
Cia membeku di tempatnya. Matanya berkaca-kaca. Cia tidak percaya dengan apa Ken ucapkan. Sayonara? Semua janji Ken padanya hancur saat hubungan mereka putus. Ken tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya?!
Tidak! Ken berbohong! Ken menutupinya! Tapi, Ken sama sekali tidak berbalik padanya.
Hati Cia sakit bukan kepalang. Hatinya terasa diiris tipis-tipis, seperti ditusuk ribuan jarum. Hatinya yang sakit berimbas pada pernafasannya. Cia merasakan sesak, ia meremas dada kanannya di mana jantung berada.
Tak hanya sampai di sana, kepalanya juga sakit tak tertahan. Seperti ada paku yang ditancapkan di sana dalam keadaaan sadar. Diikuti dengan darah segar yang menetes dari hidungnya. Penglihatannya mulai memgabur. Air mata deras membasahi pipinya walau tiada isak yang keluar.
"Kakak!"pekik Angkasa yang mendapati
Kakaknya sangat kesakitan.
"Ken … jangan pergi," tangis Cia sebelum akhirnya limbung. Angkasa sigap menahan tubuh kakaknya sebelum membentur kerasnya lantai. Cia sudah tak sadarkan diri.
"Kakak!"
"Kakak! Kau kenapa?!" Angkasa panik. Ditepuk lembut pipi Cia, berharap Dia masih sadad.
Gaun bagian atas yang Cia gunakan kotor dengan darah. Tanpa banyak drama membangunkan Cia di tempat, Angkasa segera menggendong kakaknya menuju kamar hotel Cia.
"CIA!" Clara berseru melihat Angkasa yang menggendong Cia dalam keadaaan tidak sadarkan diri dan hidung yang masih mengeluarkan darah.
"Angkasa ada apa dengan Kakakmu?!"
"Ini semua karena Ken!"desis Angkasa bergegas melanjutkan langkahnya. Clara menyusul, diikuti oleh Bayu. Sedang Anggara yang mematung sesaat langsung menyusul ketiganya, meninggalkan Azzura dan keluarga Adhitama yang sepertinya bingung.
Para tamu berpulangan sejak acara dansa berakhir. Ballroom hanya menyisakan panitia dan petugas kebersihan.
"Bukankah tadi Cia baik-baik saja? Mengapa tiba-tiba seperti itu?"heran Tuan Adhitama.
"Aku tidak terlalu memperhatikannya. Ku kira dia dan adiknya pergi kembali ke kamar," sahut Nyonya Adhitama.
"Angga kok ninggalin Zura, Ma?" Mata Azzura sudah berkaca-kaca. Anggara meninggalkannya tanpa pamit.
"Zura, Sayang. Angga lagi panik jadi nggak sempat pamit sama Zura. Lebih baik kita susul Angga saja," tutur Nyonya Adhitama, merangkul lengan putrinya.
"Princes Papa jangan sedih dong. Ntar hujan loh di luar kalau Zura sedih," ucap Tuan Adhitama, ikut menautkan lengan putrinya pada lengannya. Azzura mencembik, "Papa gombal! Memangnya Papa malaikat yang bisa mengatur cuaca?"sahut gemas Azzura.
"Bukankah Papa dan Mama malaikat Zura?"tanya balik Tuan Adhitama.
Azzura tersenyum, "Zura bahagia jadi anak Mama sama Papa. Zura nggak mau pisah dari Papa dan Mama. Kita akan selamanya bersama," ucap Azzura, ia lalu memberikan kecupan pada pipi kedua orang tuanya.
"Tapi, Zura kan sudah menikah. Dan seorang istri itu harus ikut dengan suaminya."
"Kalau begitu ubah saja kebiasaannya. Angga yang tinggal di rumah kita. Tidak ada larangan suami tinggal di rumah istri, kan?"sahut Azzura santai. "Zura nggak mau ninggalin Mama sama Papa!"lanjut Zura menyampaikan keputusannya.
Ah
Nyonya dan Tuan Adhitama tidak menjawab. Sudahlah, nanti bisa didiskusikan dengan keluarga Utomo, itulah yang ada di benak keduanya.
*
*
*
"Stop!"
"Stop, Ken!"
"Stop, kita dikejar polisi!"
Ken tidak menggubris. Ia malah semakin mempercepat laju motornya, menyalip kendaraan yang ada di lintasannya. Malam yang mendekati tengah malam membuat jalanan cukup lenggang namun bukan berarti Ken bebas mengebut melebihi batas kecepatan.
