
"Aku kembali, Pa! Aku kembali untuk mengambil semua hakku yang kalian rampas!"ucap dingin Anjani.
"Apa? Apa maksudmu, Anjani?!" Pria tua berjas biru dongker yang Anjani panggil Papa itu membesarkan mata dengan wajah pias.
"Kakak tolong jangan buat keributan. Tunggulah sampai pengukuhanku selesai baru kita bicara di rumah, bersama dengan Mama dan Rossa," ucap penuh harap pria muda yang Anjani panggil David.
Anjani mendengus, tatapannya tidak berubah. Tajam mengintimidasi. Sedangkan para direksi saling tatap dengan penuh tanda tangan.
"Tuan Satria, siapa Nona ini?" Salah seorang direksi yang cukup tampan dan usianya sekitar lebih tua beberapa tahun dari Anjani melayangkan pertanyaan.
"Dia …."
"Pengawal!" David berteriak kencang memanggil pengawal yang berdiri kaku di belakang Bella. Mereka tidak berani menjawab apalagi bergerak di bawah lirikan tajam Bella.
"Sekretaris Anton, sayalah perwakilan dari Mahendra Group, saya harap Anda paham apa yang harus Anda lakukan. Jika Anda tidak yakin, silakan hubungi sekretaris Pak Surya, Frans!"bisik Bella pada sekretaris Anton yang berdiri tepat di sampingnya.
Mata pria itu terbelalak, ia benar-benar tidak menduga. Akan tetapi, ia juga tidak mau tertipu, segera itu menghubungi sekretaris Frans untuk mengkonfirmasi.
"Mengapa kalian diam? Apakah kalian tuli hah?" David semakin berang karena perintahnya tidak digubris. Awalnya ia ingin menyelesaikan Anjani dengan cara halus akan tetapi Anjani bukanlah Anjani yang dulu.
"David!"bisik Pak Satria penuh tekanan. "Jaga air mukamu!"
"Papa, dia pengganggu!" David menatap Anjani penuh kebencian. Sirna sudah tatapan lembut yang penuh dusta, tinggalah aura permusuhan yang begitu kental.
Sementara sekretaris Anton, ia membeku dengan tatapan tidak percaya. Bella benar-benar perwakilan Mahendra Group, tapi untuk siapa? Untuk Diamond Corp apa Anjani? Ya tentu saja untuk Anjani!
Hahahahaha ….
Anjani tertawa. Sungguh ia benar-benar menyesali kebodohan di masa lalu.
"Tidak ku sangka! Lama tidak bertemu kalian sudah pikun dan tuli. Tidakkah kalian mendengar bahwa aku kembali untuk hakku? Dia bukan bagian dari Diamond Corp!"tunjuk Anjani pada David.
"Apa? Apa maksudmu?! Aku bagian dari Diamond Corp!" David semakin berang. Jika bukan halangan tangan Pak Satria tentu David sudah berada di depan Anjani.
"Giliranku, Jani!" Bella maju, berdiri tegak di depan Anjani. Sorot matanya tajam, mengintimidasi semua yang ada di ruang rapat. Bahkan Satria dan David sendiri menenggak saliva kasar.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Nabilla Arunika Candra, juru bicara Nona Anjani. Di sini saya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua direksi yang terhormat. Pertama, saya ingin memperkenalkan siapa Nona Anjani ini. Beliau adalah satu-satunya pewaris sah untuk Diamond Corp. Beliau adalah putri tunggal dari Ibu Maharani, Presdir terdahulu sebelum diambil alih oleh Pak Satria!"ucap Bella tegas.
Hah?
Tatapan para direksi kaget. Mereka mulai bisik-bisik dan keributan mulai mendominasi.
"Hei apa yang kau katakan? Diamond Corp punya 3 keturunan!"seru David tidak suka, geram. Sementara Pak Satria menunduk dengan tatapan cemas.
