This Is Our Love

This Is Our Love
Kakak Kapan Menikah?



Sekitar pukul 08.30, Bella tiba di lapas. Ia segera masuk dan menuju ruang untuk bertemu dengan tahanan. Bella sudah dikenal di sini. Semua ramah sekaligus menaruh rasa hormat pada Bella. 


"Assalamualaikum," sapa Bella saat masuk ke ruang bertemu. 


"Waalaikumsalam. Kakak!" Seperti biasanya, Nesya selalu memeluk Bella setiap kali bertemu dan berpisah. Kehamilan Nesya mulai terlihat dengan kasat mata. Wajahnya yang pucat berseri saat memeluk Bella.


"Bagaimana kondisimu, Adikku Sayang?"tanya Bella lembut, mengusap lembut punggung Bella.


"I'm good! Kakak? Hm wajah Kakak sedikit pucat, apa Kakak sakit?"selidik Nesya, mendongak menilik lekat wajah sang kakak. Bella menggeleng, bibirnya melengkungkan senyum.


"Hanya demam ringan. Tidak sebanding dengan yang adikku rasakan." Sejurus kemudian telapak tangan Neysa memeriksa suhu tubuh Bella.


"Ya Kakak sedikit panas. Sudah minum obat? Jika belum aku akan minta obat pereda panas pada petugas," cemas Nesya, menoleh pada petugas yang berjaga di dalam ruangan.


"Sudah. Toh nanti kita akan lama di sakit. Nanti Kakak minta resep sama dokter saja," ujar Bella.


"Benar juga. Tapi …."


Tuk!


"Auh … Kakak?!"keluh Nesya mengusap dahinya yang disentil oleh Bella.


"Kau lupakah bahwa Kakakmu ini tidak bisa sembarangan minum obat tanpa resep dokter?"tanya Bella, pura-pura kesal. Senyum di wajahnya hilang berubah menjadi sedih. 


"Err ya aku lupa. Kakak maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk melupakannya hanya saja beberapa tahun terakhir adalah tahun yang berat bagiku. Cukup banyak hal penting yang aku lupakan. Kakak jangan marah," jelas Nesya, menggenggam jemari Bella dengan mata menyesal.


Raut wajah Bella kembali berubah. Ia merasa bersalah. Dalam sekali gerakan, Bella kembali memeluk Nesya, "akulah yang tidak benar menjagamu. Jangan salahkan dirimu sendiri. Aku juga banyak melupakan hal penting dalam hidup kita," ucap Bella.


"Kakak … maaf."


*


*


*


"Kakak ibukota ini semakin hari semakin padat saja ya. Bencana sebesar apapun yang datang tak mampu menekan jumlah dan pertumbuhan." Dengan memeluk Bella, Nesya mengutarakan apa yang ia pikirkan.


"Namanya juga dunia masih berputar, Nes. Jumlah yang pergi tak sebanding dengan jumlah yang lahir. Sudahlah jangan pikiran hal yang sudah menjadi rahasia umur. Lebih baik pikirkan tentang masa depan," sahut Bella.


"Masa depan?"gumam Nesya. Ia tenggelam dalam pemikiran tentang masa depan.


*


*


*


"Terima kasih, dokter Rey," ucap Nesya yang diangguki oleh dokter tampan itu.


"Nesya kau istirahatlah dulu. Kakak ingin berbicara dengan dokter Rey," ujar Bella. Dokter Rey sedikit menyipitkan matanya tak lama kemudian ia keluar lebih dulu.


"Bicara hal apa? Sepertinya sangat rahasia," tanya Nesya ingin tahu.


"Ya rahasia," sahut Bella tersenyum. Nesya mencembikkan bibirnya.


Bella segera menyusul dokter Rey. "Bicara di ruangan saya saja," ucap dokter Rey saat Bella keluar.


"Okay."


Bella melangkah sejajar dengan dokter Rey. Wajahnya tenang, senyum tipis di bibirnya memberi kesan berwibawa. Setiap pasang mata yang melihat mereka kagum dengan sejoli yang mereka anggap kekasih itu. 


