alisnya melihat interaksi itu. Sedangkan Ken, acuh.
"Tunggu sepertinya saya mengingat kamu … bukanlah kamu … kamu itu … kalau tidak salah kamu adalah karyawan perusahaan Jerman, bukan? Kalendra Group?"terka Mr. Aldric dengan mata berbinar. Senyum Bella mengembang lebar.
"Saya merasa tersanjung karena Anda mengingat saya, Mr. Aldric."
"Hahaha luar biasa! Anda beruntung Mr. Surya. Dulu Mrs. Nabilla ini adalah lawan yang berat bagi kami. Kami kalah tender dengan Kalendra Group karena perwakilan mereka dipegang oleh Mrs. Nabilla. Tidak saya sangka ternyata Anda orang Indonesia dan kini … hahaha keberuntungan yang bagus, Mr. Surya."
Surya tertawa senang mendengar ucapan pujian Mr. Aldric. Sungguh keputusan yang tepat, Surya tidak menyesal!
"Hahaha masa lalu biarlah berlalu, Mr. Aldric. Sekarang saya bukan lagi bagian dari Kalendra Group …." Mr. Aldric berhenti tertawa dan menatap Bella tak percaya.
"Benar! Karena Nabilla akan menjadi wakil Presdir Mahendra Group!"ucap Surya bangga.
"Apa?" Surya, Mr. Aldric, Ken, dan Bella menoleh ke arah sumber suara.
"Apa maksud Papa?" Brian dengan wajah tidak percaya menatap Surya. Di belakang Brian, Silvia mengekor.
"Hm? Maksud ya mana?"balas Surya datar.
"Maksud ucapan …."
Ehem.
Rahayu yang baru datang dan melihat ada pertentangan langsung berdehem.
"Hei, Kakak. Kau baru sampai?" El menunjukkan wajahnya dari balik Rahayu. Brian tidak menggubris, tetap menatap Surya. Mr. Aldric yang merasa ia tidak seharusnya berada di tempat ini, langsung izin undur diri.
"Ada apa ini hei? Mengapa kalian bersitegang begitu?" El kembali melayangkan pertanyaan.
Huh!
Brian mendengus kesal. Langsung melangkah pergi. Silvia yang baru menghela nafas lega, mendengus sebal melihat Brian yang kembali meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
"Via susul suamimu," titah Rahayu.
"Baik, Bun."
Mas aku lelah! Lelah menjalani pernikahan dingin ini, batin Silvia menyusul Brian.
"Adik ipar!" El dengan cepat maju dan berdiri di dekat Bella.
"Hello, kakak ipar," sapa Bella ramah sedangkan Ken mendengus kesal, ia memalingkan wajah ke arah lain.
"Ken!"tegur Surya penuh tekanan.
"Hm …." Ken menatap El dengan senyum paksa.
"Hei, Kak. Mengapa kau terlambat?"tanya Ken, hanya basa-basi.
"Maafkan kakak adikku sayang. Syuting tadi malam berakhir lama sekali. Aktornya sangat payah memerankan adegannya. Kau tahu, aku pulang hampir subuh dan begitu terbangun sudah lewat jam akadmu. Ah sebagai permintaan maaf bagaimana dengan tiket gratis filmku yang akan tayang akhir bulan ini?"sesal El, memeluk Ken. Keduanya berpelukan.
"Selamat untukmu Ken. Now, you're husband," ucap El.
"Thanks, Brother! Cepatlah menyusulku dan kak Brian," ujar Ken.
"Ah adik ipar …." Ken melepas pelukannya dan beralih memeluk Bella.
"Welcome in Mahendra Family, adik ipar," sambut El senang.
"Danke, kakak ipar," jawab Bella.
***
Sementara itu, Cia mengurung diri di dalam kamarnya. Setelah menyaksikan akad nikah Ken dan Bella yang sangat mengiris hatinya, keluarga Utomo mengajak dan memaksa Bella pulang.
Air mata Cia telah berhenti mengalir, kini ia tertidur setelah puas menangis. Esok pagi, semua akan kembali seperti semula. Biarkan malam ini Ken menjadi milik Bella, walaupun hatinya sangat tidak rela. Biarlah, hanya malam ini. Cia tidur dengan tersenyum lebar, memeluk bantal yang sering digunakan oleh Ken.
*
*
*
Di belahan bumi lain, Louis yang tengah sibuk bekerja, tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya. Louis menatap rumit ke depan, alisnya mengeryit dengan wajah tampak gelisah. Louis menyentuh dadanya. Rasanya sangat tidak nyaman dan seperti ada sesuatu yang hilang.
"Abel …," gumamnya dengan nada cemas.
Segera, Louis meraih ponsel dan menghubungi Abel, tapi tidak tersambung. Nomor Bella tidak aktif. Hati Louis semakin gelisah.
Apa ini? Rasa ini sangat menyesakkan dadaku. Hatiku … hatiku mengapa terasa sakit? Apa yang sebenarnya terjadi? Abel … ada apa dengannya? Apa yang ia lalui di sana? Tidak, ini … rasa takut kehilangan. Abel … apa kau masih mencintaiku?
Louis memegang dadanya seraya memejamkan matanya. Tanpa sadar, air mata Louis menetes tanpa diminta.
"Tuan Muda!" Louis membuka matanya dan melihat Carl yang baru masuk dengan membawa setumpuk berkas.
"Ya?"sahut Louis, memindahkan kedua tangannya ke atas meja.
"Anda menangis?"tanya Carl memastikan.
"Aku menangis?" Louis menghapus air matanya, " hanya ilusimu saja. Mataku perih membaca berkas-berkas itu. Tadi ku gosok makanya merah," kilah Louis.
"Benarkah Tuan Muda? Jika begitu Anda harus segera periksa mata!"ucap Carl cemas.
"Ya … atur saja check up ku," sahut Louis. Carl mengangguk mengerti.
"Berkas apa itu?"tanya Louis.
"Ini berkas yang Anda minta, Tuan Muda. Hasil penyelidikan tentang Nona Bella. Semua lengkap ada di sini, Tuan Muda," ujar Carl, menyerahkannya pada Louis.
Louis segera membukanya. Setelah beberapa saat, Louis menutup berkas tersenyum.
Aku harus membantu Abel!
"Carl," panggil Louis.
"Saya, Tuan Muda," jawab Cari.
"Selidik penyebab jatuhnya keluarganya Bella. Dan siapkan segala keperluan untuk Darmawisata ke Indonesia."
"Tapi Tuan Muda, atas dasar apa?"tanya Carl penasaran.
"Tender kali ini adalah milik kita!"ucap Louis dengan penuh keyakinan.