This Is Our Love

This Is Our Love
Butuh Bukti



Setelah kembali ke selnya, Nesya duduk melamun. Wajahnya murung. Matanya rasa gusar yang besar. Nesya sedih. Meskipun ia tidak emosional mengetahui kakaknya diculik, bukan berarti ia sama sekali tidak cemas apalagi acuh. 


Neysa begitu khawatir. Ia juga takut. Takut kalau kakaknya tidak kembali. Ia bisa menenangkan Ken. Namun, saat sendiri rasa takut meliputi hatinya. 


Beragam pertanyaan muncul di benaknya. Kakaknya baik-baik saja kan? Dia aman kan? Dia akan kembali kan? Dia tidak akan meninggalkan Nesya sendirian, kan? 


Bisa dikatakan Nesya menyembunyikan perasaannya di depan Ken, Rahayu, dan Dylan. Agar mereka tidak merasa khawatir dan agar tidak terlalu merasa bersalah. 


Nesya memeluk lututnya. Matanya memerah namun air mata tidak jatuh menetes. 


Kakak …. Hatinya memanggil. 


Aku tidak salah bersikap seperti tadi, kan? Aku mengatakan keyakinanku. Tapi, masih ada ketakutan di dalam hatiku, itu wajar kan? Kakak, kau tidak akan menghancurkan keyakinan ini, kan? Kau akan kembali, kan? Seperti yang lalu?


Nesya mendongak. Mata merahnya berkaca-kaca. Nesya mendongak agar air matanya tidak jatuh. 


Tidak. Aku bukan takut, aku … aku hanya sangat merindukan Kakak. Kakak kau harus cepat pulang. Aku butuh Kakak. Aku ingin memelukmu, Kak. Apakah kau merasakan kerinduan yang aku rasakan? 


"Kau kenapa, Nesya?"sapa seseorang yang tak lain adalah teman satu sel Nesya. 


"Kau menangis?"selidiknya saat melihat Nesya menyeka sudut mata dan mata merahnya. 


"Ah tidak. Mataku kemasukan debu tadi," jawab Nesya dengan tersenyum, berkilah. 


"You lie, Nesya. Katakan padaku ada apa? Bukankah kau baru saja menerima kunjungan?" Temannya itu duduk di samping Nesya.


"Sungguh. Tidak ada hal apapun. I'm okay, Ani," jawab Nesya meyakinkan. Tahanan seusia Nesya itu bernama Ani. Ia dipenjara karena penyalahgunaan narkoba. 


"Aku tidak percaya. Tapi, jika kau tidak ingin bercerita ya sudah. Tidak masalah. Namun, itu tidak boleh membuatmu merasa tertekan. Ingatlah, kau itu kan sebentar lagi menjalani operasi. Kau  hatimu!"ucap Ani, memperingati dan menasehati Nesya. 


Nesya tertawa ringan. "Sungguh, I'm okay, Ani. Don't worry," ujar Nesya. 


"Hm. Okay. Lagipula aku ada di sampingmu. Aku akan menjagamu!" Ani memeluk Nesya. Nesya tersenyum, balas memeluk Ani. 


"Thanks, Ani," ucap Nesya tulus. 


"But, setelah kau bebas nanti, aku akan kesepian." Ani tiba-tiba berubah murung. Masa tahanan Nesya sebentar lagi selesai. Hari bebasnya adalah hari di mana ia akan menjalani operasi sum-sum tulang. 


Sedangkan Ani, jika tidak ada pengurangan masa tahanan, maka ia akan menghabiskan waktu kurang lebih 2 tahun lagi di dalam penjara. 


Nesya memegang bahu Ani. 


"Jangan sedih. Aku akan sering mengunjungimu, Ani," hibur Nesya. 


"Sungguh? Kau tidak akan melupakanku, bukan? Aku takut saat kau bebas nanti kau akan melupakanku," ucap Ani, dengan wajah sedih. Nesya menggeleng. 


"Kau begitu baik padaku. Mana mungkin aku melupakan teman satu sel aku ini." Nesya memeluk Ani. Keduanya saling memeluk lagi. 


"Promise?"


"Promise." Setelahnya keduanya menautkan jari kelingking sebagai bentuk janji. 


Ani menghela nafas. Keduanya duduk bersandar pada dinding penjaga. "Kau beruntung, Neysa," ucap Ani. 


"Kau memiliki keluarga yang sangat mempedulikan dirimu. Kakakmu, ia begitu hebat. Sejujurnya aku iri padamu. Kakakmu yang cakap itu membuat waktumu tidak begitu lama di sini. Kau sangat beruntung, lahir dan memiliki keluarga seperti itu. Aku juga tidak menyangka, keluarga Mahendra setoleransi itu," ucap Ani yang membuat Neysa tertegun beberapa saat. Kata-katanya jelas menggambarkan keirian. 


