
Azan subuh berkumandang dari ponsel Bella dan Ken secara bersamaan. Bella langsung membuka matanya. Ia mengerjap merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya. Dengan cepat Bella menoleh ke samping. Tepat! Ken memeluknya saat tidur. Tapi tunggu! Dahi Bella mengerut mengingat saat-saat sebelum ia tertidur. Ia menemani Ken belajar sembari membaca novel dan tanpa sadar tertidur di sofa. Dan sekarang ia terbangun di atas ranjang. Hanya ada satu jawaban, Ken yang memindahkan dirinya.
Hati Bella antara senang juga bingung. Ya sebuah perhatian kecil lagi yang mulai menggeser nama Louis di hatinya. Setitik perhatian dari Ken, menggeser setitik cinta untuk Louis. Juga bingung, bocah angkuh itu selalu mengatakan hati, cinta, dan raganya hanya untuk kekasihnya, Cia sementara tindakannya terkadang berkebalikan dari ucapannya.
Bella menghela nafas kasar. Tak mau ambil pusing lebih jauh. Dengan segera Bella menggeser lengan Ken darinya. Duduk sejenak sembari memegang kepala yang sedikit pusing kemudian menyalakan lampu kamar.
"Ken ayo bangun," ucap Bella dengan nada sedikit keras.
"Emmm …."
"Ya …." Serak khas bangun tidur. Ken segera bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Ia mengusap matanya kemudian menoleh pada Bella yang sudah turun dari ranjang. Sejak kejadian ia disiram oleh Bella karena nggak bangun-bangun, sejak itu juga Ken berjanji pada dirinya untuk bangun lebih awal, atau jika dibangunkan segera bangun.
"Cepatlah wudhu, kita salat berjamaah. Kamu jadi imam!"ucap Bella.
"Jadi imam?" Mata Ken langsung melebar. Bella mengangguk kemudian menuju kamar mandi. Ken masih terkejut dan melamun.
Mengapa rasanya aneh? Gugup, senang, nano-nano yang mengingatkanku saat pertama jadi imam salat Cia.
"Hei kenapa subuh-subuh malah melamun? Apa kau nggak pernah jadi imam?"sentak Bella yang sudah selesai berwudhu. Matanya menatap selidik Ken.
"Ah?" Ken menatap polos Bella.
"Astaga! Mengapa tampang polos pula yang kau berikan? Duh gemas deh jadinya." Bella yang gemas langsung menghampiri Ken yang masih stay di tempat tidur.
"Ah auh sakit Kak!"seru Ken saat pipinya ditarik oleh Bella.
"Hahaha mirip sekali dengan Key!"sahut Bella.
"Key?" Mata Ken langsung menatap Bella selidik. Tangannya menarik paksa tangan Bella yang masih menarik pipinya. Ken memegang tangan kanan Bella.
"Siapa Key?" Membahas nama pria lain, membuat Ken ingat saat Bella menyebutkan nama seorang pria, Louis yang membuat hatinya tidak nyaman.
Bella terkesiap dengan nada dingin dan mata mengintimidasi Ken.
Bocah ini … cemburu?
"Jawab siapa Key!"
"Hm coba kau tebak siapa?" Bella kini tersenyum, menatap Ken balik dengan tatapan santai.
"Apa dia pacarmu?" Nada yang dingin yang tersirat sebuah kekesalan.
"Yap. Dia pacar kecilku." Bella semakin memancing Ken. Lihatlah gurat cemburu dan kesal terlihat jelas sekarang.
Genggaman berubah menjadi cengkeraman yang kemudian menarik Bella ke atas ranjang. Bella terdiam sesaat memahami situasi. Ken memegang erat kedua tangannya. Ia sekarang berada di atas tubuh Bella. Kedua matanya mencari kebenaran pada mata Bella. Dan tatapan santai Bella membuat Ken percaya.