Bella tahu Ken melakukan hal ini untuk mengekspresikan perasaannya. Bella juga sering seperti ini. Tapi, bedanya ia memacu kencang motornya di sirkuit. Bella akan mengebut di jalan raya seperti ini di situasi tertentu saja.
Sayangnya, malam ini ada patroli yang menyebabkan mereka dikejar oleh polisi. Ken bukannya memperlambat laju kendaraannya lalu berhenti, malah seakan tidak mendengar suara sirene dan peringatan dari polisi.
Bella cemas, salahnya juga tadi yang membolehkan Ken membawa motor dalam kondisi yang jelas ia sendiri tahu sedang badmood.
"STOP! STOP, KEN!"
"STOOOOPPP!!"
Bella berteriak dengan memukul bahu keras Ken. Ia bahkan tak pikir panjang lagi untuk memukul helm Ken. Dalam hatinya mendengus karena akan berurusan dengan polisi, pasti akan ribet urusannya.
Dengan suara kecil, Ken tidak menggubris. Dengan berteriak baru Ken memperlambat laju motornya.
"Ah Aru? Ada apa?" Ken menjawab dengan polosnya. Disusul dengan mobil polisi yang menyalip mereka dan menyuruh Ken menepi dan berhenti.
Ken tampak kebingungan. Sedang Bella sudah menunjukkan wajah malas nan kesalnya. Dia meruntuki dirinya sendiri. "Aru ada apa? Mengapa polisi menyuruh kita berhenti? Apa aku melakukan pelanggaran?" Ken bertanya seraya melepas helmnya.
"Sial*n. Beraninya kau bertanya seperti itu! Kau lupa apa yang baru saja kau lakukan? Ken kau membuatku, dirimu sendiri, dan keluarga Mahendra dalam masalah!"ketus Bella. Ia turun dan sedikit membenahi hijabnya. Bella melirik sekitar, cukup sepi.
Namun, tidak menutup kemungkinan akan ada berita miring tentang mereka berdua nanti. Jangan sampai besok akan ada judul berita "Tuan Muda Ketiga Keluarga Mahendra dan Wakil Presdir Mahendra Group Ugal-Ugalan di Jalan hingga Berurusan dengan Polisi." Mau ditaruh di mana wajahnya nanti kalau itu benar terjadi?
Ken mengerutkan dahinya belum mengerti. Dilihat dari wajah masam Bella, ia yakin telah melakukan kesalahan fatal.
"Selamat Malam, Tuan dan Mbaknya!" Dua polisi yang turun dari mobil polisi yang mengejar mereka tadi menghampiri Ken dan Bella.
"Malam, Pak. Kalau boleh tahu kesalahan apa yang buat hingga Bapak berdua memberhentikan kami?"
"Anda tidak sadar dengan apa yang barusan Anda lakukan? Anda mabuk?"
"Kalau begitu mengapa mengebut melewati batas kecepatan? Mau cari naas atau sok jago?"
"Mengebut?"
Ah Ken baru tersadar. Pantaslah Bella tampak begitu kesal. Tadi, pikirannya melalang buana hingga tanpa sadar menyebut. Bahkan panggilan Bella sebelum berteriak dan memukul helmnya tidak ia dengar.
"Bisa tunjukan SIM Anda?" Ken mengambil dompet yang berada di saku jas bagian dalam.
"Dokumen kendaraan?" Bella meletakkan helmnya dan membuka ranselnya mengambil buku hitam dan STNK motornya.
"SIM dan Dokumen motor Anda kami tahan. Silahkan datang ke pengadilan untuk menebusnya!"ucap Polisi itu lalu memberikan surat tilang pada Ken. Ken terdiam. Kedua polisi itu kembali ke mobil dan pergi.
"Sial*n!" Bella mengumpat lagi. Ia lalu memakai helmnya. Baru kali ini, seumur-umur ia berkendara dokumen motornya disita sementara.
"A-Aru, kau marah? Maafkan aku. Besok aku akan menebusnya!"ucap Ken gugup dan was-was akan Bella yang begitu kesal. Bella tak segan menatap Ken dingin. Tanpa banyak bicara, Bella mengambil alih kemudi motor.
"Naik atau ku tinggal!"
Dengan perasaan gelisah, Ken naik. Saat hendak memeluk Bella, Bella menepisnya. Bella benar-benar kesal.
Setibanya di rumah, Bella langsung menuju kamar tanpa sepatah katapun. Ucapan maaf Ken tidak ia gubris.
