This Is Our Love

This Is Our Love
Kesal dan Cemburu



"Assalamualaikum." Ken melangkah memasuki rumah. Hanya pelayan yang mendengar salamnya lah yang menjawab. Ken berhenti di ruang tamu, mengedarkan pandang mencari keberadaan Rahayu, Silvia, juga Bella. 


Tak mau ambil pusing, Ken bertanya pada pelayan. Ternyata Rahayu, Silvia, dan Bella belum pulang. 


"Belum pulang? Mereka ke mana, Bi?"tanya Ken penasaran.


"Tadi pagi selesai sarapan, mereka mengantar nona Anjani pulang, Tuan Muda. Mungkin mereka masih di rumah nona Anjani," jawab Pelayan tersebut.


"Rumah Kak Anjani? Selama ini?" Ini sudah memasuki waktu ashar, apa saja yang mereka lakukan di rumah Anjani?batin Ken.


"Tuan Muda?"panggil Pelayan yang melihat Ken melamun.


Ken tersentak kemudian langsung melangkah menuju kamar. Dalam hatinya menggerutu kesal. Wajahnya teramat kesal. 


Keterlaluan! Apa-apaan ini! Dia sendiri yang mengatakan pulang kuliah belajar dan ini sudah waktu ashar ternyata dia belum pulang! Sialan! 


Ken membasuh wajahnya. Gara-gara ucapan Bella kemarin ia meninggalkan Cia lebih awal. Karena ucapan Bella, ia menolak permintaan Cia untuk tinggal lebih lama. 


"Ahhh … penipu!" Kekesalan Ken pada Bella bertambah saat mengingat raut wajah memelas Cia. Juga pelukan erat tanda tak ingin berpisah. 


"Cia … maaf." Sekarang raut wajah bersalah yang Ken tampilan, terpantul sempurna di depan cermin. 


Sebenarnya bisa saja Ken menghubungi Bella, akan tetapi rasa gengsi membuatnya enggan melakukan hal tersebut. Selesai menunaikan salat ashar, rasa kesal Ken sedikit berkurang. Ia tahu ia harus sabar menghadapi Bella. Tujuan penikahan ini adalah untuk ia bisa naik tahta memimpin perusahaan, dan untuk bisa lepas dari pernikahan ini hanyalah menjadi Presdir Mahendra Group.


Lebih cepat lebih baik. Ken memilih menghabiskan waktu menunggu Bella dengan kembali membaca buku yang Bella berikan. 


Pandangannya mulai berubah. Ken harus menjalin hubungan baik dengan Bella. 


*


*


*


Ken kembali kesal, ini sudah waktu magrib sedangkan Bella belum juga pulang. Sementara Surya dan Brian sudah kembali sekitar tiga puluh menit yang lalu. Ia juga heran, mengapa Rahayu dan Silvia juga belum pulang. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? 


Sejak kembali tadi, Ken tetap berada di dalam kamar. Ia membaca di balkon dengan tetap mengawasi gerbang, siapa yang keluar dan masuk. 


"Tuan Muda, Nyonya dan Nona Silvia sudah kembali."


Suara pelayan memberitahu Ken yang baru selesai menunaikan salat magrib.


"Iya."


Hanya jawaban singkat, namun gerakan Ken melihat sajadah dan kain sarungnya sangatlah cepat. Ken bergegas keluar kamar dan turun untuk menemui surganya.


"Ma, Kak Billa mana?"tanya Ken setelah tiba di ruang keluarga. 


Rahayu menatap heran Ken.


"Tumben nyariin istrimu, sudah kangen ya? Atau kamu sudah ada rasa sama Abel?" Tatapan Rahayu berubah menjadi menggoda Ken. Ken mendengus mendengarnya.


"Ma hati aku cuma untuk Cia! Nggak akan terbagi dan dibagi!"tegas Ken yang membuat Rahayu menarik senyum lebar.


"Ya kita lihat saja nanti akhirnya," sahut Rahayu mantap. Ken menyipit kemudian tersenyum tipis.


Akhirnya adalah aku bahagia bersama dengan Cia. 


