
"Anjani, Will you marry me?"tanya El dengan penuh kesungguhan. Namun, jantungnya berdebar kencang dan ia berkeringat dingin.
Anjani membeku. Tampaknya terlalu terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba El. Sungguh ia tidak menduga El akan melamarnya.
Anjani masih ada rasa trauma dengan yang namanya pernikahan. Kekerasan yang pernah ia terima dan kegagalan rumah tangannya menjadi suatu ketakutan sendiri di hati Anjani jika menyinggung soal pernikahan.
Walaupun ia sudah kenal dekat dengan El, tidak sedekat itu. Terlebih sekarang ia adalah seorang wanita karier. Apa El tidak masalah jika ia tetap memimpin perusahaan?
"Apa lagi yang kau tunggu, Jani?"tanya Bella dengan menepuk pundak Anjani.
Anjani tersentak pelan dan menatap Bella. Matanya seakan meminta persetujuan dari sahabat terbaiknya itu. Melihat ada keraguan di mata Anjani, El merasa lamarannya akan ditolak. Mengapa? Anjani belum juga menjawab. Wajahnya menunjukkan keraguan.
"Apa yang kau ragukan, Jani?"tanya Bella dengan berbisik.
"Abel, aku takut," balas Anjani dengan berbisik pula. Bella mengangguk seakan mengerti apa yang Anjani ragukan.
"Kami bicara sebentar," ucap Bella langsung menarik tangan Anjani menjauh. El masih berlutut. Ia masih menanti.
Ken menunduk dan menepuk bahu El. "Kak Jani pernah mengalami kegagalan rumah tangga. Dan lamaran kakak ini terlalu mendadak," ujar Ken, agar El tidak berkecil hati.
"Sekali coba dan gagal langsung menyerah, kau bukan pria!" Kalimat sarkas yang bermakna sebuah dorongan.
El mengangkat kepalanya, menatap kakak dan adiknya yang memberi semangat.
"Anjani hanya butuh waktu, El. Cobalah mengerti dari sisinya juga," imbuh Silvia.
Sedangkan Dylan dan Calia yang tidak mengetahui kisah antara Anjani dan El hanya diam menyaksikan.
"Kau terbayang akan pernikahanmu dulu, Jani?"tanya Bella langsung. Anjani mengangguk pelan.
"Aku takut, Bel. Apalagi aku punya anak bawaan dari pernikahan sebelumnya. Aku takut El akan berubah nantinya. Ada keraguan di hatiku walaupun Arka sudah menerimanya," jelas Anjani. Ya hati terkadang sulit untuk dimengerti.
"Ada aku, jangan takut. Ikuti kata hatimu yang terdalam. El yakin denganmu, bagaimana dengan dirimu? Arka juga sudah menerimanya. El bukan tipikal yang manis di awal. Pria itu apa adanya. Jika kau tidak bisa melawan keraguan dan ketakutanmu, maka asmaramu ke depannya tidak akan berjalan dengan lancar. Jani, hubungan dimulai dari sebuah keyakinan. Jika kau tidak yakin dengan dirimu sendiri, mengapa dulu kau membuka hatimu untuknya? Jangan buat hubungan yang kalian bina berakhir dengan kekecewaan di antara kalian berdua," nasihat Bella panjang lebar.
Anjani termenung. Ingatannya melayang ke saat pertama ia bertemu dengan El. Pria dengan penampilan nyentrik yang begitu percaya diri dan humble. Terkadang seenaknya sendiri. Kelakuannya juga luar biasa ditambah dengan skandal buruk di luaran sana malah membuat Anjani terpaut dengannya. Terlebih kepandaian El membuka hatinya untuk cinta yang lain.
Dengannya, Anjani merasa nyaman.
Dengannya, Anjani bisa melihat Arka mendapatkan sosok ayah yang baik.
Keluarga ini juga telah menerimanya?
Ada Bella juga yang akan satu atap dengannya. Mengenai karier, Bella dan Silvia juga wanita karier.
Apa yang harus ia takutkan?
Ketakutannya muncul karena lamaran El mendadak. Terlalu tiba-tiba. Tidak menduga akan secepat ini.
"Aku mengerti, Abel." Anjani mengangguk.
"Good!"balas Bella. Keduanya kembali.
Anjani kembali berdiri di hadapan El. El kembali menyodorkan tangkai bunga mawar yang sempat ia turunkan karena pegal.
