This Is Our Love

This Is Our Love
Akan Aku Pertimbangkan



Tiga hari kemudian.


Ken sudah diperbolehkan pulang ke rumah dengan beberapa larangan di antaranya yang paling utama adalah melakukan sesuatu yang memungkinan luka kembali terbuka. Untuk Bella sendiri ia sudah berjalan dengan normal. Lukanya sudah kering total. Bella bahkan sudah bisa kembali mengendarai motor kesayangannya. 


Sore itu, Ken sudah berganti pakaian. Jeans panjang longgar yang dipadukan dengan kaos hitam, menambah damage pria kelahiran tahun 97 itu. 


"Pulang sekarang?" Bella yang baru saja kembali dari menjenguk Nesya yang masih betah berada di alam bawah sadarnya, bertanya dengan bersandar pada dinding dekat pintu.


"Hm." 


"Ya sudah ayo," ajak Bella. Ia melangkah untuk mengambil ranselnya. 


Ken mengulurkan tangannya, meminta digandeng oleh Bella. Bella mendengus senyum melihat dan merasakan tingkah manja Ken.


"Ayo, My Boy." 


*


*


*


Bella berkendara dengan kecepatan sedang. Ia begitu hati-hati saat mengemudi. Saat menemui polisi tidur, Bella begitu pelan, menghayati naik dan turun ban motornya. Ken yang dibonceng terheran melihat cara berkendara Bella. Biasanya Bella tidak begitu peduli dengan polisi tidur karena hal itu tidak terlalu berpengaruh pada motornya. Motor modifikasi ini bahkan dilengkapi dengan nitrogen sebagai penambah kecepatan. 


"Aku tak ingin repot lukamu terbuka lagi." Sebenarnya tadi Bella menyarankan agar Ken naik mobil saja. Namun, suaminya itu menolak bahkan mereka sempat berdebat tentang siapa yang akan mengemudikan motor. 


Di perjalanan pulang, Bella berhenti di toko kue dan coklat untuk membeli kue berjenis blackfosert dan beberapa batang coklat ukuran kecil. 


Setengah jam kemudian, motor Bella memasuki gerbang perumahan elite kompleks perumahan Keluarga Mahendra. Rumah terbesar dengan gerbang menjulang tinggi berwarna silver itu berkilau diterpa cahaya mentari sore. Penjaga gerbang langsung memberi hormat pada Tuan dan Nona Muda ketiganya itu. 


Di depan rumah, sudah berdiri empat pelayan juga Dylan yang begitu senang akhirnya setelah kurang lebih seminggu berada di luar rumah kembali. Bella memang belum pulang ke rumah ini sejak kembali. Pakaian gantinya selalu dibawakan oleh Rahayu atau pelayan yang mengantar ke rumah sakit. Begitu juga dengan motornya yang diantar oleh sopir.


Dua Pelayan maju untuk menerima barang bawaan Bella dan Ken. 


"Kak Abel!" Begitu Bella turun, Dylan langsung memeluk erat Bella. Rasa rindu di anak berjiwa 13 tahun itu sungguh dalam. Dylan sama sekali tidak tahu jika Bella dan Ken masuk rumah sakit. Sengaja tidak diberitahu agar tidak menimbulkan khawatir berlebihan. 


"Aru aku masuk duluan, ya," ucap Ken yang melihat Dylan akan lengket cukup lama dengan Bella. Ia akan memberi waktu untuk keduanya. Bella mengangguk. Ken masuk diikuti dengan empat Pelayan. Dylan yang terlalu lekat pada Bella tidak menyadari cara jalan Ken.


"Anak baik bagaimana kabarmu, hm?"tanya Bella, mengajak Dylan untuk duduk di bangku teras.


"Buruk!" Wajah senang Dylan berubah menjadi kesal. 


Bella memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. 


"Kakak berbohong!"ketus Dylan.


"Ahh …." Bella mengangguk mengerti. 


"Ada perubahan jadwal, anak baik. Sepulang dari Bali, Kakak harus ke Singapura lalu Brunei baru kembali ke Jakarta. Itu pun Kakak harus menghadiri meeting di perusahaan baru pulang ke rumah," jelas Bella. Ia hanya bisa berbohong. Ia tidak ingin Dylan khawatir dan malah marah padanya. 


Remaja tetaplah remaja. Dylan sontak merubah ekspresinya menjadi cemas, "begitu padatnya? Kakak pasti lelah!"


Bella tersenyum lembut, "sudah resiko. Bukankah Papamu dulu juga begitu? Kelak kau juga akan seperti Kakak, bahkan lebih padat lagi," tutur Bella memberi pengertian berikut aba-aba tentang masa depan. 


"Ya." Dylan menjawab lirih saat mengingat tentang keluarganya yang sudah beda alam.