"Coba hubungi Abel, Ken. Tadi kata Anjani, Abel pulang lebih dulu karena ada urusan penting. Sudah hampir tiga jam-am gitu Abel pulang dari Diamond Corp," ujar Silvia.


"Diamond Corp?" Ah Ken paham. Ia juga ingat pembicaraan kemarin. Tapi pulang lebih dulu karena ada urusan penting? 


Urusan apa? Apa yang lebih penting dariku? Ken bertanya-tanya.


"Ayo Ken, hubungi Abel," ucap Rahayu.


"Nggak mau, Ma." Ken menjawab datar walau hatinya sangat penasaran kemana perginya Bella. 


"Loh kok nggak mau? Kamu kan suaminya!"ucap Rahayu.


"Nggak mau, gengsi!"tolak Ken.


"Gengsi? Wah berarti kamu sudah ada rasa sama Abel, Ken!" Surya menjawab dengan wajah berbinar. Ken terkesiap. 


Suka dengan Kak Billa? 


"Hahaha lihat anak kita ini, Sayang. Dia kesal nan cemburu tapi semua hanya dilampiaskan dalam hati. Bagus-bagus. Gengsi itu jalan yang benar!" Surya tertawa bahagia. Dan Ken bingung sendiri. Ya benar, ada perasaan ganjil di hatinya. Ia kesal sekaligus khawatir tapi rasa gengsi membuatnya tetap diam. 


"Pa, Bun, Via pamit ke kamar ya," ucap Silvia yang diangguki oleh Surya dan Rahayu.


"Sudah sana hubungi Abel. Jangan gengsi-gengsi loh. Ntar nyesel," ucap Surya. Dan Ken masih mempertimbangkan.


Ah dia kan nggak baperan. Kalau baper aku jatuhkan saja. 


Senyum aneh tercetak di bibir Ken, membuat orang tuanya bingung. 


"Ken are you okay?"tanya Rahayu cemas.


"Hehe Ken okay, Ma. Ken hubungi Kak Billa dulu," jawab Ken yang dengan segera mengambil ponsel di saku celana kemudian mencari nomor kontak Bella.


"Mas, nanti kalau Abel pulang mereka nggak bakal perang kan?"bisik Rahayu, sedikit cemas.


"Kalau perang ntar kita jadi pendukung saja," jawab Surya, berbisik pula.


"Hah?" Rahayu membulatkan matanya.


"Pendukung gimana?"tanya Rahayu memastikan.


"Ya dukung agar mereka segera gencatan senjata," jawab Surya santai.


"Gencatan senjata?"beo Surya.


"Iya, biar kita cepat punya cucu," jelas Surya.


"Cucu? Maksud Papa gencatan senjata begituan?"


"Iya loh, Sayang."


Ken melirik sebal ke arah Surya dan Rahayu. Telinganya yang tajam jelas mendengar diskusi orang tuanya walau berbisik. Ia mendengus mendengar lagi-lagi suara operator yang menjawab. 


Tadi nggak dijawab sekarang nggak aktif, kemana sih tuh orang!


"Nggak dijawab nan nggak aktif, Pa. Menantu Papa nggak ingat status!"ucap Ken kesal dan langsung melangkah pergi kembali ke kamar.


"Kamu juga nggak ingat status! Ingat kamu itu suami Abel, bukan Cia!"sahut Surya.


"Huh anak itu! Kalah telak jika ia membahas status di depan Abel! Dia kira Abel itu perempuan lemah apa?"kesal Surya.


"Sudahlah, Mas. Namanya juga romansa perjodohan. Mana mungkin langsung gamblang suka sama suka. Butuh waktu untuk bisa meresapi perasaan yang ada. Bukankah Mas juga gitu dulu?"ujar Rahayu menenangkan Surya.


"Hm."


"Assalamualaikum," sapa seseorang dan terdengar langkah kaki mendekat.


"Waalaikumsalam," jawab keduanya serentak dan perasaan lega. Itu suara Bella, yang kembali dengan wajah lelah.


"Kok baru pulang, Bel? Kamu ke mana saja?"tanya Rahayu setelah Bella mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Ketemu sama Bik Susi, Ma, Pa. Terus jenguk Nesya sebentar," jawab Bella.


