This Is Our Love

This Is Our Love
I Love You too



Anjani membaca serius pesan dari El. Selesai membaca, Anjani menoleh ke arah Bella yang fokus pada laptop dan berkas di atas mejanya. 


"Hm … mengizinkan Bella pulang cepat? Bisa tidak ya?"gumam Anjani.


"Apa yang kau gumamkan, Jani?" Anjani terkesiap. Ia kira Bella hanya fokus pada pekerjaannya dan acuh terhadap sekitar. Tapi … Bella juga tidak menoleh padanya.


"Ah itu … aku hanya bermonolog betapa lelahnya kau belakangan ini," jawab Anjani setelah menemukan jawaban yang tepat. 


"Ya mau bagaimana lagi. Beberapa hari lagi aku akan meninggalkan Diamond Corp. Semua target yang ku buat harus segera aku selesaikan. Setidaknya jika aku tidak berada di sini, kalian tinggal meneruskan targetku yang baru tercapai," jawab Bella, lagi-lagi tidak memandang lawan bicaranya.


"Tapi aku tidak enak dengan keluargamu. Jika kau masih single sih, tak terlalu masalah, tapi kan sekarang kau ini istri dan menantu dari keluarga terpandang."


Bella menghentikan ketikan jarinya pada laptop. Bella menoleh ke arah Anjani sembari melepas kacamatanya. Manik hitam itu menatap lekat Anjani yang tampak langsung gugup di tempatnya.


"Kita sudah keluar kota selama dua hari. Dan dua hari lagi aku akan keluar dari Diamond Corp. Aku yakin keluarga itu pasti paham kesibukanku karena mereka jlnggung masalah ini, ada apa rupanya?" Bella memicingkan matanya curiga pada Anjani. 


"Err … ya tiba-tiba saja merasa tidak enak. Aku juga cemas dengan kesehatanmu. Aku takut nanti waktu pelantikanmu menjadi wakil Presdir kau malah tumbang," jawab Anjani dengan nada meyakinkan walau tidak meyakinkan. Bola mata Anjani bergerak seperti seseorang yang sedang berbohong. 


"Oh. Tenang saja, daya tahan tubuhku sangat tinggi. Aku juga terbiasa kerja sampai larut malam dan aku malah sebaliknya denganmu. Kau jangan terlalu lelah bekerja, kasihan anakmu di rumah jika kau terus pulang lembur." Bella menyangga pipinya, tersenyum tipis pada Anjani yang merenung.


"Hah sudahlah, ayo kembali bekerja." Bella kembali memakai kacamatanya, kembali fokus pada laptop dan tumpukan berkas.


"Benar juga! Sudah ku putuskan hari ini kita pulang sesuai jam kerja. Pekerjaan yang belum selesai bisa dikerjakan besok atau jika memang kau enggan bisa kau bawa ke rumah. Aku juga sudah lama tak menemani Aka makan malam dan kau pasti begitu juga kan dengan bocah angkuh itu. Ah ya benar, bagaimana hubunganmu dengan bocah angkuh itu sekarang?" 


Anjani menopang dagunya, menatap Bella penasaran. Bella tidak langsung menjawab, tapi karena tatapan lekat Anjani berhasil membuat Bella risih. Bella menghela nafas kasar. Ia memijat pelipisnya pelan, melirik Anjani yang tersenyum menanti jawaban.


"Belakangan ini aku hanya fokus pada pekerjaan dan untuk Ken, ku rasa hubungan kami masih stuck di zona dingin. Setelah pulang dari luar kota, aku kurang berkomunikasi dengannya," jawab Bella, lirih.


"Kalau Ken?"


"Ken?"


Dahi Bella mengerut. Ia mengingat saat pulang kemarin, Ken tampak menunggu di ruang keluarga dengan wajah yang datar tapi karena terlalu lelah Bella tidak terlalu memperhatikannya. Dan samar Bella merasakan ada yang mencium keningnya. Saat bangun ia tak banyak interaksi, selesai salat dan mandi, Bella segera ke kantor tanpa sarapan di rumah. 


Begitu juga seterusnya. "Hm aku rasa Ken ingin mengatakan sesuatu hanya saja aku selalu memotongnya. Tatapan bocah itu tampaknya merasa bersalah juga kecewa, tapi entahlah. Aku juga tidak terlalu memperhatikannya."


"Ck!" Anjani berdecak kesal dengan jawaban Bella.


"Harusnya kau dengarkan apa yang ingin Ken katakan. Aku juga tidak mau kena peringatan nanti dari mertuamu. Sudah hari ini kita pulang sesuai jam kerja. Tidak ada bantahan! Aku bosmu, kau harus mematuhi perintahku!"tegas Anjani. 


