
Ken merogoh saku celanannya saat merasakan ponselnya bergetar.
Itu sebuah panggilan dari Azzura. Segera Ken menjawabnya.
"Hallo, Assalamualaikum, Nona Azzura," jawab Ken.
"Waalaikumsalam, Tuan Muda." Mendengar itu, Surya mengintruksikan Ken untuk meloudspeaker panggilan tersebut.
"Ada apa, Nona Azzura? Apa ada perkembangan?"tanya Ken, berharap.
"Benar, Tuan! Kami sudah menemukan lokasinya!"jawab Azzura dengan nada yang sangat bahagia.
Semua yang mendengar itu terbelalak. "Sungguh?" Satu suara bulat.
"Ah … ada yang lain rupanya." Azzura tampaknya tersentak dengan seruan itu. Suara terdengar canggung.
"Lupakan saja itu! Katakan, kau benar-benar menemukannya?"tukas Brian.
"Iya, Tuan Muda Brian. Kami sungguh menemukannya. Saya akan segera mengirimkan lokasi pastinya."
Azzura, wanita itu dan tim telah menemukan lokasi Black Rose, Green Palace setelah melakukan pencarian hampir tiga bulan lamanya.
"Syukurlah. Alhamdulillah!"
Surya dan Rahayu berpelukan. Begitu juga dengan Dylan dan Nesya. Itu kabar yang sangat membahagiakan. Hadiah yang sangat indah untuk ia yang akan segera keluar dari rumah sakit.
Begitu juga dengan Brian yang memeluk Silvia. Sementara Ken memeluk dirinya untuk mengekpresikan rasa bahagia.
"Terima kasih. Terima kasih banyak, Azzura!"jawab Ken. Ia tidak bisa untuk tidak menangis. Air matanya menetes deras. Akhirnya! Penantian yang tidak sia-sia!l
"Di mana lokasinya? Aku akan ke sana untuk menjemput istriku!"tanya Ken, tidak sabar. Ia tidak menyeka air matanya.
"Saya akan segera mengirimkan, Tuan Muda!"
Setelah itu panggilan berakhir. Ken segera memeluk anggota keluarga satu persatu. "Akhirnya! Akhirnya kita berhasil!"
"Aku akan ikut denganmu!"ucap Brian. Ia bahkan sudah mengangkat telepon untuk menelpon pilot untuk mempersiapkan penerbangan menuju Rusia.
"Papa juga," timpal Surya.
"Mama juga!" Rahayu juga.
"Aku juga!"
"Aku juga!" Fajar dan Silvia juga mau ikut.
"Aku juga!" Nesya bersuara. Semua tatapan tertuju pada adik kandung Bella itu. Mereka ragu. Ragu dengan kesehatan Nesya. "Aku ingin ikut. Aku ingin menjemput kakak. Tolong, jangan tolak itu!" Nesya tahu dirinya akan dicegah. Oleh karenanya ia mengiba. "Dokter pasti akan mengizinkan aku pulang. Ya ya ya ya." Nesya kembali meminta. Dan Dylan, jangan ditanya lagi. Jika Nesya ikut, maka dia akan ikut.
"Baiklah. Mari menjemput Aru!" Ken mengambil keputusan. "Kita bisa membawa dokter untuk berjaga-jaga," lanjutnya. Dan pada akhirnya itu diangguki oleh semuanya.
"Papa akan mengabari keluarga Kalendra," ucap Surya dengan sudah mengangkat ponselnya.
"Aku akan menghubungi Paman Adam," sahut Ken. Mereka saling memberi kabar.
*
*
*
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam pesawat untuk penerbangan menuju Rusia.
Penerbangan akan memakan waktu sekitar 13 jam 45 menit. Atau digenapkan saja selama 14 jam. Mereka terbang lepas landas pukul 10.00. Dengan perbedaan waktu, mereka akan tiba di Rusia sekitar waktu subuh. Ditambah dengan rute jalan dan waktu istirahat, perkiraan mereka tiba di lokasi sekitar pukul 12.00.
Ya perjalanan yang memakan waktu satu hari satu malam.
Dan sekarang mereka telah lepas landas.
Sementara di sisi lainnya, Tuan Adam setelah mendengar kabar dari Ken akan lokasi Bella yang telah ditemukan, langsung saja terbang menuju Rusia.
Begitu juga dengan keluarga Kalendra. Mereka semua terbang ke Rusia. Akan bertemu di sana. Mereka akan menjemput Bella.
Mengenai siapa yang dihadapi, tentu saja mereka membawa orang yang terdiri atas orang-orang terlatih. Mereka juga akan menggunakan negosiasi. Selama perjalanan, mereka merancang rencana untuk menghadapi mafia itu.
*
*
*
Subuh waktu Rusia, keluarga Mahendra tiba di Rusia. Mereka akan melanjutkan perjalanan dengan mobil. Dan mereka sangat bersyukur karena tidak ada masalah dalam perjalanan. Nesya juga baik-baik saja.
Keluarga Kalendra telah lebih dulu tiba. Mereka kemudian bertukar kabar.
Dan ini adalah kali kedua Nesya bertemu dengan keluarga dari pihak sang ibu. Ia merasa sangat bahagia.
Rose memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih. Sementara Max hanya memeluknya. Dengan Leo dan Louis, mereka hanya saling tersenyum. Lain halnya dengan Helena dan Teresa, mereka turut memeluk Nesya.
"Kami senang mendengarmu menjalani operasi dengan sukses. Kau bahkan pulih dengan cepat. Ini sebuah kebahagiaan yang lengkap!"ucap Max.
"Terima kasih, Paman," jawab Nesya.
Kini mereka hanya tinggal menunggu Tuan Adam tiba. Sembari menunggu, keluarga Mahendra menunaikan shalat Subuh berjamaah.