"Putuskan! Putuskan semua hubungan Kakak dengannya!"ucap Ken penuh penekanan.
"Putuskan? Why? Apa alasannya? Dan apa kau cemburu?"
"Cemburu?" Ken diam sesaat kemudian tersenyum.
"Seorang wanita yang sudah bersuami dilarang memiliki hubungan asmara dengan pria lain. Terlebih dengan status Kakak sebagai menantu keluarga Mahendra. Sudah selayaknya menjaga sikap dan perilaku! Aku sebagai suami tidak mau menanggung dosa atas hubungan terlarang kalian. Jadi putuskan dia!"jawab Ken.
Bella terkekeh. Oh ayolah dalam semalam Ken sudah berpikir tentang status mereka. Jika ia tidak boleh menjalin hubungan dengan pria lain, it's okay karena Bella tidak menjalin hubungan asmara dengan pria manapun.
Dengan Louis? Hanyalah cinta yang tidak pernah bersatu. Ada cinta namun tidak ada status. Semua mengalir layaknya air dari hulu ke hilir.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau juga suamiku, apa boleh menjalin hubungan dengan wanita lain yang bukan muhrim? Atau hanya karena kesepatakan di awal? Atau karena Cia lebih dulu hadir ketimbang diriku? Ketahuilah Ken, aku memang memiliki seseorang yang aku cintai. Kami saling mencintai tapi tidak pernah menjalin hubungan karena aku tahu, cinta kami terhalang oleh keyakinan. Kami tidak bisa bersama jadi jangan cemburu pada sesuatu yang takdir saja tidak merestui. Sementara dirimu? Aku rasa kau lebih tahu!"tandas Bella tajam. Dan Ken masih mencerna semua ucapan Bella.
Ken menangkap tatapan sendu Bella. Perkataannya getir, senyumnya juga kecut. Gurat kesedihan juga kecewa terlihat jelas pada Bella.
Dan ucapan Bella itu, menyentuh kalbunya. Keduanya sama-sama memiliki kisah cinta yang tidak lancar. Ken terhalang oleh restu Surya sementara Bella terhalang restu Tuhan. Bukankah apa yang Bella rasakan lebih sakit darinya? Ken masih bisa menggenggam, memeluk, mencium Cia sementara Bella, terpisah oleh jarak yang begitu jauh.
Ken beringsut, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Bella.
"Ya itu sangat menyakitkan, aku turut sedih untuk kisah cinta Kakak dan Key-Key itu!" Dengan nada datar.
"Hm. Sudah takdir apa boleh buat?"sahut Bella.
"Oh ya, aku juga tidak bisa merasa bersalah. Benar kata Kakak, Cia lebih dulu hadir dalam hidupku. Ia adalah kekasih hatiku. Dan aku rasa Kakak tahu sendiri posisi Kakak di antara kami." Kembali dengan nada datar.
"Hm. Aku tahu. Ya sudahlah, jalani saja alurnya. Jika memang kamu takdirku aku akan menerimanya, jika bukan, berpisah dengan cara baik ku rasa tak masalah," sahut Bella tenang, kembali duduk.
Ken tidak menjawab. Ia diam, menambah rasa kagum juga setitik rasa suka pada Bella.
"Astagfirullah! Ken ayo lekas wudhu!"seru Bella ketika melihat jam.
"Astagfirullah! Kebablasan!" Ken terkejut sendiri dan segera lari menuju kamar mandi. Sementara Bella sendiri melebarkan sajadah juga menyiapkan sarung dan kopiah Ken. Ia sendiri sudah selesai memakai mukenah. Tak lama Ken kembali dengan rambut, wajah, kedua tangan, juga kaki yang basah dengan air wudhu. Tetesan air terlihat jatuh menetas.
"Allahu Akbar."
Takbiratul ikram telah Ken angkat diikuti oleh Bella. Ada rasa yang tak biasa di hati keduanya. Ini adalah kali pertamanya mereka salat berjamaah. Dada Ken bergemuruh, rasa asing yang lama-lama menjadi nyaman. Rasa menjadi iman saat menjadi pacar dan suami sungguh berbeda.
