
Tuan Arshen menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Tuan Arshen tersenyum mendapat Bella yang turun bersama Calia.
Calia sudah berganti pakaian artinya Calia setuju dengan pernikahan yang diusung oleh keluarganya. Namun, dengan calon yang berbeda. Tidak masalah yang penting Calia setuju dan keluarganya juga tidak menjerumuskannya ke dalam sebuah penderitaan yang lebih besar karena Calia mengenal calon suaminya.
Calia tampil cantik dengan menggunakan dress berwarna hitam yang elegan dan memberikan kesan misteri. Sama halnya dengan warna gaun yang Bella kenakan yakni biru.
"Pa, Lia ke resepsi Louis dan Teresa ya," pamit Calia pada Tuan Arshen.
"Kau sudah setuju, Nak?"tanya Tuan Arsen untuk lebih memastikan. Calia mengangguk. Ia dan Bella lalu duduk dan Pelayan membawakan minuman botol untuk Bella.
"Syukurlah. Papa lega mendengarnya," ucap Tuan Arshen.
Sejujurnya sejak Bella hadir tadi, Tuan Arshen merasa hal yang baik. Sahabat, selalu bisa menjadi penengah di kala ada konflik antara orang tua dengan sahabatnya.
Dan Bella dan Calia memang sudah seperti saudara walaupun mereka tidak sering bertemu. Asalkan ada waktu, mereka akan lebih saling mengunjungi.
"Tapi, siapa calonnya? Siapa namanya? Tuan Muda dari mana?"tanya Tuan Arshen. Tentu ia ingin tahu siapa bakal calon menantunya.
Calia adalah anak bungsu, kedua kakaknya yang sama-sama perempuan sudah menikah dan ikut dengan suami. Namun, mereka sering bertemu karena kedua kakaknya adalah dokter di Arshen Hospital.
Sebelum Bella ataupun Calia menjawabnya, Nyonya Arshen sudah kembali dari rumah sakit begitu Tuan Arshen mengabari bahwa Bella datang dan Calia sudah setuju dengan pernikahan yang diajukan oleh keduanya namun calon yang berbeda. Nyonya Arshen yang juga seorang kepala dokter tidak masalah dengan hal itu. Ketahuilah, keluarga Arshen adalah dokter semua walaupun berbeda spesialis.
Tuan Arshen yang seorang Presdir pun seorang dokter yang menangani pasien. Hanya saja hari ini kondisinya kurang sehat dan memutuskan untuk tidak ke rumah sakit. Nyonya Arshen harus tetap ke rumah sakit karena jadwalnya tidak bisa digantikan oleh dokter lain. Hari ini ada operasi dan Nyonya Arshen adalah dokter spesialis kanker. Saat dihubungi tadi pun Nyonya Arshen belum menyelesaikan operasinya, alhasil menitip pesan pada orang kepercayaannya untuk menyampaikan pesannya.
"Syukurlah, Lia. Mama senang mendengarnya." Nyonya Arshen langsung memeluk Calia erat.
"Maafkan Calia yang sudah membuat Mama dan Papa khawatir. Maafkan Calia yang sudah marah pada Mama dan Papa. Calia memang pengecut. Tapi, Calia tidak akan menjadi pengecut lagi. Calia akan berusaha untuk bangkit," ucap Calia.
Nyonya Arshen mengangguk. Ia melepas pelukannya dan kembali duduk. "Abel, terima kasih," ujar Nyonya Arshen sepenuh hati pada Bella.
"Sudah seharusnya, Tante," balas Bella.
"Lalu … siapa calonmu, Lia? Siapa namanya dan apa latar belakangnya? Apa kami mengenalnya?" Pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan Tuan Arshen sebelumnya.
"Aku ragu kalian mengenalnya. Karena dia bukan Tuan Muda dari keluarga kaya. Tapi, dia juga tidak miskin. Dia mapan, berpendidikan, dan pekerjaan juga menjanjikan. Dia seorang profesor, profesor di bidang kimia," jelas Calia.
Profesor? Itu harus S-3, bukan? Berapa usianya sekarang? Dalam benak Tuan dan Nyonya Arshen usianya setidaknya sudah 30 tahun. Dan itu tidak masalah. Hanya lebih dua tahun dari Calia.
S-3? Itu luar biasa dan dilihat dari segi pendidikan dan bidangnya, Tuan dan Nyonya Arshen tidak menunjukkan penolakan. Mereka berdua bahkan tersenyum.
Profesor dan doktor, bukanlah itu serasi? Sama-sama berjas putih dan sama-sama berkaitan dengan kimia.
Dunia kedokteran juga berkaitan dengan kimia, bukan?
"Siapa namanya? Dan di institusi mana dia bekerja?" Professor, erat dengan peneliti. Maka laboratorium adalah tempatnya berkerja.
"Evan, namanya adalah Evan. Bekerja di institute penelitian Berlin. Aku lega Papa dan Mama setuju."
