
Di samping El ada Ken. Tuan Muda Ketiga Mahendra itu tentu saja tengah menunggu kedatangan sang istri yang pamitnya keluar ada urusan yang sampai saat ini belum kembali. Sudah hampir dua jam Ken berpisah dengan Bella. Namun, rindu dan rasa khawatir semakin bertambah seiring lamanya waktu.
El tidak menganggu adiknya itu karena ia fokus menjaga Anjani lepas tatapannya. E dan Ken, dua Tuan Muda itu bukannya tidak menjadi pusat perhatian. Wajah Asia mereka yang khas, membuat banyak kaum hawa melirik keduanya. Sayangnya, mereka hati dan raga keduanya sudah ada pemiliknya. El dan Ken bahkan tidak menggubris setiap tatapan terpesona yang ditujukan untuk mereka.
Ken kembali melihat jam tangannya. Sebentar lagi waktunya magrib. Ken mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Bella.
El juga mengambil ponselnya dengan tersenyum. El tengah merencanakan sesuatu.
Ken mengeryit tipis melihat El yang tersenyum sembari menelpon. "Kemari sebentar," ucap El kemudian mengakhiri panggilan.
Tak lama berselang, Dylan datang ke tempat duduk keduanya. Rupanya El menelpon Dylan. "Ada apa, Kak?"tanya Dylan penasaran.
"Temani Kakak keluar sebentar," ucap El, lalu berdiri.
"Ke mana?" Sudah hampir magrib, mau ke mana? Itulah yang ada dalam benak Dylan.
"Sudah temani saja aku. Nanti kau juga tahu," jawab El dengan merangkul Dylan.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh, Kak!"peringat Ken. Mana tahu saja El keluar untuk melakukan sesuatu yang aneh. El mengangguk, "aku tahu."
"Kak kalau Bunda …."
"Nanti aku katakan kalian keluar sebentar makan angin," sela Ken yang sudah tahu maksud Dylan.
"Kembung dong makan angin," lakar El.
"Angin mana bisa dimakan, Kak!"timpal Dylan.
"Ck!" Ken berdecak. "Sudah sana, dan cepat kembali, nanti Kak Jani digandeng bule," ucap Ken. El membelalakan matanya. "Assalamualaikum," pamitnya dengan merangkul Dylan meninggalkan acara resepsi.
"Waalaikumsalam," jawab Ken kemudian mendengus senyum.
Setelah El dan Dylan pergi, Ken kembali melihat ponselnya. Belum terbaca apalagi dibalas. Urusan Aru sangat penting, itulah batinnya.
Mungkin setelah magrib baru akan datang, gumam Ken dalam hati. Ia lalu menyimpan ponselnya dan mengedarkan pandang dengan wajah datarnya. Banyak yang melempar senyum padanya, dan ada yang hendak menghampirinya untuk mengajak minum, hanya saja tatapan Ken yang berubah tajam menghentikan langkah itu.
Pandangan Ken kini tertuju pada Louis dan Teresa yang sangat serasi bersanding di pelaminan. Duduk menikmati suasana resepsi mereka yang hanya akan digelar sampai pukul 20.00.
Kue pernikahan juga belum dipotong. Kue itu ada tiga lapis dengan foto pernikahan keduanya di lapisan kue paling atas. Creamnya berwarna putih dengan hiasan berbentuk mawar berwarna biru. Dari yang Ken dengar, kue itu belum dipotong karena Bella belum datang. Ya, Bella memang punya kedudukan di dalam keluarga Kalendra.
"Mana El, Ken?" Anjani sudah selesai dengan bisnisnya dan sekarang merasa lelah. Ia duduk dan melambaikan tangannya pada pelayan untuk meminta segelas jus.
"Keluar sama Dylan, Kak," jawab Ken.
"Ke mana? Sudah mau maghrib begini," heran Anjani. Apalagi yang mau El lakukan bersama dengan Dylan? Pertanyaan yang sama seperti yang ada dalam benak Ken tadi.
"Nggak ada bilang. Pamitnya keluar sebentar." Anjani mengangguk kecil kemudian minum. Setengah gelas jus telah ia habiskan. Anjani menghela nafas pelan.
"Abel juga belum datang? Ke mana sebenarnya istrimu itu?"
Sebelum Ken menjawab, Bella telah tiba bersama dengan Calia." Assalamualaikum," sapa Bella sembari mencium punggung tangan Ken.
"Waalaikumsalam," jawab Ken dan Anjani hampir bersamaan.
"Alasan pentingnya kau menjemput Calia, Aru?"tanya Ken memastikan.
"Dia ini anak emas. Butuh izin dan penanggung jawab untuk bisa membawanya keluar undangan," jawab Bella. Calia yang sedikit banyaknya sudah mengerti bahasa Indonesia tersenyum simpul.
"Seemas itu? Kemarin waktu ke Indonesia tidak seperti ini? Ini undangan di kota sendiri dan kalian juga kenal dekat dengan keluarga Kalendra butuh izin dan penanggung jawab agar bisa keluar? Apa kau sedang di kurung, Calia?" Ken berkata dengan sedikit menyindir.