Sementara Bella, tanpa sadar air matanya menetes. Setelah sekian lama, setelah cinta pertamanya dipanggil oleh Allah, ini adalah pertama kalinya Bella salat dengan imam pria yang telah menjadi muhrimnya, seorang suami. Apalagi lantunan surat ar-Rahman dari Ken. Sungguh menenangkan sekaligus mendebarkan bagi Bella.
Keduanya diam meresepi perasaaan masing-masing saat Bella mencium punggung tangan Ken.
*
*
*
Bella melangkah menuruni tangga dengan wajah yang ceria. Ia menuju dapur, berniat memasak sarapan untuk Ken sebagai permintaan maafnya karena tidak tepat waktu.
Di dapur ternyata pelayan yang bertugas di dapur tengah sibuk meracik bumbu untuk membuat nasi goreng.
"Bik biar saya saja yang membuat sarapan," ucap Bella. Sontak wajah pelayan yang tengah mencincang bawang putih itu terkejut.
"Ya tapi pagi ini biar saja yang masak, Bibi. Tenang saja nggak bakal kena tegur kok. Nanti saya bilang sama Papa," ujar Bella menenangkan.
"Tapi Nona Muda …."
"Tidak ada tapi-tapian. Bibi tunggu saja di kursi. Biar saya yang memasak!" Bella dengan cepat menggeser posisi pelayan tersebut. Pelayan tersebut tampak pasrah dan ia hanya berdiri di samping kursi. Ia tidak berani duduk walaupun Bella memaksa. Matanya menatap Bella dan pintu masuk dapur awas.
Bella mengenakan apron. Mulai berjibaku dengan bahan dan alat dapur. Gerakan yang cepat, potongan yang rapi, gerakan yang terlihat sudah biasa. Jelas delapan tahun ia masak sendiri.
Bahkan pelayan itu saja melongo melihat kecepatan dan keahlian Bella. Bisa lah disandingkan dengan chef berbintang.
Wangi yang menyeruak dan memenuhi dapur ternyata menarik perhatian Silvia.
Dengan mengendus ia masuk ke dapur. Matanya tercekat melihat Bella yang sibuk membolak-balik nasi goreng.
"Wah Abel kau yang memasak? Wangi sekali!"seru Silvia dengan cepat menghampiri Bella.
"Benarkah?" Menurut Bella itu biasa saja.
Silvia mengangguk semangat. Terlihat jelas bahwa Silvia tidak sabar untuk menikmati suap demi suap nasi goreng yang sudah menggugah selera bahkan sebelum ditambahkan teman-temannya.
Bella menggeleng pelan melihat Silvia. Rasanya tengah berada di situasi bahwa ia seorang ibu dan Silvia adalah anak yang tak sabar menikmati masakan sang ibu.
Beberapa menit kemudian, Bella selesai masak. Pelayan kembali mendekat dengan memberikan tempat untuk nasi goreng tersebut kemudian membawanya ke meja makan.
"Kak Via bawa tomat dan timunnya!"suruh Bella dan Silvia segera melakukannya. Mengikuti langkah Bella yang lebih dulu tiba di meja makan. Semua anggota keluarga sudah berada di meja makan. Bahkan El yang biasanya bangun siang, sudah tampil rapi dan segar. Dari wajahnya sudah terpancar bahwa sebentar lagi El akan menyampaikan pujian juga beragam pertanyaan.
Ken menatap Bella yang kini duduk di sampingnya sementara Brian menatap tajam Silvia. Wanita itu tampak takut dan menunduk seakan telah melakukan kesalahan.
"Loh kalian yang masak?"tanya Rahayu.
"Bella cuma bantuin Bibi, Ma. Cuma bantu gongseng doang," jawab Bella. Silvia menatap Bella heran, sedangkan Bella hanya tersenyum.
