
Di sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan, Azzura duduk di sebuah kanvas dengan tangan bergerak, menarikan kuas membentuk sebuah lukisan. Wajahnya sungguh serius. Melukiskan setiap detail dan komposisi warna pada lukisan.
Ruangan ini adalah ruangan pribadi Azzura yang spesial digunakan untuk melukis dan kegiatan lainnya yang meninggalkan title keterbelakangan mentalnya. Selain lukisan, ada meja yang di atasnya terdapat komputer, laptop, dan pendukung lainnya yang biasa ia gunakan untuk bekerja.
Anggara memang tinggal di kediaman Adhitama. Setiap Anggara keluar dari kediaman di situlah Azzura menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
Sudah sejak 10 hari sejak pertemuan pertamanya dengan Bella. Dalam benaknya ingin cepat mengakhiri sandiwaranya selama ini.
Hanya saja, Azzura masih bingung dan memikirkan bagaimana caranya. Teringat olehnya, Bella mengatakan carilah dirinya jika butuh bantuan.
Azzura ingin mengimbangi rasa sedih bahkan menekannya dengan sesuatu yang menggembirakan. Ia ingin Anggara segera lepas dari kesedihan ditinggalkan oleh Clara dan Cia.
Walau Anggara tidak mengatakan ia sedih, tidak menunjukkan kerapuhan di depannya ataupun Tuan dan Nyonya Adhitama, sejak kabar itu turun, Azzura sering mendengar Anggara menangis di tengah malam.
Tak lama kemudian, gerakan tangan Azzura berhenti. Ia menatap lukisannya, kemudian menghela nafas pelan. Kanvas putih yang tadinya putih bersih kini sudah berubah menjadi sebuah kanvas dengan lukisan pesawat yang terbang di antara gugusan awan.
Lukisan itu detail, dilukis dengan sepenuh hati sebagai cara Azzura menunjukkan bahwa ia turut sangat berduka cita akan kepergian ibu mertua dan kakak iparnya.
Azzura kembali menatap dalam lukisannya. Ia seperti tengah menerawang lukisan yang ia buat nyata, ya memang nyata yang sekarang tinggal menjadi sejarah.
Pesawat itu mengudara terbang tinggi dengan tempat pendaratan yang ditakdirkan oleh Tuhan.
Walau sempat kesal dan geram dengan Clara dan Cia karena telah berbohong padanya dan mamanya. Tapi, itu sudah berlalu. Ia memaklumi hal tersebut.
Namun, siapa sangka saat perselisihan itu selesai, mereka langsung dipisahkan oleh jarak yang tidak bisa digapai kecuali sampai menunggu takdir mempertemukan mereka lagi.
Hahhh ....
Azzura kembali menghela nafas. Meletakkan pallet lukisnya kemudian berdiri mendekati jendela ruangan. Disibaknya sedikit kain jendela, melihat bulan purnama yang bersinar terang di singgasananya.
Azzura sendirian di rumah bersama dengan para pelayan. Sedangkan suami dan orang tuanya menghadiri acara pelepasan lentera dan menabur bunga di pantai.
Azzura memang tidak ikut. Sebenarnya Azzura ingin ikut dalam acara itu. Hanya saja ia merasa kurang nyaman dengan kondisinya. Acara dilakukan pada malam hari, di bibir pantai dengan banyak orang.
Tenang saja. Aku akan menjaga Angga dengan sangat baik, batin Azzura dengan kembali memejamkan matanya. Ia sedang meramalkan doa untuk ketenangan Clara dan Cia.
*
*
*
Keesokan paginya, Surya dan Rahayu kembali ke Paris. Urusan mereka berdua di Paris tertunda cukup lama, 10 hari. Itu waktu yang sangat lama dan sangat banyak yang tertinggal.
Jadwal yang semula ditata rapi oleh Frans, sekretaris Surya yang tetap berada di Paris harus dirombak. Belum lagi ia harus menerima telepon dari setiap relasi yang telah menjadwalkan pertemuan sebelumnya.
Sedangkan Surya tidak ingin diganggu, alhasil ia merasa cukup pusing sendiri menghadapi beberapa komplain. Namun, Frans juga bukan tidak punya kemampuan.