Jika Ken melihatnya, pasti akan kembali kebakaran jenggot. 


"Nona melangkahlah mendahului saya atau di belakang saya. Tidak enak mendengar bisik-bisik itu," ucap dokter Rey.


"Percepatlah langkah Anda!" Bella memperlambat langkahnya sedangkan dokter Rey mempercepat langkahnya. 


"Hal penting apa yang ingin Anda sampaikan pada saya, Nona?"tanya dokter Rey setelah tiba di ruangannya.


"Hanya ingin mengingatkan Anda dan berkonsultasi tentang kondisi Nesya," jawab Bella, duduk dengan posisi serius menatap tajam dokter Rey. 


Dokter Rey tertegun sesaat, ia langsung duduk dengan posisi serius pula.


"Mengingatkan tentang apa ya, Nona dan apa kita pernah membuat kesepakatan sampai harus mengingatkan saya?"tanya serius dokter Rey. 


"Memang tidak pernah membuat kesepakatan apapun tapi saya harus mengingatkan Anda sebagai seorang kakak dari pasien."


"Maksud Anda?" Bella menghela nafas pelan sebelum menjawabnya.


"Dokter Rey, tolong jangan menyimpan perasaan untuk adik saya!"


"A …."


"Anda seorang playboy. Jangan jadikan adik saya sebagai salah satu dari korban Anda. Jangan pernah memberinya harapan bahwa Anda menyukainya. Cukup jaga hubungan di antara dokter dan pasien!" 


"Tu …." 


"Terlebih keyakinan kalian berbeda. Jika Anda benar-benar serius pada adik saya, Anda hanya punya dua pilihan. Pertama lepaskan semua perasaan untuk adik saja dan jangan pernah memberinya harapan dan yang kedua …."


Bella sengaja menjeda ucapannya.


"Yang kedua?"tanya Dokter Rey meminta kelanjutan.


"Saya rasa Anda cukup pintar untuk menjawabnya sendiri." Bella tersenyum. Dokter Rey termenung.


"Sebelumnya terima kasih karena Anda telah menjaga Nesya di saat saya tidak bisa menemaninya. Akan tetapi, saya tidak pernah berharap akan menimbulkan percikan cinta. Saya meminta Anda untuk menemani adik saya sementara waktu karena saya tidak punya orang yang bisa dipercaya. Lagi pula kami tidak punya keluarga lagi. Di keluarga hanya tinggal kami berdua. Selain itu, seandainya saran kedua itu terjadi, Anda harus menerima semua tentang Nesya, termasuk anak dan masa lalunya."


Dokter Rey semakin termenung. Sejujurnya Bella juga berat mengatakan hal ini. Akan tetapi itu lebih baik daripada keduanya memiliki keterikatan hati yang pada akhirnya keduanya akan terluka sangat dalam. Bella tahu bahwa Nesya menaruh rasa pada dokternya itu. Begitu juga dengan dokter Rey yang memiliki ketertarikan pada Nesya. 


"Jika seiman pun saya tidak yakin keluarga Anda akan menerima Nesya," tambah Bella yang melihat kesedihan di wajah dokter Rey.


"Ya saya mengerti," jawab dokter Rey sendu. Dokter muda itu tersenyum pahit. 


"Kalau begitu kita lanjut dengan konsultasi kesehatan adik saya."


Dokter Rey menghela nafas kasar sebelum kembali menguasai dirinya, "silahkan, Nona."


"Dengan kondisi adik saya apakah aman jika memberitahu padanya sesuatu yang amat penting?"tanya Bella serius.


"Amat penting?"


***


Bella kembali ke ruangan Nesya setelah berkonsultasi dengan dokter Rey. Sebelum masuk Bella menghela nafas pelan, memasang wajah tenang dan senyum tipis seperti biasa.


"Sedang apa?"tanya Bella yang mendapati Nesya tengah bermain ponsel.


"Menonton drama," jawab Nesya, hanya menoleh sekilas pada Bella.


