This Is Our Love

This Is Our Love
El dan Nizam



Seorang pria dengan mengenakan kemeja polos berwarna hitam dengan celana panjang senada tampak mengendap-endap. Ia awas terhadap sekitar, matanya memindai sekitar yang tampak sepi.


Dugh!


"Siapa di sana?!" Seorang pria dengan pakaian seperti penjaga menyenter tanaman pagar tak jauh darinya. Pria itu cemas, ia menggigit bibirnya dan meringkuk di balik pagar tanaman itu.


Pria itu menutup matanya, sepertinya pasrah saat mendengar langkah kaki mendekat. 


Mati aku jika tertangkap!runtuk pria itu dalam hati. 


Meong. 


"Oh kucing toh!" Pria itu membuka matanya dan tampak bingung. Dari asalnya kucing itu? 


Ia mengintip sekitar, penjaga malam itu berbalik dan pergi. Ia menghela nafas lega.


"Terima kasih, Tuan Kucing," gumamnya.


"Memangnya Anda tahu kucing tadi jantan atau betina, Tuan Muda?" Pria berkemeja hitam itu terlonjak kaget, ia jatuh terduduk, mendongak melihat siapa yang mengagetkannya. Benar saja, sudah ia duga. Bahkan nafasnya pun kini pria itu hafal. Wajahnya langsung masam. Lebih baik ditangkap oleh penjaga tadi dari pada pria yang berdiri di depannya ini.


"Sejak kapan kau di situ?!"sungutnya kesal.


"Sejak kucing tadi muncul," jawabnya santai dengan senyum yang mengembang.


"Bukankah kau tidur tadi? Kenapa bisa tahu aku ada di sini?"


"Tuan Muda, tugas saya mengawasi Anda, dua puluh empat jam! Anda bangun saya juga bangun, Anda tidur saya belum tentu tidur. Saya penasaran malam-malam begini Anda hendak ke mana, mengendap-endap lagi, mau kabur ya?"jawabnya penuh tekanan.


"Sembarangan!"bentak pria itu, "aku sedang cari angin!"bantahnya.


"Cari angin? Saya kira lagi Anda ingin salat malam," jawabnya dengan wajah lega yang dibuat-buat. Ya tentu saja ia percaya bahwa pria yang ia panggil Tuan Muda itu ingin kabur dengan lompat pagar. Sudah pernah dicoba namun gagal dan berakhir membersihkan kamar mandi.


"Salat malam? Bukankah sudah Isya tadi?" Pria berkemeja hitam itu dengan wajah yang enggan menerima uluran tangan pria berkemeja putih itu. Setelah berdiri ia menepuk-nepuk pakaiannya, membersihkan kotoran yang barangkali menempel.


"Itu salah wajib, salat malam itu hukumnya sunah, sunah yang sangat dianjurkan. Doa yang dipanjatkan di dalamnya bak anak panah yang tepat sasaran. Jadi Tuan Muda apa Anda ingin salat malam? Hanya beda niat kok," tawar pria berkemeja hitam itu tersenyum. 


Pria berkemeja hitam itu tampak tertarik, seperti anak panah yang tepat sasaran, artinya akan dikabulkan. 


"Apa yang kau katakan itu benar?"tanyanya memastikan, menatap tajam.


"Insyaallah jika dibarengi usaha akan tercapai."


"Ck tadi katanya langsung dikabulkan!"gerutunya kesal.


"Tuan Muda, doa tanpa usaha sama saja bohong!"


"Bagaimana aku bisa berusaha jika terkurung di sini?"


"Memang apa keinginan Tuan Muda?"


"Tentu saja R-A-H-A-S-I-A!"


"Hm rahasia ya? Begini saja, Anda berdoa dulu baru nanti setelah lulus Anda berusaha?"bujuknya agar Tuan Muda itu mau salat malam. 


"Ehm …." Tuan Muda itu tampak menimbang. 


"Bisa begitu?" Wajahnya masih meragu. Pria berkemeja putih itu mengangguk.


Segera setelah menjawab jawaban,  Tuan Muda itu memegang lengan pria di depannya. "Aku mau. Ayo ke masjid!"ucapnya penuh semangat.


Anjani jaga selalu hatimu untukku!ucapnya dalam hati. Benar pria berkemeja hitam itu adalah El dan satu lagi adalah Nizam. 


"Ah Tuan Muda pelan-pelan! Waktunya masih cukup!"pekik Nizam yang ditarik oleh El.