"I-ini kau serius, El?"tanya Anjani dengan nada bergetar. Ia ingin memastikan, apakah El bersedia menanti jawabannya.
Nyatanya El masih duduk dan sorot matanya kini menunjukkan keyakinan dan semangat yang tinggi. Bella menduga Ken dan Brian turut menyemangati El.
"Aku serius, Jani. Kau tidak menerima lamaranku?"tanya El, "jika tidak siap, aku akan menunggumu sampai siap. Mungkin ini juga salahku karena terlalu mendadak hingga mengejutkanmu," imbuh El dengan berbesar hati.
Anjani langsung menggeleng keras menyangkalnya.
"Aku memang sangat terkejut. Tapi, keberanian dan keseriusanmu membuat aku yakin, El," sergah Anjani langsung.
"Artinya?" Kecuali El dan Arka yang belum mengerti, yang lain mengembangkan senyum setelah tegang menunggu jawaban Anjani.
"Yes, i will marry with you, El!"tegas Anjani menerima bunga mawar itu.
Mata El langsung membola. Sejurus kemudian, ia berdiri dan langsung memeluk Anjani erat, bahkan berputar beberapa kali. Rasanya sangat melegakan. Tawa El lepas dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat djemat sekaligus terharu. Yap, keberanian sangat menentukkan.
"Autny, artinya jadi apa ya? Mama kok dipeluk sama Uncle El dan mereka sangat senang tapi kok matanya sedih gitu?"
Arka yang mengamati namun belum mengerti bertanya pada Bella. Bella berjongkok, mengusap rambut Arka.
"Aka Sayang, Uncle El akan jadi Papa Aka. Dan nantinya Aka akan tinggal sama Aunty, bagiamana? Aka senang, bukan?"
"Sungguh, Aunty?"
El yang memberikan rasa nyaman dan sudah mendapat tempat di hati Arka, membuat Arka tidak menunjukkan penolakan setelah mendengarnya. Lagipula ia sering mengatakan pada Anjani, ingin El jadi Papanya.
"Kapan Aunty bohong sama Aka, hm?"balas Bella dengan mencubit ujung hidung Arka. Arka menggeleng menjawab tidak pernah.
"Terima kasih, Jani," ucap El dengan perasaan bahagia yang tidak terlukiskan.
"Sudah seharusnya, El," jawab Anjani.
El tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya pada Anjani, berniat mencium dahi Anjani. Namun, sebelum itu terealisasikan, kaos belakang El ditarik oleh Brian.
"Cukup peluk, belum ada cium-cium!"
"Hah?"
"Sudah belajar di pesantren nggak paham juga masa'?"sindir Ken dengan merangkul lalu mencium pipi Bella.
"Hei?!"protes Bella.
"Eh-eh, darimana bocah ini menyambung? Perasaaan nggak ada menyinggung kau, Lan!"cibir Ken.
Dylan mendelik kesal. Anjani, Silvia, dan Calia tertawa. El sendiri tersenyum canggung.
"Gandengan tangan saja, kita foto dulu," ucap Calia, yang mengerti maksud Brian dan Ken.
Semua mengangguk. "Aka, ayo sini," panggil El pada Arka agar bocah itu mendekat padanya. Arka mengangguk.
Begitu dekat, El langsung membungkuk dan menggendong Arka. Satu tangan menggendong Arka, satu tangan lagi merangkul Anjani.
"One, two, three, chess."
*
*
*
"Apa?!"teriak Rahayu kaget menerima saat melihat instagram story Bella, Ken, Brian, Anjani yang sama semua dengan mengetag nama instagram Anjani dan El.
"Ada apa, Sayang?"tanya Surya yang ikut kaget mendengar teriakan Rahayu.
"Ini apa, Mas?"tanya Rahayu menunjukkan story instagram Bella. "Baca captionnya," ucap Rahayu.
"Congratulations, @Anjani @Elvano_M. Langgeng sampai akhir, okay!"
"El sudah pulang?"tanya Surya pada istrinya. Rahayu menggeleng tidak tahu.
"Aku telpon ya, Mas."
Surya mengangguk. Rahayu memanggil Bella dengan video call. Tak lama berselang, video call itu langsung dijawab oleh Bella. Terlihat dari latar belakangnya, Bella terlihat sedang berada di taman.