"Saya tahu Anda sekalian bingung, termasuk Anda, Tuan David. Anda dan saudari Anda bukanlah pewaris dari Diamond Corp karena kalian bukan keturunan dari Ibu Maharani. Itu lebih jelasnya bisa tanyakan pada orang tua Anda sendiri!"lanjut Bella, tenang namun tajam.
"Penipu!" David kembali berseru marah.
"Penipu? Siapa dan siapa yang penipu Tuan Muda? Dan siapa dan siapa juga yang tertipu? Ternyata Anda terlalu mudah disetir. Juga benar kata Nona Anjani, Anda tuli!"sarkas Bella. Wajah David mengelap. Ia menunjuk Bella dengan umpatan yang tertahan di pangkal tenggorokan.
"Pak Satria, apakah Anda tidak ingin menjelaskan sebuah kebohongan yang hampir menjadi kebenaran? Atau Anda terlalu takut untuk menjelaskannya?"
Bella menarik senyum lebar, ia menyeringai.
"Baiklah. Biar lebih cepat, saya sendiri yang akan menjelaskan."
Bella mengedarkan pandang menatap beberapa direksi yang Bella perkirakan sudah berada lama di dalam perusahaan ini.
"Silakan baca ini. Ini adalah bukti surat waris seluruh aset Ibu Maharani. Tertulis jelas dengan di sana bahwa semua aset diwariskan kepala putri tunggal beliau yakni Anjani."
Bella melempar sebuah map ke atas meja. Salah seorang direksi senior segera membuka map tersebut. Matanya terbelalak, "ini … ini benar-benar tulisan tangan Ibu Maharani! Saya sangat ingat betul tulisan tangan beliau!"ucapnya dengan nada bergetar, takut? Bukan! Tapi haru.
"Benarkah? Coba aku lihat." Seorang di sebelahnya mengambil alih surat tersebut.
"Ah tanda tangan ini! Ini benar-benar asli!"ucapnya penuh takjub. Akan tetapi sedetik kemudian ia mengeryit bingung.
"Lalu kemana saja selama ini Anda, Nona Anjani? Warisan sebesar ini, mengapa Anda bukan Anda yang mengendalikan? Apa Anda ditekan oleh keluarga tiri Anda?"
Direksi itu ingat dengan Anjani. Akan tetapi saat ia menanyakan tentang Anjani pada Papa dan keluarga tirinya, selalu dijawab Anjani tidak ingin berkecimpung dalam dunia bisnis keluarganya. Semua aset buat diurus oleh mereka. Percaya tak percaya, apalagi dengan adanya surat mandat bercap jari Anjani. Anjani sudah hidup bahagia, ingin menjadi istri dan ibu yang baik.
Anjani yang tadinya melamun, tersentak pelan dan menatap direksi tersebut. Matanya menyipit mengingatnya.
"Uncle Bram?"gumam Anjani setelah menggali dalam memorinya.
"Sayangku katakan yang sebenarnya. Jangan takut ada Uncle di sini," tuturnya lembut. Air mata Anjani luruh. Dulu semasa Mamanya masih hidup, Anjani sangat dekat dengan Pak Bram, bahkan melebihi Pak Satria sendiri.
"Abel …."
"Tenanglah. Aku akan menanggapi semuanya!"
"Pernah mendengar kisah bawang putih bawang merah?"tanya Bella dengan nada ceria.
"Kisah Nona Anjani tak jauh darinya. Jika di cerita itu, bawang merah adalah anak tiri ayah bawang putih maka di sini Tuan David dan Nona Rossa adalah anak kandung Pak Satria. Jika di cerita ayah bawang putih sangat menyayangi keduanya, maka di sini Nona Anjani di anak tirikan. Selepas berpulangnya Ibu Maharani, Pak Satria dengan tidak tahu malunya membawa pulang seorang perempuan dan sepasang anak yang dikenalkan sebagai ibu dan saudara tiri Nona Anjani! Mereka menguasai rumah dan membully Nona Anjani."
