
PLAAKK!!
Sebuah tamparan keras, Bayu layangkan pada Angkasa. Wajah Bayu gelap pertanda titik rasa marah bercampur kecewa berada di titik teratas. Clara, Anggara, Azzura, dan Nyonya Adhitama terkejut dengan apa yang Bayu lakukan. Begitu juga dengan Angkasa. Pemuda itu menunduk dengan memegangi pipinya yang terasa perih, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Pipi dan hatinya sungguh sakit. Selama ini, ini kali pertama Bayu main tangan padanya.
"Apa yang kau lakukan, Mas?!"pekik Clara, langsung menangkup pipi Angkasa, dengan menatap marah suaminya.
Pandangan Bayu beralih pada Cia yang masih tak sadarkan diri. "Dia memang pantas ditampar!"ucap dingin Bayu.
"Tapi, Akas sudah mengaku salah! Untuk apa kau memukulnya?!"hardik Clara. Semarah-marahnya Clara pada Angkasa, juga tidak tega dan sanggup melihat putranya ditampar seperti tadi.
"Jika dia tidak ditampar, dia tidak akan ingat kesalahannya hari ini! Tamparan itu adalah kenangan untuknya!" Tentu saja dengan harapan bahwa ini kali pertama dan terakhir Bayu main tangan pada anaknya. Hanya saja itu diucapkan dalam hati.
"Keras kepalamu menurun pada mereka berdua! Tamparan itu bisa membuat otaknya mencair! Karena rasa tidak tega, dampak ketidaktegaanmu sungguh fatal"lanjut Bayu, masih dengan nada dingin.
"Kau urus mereka! Aku perlu menenangkan diri!!"tukas Bayu kemudian melangkah keluar dari ruang rawat Cia. Meninggalkan Clara yang terdiam beberapa saat. Baru bereaksi saat Angkasa meringis. Tadi, ia tidak berani mengeluarkan suara sekecil apapun. Ekspresi Bayu begitu menyeramkan baginya.
"Akas, apa kau baik-baik saja?" Bahkan Anggara saja membeku di tempat, baru tersadar saat Clara memanggilnya untuk mengambilkan kotak obat.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan. Papa sangat kecewa dan tertekan akibat perbuatanku dan Kak Cia. Harusnya … harusnya aku tidak mengikuti keinginan Kak Cia," sesal Angkasa. Ya penyesalan memang datang di awal, kala di depan artinya pendaftaran. Dan siapa yang mau mendaftar untuk penyesalan? Ya penyesalan itu bukan sebuah rencana atau keinginan. Itu hadir karena kekeliruan.
"Kali ini kita tidak bisa menghindar lagi dari keluarga Mahendra," ucap Clara sembari mengobati luka lebam Angkasa.
"Maksud Mama?"tanya Anggara bingung.
"Kita sekeluarga harus menyampaikan permintaan maaf secara langsung sebagai bentuk penyesalan. Apa yang kakak kalian berdua tadi katakan sungguh konyol, dungu, dan tidak berdasar. Semakin lama kakak kalian semakin kehilangan kendali atas perasaannya." Clara juga tidak bisa menyalahkan Bayu seutuhnya karena memukul Angkasa. Clara tahu bahwa Bayu saat itu berada di titik tertinggi emosinya yang jika tidak dikeluarkan akan berdampak pada kesehatan Bayu sendiri.
"Jeng Clara," panggil Nyonya Adhitama. Azzura masih bersembunyi di balik tubuh Mamanya karena takut dan terkejut atas tamparan Bayu pada Angkasa.
"Ah Jeng Dinda," sahut Clara dengan senyum canggung.
"Sebenarnya masalah apa? Mengapa membawa-bawa nama keluarga Mahendra? Bukankah Tuan Muda Ketiga keluarga Mahendra sudah menikah dan putri Anda sudah jadi mantan kekasihnya?"
Clara muram beberapa saat. Ia lupa anak Azzura dan Nyonya Adhitama di ruangan ini. Clara merasa malu masalah internal keluarganya diketahui orang asing.
"Ah, maaf. Saya hanya ingin tahu, bukan ingin mengorek masalah internal keluarga Utomo. Hanya saja, kita ini sudah keluarga. Barangkali kami, keluarga Adhitama dapat membantu Anda menyelesaikan masalah dengan keluarga Utomo." Nyonya Adhitama jelas menyadari bahwa keluarga Mahendra bukan keluarga yang mudah ditangani. Surya, Brian, dan Bella adalah yang paling angel. Rahayu, Silvia, dan Ken juga bukan orang yang terima-terima saja jika ketenangan sudah diusik. Dan Dylan, dia tipe yang langsung terpancing amarah saat disinggung.