"Bik Susi?" Keduanya tidak mengenalnya. Jelaslah tidak kenal!


"Bik Susi itu tetangga Abel di rumah lama. Beliaulah yang sering merawat dan menjaga Nenek. Abel mengirim uang juga melalui beliau. Jadi bisa dikatakan Bik Susi itu Bibi angkat rasa Bibi kandung," jelas Bella.


"Ohh pantas saja kamu lama." Surya mengangguk paham.


"Jadi bagaimana kondisi adikmu?" Rahayu penasaran dengan Nesya.


"Alhamdulillah sejauh ini kondisinya stabil. Oh ya, apa Papa sudah mendapatkan donor sumsum untuk Nesya?"tanya Bella menagih janji Surya.


"Apakah jika ada, langsung bisa melakukan operasi? Kondisi adikmu yang hamil mustahil untuk operasi. Tapi tenang saja, kamu nggak perlu cemas tentang sum-sum tulang. Papa akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan adikmu dan ini."


Bella terdiam sementara Rahayu mengeryit bingung. Hal bahwa Nesya hamil dan berada di lapas memang tidak Surya beritahukan. 


"Cepatlah ke kamar. Suamimu sedang kesal menunggumu," ucap Surya dan Bella segera menurut.


"Mas?" Rahayu menuntut jawaban. Surya menghela nafas kasar sebelum akhirnya mengajak Rahayu ke kamar.


Kesal? Kenapa kesal? Apa aku melakukan hal yang membuatnya kesal? Seharusnya akulah yang kesal. Sebagai istri tentu harus aku diutamakan daripada kekasihnya!


Bella bertanya-tanya. Langkahnya yang lelah dengan raut wajah yang juga lelah, ditambah pertanyaan yang jawabannya telah ia ucapkan sebelumnya membuat kepala Bella pusing. Ya Bella melupakan ucapannya untuk mengajari Ken sepulang kuliah. Bella mengingkari janjinya karena lupa. Kesibukan di hari pertama kerja kemudian menjemput Bik Susi, menjenguk Nesya, kemudian mengantar pulang Bik Susi membuat rasa tubuh Bella remuk. 


Padahal sebelumnya ini hal biasa baginya. Namun, efek sebulan jadi pengangguran membuatnya merasa asing dengan rasa lelah akibat bekerja.


Ceklek!


Bella melangkah pelan memasuki kamar dan disambut dengan tatapan tajam Ken yang berdiri tepat di depannya. Mata Ken menyelidik Bella. 


"Kenapa baru pulang? Kemana saja tiga jam terakhir?"tanya Ken dingin. Bella menatap Ken datar.


"Mengapa kau menginterogasiku? Apa kau berpikir yang tidak-tidak denganku?" Bella melewati Ken, melempar tasnya ke atas sofa, kemudian menuju ruang ganti. Ia terlalu lelah, malas meladeni Ken.


"Jawab aku Kak Billa!"seru Ken kesal, ia menyusul Bella.


"Kemana saja Kakak? Mengapa dihubungi nggak diangkat terus nggak aktif? Aku punya hak untuk tahu!" Ken berada di samping Bella yang masih sibuk mengambil baju ganti.


 Bella menghela nafas kesal, melirik Ken, "ponselku habis baterai. Lihat saja kalau tidak percaya. Dan kemana aku dan masalah hakmu, apakah kita ada kesepatakan untuk saling terbuka dan menjunjung hak satu sama lain? Aku rasa tidak. Jadi tolong jangan ungkit hak di hadapanku!"tegas Bella.


Ken tertegun. Jawaban dingin. Tidak ada hak? Tidak ada kesepakatan? Apa hak akan hilang karena kesepakatan? Tidak! Tanpa ada kesepatakanpun hak itu sudah terbentuk saat Ken mengucapkan janji suci di hadapan penghulu. Dengan keduanya resmi menjadi suami istri, hak, kewajiban, dan wewenang secara resmi terbentuk di antara keduanya. Wajah Ken kembali kesal.


"Aku suamimu, Kak! Aku punya hak untuk tahu Kakak dari mana saja! Tanpa kesepatakan, hak itu memang harus dijunjung!"tegas Ken.