"Assalamualaikum, Ma. Mama sudah lihat story ig Abel, ya?"
"Waalaikumsalam, Bel. Iya. Itu sebenarnya apa yang terjadi? Kok kalian kumpul semua gitu? Terus apa yang selamat dari Anjani dan El? El pulang atau bagaimana?"tanya Rahayu beruntun yang membuat Bella tersenyum.
"Ini Abel mau ngasih tahu, Ma. El sudah pulang. Dia sudah dinyatakan lulus oleh Umi Hani," ujar Bella.
"Tapi, kan belum enam bulan? Bagaimana ceritanya?"tanya Surya yang jujur tidak belum menerima kabar kalau El sudah pulang ke rumah.
"Menurut Umi Hani, Kak El sudah cukup baik, Ma, Pa. Dan kami pun kaget saat tadi pagi El tiba-tiba pulang. Dia tidak memberi kabar juga pada kami," terang Bella.
"Begitu rupanya. Lalu itu tadi, apa?"
"Kabar gembira, Ma, Pa! El sudah melamar Jani dan sukses, bentar lagi Mama sama Papa bakalan pesta lagi."
"Sungguh?"
Rahayu tercengang dan sangat bahagia mendengarnya. Sedangkan Surya yang mengecek story instagram anak dan menantunya mengeryit, "ini dadakan atau bagaimana, Bel?"tanya Surya.
"Tepat sekali!"
"Astaga! Anak itu memang luar biasa! Pulang-pulang malah ngelamar anak orang! Untung diterima!"ucap Surya dengan mengelus dada.
Cukup bangga dengan pencapaian dan keberanian El selama beberapa bulan ini. Semoga seterusnya semakin berkembang dan terus menjadi lebih baik lagi.
"Lalu mana mereka, Bel? Kau sendirian?"
"Hehehe, iya Ma. Abel sendirian di taman. Ken lagi ke dapur, Mas Brian sama Silvia lagi belanja, katanya mau barbequenya malam ini merayakan kelulusan El dan suksesnya lamaran mendadak tadi. Kalau Calia, Dylan, sama Aka lagi menyusun tempat untuk nanti malam. Dan bintang malam ini lagi berdua di dekat kolam ikan mas koki, lagi bicara dari hati ke hati," papar Bella satu persatu.
"Ahh Mama ingin pulang," desah Rahayu.
Ingin bergabung dan ikut merayakan dengan anak dan menantunya.
"Bisa dirayakan ulang di pesta pernikahan Louis dan Teresa nanti, Ma. Lagipula ini belum resminya. Mama lihat sendiri saja fotonya."
"Ya sudah. Mama sangat bahagia mendengarnya," ucap Rahayu.
Suasananya saja di lapangan olahraga. Lokasinya memang tidak dapat tapi kesannya sungguh mendalam.
"Kalau mau ngobrol sama El dan Anjani, Mama hubungi saja mereka," saran Bella.
"Baiklah. Mama kira tadi kalian masih berkumpul."
Bella tersenyum. Dan panggilan berakhir setelah saling mengucapkan dan menjawab salam.
Rahayu tersenyum lebar rumah akan semakin ramai jika El sudah menikah dengan Anjani. Dan Anjani dan Arka akan tinggal kediaman Mahendra.
Kebetulan urusan Surya di Paris dipercepat hanya selama dua bulan artinya bulan Januari nanti mereka sudah bisa pulang ke Indonesia tanpa harus kembali lagi ke Paris.
Paris dalam waktu yang cukup lama. Dan rahayu sangat bersyukur karena ketiga anaknya adalah laki-laki. Jadi, walaupun sudah menikah tidak harus meninggalkan rumah.
"Mas mau keluar sebentar," pamit Surya.
"Loh mau kemana, Mas? Aku kan mau menghubungi El. Mas memangnya nggak mau bicara dengan El?"tanya heran Rahayu karena ia tahu sebenarnya Surya sangat merindukan El, namun menutupinya.
"Nanti saja mas bicaranya," ucap Surya dengan mengecup dahi Rahayu.
"Nanti kalau El tanya tentang Mas, bilang saja Mas lagi meeting," pesan Surya.
Rahayu jelas merasa bingung. Apa yang suaminya itu pikirkan? Dan Rahayu hanya bisa mengangguk karena Surya sudah siap untuk keluar. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas. Hati-hati!"