This Is Our Love

This Is Our Love
Hal Yang Dibicarakan



Kini, di sinilah Bella dan Desya berada. Di ruangan yang kental dengan nuansa coklat kayu. Rak-rak buku memenuhi ruangan. Tungku pemanas bekerja meskipun tersedia pemanas elektrik di sana. Lukisan oriental memenuhi dinding ruangan. Lukisan pemimpin Black Rose dari waktu ke waktu juga tergantung rapi di sana, termasuk lukisan Desya. 


Pria itu, tampak begitu tampan. Itu bukan bukan hasil kamera digital, melainkan lukisan tangannya. Posenya, rupanya, begitu mempesona. Auranya juga begitu kuat. Apalagi tatapan tajamnya yang hampir sebanding dengan tatapan singa yang ada di sampingnya. Desya dilukis dalam posisi duduk dengan singa jantan di samping kanannya. 


Tidak mengherankan. Dia adalah mafia. Memelihara hewan buas bukanlah suatu hal aneh. Ya … meskipun begitu ia tetap menyukai hal-hal yang manis, mawar contohnya, juga cinta … yang terkadang tidak selalu manis. Namun, pada dasarnya cinta memangnya sebuah perasaan yang tulus. Tidak selalu tentang membalas dan berakhir bahagia. Meskipun itu kisah yang tragis, seperti kisah cinta yang fenomenal di dunia ini, pasti memiliki sisi manis dan menggambarkan perjuangan yang keras untuk bisa bersatu, walaupun pada akhirnya tidak bersatu. 


Akhir tidak selalu happy ending. Kadang juga sad ending, atau ada yang menggantung. Namun, seperti itulah kehidupan. Tidak semuanya berjalan seperti yang diharapkan. Semua sudah memiliki jalan masing-masing. 


Desya, entah memang ia tidak ditakdirkan untuk Bella atau datang terlambat, semua sama saja. Malam ini, adalah malam terakhir Bella di istana ini. Harapan Bella suatu hari akan menginjakkan kaki di istana ini tetap ada. Setidaknya untuk moment ini. 


Desya dan Bella, keduanya duduk berhadapan dengan teko teh yang menyembulkan uap panas. Itu adalah teh mawar, yang selalu tersedia di ruang kerja Bella. 


Desya, pria itu menatap dalam-dalam wajah Bella. Yang ditatap, diam saja dengan wajah datarnya. Tidak, ia tersenyum tipis. Matanya juga menatap mata Desya. 


Rasanya berbeda. Padahal mereka sering berbicara berdua seperti ini. Desya tidak tahu perbedaannya di mana. Mungkin, berbeda karena ini Bella akan segera pulang, meninggalkan Green Palace yang menjadi tempat persinggahannya selama dua bulan lebih. 


60 hari. Itu terbilang singkat. Namun, itu waktu yang lama. 


"Padahal aku baru berjanji tadi pagi. Dan besok pagi kau akan pergi," ucap Desya, membuka pembicaraan disertai dengan seringai tipis. Ia sedikit meringis. 


Menyesal?


Tidak. Itu adalah keputusannya. 


"Takdir tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan masa depan. Aku senang kau menepati janjimu," balas Bella dengan tersenyum lebar.


Bella kemudian menuangkan teh untuk Desya. "Aku hanya bisa menyajikan teh untuk perpisahan ini. Aku harap kau tidak keberatan," ujar Bella. 


"Itu lebih dari cukup," sahut Desya, segera meraih teh yang baru saja Bella tuangkan dan menegaknya hingga tandas. Bella tersenyum tipis. "Kau sedih?"tanyanya dengan sedikit menaikkan alis. 


"Jika aku katakan tidak, apa kau akan percaya?"balas Desya. Matanya sayu. Raut wajahnya berubah. 


"Jika aku lanjutkan kau akan semakin sentimental. Kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Bella mengubah topik pembicaraan. 


Desya menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ekspresinya berubah datar. Desya meminta teh lagi dan Bella kembali menuangkannya. 


Desya menyesap teh itu dengan perlahan dengan mata lekat pada Bella. Bella sabar menunggu. "Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Kembali membuka pembicaraan. 


"Apa kita akan putus hubungan setelah kau pulang?"tanya Desya. Pertama, ia harus meyakinkan hatinya lebih dulu. Dibalas dengan gelengan Bella. 


"Aku pernah mengatakan kau adalah temanku. Bagiku, sekali teman tetaplah teman," jawab Bella. 


"Pertemanan seperti apa?"tanya Desya, ia mendesak ingin meminta lebih jelas. Bella sudah menduganya.