"Mengapa kau sensitif sekali?"heran Bella yang tidak dijawab oleh Anjani. Bella jelas saja bingung. 


*


*


*


Sesuai dengan ucapan Anjani, mau tak mau Bella melangkah keluar dari ruang kerja. Disusul oleh Anjani. Bella membawa pekerjaan yang belum ia selesaikan, ia menekan tombol lift turun menuju basement. 


"Hei harusnya senang dong pulang cepat. Ini kok malah cemberut?"


"Tahu ah."


"Cie Abelku ngambek. Duh aku baru tahu ada pekerja yang ngambek saat disuruh pulang tepat waktu. Abel segitu cintanya kamu sama kerja," celetuk Anjani, bergelayut manja Bella. 


Bella melirik dingin, menarik lengannya. Anjani mengerucutkan bibirnya.


"Ih gantian dia yang sensi." Anjani melipat tangan di dada. 


Ting.


Lift tiba di basement. Bella keluar dengan wajah dinginnya. Anjani menjulurkan lidahnya mengejek Bella dari belakang.


Dugh!


"Auh kok berhenti mendadak sih?"keluh Anjani, mengusap dahinya yang memar.


"Apa El yang menyuruhmu agar aku pulang cepat?"tanya Bella dingin. 


"Apa maksudmu?" Anjani berdiri di samping Bella karena tinggi Bella lebih dari Anjani.


"Ken?"kaget Anjani yang melihat pria muda yang tak lain adalah Ken duduk di atas motor Bella. Pria itu tersenyum manis pada keduanya, ah tidak hanya pada Bella. 


"Sepertinya hubunganmu dan El semakin dekat, ya?"sindir Bella yang mengandung sebuah godaan. Anjani langsung salah tingkah.


"Eh … er … tidak kok. Aku hanya ingin membantu agar hubungan kamu dengannya membaik. Nggak baik loh suami istri marahan lama-lama," kilah Anjani.


"Memangnya aku marah padanya? Biasa saja deh kayaknya!"ketus Bella.


"Ya pokoknya supaya hubungan kamu dan dia membaik. Dah aku mau pulang. Selamat bersenang-senang, Abel!"


"Eh?!" Bella ingin menarik Anjani tapi Anjani sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. 


"Bye Abel. Assalamualaikum." Anjani melambaikan tangannya dari dalam mobilnya. Mobil putih Anjani kemudian melaju meninggalkan basement. 


"Waalaikumsalam."


Bella beralih menatap Ken yang masih stay duduk di motornya. Bella masih mematung di tempat. Dahinya mengerut menerka mengapa dan sedang apa Ken berada di sini. Senyum manis itu membuat jantung Bella berdebar lebih kencang. 


"Assalamualaikum, Aru." Suara lembut menyapa pendengaran Bella. Bella tertegun dengan nada lembut itu. Lebih lembut dari ucapan Ken sebelum-sebelumnya.


"Waalaikumsalam. Mengapa kau di sini?"tanya Bella.


"Tentu saja menjemput isteriku," jawab Ken, menjulurkan tangan kanannya pada Bella. Bella menatap bingung hal itu.


"Cium tangan," ucap Ken tersenyum. 


"Cium tangan?" Dengan kebingungan yang semakin menjadi Bella meraih urusan tangan tersebut. Bella terkejut saat Ken mencium keningnya. 


"Apa kepalamu kemasukan air?" 


"Kemasukan air? Kau tidak senang dengan sikapku, Aru?" Ken mengerucutkan bibirnya.


"Ya terlalu tiba-tiba. Jadi rasanya sangat aneh," jawab jujur Bella.


"Ya sudah, kalau begitu mulai sekarang harus terbiasa. Oh iya mana kunci motornya?"tanya Ken, meminta kunci motor Bella.


"Buat apa? Kamu yang bawa? Kamu kan nggak bisa bawa motor. Sudahlah, biar aku yang bawa, kamu naik di belakang!"


"Aku sudah bisa bawa motor, Aru! Sini biar aku yang bawa."


"Sejak kapan?" Bella masih tidak percaya.


"Sudah hampir empat harian."


"Sudah punya SIM?"


"Ya belumlah," jawab Ken enteng.


"Berarti nggak bisa bawa motor, sudah ayo naik." Bella naik ke atas motor. Bersiap untuk mengenakan helmnya.


"Aru percaya deh sama aku. Pasti aman!" Ken meyakinkan. Bella menatap Ken yang menatapnya penuh harap. 


Hah.


"Baiklah."