Aku juga tidak menyangka keluarga Mahendra setoleransi itu. 


Itu menggelitik hati Nesya. "Memangnya apa yang kau bayangkan tentang keluarga Mahendra?"tanya Nesya. Tersenyum pada Ani. Bagi Ani, senyum itu seperti tengah mengintrogasi dirinya. Nesya, tetaplah Neysa. Di dalam darahnya mengalir darah keluarga Chandra. Ani menunduk, takut pada tatapan dan senyum Nesya itu. 


"Keluarga kaya seperti itu tidak akan menerima aku karena kasusku ini? Tidak akan menerima kakakku karena masa lalu keluargaku? Atau karena kami sudah tidak selevel lagi?" Nesya mencerca dengan nada santai. 


Ya biasanya kan orang kaya seperti keluarga Mahendra ataupun di bawahnya sangat mementingkan orang yang akan menjalin kekerabatan dengan mereka. 


"Ya, kurang lebih seperti itu," jawab Ani, membenarkan semua yang Neysa tanyakan.


"Tidak heran kau mengira seperti itu. Namun, tidak setiap keluarga itu sama. Keluargaku dulu difitnah dan sekarang nama keluarga Chandra sudah bersih. Masa lalu keluargaku bukan lagi masalah. Yang kedua adalah masalahku, aku mengakuinya. Apapun alasanku, aku tetap salah. Namun, alasanku dikuatkan dengan bukti yang ada. Di saat seseorang berada di situasi mendesak, akal sehat sering tidak berfungsi. Seperti diriku, bagaimana caranya mendapatkan uang, caranya? Aku tidak memikirkannya lagi itu baik atau tidak. Ya setiap orang memiliki masa kelam dalam hidupnya dan saat ini aku tengah melaluinya." Nesya tersenyum kecut. Sedikit bernostalgia akan masa lalu. 


"Sama seperti kau, Ani. Kau pasti punya alasan bisa berada di sini, bukan?" 


Ani terdiam. 


"Ani, hitam belum tentu kotor. Putih belum tentu bersih. Namun, orang lebih sering hanya melihat noda di kertas daripada kertas putih itu sendiri. Jangan jadi orang yang picik. Jangan jadi orang yang hanya melihat dan menilai kelamnya masa lalu seseorang. Semua orang punya takdir dan masa lalu yang berbeda. Kau harus pandai-pandai bersikap dan menyikapinya," ucap Nesya, menasehati sekaligus memperingati Ani. 


"Ya, aku sempat keliru. Maafkan aku, Nesya," sesal Ani pada akhirnya. 


"Setelah keluar nanti kau harus menjalani hidup dengan baik," ucap Nesya. Ani mengangguk. 


"Kau juga harus sembuh, Nesya!"


*


*


*


Sebuah mobil memasuki kediaman Mahendra. Berhenti tepat di depan rumah. 


Ken menunggu di depan teras. "Assalamualaikum," sapa orang yang turun dari mobil itu. Seorang wanita berhijab. 


"Waalaikumsalam," jawab Ken. "Terima kasih telah menerima undanganku," ujar Ken kemudian. 


"Saya merasa terhormat, Tuan Muda," jawab wanita itu yang tidak lain adalah Azzura. Azzura datang ke kediaman ini agar lebih mudah dan mengerti tugasnya. Selain itu, juga untuk mengenalkan Azzura sebagai orang yang ia maksud kepada keluarganya. Azzura datang sendiri. Ia sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada suaminya. Pada Anggara, Azzura hanya berpamitan keluar rumah. 


Surya, Rahayu, Dylan, dan El tampak terhenyak mendapati Azzura. "Yes. Ini adalah orang yang aku maksud, Azzura," ucap Ken, memperkenalkan Azzura. 


"Bagaimana bisa? You, Azzura? Wait, aku butuh mencernanya," ucap El. Azzura tersenyum, sama sekali tidak tersinggung oleh ucapan El.


"Sepertinya Kak Bella hanya memberitahu tentang saya pada Tuan Muda Ken," ujar Azzura.


"Alright. Let me introduce my self. My name is Azzura Adhitama," ucap Azzura, mempertahankan dirinya menggunakan bahasa Inggris karena melihat wajah asing di kediaman ini. 


"Kau ini sembuh atau pura-pura selama ini?" Surya yang agaknya sudah mengerti. 


"Keduanya," jawab Azzura.