Memutuskan hubungan dengan Desya? Itu sangat sulit. Lebih-lebih Bella telah banyak mempengaruhi bagian penting dalam Black Rose. Ia berteman baik dengan Evalia. Hubungannya dengan Dimitri dan Aleandra, juga orang-orang di Black Rose ini juga tidak buruk. Dan jangan lupakan, Liev. Ah … Bella harus membahas tentang bocah itu. 


"Pertemanan pada umumnya. Kita bisa saling bertukar kabar, saling mengunjungi, saling membantu, dan yang penting tidak putus hubungan. Silaturahmi itu sangat penting," jawab Bella, menerangkan beberapa detail. 


Kali ini Desya mengangguk puas. "Baiklah. Kita adalah teman!"tandas Desya. 


"Alright." 


"Lalu yang kedua, apa kau sudah menyelesaikan semua urusan sebelum kembali?"tanya Desya, membahas tentang pekerjaan dan posisi Bella. 


Bella mengangguk. Ia sudah menyelesaikannya dari tadi siang dan sebelum isya tadi. Pekerjaannya tidak begitu banyak dan tidak terlalu sulit untuk ia tangani. "Jika ada beberapa hal yang harus aku tanyakan, bisa aku meng hubungimu?"tanya Desya. Agaknya, ia tidak serta merta melepas Bella dari posisi penasehat. 


"Asal aku ada waktu, kau bisa berkonsultasi denganku," jawab Bella. Ke depannya ia akan sangat sibuk. Kehamilan, menanti kelahiran, pasca melahirkan. Dan dia bukan hanya seorang ibu rumah tangga. Ada banyak perusahaan yang berada dalam genggamannya. "Nice!" Bella bisa ia ajak kerja sama dalam hal pekerjaan. 


"Ah … di mana barang-barangku selain pakaian? Sudah seharusnya kau mengembalikannya, kan?"tagih Bella. Banyak data penting di dalamnya.


"Ada di kamarku. Besok akan aku berikan padamu," jawab Desya. Bella tampak tidak puas. "Kau tega melihatku bolak-balik dari sini ke kamarku dengan cuaca seperti itu?" Wajahnya dan nadanya sih datar. Tapi, tatapannya itu memelas, merengek pada Bella. 


Bella mendengus, sebelum tertawa. "Baiklah. Baiklah. Ada lagi? Aku juga ada yang ingin aku bahas," ujar Bella, tentu saja membahas akan Liev. 


"Maaf?" Kata yang dikenal anti di mulut pimpinan Black Rose itu Bella dengar? 


"Benar. Maaf." Desya mengangkat pandangannya. "Maaf untuk semua hal buruk yang aku lakukan padamu. Aku akui aku bersalah. Namun, aku tidak pernah menyesal."


"Ah?" Pengakuan itu membuat Bella butuh waktu untuk mencernanya. Dia meminta maaf? Namun, tidak pernah menyesal?


Pria itu, dia tidak menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf. Bahkan, ia tampak begitu gentleman. Bella mengusap wajahnya kasar. "Sejujurnya aku tidak mengharapkan kata maaf itu." Bella menganggapnya sebuah takdir. Dengan itu, ia bisa melihat sisi lain dunia dan kehidupan. Begitu juga dengan Desya. Ia mulai menemukan sinar yang sesuai dengan namanya, kebahagian. 


"Dan aku memaafkanmu. Aku juga ingin berterima kasih atas segalanya," ujar Bella. 


"Kau tidak minta maaf karena menendangku?" Pria itu tersenyum menggoda. Bella meringis mengingat. "Itukan salahmu sendiri!"


"Dasar kau!" Desya meruntuk. But, dia tersenyum. 


"Kalau sudah selesai, aku akan membahas sesuatu denganmu." Desya mengangguk. "Bagaimana dengan Liev?"tanya Bella. 


"Aku jujur agak mencemaskannya jika aku pergi tiba-tiba besok. Entahlah, meskipun dia anakmu, aku tetap merasa tidak tega. Dia telah kehilangan ibunya. Evalia, aku tahu dia bisa diandalkan. Tapi, dia juga mulai sibuk dengan butik dan dia juga sedang hamil. Ayah dan ibumu, mereka juga akan pulang ke rumah pensiun mereka. Pengasuh dan dirawat olehmu? Aku takut dia kehilangan masa golden agenya. Aku tahu dia sudah tahu posisi dan kondisinya. Namun, bukan berarti masa kecilnya harus monoton dan suram, bukan?"tutur Bella panjang lebar. 


Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu. Sebagai ibu asuh Liev, Bella tahu hubungan dan watak anak itu. Bukan sombong, Liev memang amat dekat dengannya. "Kau benar. Aku terlalu sibuk untuk mengurus anak itu." Desya menyadarinya. Terlebih akan ada perombakan besar di Black Rose. 


"Aku juga sempat berpikir mengenai hal ini. Aku sempat memikirkan Liev aku titipkan padamu untuk beberapa tahun." Bella tersentak mendengar itu. Mengapa bisa sama? Ya, Bella juga berpikir demikian. "Tapi, mengapa kau akan menitipkannya padaku?"tanya Bella. Ingin tahu dari sudut pandang Desya. 


"Ada beberapa hal yang menjadi alasannya. Yang pertama adalah karena Liev dekat denganmu. Yang kedua adalah aku khawatir ada situasi sulit di Black Rose untuk ke depannya. Sebut saja kerusuhan misalnya karena perombakan yang akan aku lakukan." Bella manggut-manggut mendengarnya. Itu kemungkinan yang tidak bisa diabaikan. 


"Kemudian karena kekhawatiranmu tadi. Kehilangan golden age. Aku tidak ingin itu terjadi dan kau adalah tempat yang cocok untuknya. Bukan hanya karena Liev dekat denganmu namun juga karena kualifikasimu. Kau seorang yang mumpuni. Kau memiliki pengetahuan yang luas. Terlebih kau bisa bela diri, memanah, menembak, berenang, dan berkuda, itu adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh Liev. Kau juga memiliki pengetahuan yang luas dalam bisnis. Kau bisa mengajarinya ekonomi dasar, juga hubungan sosial. Itu yang akan sulit ia dapat. Anggap saja, dia tengah belajar padamu. Namun, keputusannya ada di tanganmu. Aku menerima apapun keputusanmu, baik iya ataupun tidak."


Bagaimana mungkin Bella tidak menerimanya? Setidaknya mempertimbangkannya. Penjelasan Desya begitu panjang dan runtut. "Ah … ditambah lagi dengan keluargamu," tambah Desya. 


"Begini, aku harus meminta persetujuan Ken. Ya, Liev akan jadi anak angkatku. Dan Ken adalah suamiku. Kau tidak keberatan kan menunggu jawabannya besok?"


"Ya!" Sudah Desya duga. "Hari semakin malam. Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, apa aku boleh undur diri?"tanya Bella. Gorden jendela sedikit tersingkap. Dan memperlihatkan malam yang semakin larut. 


Desya mengangguk singkat. Bella segera berdiri. Namun, belum ia melangkah, Desya memanggil dirinya. "Boleh aku minta satu hal?"tanya Desya.


"Apa itu?" Sedikit cemas dengan permintaan Desya. 


"Sebentar saja, boleh aku memelukmu?" 


Bella terkesiap. Desya juga bukan tidak pernah memeluknya. Akan tetapi, kali ini dengan meminta izin. "Pelukan teman." 


Wajah Desya begitu memelas. Bella menghela nafasnya. "Hanya pelukan." Desya segera bangkit. Dipeluknya wanita yang mengubah dirinya itu meskipun mereka tidak bersatu. 


"Maaf dan terima kasih," bisik Desya. Bella belum membalas pelukan itu. Rasanya erat, hangat namun tidak menyakiti dirinya. Bella memejamkan matanya, membalas pelukan itu. "Hiduplah dengan baik, sesuai dengan namamu," ujar Bella. 


Desya melepas pelukannya. Dipegangnya pundak Bella. "Kau juga. Tetaplah seperti Bella yang aku kenal."


"Kalau begitu aku permisi," ujar Bella, melangkah keluar meninggalkan Desya yang menatap punggungnya. 


"Ken?" Jika hanya menemukan Irene, Bella tidak terkejut. Namun, Ken? Suaminya itu mengikuti dan menunggunya di depan sedari tadi?


"Kalian bicara apa saja?" Ken tidak mendengar apapun. Ruangan itu kedap suara. 


"Hanya beberapa hal. Ayo kembali ke kamar. Aku akan memberitahumu," ajak Bella dengan menggenggam jemari Ken. 


"Ah, baiklah." 


"Irene, kami duluan." Irene mengangguk. Ia menatap Bella dan Ken yang menjauh dengan bergandengan tangan.


Rasanya aku senang melihat senyum dan tawa Nona. Namun, aku juga sedih melihat Tuan. Semoga Tuan dapat benar-benar melepaskan Nona Bella, harap Irene. Ia menginginkan yang terbaik.