Jika tidak, bagaimana bisa ia menjadi sekretaris salah seorang Taipan di Asia?
Hanya saja, memang pertemuan-pertemuan itu tidak bisa ia handle. Dan ia hanya pusing selama beberapa hari, selepasnya adalah waktu luang yang ka gunakan untuk beristirahat.
Sebenarnya Rahayu tidak ingin ikut lagi ke Paris. Rahayu ingin tetap berada di rumah karena ingin melihat perkembangan kehamilan Bella dari hari ke hari. Ingin melihat apakah Bella mengalami gejala morning sickness, atau waktu ngidam. Ia ingin mengikuti perkembangan calon cucunya sejak awal kehamilan.
Membuatkan susu hamil, mengantarkan vitamin, bahkan sudah mengajari Bella senam hamil sekali. Itu sudah Rahayu lakukan setelah Ken mengumumkan kehamilan Bella masihlah sebuah kebohongan.
Di tengah rasa sedih kehilangan sehebat, tak membuat Rahayu lupa akan kehamilan Bella.
Bella yang tak ingin mengecewakan Rahayu hanya bisa mengikuti dan berdoa agar ia segera benar-benar hamil.
Bahkan Rahayu sudah mengajukan kepada Surya agar tugas Bella dikurangi. Tapi, Bella segera menyergahnya. Fisiknya kuat begitu juga dengan hatinya.
Bella punya daya tahan yang baik. Lagipula ia dan Ken tetap bersama baik di rumah atau di pekerjaan.
Jika lelah ada Ken yang menggantikan. Jadi, tidak mengurangi produktivitasnya. Lagipula baru semester pertama. Mungkin nanti di semester tiga barulah Bella akan mempertimbangkan untuk bekerja dari rumah. Itu pun kalau. Itulah alasan yang Bella ungkapkan.
Mau tak mau Rahayu setuju. Dan alasan ia tetap ikut Surya ke Paris tentu saja karena tidak bisa berpisah dari suaminya juga kasihan dan juga takut jika Surya di luar negeri sendirian dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Kemungkinan Tahun Baru mereka berdua baru kembali. Mengenai Bella, ada Ken, Brian, Silvia, Dylan, dan Calia sudah yang kembali dari seminarnya beberapa hari yang lalu.
Calia yang sudah mendengar kabar kecelakaan pesawat itu karena beritanya disiarkan di beberapa negara dan mengetahui hubungan keluarga Utomo dan Mahendra tidak mempertanyakan mengapa keluarga Mahendra memberikan kontribusi dan mengerahkan bantuan maksimal dalam pencarian. Calia hanya fokus pada kondisi dan terapi Bella.
Dan jawaban Bella adalah yes. Ken juga menyetujuinya. Calia adalah salah sahabat dekat Bella. Persahabatan yang menjelma sebagai persaudaraan.
Dan mungkin ke depannya jika kabar ini sudah tersebar luas, aku banyak muncul permintaan serupa dari sahabat dekat Bella, tak terkecuali mungkin nantinya Louis.
Bahkan Anjani saja sudah mengajukan diri dan mengirim banyak hadiah ke mansion keluarga Mahendra karena saat ini ia tengah berada di luar negeri mengurus pameran di sana selama 2 minggu. Arka juga ikut dengannya. Arka yang kini ikut kelas akselerasi tetap bisa belajar via daring yang sudah disetujui oleh kepala sekolah.
Ya, begitulah Anjani. Walau single parent dan sangat sibuk, tidak akan melupakan dan meninggalkan anaknya sendiri karena Arkalah alasan dari kuatnya dirinya.
Dan Mungkin jika Ken dan Bella beragama kristen, akan pusing menentukan siapa yang akan jadi orang tua baptis dari anaknya.
Dan kenyataannya Calia, Louis, dan beberapa sahabat dekat Bella lainnya beda agama, mustahil bukan mereka siapapun itu sahabat Bella di luar dari agama islam menjadi orang tua baptis. Jalan keluarnya tanpa melanggar agama masing-masing adalah menjadi orang tua angkat.
Terapi Bella yang tetap berjalan pun sudah mulai membuahkan hasil. Di bawah pengarahan kedua terapisnya, di bawah dorongan hati dan akalnya, di bawah bagaimana ke depannya, Bella sedikit demi sedikit melepaskan traumanya.
