This Is Our Love

This Is Our Love
Mencari Kerja



Em ….


Mata Bella terbuka perlahan, mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Suasana sekitar hening dengan cahaya teram-temaram. 


Ingatannya mulai menggali. Mata Bella melebar seketika saat ingat bahwa ia diantar oleh Gio. 


Tunggu apa ini? 


Tangan Bella dengan acak menyentuh dan menekan sesuatu. Darah Gio berdesir aneh. Sentuhan Bella, memancing dirinya.


"Uhhh." Ia pun melenguh.


"Gio!"pekik Bella langsung duduk tegak di atas motor.


"Ya?"


Gio menoleh ke belakang, Bella terkejut bukan main. 


"Kau … aku?" Bella mengingat keras. Ah benar. Iya ketiduran. Dan sejak kapan ia melingkarkan tangan di sana? Ah ini memalukan!


"Kau sudah bangun? Tidurmu nyenyak sekali, aku segan membangunkanmu," tutur Gio dengan senyum manisnya. 


Bella tersipu, pipinya memanas. Bella segera turun dan menatap lurus ke depan, menatap bangunan apartemen bertingkat itu. "Seharusnya kau bangunkan saja aku."


"Baiklah, lain kali jika ingat aku akan membangunkanmu." Gio menyahut seraya merenggangkan tubuhnya yang kaku setelah menjadi bantal hidup Bella.


"Bukan itu maksudmu!"


Lain kali? Huh tidak ada lain kali!


"Ya. Lekaslah masuk. Hari semakin malam," suruh Gio.


"Kau pergilah dulu!"sahut Bella.


"Tidak!"tolak Gio.


"Pergilah!"ucap Bella penuh tekanan.


"Masuklah lebih dulu, baru aku pergi," kekeh Gio.


"Ck. Pergilah, hari semakin malam. Kau akan dicariin oleh orang rumahmu," suruh Bella dengan nada kesal.


"Orang rumahku juga paham," sahut Gio.


Huh!


"Kau playboy?!"tanya Bella ketus.


"Playboy? Mantan. Aku mantan playboy."


"Apa begini kelakuanmu di belakang orang rumahmu?!"


"Mereka paham. Mama dan Papa sudah biasa dengan hal ini," jawab Gio.


Mama Papa?


Bella kembali tersipu. Untunglah pencahayaan redup jadi Gio tidak melihat semburat merah di pipi Bella.


"Ah terserah dirimu. Turun dari motorku!"putus Bella.


"Oh, okay."


Setelah Gio turun, Bella langsung naik dan mengenakan helm.


Brum.


Brum.


Motor melesat cepat menuju basement. Gio mengerjap.


"Sudah begitu saja? Tak ada ucapan terima kasih? Selamat malam? Sampai jumpa? Atau apapun itu?"


"Ah punggungku kaku bak papan cucian." Gio memukul-mukul pelan pundaknya.


"Aduh pulang naik apa coba?"gumam Gio.


Dengan langkah berat, Gio melangkah menjauh dari bangunan apartemen, menyusuri trotoar seraya mencari angkutan umum. 


Percuma. Sudah dini hari. Taksi sangat langka. Telpon bawahan juga tidak diangkat. Telpon rumah juga sama. Pada akhirnya setelah sekian lama berjalan, akhirnya sebuah taksi lewat dan mengantar Gio ke pulang.


*


*


*


"Sial! Semoga dia nggak berpikir bahwa aku nyaman dengannya. Hahaha ini terlalu cepat. Mana mungkin mudah menyukai seseorang. Aku juga bukan wanita yang mudah berpaling.


Huh mantan playboy? Lucu sekali!"


Tapi punggungnya memang nyaman.


Lain di mulut lain di hati. 


"Ah lupakan saja. Kau bukan lagi anak bau kencur yang baru pertama jatuh cinta! Dibandingkan dengan Louis, Gio masih kalah jauh!" Bella berbalik, menatap langit-langit kamar.


"Sayang sekali, aku tidak ingin mencari pelarian," gumam Bella yang tak lama kemudian matanya mulai terpejam.


*


*


*


Karena Bella yang sama sekali belum belanja kebutuhan dapur, maka Bella sarapan di warung sarapan pagi tak jauh dari apartemen. Dengan berjalan kaki sembari berolahraga, Bella menyusuri trotoar seraya bersenandung. Kejadian tadi malam sudah hilang dari hatinya. Terlebih setelah membaca pesan manis dari Louis. Ahh biarpun terpisah jarak ribuan kilometer, perasaan ini tetap tak memudar. Bella hanya bisa menghela nafas kasar.