"Apakah itu cerita Nona Anjani?"tanya direksi yang duduk di hadapan Pak Bram.
Bella menggeleng. "Tidak! Saya tahu sendiri karena saya adalah sahabat Anjani sejak SMA. Dan surat wasiat itu pun saya yang memegangnya. Selama sembilan tahun, saya menyimpannya!"tegas Bella.
"Astaga! Ini terlalu mengejutkan! Terlalu kacau! Terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Nona Anjani apakah Anda benar-benar tidak ada keinginan untuk mengelola aset Ibu Anda? Kemana Anda selama ini? Ini sudah terlalu jauh!"keluh direksi muda tadi yang bertanya tentang Anjani.
Anjani menggeleng pelan. "Tidak, bukan begitu."
"Cukup! Rapat sampai sini saja! Kita atur waktu lagi! Anjani ikut Papa keluar!" Pak Satria tampaknya sudah sangat tertekan dengan pembicaraan di atas. Pria itu melangkah lebar dan kini mencengkeram lengan Anjani. Wajahnya yang merah tampak menyeramkan di mata Anjani. Anjani meringis, meronta.
"Hentikan!"
Anjani mencengkeram lengan Pak Satria kemudian menghempaskannya. Anjani segera berlindung di balik Bella.
"Tanggung semua akibat perbuatan Anda. Saya yakin, semua yang ada di sini masih sangat ingin tahu atas masalah ini. Daripada lebih berbelit lagi, lebih baik segera di clear kan!"ucap Bella tajam.
"Anda tidak berhak ikut campur masalah Diamond Corp!"hardik Pak Satria.
"Saya berhak karena saya juru bicara Anjani!"jawab Bella, santai, tegas begitu kena di hati.
"Hentikan Pak Satria! Benar kami semua butuh penjelasan! Semua menyangkut dengan masa depan Diamond Group! Anda tidak bisa melarangnya! Anjani, katakan yang sesungguhnya, Uncle berada di pihakmu!"
Pak Bram menatap Pak Satria tajam.
"Tidak! Tidak ada yang penuh dijelaskan! Semua bubar!"sahut Pak Surya dingin.
"Pak Surya, cukup! Terlalu tanggung jika hanya sebahagian. Biarlah semua menjadi clear. Okay."
Mau tak mau, karena tuntutan semakin banyak ditambah ia tahu identitas Bella dari sekretaris Anton, Pak Satria pasrah dan kembali ke tempat.
Semuanya berakhir, gumam Pak Surya dalam hati. David yang melihatnya menatap rumit sang Papa.
Bella kembali membeberkan fakta. Anjani yang dipaksa menikah. Dilarang kembali menginjakkan kaki di wilayah keluarga tirinya. Sampai pemalsuan surat mandat hingga penutupan informasi atas Anjani.
"Benar-benar keterlaluan! Pak Satria Anda benar-benar kejam!" Cacian dan hinaan kini terarah pada Pak Satria. Bagaimana bisa seorang ayah pilih kasih?
Pak Satria tertunduk dalam. Ia bergetar takut sementara David sudah tidak negara di tempat. Ia melarikan diri saat semua fokus pada penjelasan Bella. Tapi tetap saja Bella menangkap hal itu, sengaja seolah tidak tahu.
"An-Anjani maafkan Papa, Sayang. Papa salah!" Pak Satria tergugu. Air matanya mengalir deras tapi Anjani tidak tersentuh.
Sementara Bella menarik senyum miring.
Air mata kadal buntung!
"Tindakan Anda melanggar undang-undang. Semua harus diproses secara hukum!"tegas Bella.
"Tidak! Tidak Anjani! Jangan bawa semua masalah keluarga kita ke hukum! Kasihan Papa, maafkan Papa Anjani!"raung Pak Satria dengan cepat berlutut pada Anjani. Anjani mendongak, enggan menatap wajah Pak Satria.