"Drama?"


"Hm." Bella ikut menonton apa yang Nesya tonton. Dahinya mengeryit melihat drama tersenyum, "kolosal?"


"Ya dari sinopsisnya sih sad ending tapi aku penasaran."


"Hm." Nesya mengangguk tanpa menatap Bella.


Bella duduk diam sesaat menatap layar laptop yang sudah menyala. Beberapa saat kemudian Bella mengendikkan bahunya dan mulai bekerja.


*


*


*


"Ah mulai sedih!" Bella melirik sekilas Nesya yang tengah maraton menuntaskan drama 24 episode itu. 


Hm benar-benar maraton. 


Bella berhenti sejenak kemudian meraih ponselnya.


"Sialan! Pangeran sialan! Jenderal br'engsek!"


"Hei apa yang kau kesalkan?" Bella terganggu dengan umpatan kesal Nesya.


"Jelas-jelas sudah mengabdi setia bertahun-tahun. Kalau mau memberontak mengapa harus menunggu sekian lama? Yang setia dibunuh yang tikus dipelihara. Huh cinta terkadang memang buta!"


Nesya masih misrah-misruh kesal dengan air mata yang tetap mengalir. Bella berdiri menghampiri Nesya.


"Dia tokoh utama prianya?"


"Iya. Namanya Zhou Sheng Chen. Lihatlah ia setia dan rela berkorban. Bahkan sudah bersumpah seumur hidup tidak menikah dan mempunyai keturunan tapi tetap saja harus terseret dalam siasat kejam kerajaan."


"Sudah-sudah hanya drama mengapa harus seperti ini?" Bella mengusap punggung Nesya.


"Tapi ngena di hati, Kak. Ikut merasakan cinta, pengorbanan mereka. Rasa sakit dipisahkan dari orang yang dicintai lebih sakit daripada dituduh dan dihukum mati sebagai penghianatan," tutur Bella.


Bella tersenyum lembut. 


"Kakak tadi sudah lihat endnya. Ya memang sad ending tapi kisah mereka tidak berhenti. Nanti ada season 2 nya."


"Benarkah?" Lihatlah perubahan raut wajah Nesya. Ia menatap Bella meminta sang kakak menceritakannya.


"Shiyi bunuh diri?"


"Orang yang ia cintai sudah tidak ada di dunia. Untuk apa bertahan dan menghabiskan sisa hidup di balik istana, dengan dalang sang pembunuh pria yang ia cintai? Lebih baik menyusul pergi. Drama kolosal memang kental dengan intrik dan siasat, jangan heran lagi dengan dua hal itu karena sampai sekarang pun itu masih banyak dijumpai," ujar Bella.


Nesya mencerna kemudian mengangguk paham. 


"Aku tak sabar menonton season 2 nya!"ucap Nesya.


"Masih ingin menonton?"


Nesya mengangguk.


"Ya sudah. Kakak akan kembali bekerja. Satu jam lagi kita kembali," ujar Bella.


"Al right!"


*


*


*


Selesai sudah Neysa marathon drama china dengan judul 'One and Only' itu. Walaupun tak sepenuhnya mengikuti jalan cerita, ada beberapa bagian yang ia tidak suka diskip. Tapi inti dari drama itu Nesya dapatkan. 


Mengingat kembali poin saat pemeran utama pria bersumpah tidak akan menikah dan memiliki keturunan juga tekad pemeran wanita utama sebelum menerima dekrit kekaisaran yakni tidak menikah, menjadi sejarawan, menemani sang guru yang tak lain adalah pemeran utama pria. 


Inti darinya adalah menikah. Nesya seketika memalingkan wajahnya ke arah Bella yang masih tenggelam dalam pekerjaan. Lama Nesya menilik lekat wajah Bella.