"Hah … sudah terdengar dan terlihat oleh Anda apa boleh buat? Mungkin, saya juga butuh tempat berkeluh kesah membagi beban dengan Anda." Clara memutuskan untuk berbagi cerita.
Di sisi lain, Bayu tengah berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi rooftop rumah sakit. Matanya terpejam menikmati terpaan angin sore. Bayu tengah menenangkan hati dan pikirannya.
Mengapa kedua anaknya itu nekad dan mengusik keluarga Mahendra? Baru saja mereka bangkit, itupun dengan mengorbankan masa depan putra mereka, Anggara, dua anak lainnya masa menciptakan masalah besar.
Memohon menjadi istri kedua? Betapa merendahkan diri sekali putrinya. Sebagai Papa, jelas ia tidak setuju dengan apa yang Cia katakan pada Ken.
Apa Cia berpikir masuk ke keluarga Mahendra dengan menjadi istri kedua Ken, bisa membuatnya kembali mendapatkan cinta Ken dan hidup bahagia? Jangankan keluarga Mahendra, Bella sendiri sudah masalah besar untuk mereka. Apalagi ditambah dengan keluarga Mahendra. Bayu membuka matanya. Matanya menatap sayu langit ufuk barat yang sudah memunculkan guratan jingga.
"Jika begini akhirnya, untuk apa dulu kau pergi, Nak? Ken sudah menjadi seseorang yang sulit kau jangkau. Istrinya sudah memegang peranan penting dalam keluarga Mahendra. Siapalah kau? Hanya seorang gadis pengidap kanker otak stadium akhir," monolog Bayu. Bukan ia pesimis atau merendahkan Cia. Namun, itu adalah kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri.
"Papa tahu. Papa mengerti, kau ingin meraih kebahagian di saat terakhir. Tapi, bukan begini caranya," lirih Bayu, mengusap kasar wajahnya. Tentu saja apa yang Cia lakukan hari ini adalah tamparan keras baginya.
"Cia, Cintya Utomo, bukankah kau yang mengatakan bahwa cinta tak harus tentang memiliki? Asalkan melihat orang yang kau cintai bahagia, kau juga bahagia? Mengapa kau melakukan apa yang telah kau lakukan dan katakan sendiri?" Bayu masih bermonolog. Bertanya pada angin yang berhembus pelan.
"Kali ini sudah sangat kelewatan. Cia, bagaimana bisa kau mengatakan tidak melibatkan keluarga sedang kau adalah putriku?"
Hah
Bayu menghembuskan nafas kasar. "Tidak ada jalan lain selain meminta maaf pada keluarga Mahendra," gumam Bayu.
*
*
*
"It's crazy! Cinta memang gila dan sulit dimengerti!"decak Dylan setelah mendengar cerita Silvia akan hubungan Ken dan Cia.
"It's obsession not love!"sergah Brian datar.
"Hm. Obsesi bercampur rasa tidak ikhlas. Cia berpikir, bagaimana bisa Ken bahagia dengan Abel, dan melupakannya? Hubungan lima tahu bukan waktu singkat. Dalam pikiran Cia pasti tertanam sebuah keyakinan bahwa Ken tidak benar-benar melupakannya dan sudah tidak mencintainya. Cia tidak rela, mengapa harus dengan Bella? Bagaimana dengannya? Menyaksikan kebahagian keduanya dengan mata berlinang air mata? Itulah yang mendorongnya untuk melakukan tindakan tadi. Tapi, aku sebagai seorang wanita pun merasa infeel dengan tindakan Cia tadi. Rasanya tidak pantas seorang putri keluarga Utomo berlutut dan memohon untuk dinikahi, jadi yang kedua pula. Ckckck untung saja Ken dan Bella sudah menyatu erat."
Silvia menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan Cia.
"Ingin masuk ke keluarga ini … mimpi!!" Brian menunjukkan ketidaksukaannya pada Cia. Seorang Kakak yang tidak memberi izin untuk adiknya menikah lagi.