"Auh!"
Ken meringis sakit saat ia hendak masuk kamar namun Bella tidak mengizinkannya. Alhasil ia mencium pintu. Ken mengusap dahinya, wajahnya sungguh tidak tenang.
"Aru …."
"Aru …."
"Please maafkan aku, ya. Aku sungguh tidak sadar tadi. Aru, jangan marah. Please izinkan aku masuk. Aru jangan begini." Ken mengetuk-ngetuk pintu kamar. Ia memelas.
"Aru aku janji besok pagi bakalan tebus SIM, buku hitam, dan STNK-nya. Tapi, tolong jangan marah lagi. Aku tahu aku salah dan aku sudah menyadarinya. Aru…."
Ken terus memelas dan membujuk. Tidak ada respon dari Bella. "Aru aku tidak bisa tidur tanpamu."
"Kau juga begitu, bukan?"
Ceklek.
Pintu terbuka dan Ken langsung mengembangkan senyumnya. Ken mengira Bella sudah memaafkannya. Aru pasti tidak bisa menolak bujukan itu.
"Kau tidurlah di luar dan renungkan apa saja yang baru saja terjadi. Kau menghindar karena kau merasa takut. Aku tahu namanya masih terpatri di hatimu. Jangan bersikap munafik seperti tadi, di depan kau bersikap keras namun di belakang kamu terguncang!"ucap Bella lalu melemparkan selimut pada Ken. Setelah itu Bella kembali masuk. Ken terpaku di tempatnya. "Aku kira Aru senang dengan sikapku tadi," gumamnya kemudian, merasa sangat bersalah.
*
*
*
Di lain sisi Ken tengah merenungi kesalahannya di depan pintu kamar maka keluarga Utomo tengah cemas dengan kondisi Cia. Sampai sekarang tak kunjung sadar.
"Kita kembali ke Singapura, malam ini juga! Cepat bersiap!"ucap Bayu, mengintruksi Clara dan Angkasa.
"Baik!" Kondisi Cia begitu mengkhawatirkan. Wajahnya begitu pucat. Clara dan Angkasa segera berberes secepat mungkin. Anggara menatap Kakaknya begitu dalam, "Kakak kau bagus baik-baik saja," ucap Anggara sebelum mengecup kening Cia.
"Kalau begitu saya akan pesankan pesawat untuk kalian," ucap Tuan Adhitama.
"Terima kasih, Besan. Saya mohon maaf untuk ketidaknyamanan ini." Bayu menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah. Sekarang kondisi putri Anda lah prioritas kita."
Azzura dan Nyonya Adhitama tidak berada di sini. Keduanya hanya berada singkat di kamar yang ditempati Cia. Bau obat yang menyengat, membuat Zura tidak nyaman. Keduanya berada di kamar Anggara dan Azzura.
Dalam waktu lima belas menit, semua sudah beres. Anggara mengantar kepergian keluarganya hanya sampai lobby hotel. Bayu melarangnya untuk ikut. Anggara sudah punya tanggung jawab lain yang kini harus diutamakan. Tuan Adhitama turut mengantar keluar Utomo ke bandara.
*
*
*
Di dalam kamar, Bella duduk bersandar pada kepala ranjang. Pakaiannya telah berganti dengan piyama. Hijab belum lepas dari mahkotanya.
Ken … Ken! Jelas aku masih bisa melihat rasa cintamu untuknya. Aku tahu kau berbohong untuk menjaga perasaanku. Tapi, aku tidak suka orang yang munafik.
Ah tidak. Aku juga orang yang munafik. Bella kau juga membohongi dirimu sendiri. Jelas-jelas kau tahu kalau cinta pertama itu sulit untuk dilupakan. Bahkan tidak menutupi kemungkinan terjadi kembali. Tapi! Tapi, dengan percaya dirinya meyakinkan hatimu kalau Ken benar-benar sudah melupakan Cia.
Hah
Bella sudah berkali-kali menghela nafas.
Maaf, Ken. Aku juga butuh waktu sendiri untuk merenungkan apa yang terjadi hari ini dan sebelumnya.
Masalah tilang tadi, aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya karena aku juga bersalah.
Hah
Aku percaya jika kau tidak akan berpaling dariku. Tapi, aku tidak percaya dengan Cia. Entah bagaimana kondisinya sekarang. Aku harap dia baik-baik saja dan tidak akan mengganggu hubunganku dengan Ken.