"Lebih tepatnya aku mengurung diriku sendiri," sahut Calia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Anjani.
"Nanti kalian akan tahu. Sekarang ayo kita gabung dulu dengan yang lain. Eh iya, El dan Dylan mana?" Bella bertanya karena biasanya El ada di dekat Anjani dan di antara Surya dan Rahayu, ataupun Brian dengan Silvia tidak ada Dylan.
Pertanyaan yang sama lagi. Ken berdiri dan langsung menggandeng tangan Bella. "Mereka berdua keluar entah kemana," jawab Ken. Mendengar itu, Bella tidak lagi bertanya. Keempatnya lalu bergabung dengan yang lain.
Max, Rose, Leo, dan Helena juga ikut bergabung. Sementara Arka dan Key tidak ada di antara tamu undangan karena mereka berdua tengah tidur di kamar hotel. Resepsi memang diadakan sebuah ballroom hotel ternama kota Berlin yang berada dj bawah naungan Kalendra Group.
"Abel, kau dari mana saja?"tanya Rose dengan memegang lengan Bella.
"Menjemput Calia, Mom," jawab Bella. Pandangan Rose terarah pada Calia yang tersenyum ramah.
"Calia? Wow kau cantik sekali!"puji Rose langsung.
"Terima kasih, Aunty," balas Rose.
"Mengapa harus dijemput? Kau jadi manja pada Abel ya, Calia." Max melayangkan godaan yang membuat Calia canggung. Ia tersenyum sembari memegang lehernya.
"Sekalian berkunjung, Dad."
"Ah Daddy lupa kau dekat juga dengan orang tua Calia." Max tertawa pelan.
Dan bertambah satu informasi tentang Bella bagi keluarga Mahendra. Di sini, Bella benar-benar punya kedudukan dan relasi. Keluarga Kalendra, Keluarga Arshen, Keluarga Teresa yang berkecimpung di dunia pendidikan, dan seorang profesor. Itu baru yang diketahui oleh mereka. Belum yang tidak mereka ketahui.
"Orang tuamu akan datang juga kan, Calia?"tanya Rose.
Calia mengangguk. "Mereka akan menyusul nanti, Aunty."
"Louis dan Resa menunggumu, Abel," jelas Helena.
"Sungguh? Mengapa harus menungguku? Ini acara mereka berdua, hari mereka berdua, mengapa menungguku?" Bella merasa tidak enak. Pasti sudah banyak yang menantikan kue pernikahan itu dipotong.
"Kau ini, mengapa merasa heran begitu?" Bella menghela nafas pelan mendengar pertanyaan Leo.
"Aku akan meminta mereka untuk memotongnya," ucap Bella, melangkah menghampiri Louis dan Teresa. Yang lain menunggu di tempat. Mereka melihat Bella dan Teresa berpelukan. Dengan Louis hanya berjabat tangan. Dan tak lama kemudian Louis dan Teresa beranjak. Bella menghampiri MC untuk mengumumkan sesi pemotongan kue pernikahan.
Begitu diumumkan, semua perhatian langsung tertuju pada Louis dan Teresa. Keluarga Kalendra juga mengambil tempat tak jauh dari mempelai. Begitu juga dengan keluarga Mahendra yang mengambil posisi di samping keluarga Kalendra. Ibu Teresa dan Timotius juga berada di antara keduanya.
Selain pada Louis dan Teresa, Bella yang baru menampakkan batang hidungnya juga menjadi sorotan. Akhirnya bagi yang sudah tahu Bella telah menikah, tahu dari instagram story Bella, dapat melihat langsung pasangan Bella dan kebersamaan mereka. Walaupun ada perbedaan umur, keduanya sangat-sangat serasi, apalagi dengan style pakaian yang sama, itu pakaian couple.
"Tidak perlu menunggu El dan Dylan?"tanya Max.
"Mereka keluar, tidak tahu kapan kembali. Lebih baik segera dipotong dan simpan bagian untuk mereka," jawab Bella. Max mengangguk.
Louis dan Teresa mulai memotong kue pernikahan mereka dengan sama-sama memotongnya menggunakan pisau yang mirip dengan pedang panjang. Kue itu terpotong dan bagian pertama atau suapan pertama menjadi milik Teresa lalu Louis. Setelahnya kedua mempelai itu memberikan potongan kue kepada keluarga mereka.
Setelah itu, Teresa berdiri di hadapan Bella. "Untukmu," ucap Teresa. Bella tersenyum dan menbuka mulutnya.
"Untukmu juga, happy wedding," ucap Bella, balas menyuapi Teresa.
"Aku?"
"Tentu saja, Lia." Keduanya juga sahabat.
"Selamat menempuh hidup baru, Resa. Selamat menyandang status Nyonya Louis." Teresa tersipu mendengar godaan Calia.
"Terima kasih."