*
*
*
"Apa yang kau pikirkan, Ken?"tanya Bella pada Ken yang tampaknya melamun. Saat ini, keduanya tengah berada di gazebo yang di bawahnya adalah sebuah kolam, kolam pancing. Sepertinya Ken terguncang dengan apa yang Cia katakan tadi.
"Aku bingung, Aru," jawab Ken sendu. Bella menarik kail pancingnya saat merasa ada ikan yang memakan umpannya.
"Bingung? Apa yang kau bingungkan, Ken?"
"Perasaanku kacau. Aku merasa dilema. Ada rasa bersalah dan tidak tega. Aku tidak ingin mengulangi kekeliruan lagi. Tapi, aku menyakiti perasaannya. Apakah aku salah, Aru? Apa kata - kataku pada Cia tadi terlalu kejam? Dan apa perasaanmu Aru? Apa kau merasa terusik?"
Ken menatap sendu istrinya yang sudah menaikkan seekor ikan mas berukuran cukup besar. Bella menoleh pada Ken.
"Terusik? Hei Ken, kau milikku. Tidak akan rela dan ku biarkan kau mendua! Walau kau mau, walau dia mau, selama tidak ada izinku, menikah hanya akan jadi angan. Egois? Ya aku memang egois!"
Jawaban yang bulat. Sekalipun Ken setuju, Bella juga tidak akan setuju. Dua ekor ikan sudah cukup, Bella menggulung kail pancing dan memanggil pelayan untuk menyimpan pancing dan mengolah ikan mas, menjadi olahan arsik.
"Jika kau merasa aku terlalu keras, itulah aku. Dan satu lagi, jika dia kembali datang dan mengusik hubungan kita lagi, jangan salahkan aku jika aku memperingati dan mengancam dirinya!"desis Bella, menyampaikan apa tanggapannya jika Cia kembali datang dan meminta Ken untuk menikahinya.
"Tapi, aku bahagia dengan jawabanmu tadi. Thank you, My Husband," imbuh Bella, tersenyum lebar pada Ken yang menatap dalam dirinya.
"Sudah seharusnya. Sudah kewajibanku memberikan rasa aman dan nyaman padamu, Aru. Walaupun itu belum sepenuhnya," balas Ken.
Keduanya lantas berpelukan. "Masih bingung?"
"Apa kau tidak marah atau cemburu aku memikirkan perempuan lain, Aru?"tanya Ken, setelah mendaratkan kecupan pada pucuk kepala sang istri.
"Tergantung siapa yang kau pikirkan. Jika kau memikirkan Mama, bagaimana bisa aku marah? Dan tergantung apa yang kau pikirkan atas perempuan itu. Kalau mengarah pada hubungan pria dan wanita, aku pastikan aku akan mencincangmu!"jawab Bella yang mana kalimat terakhir sungguh membuat Ken merinding.
"Lalu bagaimana jika Cia meminta hal itu sebelum dia pergi meninggalkanmu?"tanya Bella, penasaran dengan jawaban Ken.
"Mungkin, hari ini akan jauh berbeda."
Bella mengangguk mengerti. Jika permintaan itu sebelum Cia memutuskan hubungan dengan Ken. Mungkin, hasilnya hari ini akan berbeda. Namun, itu hanya mungkin dan andai. Masa lalu, tidak bisa kita kembali ke masanya. Hal yang paling cepat cepat berlalu dan tidak bisa diulang lagi adalah waktu. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan waktu.
*
*
*
"Keterlaluan!!" Surya tampaknya sangat jengkel dengan ulah Cia tadi. Rahayu duduk di depan cermin rias. Tidak mendekati Surya yang berdiri menghadap jendela dengan wajah dingin.
"Jika bukan mengingat hubunganmu dan Nyonya Utomo itu. Jika bukan mengingat hubungan masa lalu Ken dan Nona Utomo itu, aku pastikan keluarga Utomo tidak bisa menginjakkan kaki di Indonesia lagi!! Sudah pergi datang lagi, dasar jailangkung!!"kesal Surya dengan meremas kain jendela.
Rahayu mengerti mendengar kekesalan Surya, jailangkung? Bukankah itu identik dengan datang tidak diundang dan pergi tanpa pamit? Jika di balik, apakah masih tetap sama? Ahh masa' bodo'. Untuk apa memikirkan hal tidak berarti?
"Beri mereka peringatan saja, Mas," ucap Rahayu sembari melepaskan perhiasan yang melekat pada jari, telinga, dan lehernya.
"Peringatan? Ya itu caranya!"
*
*
*