
Ceklek!
Ken keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk menutupi pinggang hingga paha. Ken mendapati Bella tengah serius menatap layar laptop yang menyala dengan senyum-senyum sendiri. Rasa penasaran menggelitik hati Ken. Dengan langkah nyaris tanpa suara, juga karena Bella yang fokus pada satu titik, tidak mendengar Ken yang mendekat.
Ken mengintip, matanya menyipit melihat sebuah video yang mana pemeran di dalamnya tidak ada satupun yang ia kenali. Terlebih suara video, bahasa China. Tanpa subtitel dan Bella terlihat bahagia melihatnya.
"You are my glory?"gumam Ken membaca keterangan yang ada di bawah video.
"Eh Ken, kau sudah selesai?" Bella tampak terkejut dan menolak ke arah Ken. Tanpa mereka prediksi, mata mereka bertemu pandang dan saling menatap dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya sadar. Keduanya saling membuang muka. Bella kembali menatap video, sementara Ken menatap ranjang dengan sesekali melirik Bella. Tidak ada pembicaraan, hanya sound video yang terdengar jelas.
"Lekas kenakan pakaianmu!"ucap Bella tanpa menatap Ken.
Ken tertegun, tak lama senyum licik menghiasi wajahnya.
"Kenapa? Apa tubuhku tidak menarik?" Entah keberanian dari mana, Ken kini menempatkan kepalanya di samping kepala Bella. Matanya menatap Bella yang tampak terperanjat. Bella dapat merasakan hembusan nafas Ken. Sesaat kemudian, Bella sudah kembali ke mode datarnya. Senyum yang tak kalah licik Bella sunggingkan.
"Karena tubuhmu menarik jadi harus dijaga dan disembunyikan dengan baik. Atau kau tidak keberatan jika aku menikmati tubuhmu ini? Aku sih tidak masalah. Secara kau suamiku. Hubungan suami dan istri juga tidak dilarang. Tapi kau, apakah kau berani dan sanggup menanggung rasa bersalah?" Bella menoleh ke samping, melirik Ken.
Ken langsung menjauh.
"Jangan harap! Ingat raga dan cintaku hanya untuk Cia seorang. Kakak hanya istri di atas kertas! Kita menikah dengan alasan yang berlainan!" ucap Ken tegas.
Bella menggeleng pelan, senyumnya menjadi simpul.
"Maka jaga rapat-rapat tubuhmu itu. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku menerkammu!"ucap Bella memberi peringatan. Wajah Ken pias, niat hati ingin mengerjai Bella, maka ia sendiri yang terkena. Terhitung ini sudah kali ke berapa Ken kalah dari Bella.
Tanpa banyak bicara lagi, Ken bergegas menuju ruang ganti.
Bocah tengil sepertimu ingin bermain trik denganku? Huh garam yang aku makan lebih banyak darimu! Kau harus belajar banyak untuk bisa menggodaku!
Ken, kau hidup bagai katak dalam tempurung sedangkan aku, aku sudah terjun ke lapangan yang keras dan penuh dengan trik. Untuk masuk ke lingkaran bisnis bukan semudah membalikkan telapak tangan. Kemampuan dan koneksi sangat dibutuhkan. Karena aku telah memutuskan maka kau adalah tanggung jawabku.
Bella kembali fokus menonton video, part yang sempat terlewat ia putar balik. Senyumnya sumringah, matanya penuh dengan binar bahagia. Sesekali ia berdecak kagum dengan senyum tak jelasnya.
"Memang Kakak ngerti artinya?" Ken yang telah berganti dengan pakaian tertutup, celana panjang, kaos panjang, tampak longgar sama sekali tidak menunjukkan lekuk tubuh, kembali menghampiri Bella, tentu saja ada jarak yang cukup jauh, sekitar 1 meter.
"Ngerti dong."
"Oh …." Ken kembali merutuki kepolosannya. Istrinya ini lulusan luar negeri, kerja juga di luar negeri. Sementara China adalah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat dan beberapa ahli berpendapat bahwa beberapa tahun kemudian China menjadi urutan teratas. Untuk seukuran Bella, menguasai bahasa asing selain bahasa inggris adalah hal biasa.
"Kamu juga harus belajar bahasa lain selain bahasa inggris," ucap Bella serius. Episode kali ini sudah selesai, Bella menutup laptopnya.
"Kenapa?"tanya Ken, enggan untuk berkutat dengan bahasa yang tidak ia mengerti, kecuali bahasa inggris.
"Untuk bisa bersaing dengan kakakmu, kau harus banyak belajar dan berjuang. Aku memang ditugaskan untuk membantumu akan tetapi tidak sepenuhnya aku yang menanganinya," jelas Bella.
Ken menghela nafas kasar. Tampaknya anak itu kesal. Ia duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk masam.
"Lantas bahasa apa yang harus aku kuasai?"tanya Ken, tentu saja dengan nada enggannya.
"Untuk saat ini bahasa mandarin dulu, baru setelah mampu baru mempelajari bahasa lain," jawab Bella.
"Ya atur saja." Ken malas berdebat, menghabiskan tenaga juga emosi yang sama sekali hanya merugikan dirinya.
"Aku akan mengatur jadwal les untukmu. Ah ya kapan kau wisuda?"tanya Bella.
"Sekitar dua lagi, mengapa?"jawab Ken.
"Dua bulan? Satu bulan? Hm … waktu yang mepet tapi masih sempat. Kebetulan tadi aku ke toko buku." Bella berdiri dan melangkah membuka laci nakas di samping ranjang. Ken melirik sekilas, sebuah buku yang cukup tebal berada di tangan Bella dan kini berada di atas meja, di depannya.