Umur kakaknya itu sudah menjelang 28 tahun. Setelah orang tua mereka meninggal, Bella menjadi satu-satunya harapan untuk membangkitkan dan mengembalikan nama baik keluarga Chandra. Bahu yang kokoh, yang tegar, yang tetap melangkah maju walaupun penuh rintangan. Pribadi kakaknya dari kecil memang tenang dan kuat. Tatapan mata yang lembut kala sedang bahagia dan tatapan mata tajam lagi menghunus jantung saat sudah marah. 


Selama ia bisa mengingat dengan baik, tidak pernah sekalipun Nesya melihat, mendengar, bahwa Bella berpacaran. Di sekolah dulu, kakaknya termasuk primadona, dengan julukan gadis es karena sikapnya yang tenang cenderung dingin. 


Sekarang ia sakit, kasusnya juga berat. Walaupun hukumannya diringankan tapi itu hanyalah hukuman tertulis. Penyakitnya ini entah kapan akan diangkat, atau malah ia yang kalah melawan leukemia yang dideritanya!


Nesya merasa cemas, bersalah pada Bella. Pasti ia menambahkan beban yang berat di pundak Bella. Bella bekerja keras demi dirinya. Kakaknya sangat mengasihi dan menyayangi dirinya tapi dirinya sendiri, tidak berbakti. 


Terlebih Nesya ingat Bella pernah bertekad dan bersumpah untuk hanya menikah sekali seumur hidup. Oleh karena itu harus mencari pasangan yang benar-benar dicintai. Tapi tidak mau pacaran juga, kapan kakaknya ini akan menikah? 


"Kakak …."


"Ya? Ada apa?" Bella berpaling menatap Nesya.


"Kakak … kapan menikah?"


Bella tertegun dengan pertanyaan Nesya. Ia mengerjap, terlihat menggemaskan.


"M-menikah?"


"Iya, menikah. Usia Kakak sudah tak lagi muda. Aku takut nanti kakak kesulitan untuk punya anak. Apa Kakak belum menemukan seseorang yang benar-benar Kakak cintai?"tanya Nesya.


"Mengapa tiba-tiba membahas tentang menikah? Apa pengaruh dari drama tadi?"tanya balik Bella.


"Apa karena aku Kakak tidak kunjung menikah?"


"Tentu saja bukan!"


Hah!


Bella menghela nafas pelan. Ia jujur kaget dengan Nesya yang tiba-tiba membahas tentang menikah. 


"Jangan pernah merasa jika aku tidak kunjung menikah karena dirimu. Aku menikah kelak bukan hanya mencari kebahagian sendiri. Aku pernah egois tapi aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Kamu adikku, kesayanganku, tanggung jawabku. Jika aku menikah maka suamiku dan keluarganya harus menerima dan memperlakukan dirimu dengan baik. Masa lalu yang buruk bukan keinginan tapi memang sudah suratan. Tidak semua manusia di dunia ini suci. Aku pun juga seorang yang berlumuran dosa. Jadi selama belum menemukan pria dan keluarga seperti itu, aku tidak akan pernah menikah."


Aku sudah menikah tapi selain Pak Surya yang lain hanya tahu bahwa Nesya sakit. 


"Kakak mengapa kau masih memprioritaskan diriku?"


"Karena kau adikku. Adik yang ku sayang dan kasihi."


Nesya memeluk pinggang Bella erat. Rasanya sungguh beruntung memiliki kakak seperti Bella.


"Sudah, sebentar lagi kita pulang. Kakak akan bereskan barang Kakak dulu."


"Baiklah."


Nesya tersenyum lebar melihat Bella yang merapikan barang-barangnya ke dalam ransel. 


"Hm membahas tentang menikah, kau sendiri bagaimana, Nesya?"tanya Bella.


Nesya langsung menggeleng. "Aku tidak berani memikirkan tentang menikah walau sebatas mimpi. Mungkin selamanya aku tidak akan menikah. Mungkin hanya bisa memendam perasaan tanpa diungkapkan seperti perasaan cinta Shiyi pada Zhou Sheng Chen," jawab Nesya.


"Jangan menghakimi diri sendiri. Percayalah akan ada pelangi setelah hujan!"


"Hm."