This Is Our Love

This Is Our Love
Belum Terlambat



Bella menutup laptopnya begitu alarm yang ia setel berbunyi di pukul 09.30. Segera ia memakai jaket serta mengambil kunci motornya. Ransel Bella tinggal karena ia akan kembali lagi ke perusahaan di pukul 01.00 nanti. Masalah Ken ikut atau tidak, itu tidak masalah bagi Bella. Tak lupa ponselnya ia masukkan ke dalam saku jaket bagian dalam.


Langkahnya lebar menyusuri lorong menuju lift yang tak jauh dari ruangannya. Tiba di basement, Bella langsung menuju motornya, memakai helm dan meninggalkan basement perusahaan menuju universitas Ken di mana wisuda akan diselenggarakan. 


Brian dan Silvia sendiri masih berada di ruang meeting. Di ruang meeting, Brian tengah kesal dengan beberapa manager yang ia anggap kolot karena masih saja menentang proposal pembangunan apartemen di Papua di mana anggaran dananya sangat fantastis.


Mereka beranggapan bahwa dana yang fantastis itu rasanya tidak tepat diturunkan untuk membangun proyek yang jelas sangat beresiko. 


Okay, tentang itu Brian paham karena pada awalnya ia juga menentang pilihan proyek Bella. Namun, yang membuat Brian naik pitam adalah adanya unsur adu domba yang disampaikan oleh beberapa manager. Mereka yang pro Brian dan kontra dengan Ken tidak menyetujui keputusan Bella yang akan menjadikan Ken sebagai kepala proyek.


Jika proyek berhasil, bukankah Ken akan menjadi saingan yang sangat berat dan persentase Brian menggantikan Brian menjadi berkurang? 


Sedang beberapa manager lain, okay-okay saja karena sudah mendapat persetujuan dari Surya sebagai Presdir dan pemegang saham terbesar juga dari pemerintah. Dan dengan kepiawaian Bella dalam bernegosiasi, berhasil menggandeng kementrian pariwisata yang nantinya akan mengembangkan pariwisata di sekitar kawasan apartemen seperti yang pernah Bella cetuskan sebelumnya yakni pembangunan taman hiburan. Untuk hal ini, pemerintah juga berperan penting. 


Bella berharap proyek ini adalah langkah besar mewujudkan Papua menjadi kota metropolitan tanpa meninggalkan budaya. Membawa Papua ke dalam daerah dengan tingkat kesejahteraan yang baik.


Dan untuk desain apartemennya, baik indoor ataupun outdoor, Bella sudah mengirimkan  undangan kepada setiap universitas yang ada di Papua terkhusus kepada mahasiswa jurusan desain ataupun arsitektur untuk mengirimkan desain untuk proyek kawasan apartemen. Tentu saja dengan tema "We're One". 


"Jangan bahas masalah yang bukan masalah departemen keuangan!"ucap Brian dingin yang sudah sangat jengah dengan perdebatan yang tidak akan mengubah apapun. 


"Tapi, Pak Brian. Anda adalah kandi-"


"Perusahaan ini milik Presdir. Beliau sudah membuat keputusan yang telah disetujui. Mengenai siapa yang akan menggantikan beliau kelak itu bukan urusan Anda sekalian! Jika Anda sekalian tidak suka dengan keputusan beliau, silahkan perusahaan tidak akan menghalangi Anda untuk keluar!"


Brian menunjuk ke arah pintu keluar meeting. Beberapa yang pro akan Brian menjadi Presdir selanjutnya menunjukkan wajah gusar.


"Ambisi Anda sudah hilang? Anda tidak masalah hak Anda direbut?"tanya mereka tidak suka.


"Ambisiku bukan untuk menjadi Presdir. Akan tetapi, semakin memajukan dan mengembangkan perusahaan ini! Dan perlu Anda ingat bahwa untuk memajukan suatu perusahaan tidak harus menjadi pemimpin. Apa Anda tahu apa yang membuat suatu perusahaan maju? Satu kesatuan, saya, Anda sekalian, dan departemen lainnya saling bekerja sana untuk mencapai target! Jika ada yang lebih baik dari saya dalam memimpin perusahaan, saya akan mendukungnya, memberi kontribusi semaksimal mungkin! Bukan seperti kalian yang hanya bisa berkomentar tapi tidak bisa berbuat!!" 