Tatapan Louis pada Bella pun sudah tidak biasanya yang menyimpan perasaan cinta. Tatapan itu sudah memudar walaupun tidak mengurangi kelembutannya pada Bella. Mereka tetap akrab dalam konteks teman, sahabat dan sepupu.
Tak lama kemudian, ponsel Bella dan Ken sama-sama berdering. Sudah waktunya magrib. Segera keluarga Mahendra meninggalkan ballroom menuju sebuah ruangan yang luas, bersih, dan sudah terdapat sajadah. Bella yang sudah hafal seluk beluknya tentu tidak kesulitan menemukan ruangan itu.
***
Sekitar pukul 07.00, ponsel Bella berdering. Saat ini Bella dan yang lainnya tengah makan malam, pengantin baru itu juga ikut bergabung. "Ya, Assalamualaikum, Nizam."
"Okay. Tunggu aku di lobby saja," ucap Bella.
"Waalaikumsalam."
"Ken, semuanya, Abel keluar sebentar ya, jemput Nizam, Umi Hani sama Evan," ucap Bella.
Setelah itu, Bella langsung meninggalkan tempat. Sementara Calia terdiam, wajah gugupnya kembali dan itu menjadi sebuah pertanyaan. "Kau kenapa, Calia?"tanya Rahayu khawatir.
"T-tidak papa, Aunty Ayu." Namun Calia masih gugup. Dan terkaget saat ponselnya berdering. Dari Tuan Arshen.
"I-iya, Pa."
"Papa tunggu di mobil saja dulu, Lia akan segera ke sana." Dan setelahnya Calia pamit. Ken dan lainnya saling tatap. El dan Dylan juga belum kembali, entah kemana kedua orang itu. Saat ditelpon oleh Rahayu menanyakan keberadaan, Dylan menjawab sebentar lagi mereka akan pulang.
Di lobby, Calia mendapati Bella tengah berbicara dengan Umi Hani, Nizam, dan Evan. Seperti orang yang ingin kabur atau menghindar, Calia dengan hati-hati dan cepat melewati keduanya tanpa disadari oleh keduanya. Dan jika pun disadari oleh Bella, Bella akan membantu Calia. Calia menghela nafas saat ia berada di luar lobby.
Segera dihampirinya mobil Tuan dan Nyonya Arshen.
Di dalam, Bella mengajak Evan untuk berbicara empat mata. Umi Hani dan Nizam menatap bahu kedua orang itu dengan tatapan penasaran.
"Aku sudah membuka lebar jalan untukmu," ucap Bella pada Evan.
"Jalan apa?" Evan bertanya dengan raut wajah bingung.
"Tentu saja jalan untukmu mengungkapkan rasa pada Calia."
"Hah? Apa maksudmu Bella?" Evan tampak terkesiap dan mengeryit mendengar apa yang Bella katakan.
"Jangan pura-pura bingung begitu! Aku tahu kau menyukai Calia namun tidak berani mengungkapkannya. Dan apa kau tahu kalau Calia itu akan dijodohkan," ucap Bella.
"APA?!" Even terkejut dan membeku beberapa saat. Bella tersenyum lebar mendengar keterkejutan Evan.
"Tapi, karena ini aku bisa membuka jalan untukmu dan Calia. Aku juga sudah memberitahu Calia dan orang tuanya. Dan mereka sudah datang. Kau siap bukan untuk bertemu dengan orang tuanya dan melamarnya? Aku sudah membuka jalanmu dan aku tidak ingin kau mengecewakanku dan Calia. Apa kau mau Calia bersama dengan yang lain?" Evan terdiam mendengar penuturan Bella. Ia sepertinya tengah menimbang.
"Dia sudah tahu?"
"Aku hanya menyakinkannya bahwa kau akan setuju. Ya mungkin kau seperti seorang pengganti namun aku percaya kau akan jadi satu-satunya." Bella memberitahu kemungkinannya.
"Kau profesor. Dan sudah sudah nengharapkannya. Bagaimana? Kau setuju bukan?" Evan belum menjawab. Ia sepertinya tengah memikirkan keputusan apa yang ia ambil.
"Jangan sampai kau menyesal." Bella menepuk punggung Evan.
"Aku mengerti." Evan menjawab dengan mantap.
Bella tersenyum. "Kalau begitu ayo kira ke ballroom. Kau dan Calia akan bertemu di sana," ucap Bella.
"Ya." Evan lalu mengajak Umi Hani dan Nizam untuk ke ballroom resepsi. Bella masih di lobby. Menunggu Calia. Tak lama Calia masuk bersama dengan kedua orang tuanya. "Ayo, Evan sudah datang dan menunggu di ballroom," ucap Bella pada Tuan dan Nyonya Arshen.
Keempatnya masuk ke dalam lift. Umi Hani, Nizam dan Evan sudah datang. Begitu juga dengan Tuan dan Nyonya Shane. Lantas bagaimana dengan El dan Dylan? Apa yang sebenarnya mereka lakukan?