
Dan kini tiba saatnya untuk Silvia melahirkan. Apa yang Ken katakan tempo hari, saat bertanya pada Ken di waktu setelah Bella melahirkan, Brian rasakan.
Rasanya tegang. Cemas, takut, was-was, semua bercampur menjadi satu. Bagaimana rasanya di dalam ruang bersalin, menemani Silvia melahirkan. Brian, seakan trauma untuk hal itu. Bahkan, ia mengatakan, "aku tidak tahan melihat penderitaan Via selama melahirkan. Satu anak, itu sudah cukup untukku dan Silvia." Dan ya, pria itu membuat keputusan. Satu anak saja cukup.
Anak Brian dan Silvia berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Atha Adyrasha Mahendra. Anak laki-laki yang mewarisi ketampanan Brian. Anak yang diharapkan memiliki masa depan yang cerah dan menjadi kebanggan keluarga.
Ditambah lagi dengan kehamilan Anjani, bertambah lengkaplah kebahagian keluarga Mahendra.
Pekerjaan? Semua memiliki tanggung jawab masing-masing. Brian? Ia seperti biasa, bertanggung jawab penuh akan jabatannya sebagai direktur keuangan.
Begitu juga dengan Ken. Semakin hari, semakin banyak hal yang ia temui, semakin banyak pula tantangan yang dihadapi.
Namun, Ken melewatinya dengan baik, apalagi didukung oleh Bella dan juga disemangati oleh Baby Nayan dan Baby Nazira. Ya, keluarga adalah hal yang paling utama.
*
*
*
"Mom," panggil Liev pada Bella yang tengah fokus bekerja. Bella bekerja dari rumah, untuk di lapangan diserahkan pada orang kepercayaan. Untuk start up, itu disusun bersama dengan Dylan dan tim yang telah dibentuk.
"Iya, Liev. Ada apa?"tanya Bella lembut, menoleh pada Liev.
"Apa adik dalam perut Ibu Evalia sudah lahir? Seperti adik Nayan dan Nazira?"tanya Liev.
Bella mengernyit. Menghitung sudah berapa bulan kehamilan Evalia. "Seharusnya sudah. Tapi, ayahmu belum memberi kabar. Mungkin, sebentar lagi akan memberi kabar untuk itu," jawab Bella.
"Mom, aku merindukan Lesta," ujar Liev. Bella tersenyum.
"Jika Mom sudah ada waktu, kita akan pergi ke Italia," jawab Bella, berjanji pada Liev. Dalam waktu dekat, Bella tidak bisa bepergian jauh. Mengingat usia Baby Nayan dan Baby Nazira yang masih hitungan bulan, selain itu Bella juga masih disibukkan dengan urusan pekerjaan.
"Sungguh?"
"Jika ada waktunya, kita akan langsung berangkat. Mom janji." Liev tersenyum. Ia sangat percaya pada Bella.
"Pergilah bermain. Mom masih ada pekerjaan," ujar Bella yang diangguki oleh Liev.
*
*
*
Waktu terus berlalu dan kini, semua ketiga putra keluarga Mahendra telah merasakan rasanya menjadi orang tua. Tidak, bukan merasakan. Akan tetapi, tengah merasakan bagaimana menjadi orang tua. Yang paling berat adalah Ken dan Bella. Ya, biar bagaimanapun mereka menjadi orang tua dari baby twins. Tentu saja rasanya dua kali lipat daripada mengurus satu orang anak.
Anjani, beberapa hari sebelum melahirkan dan setelah melahirkan, Anjani dan El tinggal di kediaman Mahendra. Bukan karena di rumah Anjani itu tidak ada orang. Namun, karena Rahayu ingin menimang ketiga cucunya di tempat yang sama. Apalagi sewaktu acara akikah. Itu harus dilakukan di kediaman Mahendra.
Anak pertama El dan Anjani diberi nama Maharani Mahendra. Nama yang sama seperti nama Ibu Anjani. Ya, itu memang sengaja. Maharani, dalam artian itu merujuk pada wanita yang memiliki kekuasaan, bisa disebut juga sebagai permaisuri atau kaisar wanita. Pemberian nama itu dimaksudkan bahwa kelak Maharani akan menggantikan Anjani dalam memimpin Diamond Corp.
Dan ya hal itu juga karena El memutuskan bahwa keturunannya tidak akan ikut campur dalam kekuasaan Mahendra Group. Sama seperti dirinya, meskipun punya hak. Namun, El enggan untuk terjun di dalamnya. Sebab, itu bukan passionnya.