Dan semua menunduk dengan ucapan tajam Brian itu. Sorot mata Brian dingin, seakan menusuk siapa saja yang ada di hadapannya. Ambisi Brian tidak padam, ia hanya berpindah tujuan. Ambisinya adalah memberikan kontribusi yang maksimum untuk perusahaan. Orang yang cerdas nan bijak adalah orang yang tidak termakan oleh ambisi. Mereka satu tim walau berbeda departemen. Namun, tujuan mereka adalah satu. 


"Pak Bri, acara wisuda adik Anda akan segera dimulai," bisik Silvia yang sudah cukup puas melihat keterdiaman peserta meeting. Bahkan mereka bak patung, mungkin mereka juga menahan nafas. 


Brian menoleh pada Silvia. Jarak wajah keduanya sangat dekat yang membuat jantung Silvia berdegup kencang. "Hm." Itu sahutan singkat dari Brian. Ia lantas berdiri dan meninggalkan ruang meeting tanpa sepatah katapun. Silvia menyusul setelah membereskan berkas. Peserta meeting menghela nafas pelan. Mereka saling melempar pandang dengan tatapan rumit, sejak kapan hubungan anak-anak kedua Mahendra membaik?


*


*


*


Dari jalan besar menuju gerbang universitas, ditambah dengan jalan universitas sampai depan gedung auditorium universitas terpajang papan bunga ucapan selamat kepada wisudawan ataupun wisudawati. Dari banyaknya papan bunga, ucappan selamat untuk Ken lah yang paling banyak.


Sumbernya yang pertama adalah keluarga, termasuk Bella yang membuat teman-teman kuliah Ken gempar. Lalu dari relasi bisnis Mahendra Group, ada juga dari Anjani. El juga turut mengirimkan papan bunga lewat bantuan agensinya. 


Pertanyaan kapan Ken menikah dan mengapa bukan dengan Cia, lalu bagaimana dengan Cia tak hentinya menghampiri Ken yang membuat Ken merasa jengah. Surya dan Rahayu sibuk berbincang dengan para orang tua lainnya. Dylan sibuk mengamati ruangan auditorium dan mencatat setiap apa yang ia lihat dalam memorinya. 


Malas menanggapi pertanyaan teman-temannya, Ken menjawabnya dengan kalian akan tahu nanti! Lalu Ken kembali sibuk pada ponselnya. Tak berapa lama, acara dimulai.


Dibuka oleh moderator diikuti dengan kata sambutan dari pihak-pihak yang tercantum dalam tertib acara. Semua berada pada tempat masing-masing dan mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan satu demi satu karena tak bisa dipungkiri bahwa ini adalah hari terakhir mereka menjadi mahasiswa di universitas ini. 


 Mengapa Aru belum tiba juga? Sudah lima belas menit sejak acara dimulai. Dan Bella belum menunjukkan batang hidungnya. Ken gelisah. Bukan hanya Ken, Surya, Rahayu, dan Dylan sudah gelisah. Kemana Abel, apa dia lupa?


Tapi, tidak mungkin karena Bella mengirim papan bunga ucapan selamat graduation tanpa sepengetahuan Ken dan lainnya. 


Sebuah mobil putih memasuki gerbang universitas dan berhenti tak jauh dari gedung auditorium. Itu Anjani yang turut menghadiri wisuda Ken.


Begitu memasuki auditorium, beberapa saat perhatian tertuju padanya. Anjani tersenyum lebar dan mengedarkan pandangnya, mendapati Dylan melambai padanya. Anjani langsung melangkah menghampiri Dylan, Surya, dan Rahayu. 


"Assalamualaikum," sapa Anjani, duduk di samping Dylan.


"Waalaikumsalam."


"Abel, mana?"tanya Anjani yang tidak mendapati kehadiran Bella. 


"Belum tiba. Dihubungi pun tidak dijawab. Mungkin malah dalam perjalanan," jawab Rahayu. Ia melihat jelas wajah Ken yang gusar. 


"Ah, ini sudah terlalu lama. Lalu Brian dan Via?"


Brian mengangguk kecil dan segera bergabung dengan keluarga diikuti oleh Silvia. 


"Assalamualaikum." Suara Brian sungguh lembut sampai-sampai membuat yang lain tertegun. 