"Tidak! Anda bukan Papaku! Anda hanyalah Papa sambungku! Tindakan kalian melangkah hukum. Aku bukan lagi Anjani yang naif, lemah, dan bodoh seperti dulu." Pak Satria membeku.
"Sekretaris Anton, saya tidak tahu alasan Anda berpindah pihak, tapi yang pasti saya kecewa terhadap Anda." Sekretaris Anton terdiam mendengar ucapan Anjani. Terlihat jelas pancaran penyesalan padanya. Hanya saja, tidak semudah itu mendapatkan maaf dari Anjani!
"Semua sudah jelas. Nona Anjani real dan murni satu-satunya pewaris Diamond Corp. Saya tahu, Anda sekalian lega sekaligus was-was. Tapi tenanglah, percaya pada Nona Anjani dan saya. Kami tidak akan mengecewakan Diamond Corp. Saya yakin kalian tidak percaya hal ini. Tapi bisa saya janjikan, dalam sebulan akan ada peningkatan drastis Diamond Corp. Untuk itu kami mohon persetujuan semua direksi untuk pengukuhan Nona Anjani sebagai Presdir Diamond Corp!"ucap Bella lugas.
"Saya setuju!" Pak Bram langsung setuju. Diikuti oleh direksi senior lainnya. Sementara direksi muda masih mempertimbangkan. Bella, orang yang cakap, penuh ketegasan, juga berani dan terlihat memilki kemampuan besar, sementara Anjani, biarpun sorot matanya tajam, tapi terlihat masih kaku. Juga masih berlindung di bawah Bella.
Di satu sisi juga, saham terbesar di miliki oleh Anjani, tentu saja dia kan pewaris tunggal. Keputusan tetaplah berada di tangan Anjani sekalipun direksi menentang. Mereka menjadi condong ke Anjani dan Bella saat keduanya. Terlebih melihat Bella yang tidak seenaknya saja mengambil keputusan, meminta izin dan persetujuan mereka dulu.
"Kami setuju!" Satu suara yang bulat dan padu. Bella dan Anjani tersenyum lebar. Di detik berikutnya, tanpa buang waktu lagi, Anjani segera dikukuhkan sebagai Presdir Diamond Corp. Sementara Pak Satria dan Sekretaris Anton terdiam lemas di sudut ruangan, untuk mengangkat kepala saja mereka tidak bisa. Sekadar melirik, tubuh mereka terasa kosong. Hanya tatapan nanar dan penyesalan sebesar gunung.
"Hentikan!" Sebuah teriakan nyaring bergema di ruang rapat. Hanya saja, sayang seribu sayang, hambatan itu datang terlambat. Anjani sudah resmi menjadi Presdir Diamond Corp.
"Welcome, Tante, Rossa, dan David!" Entah sejak kapan Anjani bisa tersenyum smirk, tapi yang pasti sejak ia tinggal dengan Bella.
"Kurang ajar! Beraninya kau anak sialan!"hardik wanita yang tak lain adalah istri Pak Satria.
"Abel telingaku terganggu," rengek Anjani pada Bella.
"Tenang saja, sebentar lagi polisi akan datang."
Dan benar saja. Hanya dalam hitungan detik, polisi sudah datang dan dengan intruksi Bella menangkap sekeluarga itu juga Sekretaris Anton. Mereka berteriak, meraung mencaci Anjani dan Bella, kecuali Pak Satria dan Sekretaris Anton, yang hanya dianggap angin lalu oleh keduanya.
Kejadian itu tentu saja membuat gempar Diamond Corp. Mereka dipenuhi tanda tanya sebelum akhirnya dikumpulkan untuk mendapat pemberitahuan. Ada pro dan kontra, dan itu adalah hal wajar. Dan mulai hari ini, identitas Anjani sudah berubah. Ia bukan lagi ibu rumah tangga biasa melainkan seorang Presdir sementara untuk Bella, ia menjadi tangan kanan Anjani sekaligus Presdir di balik layar.
"Thank you, Abel!"
"You are welcome, Jani!"