Bella merasa bersalah karena menyinggung masa lalu yang cukup kelam, terutama di tahun itu. "Ah bagaimana perkembangan belajarmu? Ada hambatan atau tidak? Jika ada yang tidak dimengerti bisa tanyakan pada Kakak atau khusus biologi tanyakan sama Kak Ken," ujar Bella, mengalihkan pembicaraan. Mata mendung itu mulai menghilang. 


"Sudah Dylan atasi, Kak," jawabnya mantap. Belajar, semua fasilitas dan media belajar disediakan lengkap oleh keluarga Mahendra. Guru privat, perpustakaan yang penuh dengan ratusan bahkan ribuan buku ditambah lagi dengan kecanggihan teknologi, belajar menjadi mudah. 


Dari enam semester, Dylan sudah hampir menamatkan pembelajaran di semester 1 kelas X. 


"Apa kau jadi mengajari Kak Via bahasa mandarin?"tanya Bella penasaran. Sebelum Bella berangkat ke Bali, Dylan sempat bercerita bahwa Silvia memintanya untuk mengajarinya bahasa mandarin namun Dylan tolak dengan alasan ada yang lebih mahir darinya yakni Bella. Kala itu Bella menjawab agar Dylan mengajari Silvia sampai batas kemampuan Dylan.


"Hanya satu jam dari jam 20.00 sampai 21.00 di ruang belajar."


"Good. Punya ilmu itu memang harus dimanfaatkan dan bermanfaat bagi orang lain. Ingat mengajarkan ilmu yang kita kuasai kepada orang lain, tidak akan membuat kita kekurangan bahkan akan membuat pengetahuan kita lebih luas," pesan Bella, sembari mengacak-acak rambut Dylan yang sudah cukup panjang. Dylan tersenyum manis seraya mengangguk.


"Ayo masuk. Tadi Kakak beli kue," ajak Bella. Keduanya berdiri. Bella merangkul Dylan masuk menuju dapur.


Surya dan Rahayu, kedua orang tua itu berangkat ke Paris tadi pagi urusan pekerjaan. Sedangkan Brian dan Silvia ke luar kota. Jadi di rumah ini selain Ken, Bella, dan Dylan hanyalah Pelayan, baik sopir, penjaga gerbang. 


Di dalam kamarnya, Ken merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kaos hitam yang ia kenakan sudah ditanggalkan, menyisakan singlet putih. Terlihat dua tonjolan perban di pinggang kanannya. 


Pemilik bulu mata lentik itu mengerjap lambat, tengah memikirkan sesuatu. 


Sedangkan di bawah, Dylan tengah menikmati cake blackforest. Suapan besar yang meninggalkan noda pada bibirnya. Bella terkekeh geli melihat Dylan yang makan berlepotan. Sedang pelakunya asyik menikmati cake tanpa peduli dengan noda-noda di bibirnya. 


"Berapa lama kau tidak makan, Dylan?"canda Bella, hampir separuh cake sudah masuk ke perut Dylan sedang separuhnya lagi Bella sisihkan untuk Ken. 


"Hehe …." Yang ditanya hanya nyengir menunjukkan deretan gigi yang terdapat sisa-sisa cake. Bella meraih tisu dan membersihkan bibir Dylan.


"Dasar kau ini, sudah besar makan masih belepotan."


"Kan ada Kakak," jawab Dylan, tersenyum manis. 


"Anak kecil jangan tunjukkan sikapmu ini pada orang lain selain aku. Mereka akan melihatmu aneh nanti bahkan mungkin akan ada yang mencibirmu." Kembali Bella memberikan nasehat.


"Kalau pada Nesya?"tanya Dylan yang membuat Bella terdiam sesaat. 


"Kak? Hallo?" Bella tersentak. 


"Ah tentu saja," jawab Bella sedikit gagap.


"Tentu saja iya. Kan dia itu calon istrimu," jelas Bella. Mendengar itu pipi Dylan memerah. Dylan tersipu kala mengingat lamaran spontan yang ia ajukan pada Nesya. 


"K-kapan kita jenguk Nesya lagi?"tanyanya malu-malu. Ia bahkan menunduk dan memainkan jarinya, persis seperti orang yang gugup.


"Hmm … kapan ya? Dalam waktu dekat ini sepertinya tidak bisa. Bagaimana jika bulan depan? Lagipula kau masih sangat sibuk bukan?" Tentang Nesya yang koma di rumah sakit sementara hanya Bella, Surya, Rahayu, keluarga Kalendra, dan pihak Lapas dan kepolisan terkait yang tahu. 


Tunggu, baik Brian atau Silvia tidak ada yang menyinggung tentang Nesya artinya … bukan Brian. Hah akhirnya aku bisa mengerucutkan pelaku pada satu orang, Tuan Tua Nero!batin Bella. Tangannya menggepal, ekspresinya suram. 


Dylan merasa tertekan, "K-Kak kau k-kenapa?"tanyanya takut.


"Eh?"


"Ah maaf Dylan. Kakak teringat sesuatu yang penting. Kakak ke kamar dulu ya," ujar Bella. Hilang sudah aura suramnya berubah menjadi tenang dan datar.