Siapa yang menerka calon yang Bella ajukan adalah Evan, itu benar! "Hanya saja, Paman, Tante dia lebih muda dari Calia sekitar lima tahunan. Itu tidak masalah, bukan?" Calia menatap Bella. Ada tatapan protes dan gugup. Mengapa memberi tahu usia Evan sekarang? Mengapa tidak nanti saja waktu pertemuan dengan keluarga? Lihat reaksi orang tuanya.
Tuan dan Nyonya Arshen terhenyak, terkesiap, dengan apa yang Bella katakan. Lebih muda lima tahun, artinya usianya masih sekitar 23 tahun.
Sudah lulus S-3 dan sudah menjadi seorang profesor tetap. Keduanya tidak bisa untuk tidak takjub. Bukankah artinya calonnya Calia ini jenius?!
Dan Bella mengusulkannya, artinya baik Calia atau calonnya itu tidak masalah, lantas mengapa mereka harus mempermasalahkan?
"Itu luar biasa!! Menakjubkan! Putriku tidak kehilangan pesonanya. Kau sangat hebat, Lia!"
Nyonya Arshen berseru gembira. Calia sampai terperanjat karenanya. Dengan tidak percaya ia mengerjap, "serius?"
"Pertemukan kami secepatnya dengan Evan!"ucap Tuan Arshen. Rasa lega akan restu orang tua sudah didapatkan. Sekarang dalam hati Calia adalah bagaimana cara memberitahunya pada Evan. Apakah Evan setuju? Calia menatap pada sang pengusul yang tersenyum penuh arti. Tatapannya mengartikan, "tenang saja. Semua dalam kendali."
"Paman, paling lama besok, kalian sudah bisa bertemu," ucap Bella memastikan.
"Kami menantikannya," jawab Tuan Arshen.
"Calia, kau sudah rapi begini mau ke mana?"
"Ke resepsi Louis dan Teresa, Ma."
"Ah … kalau begitu berangkatlah."
"Ah …." Bella berseru pelan saat berdiri. "Ada apa, Bel?"
"Tidak perlu sampai besok. Paman dan Tante akan ke resepsi mereka juga bukan?"
"Tentu saja." Sebagai dokter keluarga Kalendra, mustahil mereka tidak hadir.
"Kita akan bertemu di sana," ujar Bella.
"Maksudmu Evan akan ada di resepsi itu juga?" Bella mengangguki pertanyaan Tuan Arshen itu.
Calia juga sudah mengerti dan mendadak jantungnya berdebar lebih kencang. Inikah yang namanya gugup mendekati pertemuan keluarga?
Keluarga?
"Kami akan segera bersiap."
Bella dan Calia kemudian pamit. Tuan dan Nyonya Arshen juga segera beranjak untuk bersiap menghadiri acara resepsi Louis dan Teresa juga pertemuan pertama dengan Evan.
"Aku saja yang menyetir," ucap Calia saat tahu Bella membawa mobil tanpa sopir.
"Okay," sahut Bella dengan melemparkan kunci mobil pada Calia. Bella sudah cukup lelah menjalani hal dari pagi sampai sore. Baginya lebih baik mengurus pekerjaan yang tidak ada kaitannya dengan perasaan. Bella lebih suka bekerja menggunakan akal bukan dengan perasaan.
Calia mengemudikan mobil keluar meninggalkan kediaman Arshen. Di perjalanan, Calia tak bisa untuk tidak menanyakan kembali mengapa Bella begitu yakin Evan mau menikah dengannya. Dalam pandangan Calia, walaupun ia dan Evan saling kenal namun keduanya tidak dekat.
Bella lagi-lagi menjawabnya dengan tersenyum. Membuat Calia semakin penasaran dan gugup. Ia mendengus pelan dan fokus mengemudi. Namun, pikirannya tidak bisa teralihkan dengan rencana pertemuan nanti malam.
Bella tersenyum tipis melihat wajah gugup Calia. Mengapa Bella memilih Evan?
Dalam kacamata Bella, atau dalam pengamatan Bella, Evan menyukai Calia namun tidak berani mengungkapnya.
Mungkin karena perbedaan status sosial. Walaupun Evan adalah seorang yang mapan, namun tidak bisa dipungkiri ia berasal dari kalangan biasa jika dibandingkan dengan Calia yang seorang Nona Muda Arshen Hospital, rumah sakit terbesar nan terbaik lagi elit di Jerman dan masuk dalam salah satu rumah terbaik di kawasan Eropa.
Dan kedua mungkin dari segi perbedaan umur. Ya, umur kebanyakan hal yang paling rawan di antara wanita dan pria, jika sang pria lebih muda daripada sang wanita.
"Tidak usah gugup, yakin saja denganku," tukas Bella sebelum menelpon seseorang.
"Ck! Kau memang pandai membuat orang lain penasaran, menerka-nerka, dan terbelalak dengan apa yang kau lakukan. Setelah ini aku penasaran, hal apa lagi yang akan kau lakukan dan pastinya akan membuat jantungku hendak lepas," sahut Calia.
"Terima kasih telah menantikannya," balas Bella yang membuat Calia membulatkan matanya. "K-kau?" Calia tidak bisa berkata. Sahabatnya sungguh-sungguh, Wow!!
