
"Morning, Nesya, Nona Bella, Tuan Muda Ken, dan …." Sekitar pukul 09.00, Dokter Rey tiba di ruang rawat Nesya. Dokter Rey menunjuk Dylan menanyakan siapa pemuda tampan yang sangat dekat dengan Nesya itu. Ada rasa cemburu di hati Dokter Rey.
"Dylan," ucap Dylan memperkenalkan dirinya sendiri.
"Ah ya Tuan Muda Dylan." Dokter Rey memendam dalam rasa cemburu. Di sini ada Ken, Dylan, terlebih Bella yang menatapnya seakan mengingatkan dirinya atas peringatan tempo hari. Lagipula ia dan Nesya tidak terikat hubungan apapun selain pasien dan dokter. Apa haknya untuk cemburu?
"Bagaimana kabarmu, Nesya?"tanya Dokter Rey lembut.
"Aku merasa sangat baik," jawab Nesya, membalas senyuman Dokter Rey.
"Syukurlah."
Melihat wajahmu yang berseri seperti ini membuat rasa lelahku hilang sepenuhnya, Sya. Kau cantik, wanita yang kuat. Aku bahkan sudah bermimpi menikah denganmu dan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi, akankah mimpiku menjadi kenyataan? Kakakmu jelas tidak merestui perasaanku padamu yang bahkan belum ku utaran. Apa benar … cintaku padamu tidak akan berakhir dengan bahagia.
Sya jujur saja, melihat pria lain menggenggam jamarimu membuat hatiku berdenyut nyeri. Apa dia seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu?
Dokter Rey memaksakan diri untuk tersenyum walau hatinya serasa terisi. Tanpa ditanyakan pun Dokter Rey tahu bahwa Nesya dan Dylan ada hubungan spesial dilihat dar tatapan Dylan yang lembut pada Nesya dan tajam saat menatap dirinya. Belum lagi genggangan tangan keduanya yang belum lepas juga.
Dokter Rey kemudian melakukan pemeriksaan untuk Nesya. Dylan tidak beranjak dari tempatnya. Hatinya merasa tidak nyaman melihat Dokter Rey. Ini memang kali pertama Dylan berjumpa dengan Dokter Rey.
Selepas pemeriksaan, Bella, Dokter Rey, dan dua dokter lainnya berada di ruang kerja Dokter Rey.
"Jadi, bagaimana? Apa bisa dilakukan operasi secepatnya?"tanya Bella setelah menyampaikan perihal donor sumsum tulang untuk Nesya.
Dan jawaban para dokter yang dapat disimpulkan bahwa Nesya bisa melakukan operasi sumsum tulang dalam waktu dua bulan ke depan dengan catatan kondisi Nesya tetap stabil. Luka di rahim Nesya dalam jangka waktu dua bulan, serta luka benturan ke kepalanya sudah membaik dan akan sembuh total dalam waktu dua bulan. Terlebih sudah ada keinginan dari pasien sendiri. Para Dokter mempunyai pertimbangan dan target yang sama bahwa operasi Nesya akan berjalan sesuai jadwal.
Menjelang siang Ken dan Bella meninggalkan rumah sakit menuju Pusat Perbelanjaan Senayan City. Setibanya di salah satu mall terbesar di Jakarta itu, Ken dan Bella langsung masuk. Sebelum mencari kado pernikahan untuk Anggara, mereka berdua terlebih dulu mampir ke food court Senayan City di lantai lima. Ken lagi- lagi hanya bisa tersenyum puas di depan namun meringis di dalam hati. Uangnya kini benar-benar tinggal recehan. Tapi, ya sudahlah. Asal Bella bahagia, lagi apa yang membuatnya senang cukuplah sederhana, dompet kosongnya bukan masalah.
“Cepatlah keluar duhai gajiku,” gumam pelan Ken setelah mereka berdua selesai kulineran dan kini kembali pada tujuan awal yakni membeli kado pernikahan untuk Anggara dan Azzura.
“Kira- kira kado apa yang akan kita berikan mereka, Aru?”tanya Ken yang jujur sama sekali tidak tahu harus memberikan kado apa.
“Dua set peralatan lukis,” jawab Bella yang memang sudah menentukan kado apa yang mau diberikan untuk Pernikahan Anggara dan Azzura besok.
“Sesuai dengan hobi dan bakat keduanya?”
“Melukis bersama bukankah itu romantis?”sahuit Bella tersenyum.
“Ya itu hal romantis. Idemu sungguh brilian, Aru!”
Bella mengangguk kecil. Dengan bergandengan tangannya mencari toko yang menjual peralatan melukis. Keduanya melangkah dengan bergandengan tangan, potret pasangan bahagia.