"Lantas apa kau menjunjung hakku sebagai istri?"tanya Bella balik dan Ken diam.


"Aku punya hak atas dirimu begitu juga sebaliknya. Jika kau tidak menghargai hak dan kewajibanmu sebagai seorang suami, lantas apa kau kira aku akan menghargaimu juga? Aku tahu aku adalah alat, aku juga tahu bahwa kita bersama atas dasar kesepakatan satu sama lain. Tapi semua itu tidak menghilangkan fakta bahwa kita ada suami istri!"


Bella menatap datar Ken. Mata Ken bergerak, ia bingung menanggapi ucapan Bella. Semua kena tepat menembus hatinya.


"Aku manusia biasa. Punya batas kesabaran. Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu bertahan bersama denganmu! Namun, jika sikapmu berubah mungkin aku bisa bertahan lebih lama. Jika kau bersikap dingin jadilah dingin selamanya. Menanyakan dari mana dan bagaimana keadaaanku sama saja memberi sebuah perhatian kecil!"lanjut Bella kemudian keluar dari ruang ganti menuju kamar mandi.


Hak? Kewajiban? Sikap? Perhatian kecil? Apakah tanpa ku sadari rasa kagum dan rasa suka tumbuh dengan seiring? 


Ken melamun. Wajahnya bingung. Bingung dengan dirinya sendiri.


Ah … tidak! Wajar bukan jika aku menanyakan tentang itu? Aku suaminya! Dasar baperan!


Ken menepis pemikiran bahwa ia mulai menyukai Bella. 


Ya dia yang terlalu baper!


*


*


*


"Kak jangan baper! Aku bertanya karena menagih janjimu. Kau berkata akan mengajariku sepulang kuliah nyatanya magrib kau baru pulang! Wajar jika aku bertanya bukan?"


Ucapan Ken membuat langkah Bella berhenti. Bella menayap Ken yang membaca buku darinya, tanpa menatap dirinya.


"Ya aku hanya memberi peringatan!"sahut Bella datar. 


Bella sudah ingat janjinya. 


"Dan maaf membuatmu menunggu. Aku benar-benar lupa ucapanku kemarin."


Bella duduk di samping Ken.


"Segampang itu? Apa Kakak tahu betapa lama aku menunggu? Gara-gara ucapan Kakak aku meninggalkan Cia lebih cepat!"ketus Ken.


"Jadi aku harus membayar waktu menunggumu itu?"balas Bella santai.


"Tentu! Kau berhutang padaku!"


"Baiklah. Aku akan membayarnya nanti. Lanjutkan bacaanmu aku akan ke perpustakaan dulu." Bella kembali berdiri dan keluar kamar.


Membayarnya? Dengan apa? Ken tersenyum miring.


Lima belas menit kemudian Bella kembali masuk dengan membawa dua  buku.


"Pahami halaman 12 sampai 15. Setelah itu aku akan mengujimu," ucap Bella, menyodorkan sebuah buku tebal pada Ken. Ken menerimanya dan tanpa banyak tanya langsung membaca. Sementara Bella membaca sebuah novel. Ia butuh sedikit hiburan.


Satu jam kemudian, Ken yakin ia sudah menguasai dan memahami apa yang tertulis di lembaran itu. Ia menoleh ke arah Bella. Ternyata Bella tertidur.


Ken menggoyangkan lengan Bella seraya memanggil Bella akan bangun. Ia tak sabar menunjukkan kemampuannya pada Bella.


"Ähm, Schwester Louis, stör mich nicht! Ich bin immer noch schläfrig!"


(Emm, Kak Louis, jangan ganggu aku! Aku masih mengantuk!"


Rasa lelah dan kantuk membuat Bella mengira bahwa ia masih berada di Jerman. 


Ken terkejut. Walaupun ia tidak tahu arti ucapan Bella, tapi telinganya mendengar jelas Bella menyebut nama seseorang dengan mata bersahabat dan sangat santai.


Siapa Louis?


Pertanyakan itu mengusik hati Ken. Ada rasa tidak nyaman saat Bella menyebut nama pria lain. Apakah dia cemburu?


Siapa Louis dan apa identitas sebenarnya kak Billa?