"Okay." Walau masih ada rasa takut dan curiga di hati, Dylan mengangguk kemudian kembali menyantap kue yang tersisa di piringnya.


*


*


*


"Ah Aru …." Ken duduk di pinggir ranjang saat Bella masuk ke dalam kamar. Bella duduk di sofa. Ken berpindah duduk di samping Bella.


"Ini makanlah." 


"Suapi," pinta Ken manja, mulutnya terbuka. 


"Ada dua tangan yang berfungsi," sahut Bella, ia malah memainkan ponselnya. Ken mencembik, "tanganku sakit," aduh Ken.


Sakit? Bella mengeryit, jelas ia tidak percaya. Bagaimana bisa sakit? Dari mana asalnya? Cih, berdalih bukan bagian dari kemampuan Ken. He is bad liar. 


"Fine." Bella meletakkan ponselnya. Ia meraih piring cake dan mulai menyuapi Ken.


"Bagaimana?"


"Enak," jawab Ken terus mengunyah. 


"Lagi?"


"Hem."


Tiga suapan Ken meminta sudah. Perutnya sudah terasa kenyang. Sisanya dimakan oleh Bella. Hanya saja ketika melihat Bella mengunyah dan tanpa sengaja menyisakan noda pada bibirnya, membuat Ken mendekatkan wajahnya pada Bella. Bella terkesiap saat Ken menjilat noda cake di bibirnya dan berakhir dengan mencium bibirnya. Bella tidak membalasnya. Ciuman cukup singkat. Ken melepas ciumannya dan membersihkan bibir dengan bibirnya sendiri.


"Manisnya bibir isteriku tiada duanya," puji Ken. Bella tersenyum, pipinya memanas menimbulkan semburat merah. 


"Kau ini!"gerutu Bella.


"Oh iya Aru apa besok kau sudah masuk kerja?"tanya Ken kemudian setelah suasana hening sesaat.


"Hem," jawab Bella, mulutnya kembali mengunyah cake favoritnya yang beberapa hari lalu terasa hambar baginya.


"Lalu aku?"


"Terserah. Jika kau merasa mampu besok sudah bisa masuk. Jika belum, ambil cuti dua atau tiga hari lagi baru masuk kerja," jawab Bella, memberikan dua opsi. 


Ken menimang. Bella sudah menghabiskan cake dan bangkit untuk mengambil minuman dingin di kulkas mini yang berada di dalam kamar.


Susu dingin cap beruang Bella ambil dan kembali duduk di sofa. "Bagaimana?"


"Sudah aku putuskan! Aku akan masuk kerja besok," jawab Ken.


"Yakin?"


"Tentu!"


"Ya sudah. Kalau begitu baca dulu jadwal yang sudah aku buat." Selama tiga hari kemarin Bella bekerja dari rumah sakit. 


Ken mengambil tablet kerjanya namun tidak membuka bagian jadwal Bella. Ia malah menatap lekat wajah Bella yang membuat istrinya salah tingkah, "a-ada apa lagi?"


"Aru aku berniat mencari terapis untukmu," ucap Ken. 


"Terapis? Untukku? Aku kan tidak sakit apa-apa."


"Traumamu, aku yakin itu bisa disembuhkan," ucap Ken yakin. 


"Oh. Tidak perlu." Bella langsung menolak tanpa memikirkan saran Ken lebih dulu. 


"Kenapa? Trauma tidak mungkin tidak bisa disembuhkan. Setiap penyakit ada obatnya. Apa alasanmu menolak?"tanya Ken. 


"Dan apa alasannya aku harus melakukan terapi lagi padahal hasilnya tetap sama? Aku enggan buang-buang waktu untuk sesuatu yang hasilnya sudah aku ketahui, tidak akan ada yang berubah. Lagi aku sudah nyaman begini." Bella tetap pada pendiriannya. 


"Tapi, Aru! Itu kan sudah sangat lama. Jika kau yakin dan berusaha lagi dengan lebih keras pasti akan berhasil. Aru aku tahu tetapi trauma tidak mudah bagiku. Tapi, pikirkan lagi tentang ke depannya." Ken menjeda ucapannya. Menilik ekspresi Bella. Tetap datar, acuh terhadap apa yang ia ucapkan. 


"Aru bagaimana jika nanti kau hamil? Tidak mungkin mobilitasmu naik motor, terlebih itu motor sport. Sangat berbahaya!"


"Ganti motor," sahut Bella santai.


"Ck! Okay! Okay bisa ganti motor tapi bagaimana dengan pandangan orang di luar sana terhadap aku, dan keluarga Mahendra?"


Bella melirik sekilas. Ia menghela nafas kasar. "Akan aku pertimbangkan." Seusai itu Bella berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Meninggalkan Ken yang mengusap wajahnya kasar. Namun, setidaknya Ken cukup lega mendengar Bella akan mempertimbangkan ucapannya.