"Ini hanyalah materi dasar yang di dalamnya terdapat filosofi tentang bisnis yang bisa membantu kau berkembang. Pelajari ini dan dalam waktu seminggu harus ada yang kau kuasai!"ucap Bella.
"Hanya satu?" Ken menatap Bella, tatapannya kesal karena merasa Bella meremehkan dirinya.
"Oh tentu tidak. Itui hanyalah salah satu dari sekian banyak yang harus kau kuasai. Tapi sepertinya kapasitasmu lebih dari yang ku harapkan jadi baiklah. Besok, sepulang kuliah aku akan mengajarmu di perpustakaan," sahut Bella dengan senyum lebarnya. Ken merasa tertantang. Sesulit apasih mempelajari manajemen dan bisnis?
"Baik!"
Hah.
"Aku mengantuk," beritahu Bella setelah menguap.
"Hm masih jam 21.00. Jika di Jerman ini masih jam 17.00 an, Resa sudah pulang kerja belum ya?"
Ken lagi-lagi hanya melirik saat Bella melangkah menjauh dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia sendiri sibuk mencari aplikasi belajar online bahasa asing. Setelah diinstal, Ken meletakkan ponselnya lalu meraih buku dan mulai membacanya.
"Kirim pesan dulu kali ya?"
Bella segera mengetikkan pesan untuk Resa.
Resa kau sudah pulang kerja apa belum? Kalau sudah hubungi aku ya.
Tak menunggu lama, pesan Bella dibalas.
Sudah, Abel. Aku telpon ya.
Belum sempat Bella menjawab, sebuah panggilan video atas nama Teresa masuk. Segera Bella menjawabnya.
"Ah Abel!! Akhirnya ada waktu juga mengobrol seperti ini. Aku sangat merindukanmu!"
Wajah Terasa berbinar melihat Bella.
"Ya kau saja yang terlalu sibuk," sahut Bella tertawa.
"Ihh inikan juga akibat kau resign. Coba saja kau tetap di sini, pasti pekerjaanku tidak akan seberat ini," sahut Resa mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha hidup harus ada perputaran, Resa. Tidak mungkin kan selamanya kau menjadi bawahanku?"balas Bella, masih tertawa.
"Iya, itu benar. Tapi jika disuruh memilih dan aku punya kebebasan untuk itu, aku akan memilih untuk tetap menjadi bawahanmu. Kalau bisa ke manapun kau pergi aku akan ikut," ungkap Resa sungguh-sungguh.
"Ah kau ini …."
"Benar Abel. Aku tidak masalah jadi bawahan asalkan bisa terus bersama denganmu. Apa kau tahu bahwa Tuan Louis menjadi lebih dingin daripada sebelum kau resign? Dulu masih lumayan ada senyum lebarnya yang bisa kita nikmati bersama, sekarang, jangankan senyum, berisik sedikit saja sudah kena omel," cerita Resa.
"Benarkah? Apa sifat playboynya kembali?"tanya Bella penasaran.
"Playboy?"
Bella mengeryit mendengar beo an Resa.
"Abel apa kau cemburu?" Bella terdiam mendengarnya. Cemburu? Tentu saja ada perasaan cemburu, khawatir sekaligus lega.
Cemburu adalah hal yang wajah bagi setiap insan. Insan dengan hati sekeras apapun pasti akan merasakan yang namanya cemburu.
"Tuan Louis itu hanya mencintai dirimu seorang. Dan apa kau juga tahu, bahwa setiap wanita yang mencoba merayu Tuan Louis semua ditendang keluar oleh Tuan Louis? Ini real Abel, cinta Tuan Louis sepenuhnya milikmu. Cintanya sangat tulus."
Bella termangu mendengarnya.
Kakak mengapa cintamu begitu dalam? Semakin sulit untuk melepaskan semua perasaan untukmu.
"Hei Abel, kau apa yang kau pikirkan? Ku tebak pasti kau menangis kan? Abel ayolah kembali kemari. Ajak adikmu. Kita bahagia di sini," ujar Resa membujuk.
"Apa kau cenayang?"sindir Bella, mengusap sudut mata yang berair.
"Cenayang apanya? Kita ini video call tentu aku melihat ekspresi wajahmu."
"Hm … Resa ada banyak hal yang harus aku selesaikan di sini. Dan seperti ucapanku dulu, jika sudah waktunya pasti kita akan berkumpul lagi. Ah ya bagaimana perkembangan rencana darmawisata kalian? Ada kelanjutan?"
Bella mengalihkan pembicaraan untuk menghindari rasa ingin tahu Resa yang lebih dalam.
"Doakan aku sukses tender besar ini!"
"Pasti!"
Ken hanya mendengarkan obrolan Bella dan Resa tanpa tahu apa yang mereka bicarakan. Cukup lama Bella dan Resa mengobrol via video call. Hingga waktu menunjukkan pukul 21.30 barulah panggilan itu diakhiri.
Ken juga lelah membawa, matanya berat mengantuk. Dengan langkah gontai Ken menuju ranjang. Dilihatnya Bella telah tidur duluan tanpa mengenakan selimut. Entah angin dari mana, tangan Ken bergerak menyelimuti Bella dan tak lupa mendaratkan kecupan pada kening Bella.
Night, kak Billa, ucap Ken dalam hati sebelum berbaring dan menarik selimut, tidur membelakangi Bella.