Secangkir teh hangat dan seporsi lontong kecap menjadi menu sarapan. Bella makan dengan lahap. Sembari menunggu makanan turun ke lambung, Bella memainkan ponsel mencari pekerjaan. 


Ya angka di saldonya berkurang cukup banyak karena membeli apartemen, belum lagi segera kebutuhan ini dan itu selama di sini. Jika terus seperti ini, bisa-bisa saldonya habis total. Belum lagi biaya untuk kemoterapi Nesya. Juga ada beberapa hal lagi yang akan menghabiskan banyak biaya. Bella memijat pelipisnya pelan. Tidak ada satupun lowongan kerja yang sesuai dengannya. Ada sih beberapa, tapi Bella melewatinya karena beberapa alasan. 


Tak bisa dipungkiri, Bella tentu saja pilih-pilih akan pekerjaan. Sebagai lulusan luar negeri dan mantan GM perusahaan ternama, membuat Bella punya harga yang sangat tinggi. Sesuai pun tapi tidak sesuai dengan pendapatan, akan Bella tolak.


Hm coba tanya Anjani deh. Kan kalau nggak salah suaminya bekerja di perusahaan besar, pikir Bella. 


"Assalamualaikum, Anjaniku Sayang," sapa Bella dengan nada riangnya.


"Waalaikumsalam, ada apa pagi begini kau menelponku?"tanya Anjani.


"Memangnya nggak boleh? Apa kau sibuk?"


"Tidak sih, memangnya kenapa?"


"Aku ingin menanyakan sesuatu," ujar Bella.


"Tentang apa?"


"Aku ingin mencari kerja, tapi di semua website yang aku kunjungi tidak ada yang cocok. Sekarang aku pengangguran, butuh banyak biaya untuk bertahan hidup. Tabunganku mulai menipis, Jani maukah kau membantuku?"


"Apa sih yang kau katakan? Memangnya aku sumber lowongan kerja apa? Aku cuma Ibu rumah tangga bukan wanita karier!"sahut Anjani ketus.


"Jani?" Bella terhenyak. 


"Kau kenapa?"heran Bella.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Akan aku kirimkan sebuah file, kau bisa membacanya sendiri. Okay. Assalamualaikum."


Panggilan terputus bahkan sebelum Bella menjawab salam Anjani.


Ada yang salah? Tapi apa? Anjani sangat aneh.


Ting.


Sebuah file masuk ke ponsel Bella.


"Hah lupakan dulu. Setelah ini selesai aku akan bertanya padanya."


*


*


*


Setelah berbagai pertimbangan, Bella mengirim email lamaran pekerjaan ke sebuah perusahaan, Mahendra Group. 


Mahendra Group adalah salah satu perusahaan terbesar dan ternama di ibukota juga di Indonesia. Mahendra Group memiliki banyak cabang perusahaan dan banyak bidang. Properti, perhotelan dan pariwisata, serta real estate adalah beberapa dari bidang perusahaan. Diketahui bahwa perusahaan itu kini dipimpin oleh Surya Mahendra, generasi ketiga penerus Mahendra Group. Juga dari kabar yang beredar, sebentar lagi akan ada pergantian kepemimpinan. Mahendra Group yang memiliki tiga calon pewaris, membuat publik berada di tiga kubu. Satu mendukung putra pertama sedangkan satu lagi mendukung putra kedua, dan sebagian lagi mendukung putra ketiga.


Putra pertama yang sudah menunjukkan kemampuan dan debutnya sejak lama, memiliki paling banyak dukungan. Sedangkan untuk putra kedua, hanya beberapa saja. Maklum saja, putra kedua itu dikenal suka mabuk-mabukan dan bermain wanita. Hanya tahu menghabiskan tidak dengan menghasilkan. Banyak skandal dibuatnya yang membuat perusahaan muak pada putra kedua. Sedangkan putra ketika, belum menunjukkan batang hidungnya. Tapi menurut rumor, putra ketiga adalah yang paling tampan dan bersih dari skandal. 


Bella tertawa saat membaca ragam berita mengenai keluarga Mahendra Group. 


Di balik perusahaan besar pasti ada pertentangan besar. Perebutan tahta yang tak segan meneteskan darah sesama saudara. Banyak intrik dan skandal di dalamnya. Ingatan Bella kembali pada Kelendra Group. Leo dan Louis akur dan bekerja sama mengelola perusahaan. Kalendra Group juga bersih dari skandal miring.


Ah apapun itu, bukan masalah untukku. Aku hanya ingin bekerja dan berbuat yang terbaik untuk perusahaanku kelak. Urusan warisan, tak ada hubungannya denganku.