Bella sudah merasa tenang dan tidak merasa pusing ataupun muntah lagi saat berada di dalam mobil. Sejauh ini saat masih dalam keadaan diam, belum dicoba saat mobil berjalan. Dan itu adalah agenda terapi selanjutnya oleh Calia.
*
*
*
Siang harinya, Bella memijat pelipisnya. Ia tengah kesal dan geram dengan tingkat beberapa orang di perusahaan yang mempermasalahkan kepemimpinannya di tengah kabar kehamilannya yang telah tersebar di perusahaan.
Ucapan selamat berikut dengan isu bahwa jika ibu hamil bekerja akan menurunkan produktivitas kerja ditilik dari hal yang beredar luas tentang ibu hamil yakni mood ibu hamil mudah berubah, sensitif, mudah lelah, dan lainnya, membuat beberapa departemen khususnya mengajukan pada Surya akan Bella dirumahkan saja dan ganti wakil Presdir.
Surya tentu saja tidak menerimanya. Menerima penolakan, mereka malah semakin membuat panas suasana.
Yang akhirnya berhasil membuat kesabaran Bella mencapai batas. Ia hanya ingin bekerja dengan tenang, mencapai visi dan misi, dan tujuan yang telah ia tetapkan.
Mengapa tidak bisa bekerja sama?
Toh Bella elakukannya bukan untuk dirinya sendiri. Sebuah kemajuan dibuat dengan keluar dari zona nyaman. Berani mengambil sebuah langkah perubahan.
Padahal sejauh ini, walaupun ia beberapa waktu lalu meninggalkan perusahaan di jam kerja, tidak ada komplain dari klien. Malah orang sendiri yang komplain.
Mau buat sebuah gebrakan malah menjadi sebuah perselisihan internal yang tidak kasat mata.
Padahal Bella sudah memikirkan akan tindakannya itu. Ia punya ambisi, tapi tidak meninggalkan akal sehat dan pikiran jernihnya.
"Suruh semua berkumpul di aula!"ucap Bella memberi perintah.
"Tapi, Aru sebentar lagi adalah waktunya meeting untuk tender," ucap Ken mengingatkan.
"Makanya suruh sekarang juga! Atau aku sendiri yang akan memanggil mereka?!"
Bella yang sudah terlanjur sangat kesal tidak bisa mengontrol emosinya. Tatapannya tajam pada Ken yang membuat Ken menelan ludah dan mengangguk menjalankan perintah Bella.
"Dua menit. Jika aku tiba lebih dulu di sana, jangan salahkan aku jika aku memberi mereka sanksi!"
Seusai mengatakan hal itu Bella keluar dari ruangan sementara Ken mengikut sembari menelpon tiap-tiap departemen. Bahkan Brian saja ikut di dalamnya.
Perintah Bella itu tentu saja membuat semua orang di perusahaan pusat Mahendra Group kelabakan. Aula berada di lantai 15 dan dalam waktu dua menit mereka harus tiba.
It's crazy!
Apa yang membuat wakil Presdir mereka memerintahkan hal seperti itu? Dua menit?! Ia sangat singkat.
Lift otomatis penuh. Begitu juga dengan tangga darurat. Mereka begitu panik dan takut. Dan beberapa sadar mereka telah mencari masalah sendiri dan memancing seorang harimau yang diam menatap mereka.
Bukannya lari, mereka malah keterusan menganggu. Dan lari tunggang langgang saat harimau menunjukkan taring. Bella tahu, beberapa orang itu dipengaruhi oleh petinggi. Bella tahu siapa akarnya. Namun, belum ada kesempatan untuk bertemu langsung karena akarnya seakan menghindar darinya.
"Kalian terlambat!"
Hanya ada beberapa yang tepat waktu karena dekat dengan aula. Dan Brian dan Silvia termasuk di dalamnya.
Deg!
Yang terlambat merasa sangat takut melihat Bella yang duduk di podium dengan tersenyum dingin. Sorot matanya tajam menghunus, membuat mereka berkeringat dingin. Sanksi apa yang akan Bella berikan pada mereka?