Satu jam kemudian, saat matahari mulai menyingsing, Tuan Adam tiba. Dan tanpa menunggu lama lagi, mereka langsung melanjutkan perjalanan.
Perjalanan datar itu memakan waktu yang cukup lama.
Dan kini mereka tiba dengan sisi kanan dan kiri jalan adalah pepohonan lebat. Ini adalah hutan. Lalu mereka melewati sebuah padang rumput dan sebuah jembatan yang sangat panjang.
Kembali mereka melewati hutan hingga mereka melihat dari kejauhan sebuah bendera yang berkibar.
Itu bendera Black Rose. Artinya mereka akan segera tiba.
Menempuh perjalanan beberapa menit lagi, akhirnya mereka melihat tembok tinggi nan kokoh. Itu adalah tembok utama Green Palace.
Mereka menghentikan mobil di depan gerbang. Ken turun. Ia melangkah dan menggedor pintu gerbang itu.
"Siapa?" Meskipun Ken tidak tahu bahasa Rusia, ia bisa menebak pertanyaan itu.
"Aku. Mahesa Ken Mahendra. Aku datang untuk menjemput istriku! Sampaikan pada pimpinan kalian!"jawab Ken dengan berteriak.
Tidak terdengar suara balasan. Namun, Ken mendengar suara gaduh di sana.
"Kita tunggu saja dengan waspada," ujar Ken pada rombongan.
*
*
*
Namun, di saat mereka tengah serius mendengar itu, tiba-tiba Irene masuk dengan membuka pintu kamar. "Tuan, Nona, Dia datang!"ucap Irene dengan nafas tersenggal.
"Dia? Siapa?"
"Tuan Muda Ketiga keluarga Mahendra!"
"Apa?" Suara Bella mengalahkan suara Desya.
Apakah itu Ken?
Bella langsung melangkah menghampiri Irene.
"Apa itu Ken?"
"Iya, Nona!"
"Ken…." Air mata Bella luruh. Dan sebelum Desya bereaksi untuk menahannya, Bell sudah lari lebih dulu.
Tidak peduli dengan teriakan Desya yang terdengar mengkhawatirkannya.
Bella lari dalam keadaan hamil besar. Kehamilannya lebih besar, ia hamil anak kembar!
"Stop!" Akhirnya Desya berhasil meraih tangan Bella.
"Lepas! Jangan halangi aku!" Bella meronta. Matanya menatap tajam Desya. "Kau tidak melupakan kesepakatan kita, bukan?!"
"Tidak. Aku sama sekali tidak melupakannya!"tegas Desya.
"Aku hanya minta kau jangan lari. Kau sedang hamil. Bagaimana jika kau tersandung?" Desya benar-benar mengkhawatirkan Bella.
"Lagipula dari sini ke gerbang sangat jauh. Aku akan mengantarmu," ucap Desya, dengan nada meminta.
"Ah … baiklah. Maafkan aku." Bella sangking bahagianya, melupakan kondisinya sendiri.
Desya kemudian meminta anggotanya untuk membawakan mobil. "Masuklah." Desya membukakan pintu untuk Bella.
"Terima kasih."
Desya kemudian masuk untuk mengemudi.
Lima menit kemudian, mereka tiba di gerbang. Bella turun dengan mata terfokus pada gerbang dengan masih tertutup. Desya kemudian menginstruksikan untuk membuka pintu gerbang itu.
Gerbang perlahan terbuka. Ken dan Bella akhirnya bertemu. Mereka saling bertatapan. Sebelum akhirnya Ken berlari untuk memeluk Bella. Keduanya berpelukan. Akhirnya, mereka bertemu dan bersama lagi.
Tidak ada kata yang terucap. Hanya tangis yang terdengar.
Bugh!
Di saat haru itu, terdengar suara pukulan. Rupanya itu Louis, yang bersama dengan Leo dan Brian menyerang Desya.
Desya jelas melawan. Ia imbang dengan ketiga orang itu. "Tuan!" Irene langsung membantu Tuannya. Ia menghadapi Leo.
"Orang-orang ini!" Dimitri juga tidak tinggal diam melihat putranya dikeroyok.
"Apa-apaan ini?"gumam Bella kesal.
Ken merasakan Bella marah. "Hei! Apa yang kalian lakukan?!" Bella berteriak kesal.
"HENTIKAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Bella kembali berteriak.
"Sialan! Hei kalian tuli ya?" Aleandra itu berteriak nyaring.
Mendengar itu, keempat orang itu langsung berhenti.
"Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian menyerangnya?" Bella kesal dengan kedua sepupunya dan juga Brian.
"Dia pantas untuk itu!"
"Harusnya kita membunuhnya!"
"Hei, apa kalian kira aku tuli?!"hardik Desya seraya mengusap bibirnya yang terluka.
"Kalian! Lupakan saja! Ayo masuk!"tukas Bella dan tanpa mempedulikan yang lain langsung menarik Ken dan masuk ke dalam mobil.
"Astaga! Dia melupakanku begitu bertemu dengan suaminya?"gumam Desya.
"Dia hanya peduli dengan Ken?" Luar biasa!
"Kalian! Masuklah. Tapi, jangan berbuat masalah. Ingat, ini adalah wilayah kami dan aku yakin kalian tahu ini adalah tempat apa! Jangan sopan santun kalian! Anda sopan kami segan!"tegas Dimitri, kemudian meninggalkan gerbang bersama dengan Aleandra.
"Masuklah!"tambah Desya. Menyusul Bella bersama dengan Irene dan Evalia.
Keluarga Mahendra, Kalendra, dan Tuan Adam saling melempar pandang.
Dan mereka kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing dan mengikuti pemandu yang ditunjuk oleh Desya.