"Nak Zura, siapa saja yang sudah tahu?"tanya Rahayu. 


"Awalnya hanya orang tuaku. Tapi, tidak ku sangka Kak Bella mengetahuinya. Anda ingat saat saya dan ibu saya kecelakaan? Di sanalah saya mengungkapkan diri saya pada suami dan adik ipar saya. Kemudian Tuan Muda Ken yang tahu dari Kak Bella. Lalu, Anda sekalian yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu," terang Azzura. Ia menjelaskan dengan begitu lancar.


"Daebak!" El bertepuk tangan. "Apakah Anda tertarik menjadi aktris, Nona?"tawar El.


"Saya tidak ada bakat di dalamnya, Tuan Muda El. Namun, jika berperan menjadi hacker mungkin saya tertarik," jawab Azzura.


"Hacker? Apa kau bisa bergabung dengan kami? Maksudmu mampu mengimbangi cara kerja kami?" Louis tampaknya ragu. Tubuh Azzura yang mungil, serta wajahnya yang masih terlihat remaja, bagi Louis tidak begitu meyakinkan. 


"Saya bisa membuktikannya!" Lebih baik membuktikannya daripada menyangka hanya lewat ucapan. 


"Louis, kau meragukan penilaian Aru?"kesal Ken. 


"Dia bilang akan membuktikannya. Maka biarkan kami melihatnya. Ken, kita butuh orang yang benar-benar mampu!"tegas Louis. 


"CK!"


"Tidak apa. Bagaimana cara saya membuktikan diri saya mampu?"tanya Azzura. Tatapannya berubah serius ditambah dengan senyum tipisnya.


Di saat demikian, ponsel Surya berbunyi. Surya melihat ponselnya. Ada email yang masuk. Surya terbelalak melihat siapa pengirimnya.


From: Nabilla Arunika Chandra.


Surya mengecek isi email. Data perusahaan yang dibutuhkan. "Kalau begitu, lacak alamat pengirim ini," ucap Surya, menatap Azzura sembari menyodorkan ponselnya pada Azzura. 


Azzura menerimanya. "Email dari Kak Bella?"gumam Azzura yang didengar oleh Ken.


Segera, semua tatapan bergantian antara Surya dan Azzura. Email dari Bella, artinya Bella menggunakan laptopnya di sana. Dan itu adalah kesempatan.


"Baik!" Azzura segera menyanggupinya. Kebetulan ia membawa laptopnya. 


Semoga saja …. Harapan semuanya agar itu adalah petunjuk pasti. 


*


*


*


Selesai menunaikan shalat isya, Bella duduk di meja belajar yang tersedia di dalam kamar. Di depannya ada alat tulis. 


Bella tengah membuat coretan hubungan satu anggota dengan anggota lainnya. Menarik panah dan menuliskan keterangannya. Ia begitu serius. 


Desya, dia mengatakan aku bisa menangani orang tuanya. Orang tuanya menyukai Ariel sehingga menjadikannya menantu. 


Alasan menjadikan Ariel menantu ….


Bella berhenti mencoret. Dahinya mengeryit tipis. 


Keluarga aristokrat? Cantik? Berpendidikan? Berbakat? 


Bella membuat beberapa lingkaran. Memberi centang pada poin satu dan dua. 


Berpendidikan? Bella melihat biodata Ariel. Tadi, Bella meminta biodata ketiga istri Desya pada Irene.


Menikah di usia muda. Menerima pendidikan homeschooling? 


Berbakat? 


Astaga?! Apa keluarganya benar-benar menerapkan pendidikan zaman dulu? Menyulam, menjahit, melukis?


Lebih baik aku lihat dulu hubungan kedua keluarga ini. 


Dari informasi yang Bella baca, dapat Bella simpulkan.


Perjodohan sejak lama rupanya. Pantas saja. 


Melihatnya biodatanya ini, rasanya tidak percaya keluarganya berniat menyetir Desya. Kecuali, ada yang disembunyikan.


Bella sendiri tidak begitu yakin dengan informasi yang ia terima. "Ya, ada banyak permainan dalam istana ini," gumam Bella. 


Jika begitu, maka pertama aku harus bisa mendapatkan hari kedua orang ini. Lalu membuat Lucia dan Evalia di pihakku. Kemudian menyelesaikan permainan dan misiku akan selesai.


Bella menutup bukunya lalu merenggangkan tubuhnya.


Ngomong-ngomong tentang Evalia, apa Desya akan mendatanginya?


Bella penasaran. Ah lupakan saja. Itu urusannya. Bella berpindah ke ranjang. Tarik selimut dan tidur.