"Oh tapi kok wanginya beda dari biasanya?"
"Jelas bedalah, Bun. Kan dua menantu Bunda ikut serta dalam membuatnya." El yang menjawab.
"Benar, Sayang. Ini spesial," timpal Surya yang setuju dengan ucapan El. El terkesiap, tak lama ia tersenyum lebar. Pujian tak langsung sudah membuat hatinya berbunga.
Bella hanya tersenyum. Mereka mulai makan. El lah yang pertama kali memuji masakan Bella, disusul oleh Rahayu dan Surya. Sementara tiga lainnya memuji dalam hati.
"Ah besok-besok adik sama kakak ipar lagi ya yang masak," ucap El.
"Tidak janji, kakak ipar," jawab Bella.
"Yah …." Al mendesah kecewa.
"El jangan begitu dong. Abel kan wanita karier pasti repot harus buat sarapan lagi," ujar Rahayu.
"Benar. Lagipula ada pelayan," timpal Surya. Bella mengedarkan pandang. Terlihat jelas mereka menyukai masakan Bella. Bahkan Brian saja menunjukkan ekspresi sukanya dengan jelas. Silvia melirik Bella penuh harap, begitu juga dengan Ken.
"Ma, Pa, Bella bisa kok setiap hari buat sarapan. Soalnya sewaktu di luar negeri dulu, Bella selalu masak sendiri," ujar Bella.
"Wah benarkan?" El yang kecewa langsung riang.
"Iya."
"Yes!"
"Tapi Abel, apa kamu nggak repot?"cemas Rahayu.
"Nggak, Ma. Abel enjoy-enjoy saja kok."
"Baiklah jika itu keputusanmu." Surya memutuskan.
"Baiklah, karena hatiku senang juga aku sudah berjanji pada kalian berdua, maka pagi ini aku berikan janjiku, tada!"
Beberapa buah lembar tiket nonton El keluarkan. Kecuali para wanita, ketika pria lainnya memutar bola mata malas. El mengambil dua lembar dan diberikan pada Ken dan Bella. Bella segera menerimanya. Ken? Hanya diam menatapnya.
"Ken ayo ambil. Filmnya akan tayang perdana pekan depan," ujar El dengan wajah berharap.
"Ken?"
Ken menghela nafas pelan dan mengambil tiket tersebut setelah ditegur oleh Bella.
"Baiklah, kakak ipar, aku pasti datang," ucap Bella.
"Aku menantinya!"sahut El antusias.
"Untuk Bunda mana, El?"tanya Rahayu.
"Bunda juga mau?" El melirik Surya yang wajahnya datar sedatar tembok China.
"Tentu dong. Kita nonton bareng. Pasti seru."
"Tapi …." El menatap ragu Rahayu. Selama ini, setiap kali ia memberikan tiket nonton pada keluarganya, selalu ditolak dan jikapun diterima tidak pernah hadir. Tapi El yang tidak mudah menyerah tetap saja memberikan tiket nonton untuk keluarganya.
"Mana tiket Papa serahkan saja pada Bundamu. Papa harus segera ke kantor!" Setelah mengecup kening Rahayu, Surya melangkah pergi.
"Aku juga. Tiketku berikan saja pada Via. Aku juga penasaran dengan filmmu!" Setelah mengatakan hal itu, Brian mengikuti langkah Surya. Sementara El tercengang.
"Bun … El nggak salah dengarkan?"
Rahayu tersenyum, "tidak El. Itu benar. Mana tiketnya?"
Dengan gemetar El memberikan dua lembar tiket pada Rahayu. Juga dua tiket pada Silvia.
Ia tersenyum lebar. El sangat senang. Pagi yang bersejarah. Ia tidak peduli bahkan jika ia di ghosting lagi. El menaruh harapan besar pada Bella yang tampak memang benar-benar antusias pada filmnya.