"Lebih cepat lebih baik!"jawab El, semakin mempercepat langkahnya.


Ini sudah beberapa hari berada di pesantren ini. Di antara para Santriwan dan Santriwati, El lah yang paling tua. Ia masih belum bergabung ke kelas, selama sebulan ke depan akan belajar privat dengan Nizam. Keputusan ini diambil juga setelah menimbang semua aspek. 


El baru mengenal huruf arab, banyak dasar yang belum ia kuasai bahkan sama sekali tidak tahu. Padahal sebelumnya selama seminggu sebelum berangkat Rahayu selalu mengirimkan materi dasar padanya. Entah memang ia membacanya atau sama sekali tidak nangkap.


Bacaan salat berikut doa-doanya pun baru hafal walau belum begitu fasih. El pun belum masuk membaca al-Qur'an, masih stay dengan Iqranya. Tapi setidaknya ia ada niat untuk belajar. 


Kamar berbagi, dengan ranjang kecil lagi keras, berbagi kamar mandi, mengantri untuk makan masih berat untuk El jalani. Belum lagi teman satu kamarnya yang begitu kaku dan tegas walau masih berusia 15 tahun. Diminta tolong cuci baju saja tak bisa. Dan kamar kecil ini terasa lebih berat lagi saat Nizam ikut menjadi salah satu penghuninya. Merengek minta pulang, percuma saja. 


Selesai salat malam, El tersenyum manis, berbaring menatap langit - langit masjid sementara Nizam masih memanjatkan doa. 


Senyum Anjani terbayang di benak El. Hatinya bergemuruh, rasa rindu membuncah di hati El. Belum lagi tawa manis Arka. Sungguh jika jurus teleportasi itu ada, El ingin berpindah dalam sekejap bertemu dengan Anjani dan Arka. 


"Memikirkan apa, Tuan Muda?"tanya Nizan yang melihat El senyum-senyum sendiri bak tengah kasmaran, memang!


"Kepo!"sahut El, memalingkan tubuhnya ke arah lain. 


"Memikirkan kekasih kah?"tanya Nizam, nampaknya anak pemilik pesantren ini begitu sangat penasaran. El membuka matanya kesal. Ia duduk dan melirik Nizam yang begitu penasaran. 


"Kami belum jadian," tukas El.


"Wow … siapa gerangan yang berhasil mencuri hati Tuan Muda Playboy ini?"goda Nizam. El mendengus senyum, "aku bukan playboy lagi!"


"Ah ya ya mantan playboy, siapa kah?"ralat Nizam.


"Rahasia!" Nizam menghembuskan nafas pelan. Sudah ia duga. Nizam memposisikan duduknya tepat di samping El.


"Eh ya apa kau bawa ponsel?"tanya El. 


"Ada sih, untuk apa?"tanya balik Nizam.


"Ini sudah larut, siapa yang mau kau hubungi, Tuan Muda?"selidik Nizam.


"Mau ngasih pinjam atau nggak?!"pungkas El datar. Nizam menyipitkan matanya. Tak lama kemudian ia menggeleng pelan.


"Jika alasannya logis akan saya pinjamkan. Lagipula santri dilarang membawa ponsel apalagi sampai memainkannya!"jawab Nizam.


"Kalau tidak mau bilang saja! Nggak usah bawa-bawa peraturan!"ketus El. Tuan Muda Kedua Mahendra itu berdiri dan melangkah pergi. 


*


*


*


Setelah memberi tugas untuk El, Nizam pergi menemui Uminya. "Assalamualaikum, Umi," sapa Nizam saat masuk ke ruangan Umi Hani. 


"Waalaikumsalam Wr. Wb, Nak." Nizam duduk setelah mencium punggung tangan sang ibu.


"Kamu meninggalkan El sendirian?"tanya Umi Hani setelah menunggu beberapa saat.


"Sudah Nizam beri tugas, Umi. Nizam juga sudah beri ultimatum, jadi amanlah sampai Nizam kembali," jelas Nizam. Tuturnya sungguh sopan dan lembut. 


"El itu kadang penurut kadang pemberontak, kamu harus ekstrak sabar menghadapinya," tutur Umi Hani. Nizam mengangguk, "Nizam mengerti, Umi."


"Umi ada kabar baik," ujar Nizam dengan wajah berseri.


"Ada itu?"


"Tuan Muda mau menjalankan salat malam," jawab Nizam. 