"Ya. Assalamualaikum, Nizam," sapa Bella begitu panggilannya dijawab.
"Waalaikumsalam, Kak Abel, ada apa ya, Kak?" Ya, memanggil Nona itu terlalu formal. Makanya Nizam memanggil Bella kakak. Lalu mengapa Evan memanggil Bella langsung nama tanpa embel-embel Nona atau Kak, atau Senior?
Simple. Mereka ibarat sudah dalam satu barisan berdasarkan pendidikan. Untuk usia tidak menjadi masalah. Dan itu hal lazim di Eropa sana. Dan Bella memang meminta agar Evan memanggilnya nama saja. Biar lebih akrab dan nyatanya mereka memang akrab.
"Kau di mana?"
"Di asrama Evan."
"Umi Hani?"
"Di kamar bersama dengan Evan. Aku juga bersama dengan mereka," jawab Nizam.
"Nanti malam, kalian usahakan untuk datang ke resepsi Louis dan Teresa. Karena lancarnya pertemuan hari ini tidak lepas dari campur tangan keluarga Kalendra." Bukan meminta balas budi. Namun, untuk pertemuan Keluarga Arshen dengan Evan.
"Kami memang akan datang, Kak. Setelah magrib kami akan gerak ke sana." Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
"Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa di sana. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Finish, tinggal menuju jamnya saja," ucap Bella.
"Kau selesai atau panas dingin!"gerutu Calia yang ditanggapi tawa oleh Bella.
*
*
*
Sementara itu, di acara resepsi Louis dan Teresa, tamu undangan datang silih berganti, mengucapkan selamat dan tak lupa hadiah atas pernikahan keduanya. Di antara para tamu, ada perwakilan karyawan Kalendra Group yang salah satunya adalah rekan satu divisi dengan Teresa sebelumnya. Sebelum Teresa menggantikan posisi Bella sebagai General Manager.
Tidak ada yang menduga bahwa Teresa akan menikah dengan Louis. Sungguh tidak mereka sangka. Saat masa pacaranmu, mereka menduga bahwa Teresa dan Louis akan putus dalam waktu dekat dan Louis kembali seperti dulu, menjadi playboy. Sayang, semua terpatahkan saat Louis dan Teresa mengucap janji pernikahan.
Dan mereka juga belum tahu kalau menghadiri acara pernikahan keduanya. Bergosip, itulah yang mereka lakukan. "Bagaimana tanggapan GM. Bella bila tahu tentang ini?"
"Atau apa kalian rasa GM. Bella akan diundang?"
"Jika diundangpun, apa akan datang? Dia itu sudah menjadi mantan GM, dan tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga Kalendra walaupun dulu mereka dekat. Dan apa kalian pikir Indo dan Jerman itu dekat? 22 jam penerbangan, itu sangat jauh!"
"Hei, kalian ini kurang update ya?!" Salah seorang yang sudah senior dan bisa dikatakan yang memimpin para karyawan yang undangan menegur karyawan yang bergosip.
"Nona Bella dan keluarga Kalendra itu masih saling berhubungan erat. Kau kau," ucapnya menunjuk pada bawahan Teresa.
"Kau dan aku sudah melihatnya saat di Bali kemarin. Jangan menciptakan sebuah kesalahpahaman dan hal negatif! Dan sekarang kita juga tengah bekerja sama dengan perusahaan Mahendra Group, salah satu perusahaan terbesar di Asia yang wakil Presdirnya dipegang oleh Nona Bella!!"
Dan yang bergosip diam seketika. Mereka salah membicarakan orang. Bella mereka gosipkan, banyak pembelanya ooii!!
Di lain sisi, Anjani juga tengah mempromosikan produknya. Meninggalkan El yang duduk sendirian, hanya diterima segelas jus. Minuman alkohol? No! Untuk apa ia belajar agama di pesantren jika saat keluar kembali menyuruh minuman haram itu? Selain itu, Brian akan terus-terusan menyindirnya. Iya sih, dinginnya memudar tapi bagi El Brian masih menyebalkan.
Dan sedang apa Brian? Tentu saja menjaga istrinya dari pandangan para tamu pria. Saat mengenakan hijab, pancaran kecantikan Silvia malah semakin kuat.
Dylan? Ia lengket dengan Surya dan Rahayu. Apa El diabaikan? Tentu saja tidak. Ia hanya menunggu Anjani selesai. Juga tidak bisa egois meminta agar Anjani jangan membawa urusan pekerjaan di saat peluang begitu besar. Perlu diketahui, perhiasan yang dikenakan oleh keluarga Kalendra dan Calia adalah produk dari Diamond Corp. Itu dipesan atas saran Bella dan hasilnya sungguh cocok di hati kedua belah pihak.
Teman-teman sosialita Rose juga menginginkan perhiasan seperti yang ia kenakan. Sederhana namun memancarkan keeleganan dan keanggunan, serta kemewahan, sangat serasi. Anjani tentu dengan semangat menerima pesanan atas produk perusahaannya. Diamond memasuki pasar Jerman, it's amazing!