This Is Our Love

This Is Our Love
Pertemuan Pertama



Selagi menunggu perkembangan email lamaran kerjanya, Bella memutuskan untuk keluar rumah untuk melakukan sesuatu. Terlebih sudah ada panggilan untuk hal tersebut. Dengan menggunakan celana panjang berwarna merah dipadukan dengan kemeja putih dan pashmina hitam, Bella melajukan motornya dengan kecepatan sedang seraya menikmati suasana. 


Sayangnya, jalan yang ia tempuh dalam kondisi macet. Bella berdecak sebal kala harus menyalip kanan kiri di celah yang cukup sempit. 


Kala menoleh ke beberapa arah, matanya menangkap seseorang tengah berdiri dengan raut wajah cemas di pinggir jalan. Di sampingnya ada sebuah mobil dengan seseorang terlihat tengah mengotak-atik mesin mobil. Bella memperhatikan pria itu yang sibuk melihat waktu. Sibuk juga melihat ponselnya. Dari penampilannya, seperti seorang pengusaha atau pejabat.


"Hei maju dong!"bentak pengendara yang berada di belakang motor Bella. Bella sontak melirik spion, dan dengan cepat mencari belokan. Jalan sisi kanan memang macet sedangkan sisi kiri masih ramai lancar. 


Bella berhenti di samping pria itu. Melepas helmnya. Pria itu menoleh sekilas kemudian kembali terfokus pada jam dan ponselnya.


"Mobilnya mogok ya, Pak?"tanya Bella sopan.


"Iya." Jawaban singkat. Bella tersenyum.


"Bapak kelihatannya buru-buru, mau saya bantu?"tawar Bella. Hati kecilnya merasa kasihan dengan pria paruh baya ini. 


Mata pria itu menyipit, curiga juga bimbang.


"Tuan, mobil ini harus dibawa ke bengkel. Saya tidak bisa memperbaikinya," ujar pria yang tadi mengotak-atik mesin mobil.


"Duh bagaimana ini? Meeting ini sangat penting. Saya tidak boleh terlambat. Kamu sih Jo nggak dicek dulu." Pria itu menggerutu. Sang sopir hanya diam tanpa menjawab.


"Bagaimana tawaran saya tadi, Pak?" Entah mengapa Bella masih ingin membantu pria ini. Padahal jelas ia diabaikan.


Pria itu kembali menimang. Ia menatap antara remeh dan ragu. Bella tetap tersenyum walaupun sebenarnya ia kesal.


"Tuan ada baiknya ada menerima tawaran nona ini. Saya rasa dengan menggunakan motor akan mempersingkat waktu," ujar sopir yang dipanggil Jo itu.


Ya sudahlah. Nunggu mobil lagi juga nggak sempat, batin pria itu, mengangguk pelan.


"Baiklah. Bisa tolong antarkan saya ke Senayan City?"tanya Pria itu, datar.


"Okay." Bella menginstruksikan pria itu untuk segera naik. Dengan ragu dan terlihat sedikit sulit, pria itu naik dan berpegangan pada pegangan di belakang motor.


"Mari, Pak." Bella menekan klakson pamit pada Jo. Jo mengangguk, "hati-hati, Tuan, Nona."


*


*


*


Huek!


Huek!


"Kamu ini sudah saya bilang pelan-pelan mengapa malah kencang kurang kencang hah? Untung saja saya nggak punya penyakit jantung, kalau nggak, bisa mati saya! Perempuan kok bar-bar sekali bawa motor!"kesal pria itu seraya merapikan penampilannya.


Bella tersenyum, "kan saya hanya mengaplikasikan suara hati Bapak."


"Tahu apa kamu?!"ketusnya.


"Ah ya sudah. Bapak telah sampai tujuan. Saya pergi ya, Pak. Semoga sukses meetingnya." Bella mengenakan helmnya.


"Tunggu dulu!"ucapnya menahan Bella. Bella menoleh, helm telah terpasang di kepalanya.


"Ini, ucapan terima kasih saya," ujarnya seraya menyodorkan beberapa lembar uang ratusan. Bella menatap itu datar, kembali menyodorkan uang tersebut.


"Saya ikhlas bantuin Bapak. Sudah seharusnya sesama manusia saling tolong-menolong. Saya masih ada urusan, selamat siang Pak." Pria itu terhenyak.


"Tunggu dulu!"tahannya lagi ketika mendengar suara mesin motor Bella.


"Ada apa lagi, Pak? Saya ikhlas kok. Nggak bakal nyariin Bapak nanti untuk minta imbalan."


"Baiklah. Tapi boleh saya tahu nama kamu? Mana tahu di lain waktu kita bertemu lagi, saya bisa balas kebaikan kamu hari ini dengan cara lain," ujarnya sopan.


Bella mengerjap, baik juga.


"Nama saya Nabilla, Pak."


"Baiklah Nabilla, saya Surya. Semoga kita bisa bertemu lagi kelak," ucap Surya, ramah. Bella hanya mengangguk pelan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


Anak itu, menarik, batin Surya tersenyum. Sesaat kemudian ia langsung berbalik dan buru-buru masuk ke dalam Senayan City.


*


*


*