"Sungguh? Alhamdulilah!" Umi Hani memejamkan matanya memanjatkan syukur.


"Benar, Umi." Namun, setelah itu raut wajah Nizam berubah, tentu saja mengundang tanya Umi Hani. Nizam menghela nafas sebelum menjawab, matanya menerawang jauh ke masa lalu. Umi Hani sabar menanti, "Umi," panggil Nizam setelah beberapa saat.


"Apa Tuan Muda pernah mengalami benturan keras di kepalanya?"tanya Nizam serius.


"Apa alasannya kamu menanyakan hal ini?"tanya Umi Hani.


"Ya karena Tuan Muda yang ku kenal dulu tidak selemah ini dalam pelajaran, apalagi soal ingat mengingat. Seingatku Tuan Muda anak yang cerdas dan energik. Namun, sekarang Tuan Muda hanya tinggal pecicilannya saja yang tak berubah," ungkap Nizam. Umi Hani menatap dalam anak tunggalnya ini. Nizam begitu peduli dan perhatian pada El. Segala tingkah El, Nizam hadapi dengan sabar dan jika sudah tidak bisa bersabar lagi maka hukuman siap menanti untuk El jalani. Ya walaupun hanya sekadar hormat satu kaki di depan tiang bendera dan mencuci kamar mandi, itu sudah hukuman berat untuk seorang Tuan Muda yang segalanya serba dilayani.


"Umi juga tidak tahu tentang itu, Zam."


"Tuan Surya tidak ada menyinggung tentang hal itu?" Umi Hani menggeleng. 


"Mereka hanya meminta dan berharap agar Umi dan pesantren ini bisa mendidik El menjadi lebih baik. Mengenai kecurigaanmu itu … mungkin saja El pernah mengalaminya." Uni Hani tersenyum nanar mengingat perbandingan El kecil dan dewasa. 


"Ya mungkin saja."


"Eh?" 


"Ada apa, Zam?"


"Ponsel Nizam kok nggak ada ya, Umi?" Nizam mengecek semua kantong pakaiannya. Nihil.


"Jatuh mungkin, coba kamu susuri saja." Nizam mengangguk. Dan lekas berpamitan. Nizam mencari sekaligus mengingat. Anak-anak santri yang berpapasan dengannya juga ikut mencari. Saat setengah jalan, Nizam baru ingat bahwa ponselnya tertinggal di ruang belajar khusus El. Tergesa ia menuju ke ruang belajar El. 


Benar saja! Nizam mendapati El tengah memegang ponsel berwarna biru keluaran terbaru, tersenyum penuh kemenangan menatap dirinya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Zaman sekarang masih ada ya nggak ngasih privasi untuk ponselnya?"cibir El. 


Wajah Nizam mengeras, ia marah. "Kembalikan padaku!"


"Hihi ternyata kau suka drama china juga ya?" Nizam antara marah dan malu. 


"Kembalikan!" El mengangkat tinggi-tinggi lengan yang memegang ponsel Nizam. Postur tubuh El yang lebih tinggi dari Nizam, membuat Nizam kesusahan. 


"Uh siapa aktor dan aktris favoritmu?"tanya El lagi. Ia tersenyum begitu puas melihat wajah Nizam yang memerah.


"Bukan urusan Anda, Tuan Muda!"


"Ah benar juga." El berhenti berlari, membuat Nizam yang tak siap menubruk dirinya.


Bugh!


Keduanya jatuh dengan El dulu yang membentur kerasnya lantai.


El meringis, ponsel di tangannya terlempar. Nizam sendiri masih menelaah situasi. Ia mengerjap pelan, serius ia jatuh dan menimpa dada El? 


"Hei cepatlah berdiri! Aku masih normal!"pekik El.


"Eh?!"


Nizam buru-buru berdiri. Ia tampak salah tingkah. Untung saja tidak ada orang lain di sini, jika tidak bisa- bisa mereka disidang oleh Umi Hani. 


"Aish … betapa bagusnya jika tadi Anjani," gumam El, ia termenung dengan masih posisi berbaring. 


"Mana ponselku?!" Nizam bertanya dengan nada datarnya. 


"Nggak tahu!"sahut El, memperlihatkan kedua tangannya yang kosong. Ia duduk dan merapikan rambutnya sejenak.


"Ck!" El mengangkat bahunya acuh, kembali ke mejanya. Membiarkan Nizam mencari ponselnya sendiri. Dasar El!