Bella kembali turun. Ken tersenyum lebar dan segera naik, menghidupkan mesin motor dan memakai helmnya. 


"Ayo naik."


Walau masih ragu, Bella tetap naik. Ken mulai melajukan motor keluar dari basement.


*


*


*


Jalanan yang padat lagi bising, sudah menjadi rutinitas di ibu kota. Berjalan merayap di tengah kesibukan jam pulang kerja. Belum lagi rasa gerah yang menerpa bagi yang mengendarai sepeda motor atau angkutan umum tanpa pendingin ruangan. 


Bella mengipasi tubuhnya karena Ken begitu lambat membawa motornya. Ken belum berani menyalip mobil di depannya karena cela yang dirasanya sangat sempit. Padahal bagi Bella ataupun pengendara lain, itu sudah lebih dari cukup. 


Dan setelah sekian lama, akhirnya terlepas dari kemacetan. Jalan yang kini mereka lalui memang ramai tapi tidak padat. 


"Aru pegangan dong. Nanti jatuh loh."


"Jatuh gimana? Bawa motornya pelan gini," heran Bella.


"Kencang gini kamu bilang pelan?"


Memang benar. 


"Ya pegangan dong, biar romantis. Lihat selaras loh sama senja," ucap Ken. 


"Romantis? Aku rasa kepalamu terbentur sesuatu."


"Bukan." Ken menoleh ke belakang, mencari kedua tangan Bella lalu melingkarkannya pada pinggangnya. Bella yang masih loading dengan apa yang Ken lakukan hanya mengerjap.


"Nah gini baru benar. Kita ke sholat magrib dulu baru ke butik."


"Butik? Untuk apa?"


"Ya tentu saja beli baju."


Sebenarnya apa yang terjadi?


*


*


*


Bella yang sedang masa libur salat menunggu Ken di halaman masjid seraya menikmati sebungkus siomay pecah. Beberapa saat kemudian Ken keluar dari dalam masjid dan menghampiri Bella yang telah selesai makan.


"Enak banget memangnya? Sampai belepotan gitu?" Ken menyeka noda di pinggir bibir Bella.


Lagi-lagi Bella terkejut dan saling tatap dengan Ken.


"Enaknya punya adik rasa pacar. So sweet sekali kalian berdua," celetuk salah seorang penjual yang langsung membuat Ken dan Bella menoleh padanya.


"Maaf Bang, ini bukan kakak saya tapi istri saya!"tegas Ken.


"Hah istri? Yang benar saja? Umur mbaknya kayaknya lebih tua dari Mas loh." Penjual itu terkejut. Ia menatap keduanya tidak percaya.


"Benar, Bang. Ini foto pernikahan kami." Ken menunjukkan foto pernikahan yang kini menjadi wallpaper ponselnya seraya merangkul Bella.


"Wah serius rupanya. Maaf ya Mas, Mbak."


Ken mengangguk dan mengajak Bella untuk segera melanjutkan perjalanan. Kembali Ken melingkarkan tangan Bella pada pinggangnya. 


Bella mulai sadar akan maksud Ken, namun belum percaya sepenuhnya. Kini Bella mulai menikmati kelembutan Ken padanya yang menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat merenggang. Tidak ada bahasan tentang Cia lagi.


Tiba di butik, Ken segera memilihkan pakaian untuk Bella. Awalnya Bella menolak tapi bujukan Ken membuatnya hanya bisa menerima.


Bella langsung berganti pakaian dengan yang Ken beli kan sedangkan Ken menunaikan salat Isya di mushalla butik.


"Aru aku tutup mata kamu ya," ucap Ken yang berada di belakang Bella.


"Untuk?"


"Surprise."


"Berlebihan."


"Anggap saja begitu." Melihat tidak penolakan berarti, Ken menutup mata Bella dengan sehelai kain. 


*


*


*


Ken membantu Bella turun dari motor saat telah tiba di restoran yang telah El atur. 


"Kita di mana?"


"Nanti juga tahu."


"Ayo masuk," ajak Ken.


Ken dan Bella diarahkan oleh pelayan menuju meja yang telah dipesan oleh El atas nama Ken dan Bella. 


Sebuah meja yang berada di sebuah ruangan dengan atap kaca sehingga bisa menikmati langit malam tanpa takut angin dingin apa lagi hujan. Meja yang ditata apik, dua piring steak berada di atasnya. Rak lilin beserta bunga mawar merah berada di tengah meja. Pemain biola berada tak jauh dari meja mereka. 


Ken mendudukan Bella di kursi kemudian dengan perlahan melepas penutup mata Bella.