Lagipula, belum diputuskan siapa yang akan naik menjadi Presdir Mahendra Group yakni antara Ken dan Brian.
El, dia semakin dikenal di dunia entertainment. Begitu juga dengan Anjani. Industri perhiasan semakin mengenal nama Diamond Group. Dan itu membawa Diamond Group menjadi salah satu perusahaan perhiasan terkenal di Asia juga sudah merambah ke benua luar. Sebenarnya itu sudah dimulai sejak Anjani mempromosikan produk perusahaannya pada waktu pernikahan Teresa dan Louis.
*
*
*
"Mom …." Liev datang pada Bella yang sedang berada di gazebo, bersama dengan Baby Nayan dan Nazira. Juga bersama dengan Silvia dan Baby Atha.
Baby Nayan dan Nazira, keduanya tumbuh dengan baik. Aktif dan menuruni karakter kedua orang tuanya. Nayan, menuruni karakter Bella dan Nazira menuruni karakter Ken. Usianya keduanya kini di pertengahan menuju usia tiga tahun.
"Iya, Liev," jawab Bella. Anak angkatnya itu, sudah semakin besar dan kini usianya menginjak 6 tahun. Ya tidak terasa. Dua tahun telah berlalu dengan begitu cepatnya. Liev, bocah itu semakin menunjukkan kemiripannya dengan sang ayah, Desya. Dan juga dalam hal kecerdasan. Di bawah naungan dan pendidikan dari keluarga Mahendra, anak itu tumbuh dengan cerdas dan kritis. Liev, kini ia menguasai tiga bahasa, yakni Rusia, Indonesia, dan Bahasa Inggris.
"Kapan kita ke Italia? Dan juga pulang ke Green Palace? Liev sangat merindukan mereka," ucap Liev.
Bella tertegun sesaat. Saling tatap dengan Silvia, "dia terus memegang janjimu," bisik Silvia.
"Ya. Aku tahu," jawab Bella, seraya menghela nafasnya.
"Mom tidak lupa, kan?"tanya Liev, dengan memicingkan matanya. Benar-benar mirip dengan Desya.
Bella tersenyum lembut. Mengusap rambut Liev. "Maafkan Mom, Sayang. Mom tidak lupa. Hanya saja, Mom belum menemukan waktu yang tepat. Kamu tahu sendiri ya bukan betapa sibuknya Mom mu ini," ucap Bella, menjelaskannya.
"Jadi, kapan Mom? Selalu jawaban Mom begitu. Mom seperti Ayah, penggila kerja!"ketus Liev. Dan ya, itu menohok Bella.
Dua tahun ini, ia memang begitu sibuk. Meskipun sudah ada tim yang membantu, tetap saja kesibukannya tidak berkurang. Ah, ya. Perusahaan Bella dalam bidang food and drink telah berdiri dan juga beroperasi. Begitu juga perusahaan dalam bidang startup, itu sudah mulai berkembang. Perusahaan startup itu dijalankan oleh Dylan dan tim, yang mana Bella tetap memantaunya secara berkala.
Bella tersenyum. "Kali ini Mom tidak akan mengingkari janji. Sebentar lagi tahun baru, bagaimana jika kita merayakannya di Green Palace?"tawar Bella.
"Abel?" Silvia cukup terkejut.
"Really? Kita akan pulang ke Green Palace tahun baru?!"tanya Liev antusias.
"Apa Ken akan setuju?"bisik Silvia.
"Why not?"tanya balik Bella.
"Yeah! Yeah!" Melihat kakak mereka bahagia, Nayan, Nazira, dan juga Atha ikut berceloteh dengan bertepuk tangan.
"Kita sudah lama tidak healing, Via. Anak-anak juga butuh liburan, bukan? Ah tidak, kita juga butuh liburan, bukan?" Tidak menjadikan anak sebagai alasan.
"Sudah terlalu lama aku di dalam rumah saja. Apa kau tidak mau, Via?"tanya Bella.
"Ah … liburan, siapa yang tidak mau?'balas Silvia.
"Kalau begitu mari diskusi dengan yang lain," tukas Bella.
"Mom sudah berjanji! Harus ditepati!"ucap Liev. Bella mengangguk.
"Mom pastikan kita akan pergi."
*
*
*
"Ke Green Palace?" Ken mengulang apa yang Bella katakan. Bella mengangguk.
"Sudah lama Liev tidak pulang ke Green Palace. Dia sangat merindukan rumahnya dan ya, aku sudah berulang kali mengundurnya. Lagipula kita sudah lama tidak liburan," jawab Bella, dengan memeluk lengan Ken. Wanita yang sudah usia kepala tiga itu bermanja pada suaminya.