"Waalaikumsalam." 


"Brian, Abel bareng dengan kalian berdua?"tanya Surya.


"Loh Abel belum tiba juga?" Silvia terheran. 


"Mungkin ada suatu hal di jalan, hingga membuatnya terlambat," ucap Anjani menenangkan, menutupi rasa cemasnya. Brian juga tak bisa menyembunyikan gurat kekhawatirannya. 


"Tenanglah, Abel pasti akan segera datang!!!" Ken menoleh ke belakang setelah membaca pesan dari Brian. 


"Ya, Aru tidak akan mengingkari janji. Mungkin ada hambatan di jalan," gumam Ken. 


Acara demi acara dilewati dan tiba pada acara penyerahan penghargaan kepada wisudawan terbaik tahun ini. 


"Dan Penyerahan Mahasiswa Terbaik Diberikan kepada kepada saudara Mahesa Ken Mahendra kami persilahkan untuk maju dan menyampaikan prakata."


"Ken! Ayo maju!" Ken tersentak pelan ketika teman di kanan dan kirinya menepuk pundaknya. Dengan wajah bingung Ken melihat sekitar. Ia terlalu fokus pada ponselnya, menanti kabar dari Bella hingga tak begitu mengikuti acara dengan maksimal. 


"Saudara Ken silahkan naik ke atas podium," panggil MC lagi. 


"Ah …." Ken akhirnya paham dan segera berdiri. Naik ke atas panggung dan menerima piagam penghargaan yang langsung diberikan oleh rektor. Selanjutnya Ken diminta memberi sepatah dua kata prakata."


"Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi menjelang siang semuanya."


"Waalaikumsalam Wr. Wb."


"Siang."


"Puji syukur kepala Allah Yang Maha Esa karena masih memberikan kesempatan saya untuk hadir di acara wisuda dan saya bersyukur atas pencapaian ini. Semua tak terlepas dari doa dan dukungan dari Papa, Mama, Kak Brian dan Kak Silvia, Kak El, para dosen yang telah membimbing saya, dan kepada …."


Ucapan Ken terhenti saat pandangannya menangkap pintu masuk terbuka lebar dan seorang wanita masuk dengan wajahnya yang sepertinya kelelahan. Mata Ken membola menemukan pakaian Bella yang sedikit kotor dan wajah Bella yang terdapat luka pada bibir. 


"ARU!!"  Ken langsung meninggalkan podium dan menghampiri Bella yang  sepertinya masih mengatur nafas. 


"Aku belum terlambat, bukan?"tanya Bella dengan nafas yang masih memburu.


Ken memegang kedua pundak Bella dengan cemas, "apa yang terjadi padamu?"


"Ada hal kecil di jalan tadi. Tapi, semua sudah aman. Apa kau menjadi wisudawan terbaik?" Walau masih cemas, Ken mengangguk.


"Kembalilah. Selesaikan prakata mu dulu," ucap Bella. 


"Tapi …."


"I'm fine. Ayo biar cepat selesai." Bella membalikkan tubuh Ken dan sedikit mendorongnya untuk kembali ke podium. 


Ken mau tak mau harus kembali ke podium, menyelesaikan prakatanya dan tak lupa memberitahu bahwa ia sudah menikah dan Bella adalah istrinya. Decak kekaguman dan keheranan silih berganti.


Bella terlihat tomboy namun sangat berpendidikan. Bagi yang mengenal Bella tentu saja tidak kaget lagi. Setelah Ken turun, rektor meminta Bella untuk memberikan bekalan kepada wisudawan hari ini.


Sedikit merapikan penampilannya, walau bibirnya terluka, Bella tidak terpengaruh dengannya. Ia tetap percaya diri dengan penampilannya. 


"Nama lengkap Anda siapa?"tanya seorang wisudawan. 


"Pakai gelar?"


"Benar."


"Nabilla Arunika Chandra S. M. B, S.Kom, BA, MA, MBA."


Dan tatapan kagum tak bisa tidak tercetak di wajah para hadirin. Masih di bawah 30 tahun, namun sudah memiliki gelar lebih dari tiga.


Terbuat dari apa dan seberapa besar kapasitas Bella? Malah posisinya sangat tinggi lagi. Sungguh membuat orang lain iri dengan pencapaian Bella.