"Wow." Satu kaca diikuti decakan kagum Bella. Penerangan yang tidak terlalu terang dan gelap menambah suasana romantis. Langit malam bertabur bintang yang bersanding dengan sang rembulan menghiasi langit. 


"Aru." Bella menunduk menatap Ken yang berlutut di sisinya. Tatapan pria itu sangat serius. Ken menggenggam kedua tangannya.


"Maafkan aku."


Ken menjeda ucapannya, mengamati wajah Bella yang menanti kelanjutan ucapannya.


"Sejak awal kita menikah, aku selalu menyakitimu dengan keegoisanku. Aku tahu sikapku termasuk buruk padamu, terlebih dua minggu belakangan ini. Aku marah tanpa alasan yang jelas padamu. Padahal jelas bukan kamu alasan aku dan Cia berpisah. Aku tahu aku ini masih belum dewasa, sikap dan tindakanku terkadang kekanak-kanakkan. Aku sadar bahwa sejak awal kita bertemu aku sudah tertarik padamu tapi kekerasan hatiku menyembunyikan rasa itu. Dan sekarang, aku sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu, my Aru. Ku mohon, terimalah permintaan maaf dan pengakuanku," ucap Ken bersungguh-sungguh.


Bella jelas tercengang dengan pengakuan Ken.


"Lantas bagaimana dengan Cia?"


"Kami sudah tidak ada hubungan apapun. Saling melepaskan karena sekarang kami punya kehidupan masing-masing. Dia dengan keluarganya dan aku denganmu. Percayalah, aku tidak berbohong. Aru kau juga mencintaiku, kan?"tanya Ken penuh harap.


"Bagaimana jika ku katakan tidak?"


"Tidak?"


Jelas-jelas kemarin katanya mulai mencintaiku? Aneh.


"Maka aku akan mengejarmu!"jawab Ken mantap.


"Benarkah? Kau serius?" Ken mengangguk.


"Jadi sikap anehmu beberapa hari ini karena hal ini?"tanya Bella lagi.


"Benar."


"Kau sudah berusaha keras ya, Ken. Dan …." Bella berdiri, Ken juga ikut berdiri.


"Apakah ada alasanku untuk menolak permintaan maaf dan pengakuan cintamu itu?"tanya Bella. Ken tertegun. 


Lebih terkejut lagi saat Bella memeluknya erat. 


"I love you too," bisik Bella.


Ken senang bukan main. Lekas ia membalas pelukan Bella. 


Cia aku bahagia, ku harap kau bahagia juga bersama keluargamu.


Iringan musik biola mengalun lembut, menemani sepasang insan yang tengah berpelukan erat. 


Perasaan lega menyelimuti keduanya, ciuman singkat pun berlangsung dan segera berakhir karena perut yang telah berbunyi lapar. 


Keduanya sama-sama tersipu dan langsung duduk. 


Mereka mulai makan. Ken memotong steak miliknya untuk Bella, sedangkan Bella menatap lekat wajah Ken yang kini salah tingkah. 


"Bocah akhirnya kamu mulai dewasa ya," ujar Bella.


"Memangnya selama ini sikapku seperti bocah?"


"Bukankah kau sendiri yang mengaku tadi?" Skatmat. Ken termakan ucapannya sendiri. Ia hanya tersenyum lebar.


"Makanlah," ucap Ken, menukar piring steak mereka.


"Hm." Bella mulai makan, akan tetapi baru satu potongan yang melewati kerongkongannya, Bella membulatkan matanya.


Uhuk 


Uhuk 


"Aru kau kenapa?"cemas Ken yang melihat Bella seperti sesak nafas, segera Ken berada di samping Bella yang batuknya semakin parah. Belum lagi keringat yang mulai mengalir.


"Daging apa tadi?"


"Sapi."


"Pakai lada hitam?"


"Ku rasa."


"Ahh aku lupa. Aku alergi keduanya. Hah hah hah."


"Alergi?"


Tanpa pikir panjang, Ken langsung menggendong Bella meninggalkan ruangan ini. Berlari keluar restoran dan mencegat sebuah taksi.


"Tidak, jangan. Jangan …." 


"Aru kita tidak bisa naik motor. Kita harus segera ke rumah sakit. Jalan, Pak!"


Bella menggeleng dalam pelukan Ken. Suhu badan Bella mulai naik dan keringat semakin deras. Belum tiba di rumah sakit, Bella sudah bolak balik muntah. Ken kembali merasa bersalah. Harusnya ia mencari tahu makanan kesukaan Bella, atau alergi Bella terhadap makanan. Tapi nasi sudah jadi bubur. Kasihan Bella, Ken, juga sopir taksinya.