"Kau ada waktu?"tanya Ken. Ken lebih mencemaskan adanya waktu luang Bella daripada jadwalnya sendiri. Ya, meskipun Bella berada di rumah, nyatanya Bella lebih sibuk daripada dirinya.
"Jika tidak ada waktu, untuk apa aku mengajakmu, Ken?"celetuk Bella, ketus.
Ken terkekeh. "Baiklah. Kalau begitu aku akan mengatur jadwalku agar kita bisa liburan dengan tenang," ujar Ken, merangkul Bella. Namun, secara pasti, posisinya berpindah menjadi di belakang Bella, memeluk Bella dari belakang.
"Apakah sudah selesai?"tanya Ken, dengan kepala berada di bahu Bella.
"Apanya?"tanya Ken, melirik Ken sekilas sebelum melempar pandang ke arah jendela.
"Tamu bulanannya," bisik Bella. Ia memakai samaran namun, berterus terang.
"Menurutmu?" Dan ya Bella memancing. Sudah tertebak ke arah mana pembicaraan mereka.
"Sudah seminggu, seharusnya sudah. Rambutmu sangat wangi, Aru. Kau sudah keramas, bukan?"tanya Ken, dengan tangan bergerak naik untuk membuka hijab Bella.
"Hm, dan ya … kau akan membuatku keramas lagi!!"gerutu Bella namun, gerakannya berbeda dengan gerutunya.
Ken tersenyum. "Ya…." Ken menyahut dengan memeluk dan mencium bibir sang istri.
*
*
*
Sesuai dengan yang direncanakan, Bella dan keluarga, termasuk keluarga Mahendra akan merayakan tahun baru di Green Palace, ditemani dengan suasana musim dingin. Saat menyampaikan niat itu, langsung disambut baik oleh keluarga. Nesya dan Dylan juga akan ikut mereka ke Rusia.
Bella juga sudah mengabari Desya bahwa mereka akan ke Green Palace. Dan Desya memberitahu bahwa akan memanggil Lucia dan Lesta untuk pulang ke Green Palace. Ya, meskipun Lucia bukan lagi istri Desya akan tetapi, Lucia tetaplah bagian dari Green Palace. Apalagi Lesta, dia tetaplah darah daging Desya. Tidak akan mengubah itu meskipun kedua orang tuanya berpisah.
Empat hari sebelum tahun baru, Bella dan keluarga terbang menuju Rusia. Ini adalah penerbangan terjauh Bella pasca melahirkan Baby Nayan dan Nazira. Juga bagi Silvia.
"Mama, kita mau ke mana?"tanya Nayan dengan nada anak kecilnya saat tiba di bandara. Nayan berada dalam gendongan Ken, sementara Nazira berada dalam gendongan Bella. Sementara Liev digandeng oleh Fajar.
"Kita akan liburan, Nayan."
"Ke mana?"tanya Nayan lagi.
"Rusia." Ken yang menjawab. "Itu adalah tanah kelahiran Kakak Liev," imbuh Bella.
"Kakak Liev lahir di Rusia?" Bella dan Ken mengangguk.
"Apa Rusia itu jauh?" Gantian Nazira yang bertanya.
"Itu termasuk jauh. Namun, dengan pesawat terbang kita akan tiba lebih cepat," jawab Ken.
Nazira mengangguk paham. Kedua balita itu kemudian asyik melihat pemandangan di bandara sebelum naik ke pesawat. Mengingat hari libur Natal dan tahun baru bandara sibuk beroperasi melayani penumpang, baik penumpang domestik maupun internasional.
Tak berselang lama setelah Bella dan keluarga naik ke pesawat, pesawat pribadi keluarga Mahendra itu segera mengudara, meninggalkan Indonesia menuju Rusia.
Penerbangan itu akan memakan waktu kurang lebih 13 jam. Yang itu masihlah penerbangannya, belum lagi perjalanan menuju ke Green Palace yang lokasinya tersembunyi.
Dan ya, tertebak! Di dalam pesawat, Bella dan lainnya, tidak melepaskan pekerjaan mereka. Meskipun hanya memeriksa, itu tetap dilakukan. "Jadi, kalian benar-benar berencana memiliki anak setelah lulus kuliah?"tanya Rahayu kala berbincang dengan Dylan dan Nesya. Pasangan itu mengangguk. Dua tahun sudah mereka menempuh pendidikan dan ya, mereka sebentar lagi akan menjalani sidang skripsi.
...****************...
...****************...
^^^Salam Hangat, with love^^^
^^^Nilawati^^^