
Clara pikiran sekali lagi keputusan kalian. Masih belum terlambat. Jangan korbankan masa depan Angga demi kekerasan hatimu terhadap kami. Jika kalian bersedia kami, keluarga Mahendra siap sedia untuk membantu kalian. Jangan karena hubungan Cia dan Ken yang kandas, persahabatan kita juga kandas! Ingat, belum terlambat!
Clara menatap rumit pesan yang masuk di akun instagramnya. Itu adalah direct message dari Rahayu. Pesan itu dikirim kemarin namun baru terbaca sekarang. Belakangan ini Clara sangat sibuk hingga tiada waktu menbuka media sosial. Kondisi perusahaan yang cukup terguncang dan kini masih down, belum lagi tentang pernikahan putra pertamanya, membuat Clara pusing tujuh keliling.
Alasan lainnya adalah Clara enggan dan malas menanggapi pertanyaan yang masuk ke massage yang berkaitan dengan kabar pernikahan Anggara dan putri dari Presdir ASA Bank.
Pagi ini, selesai mandi Clara ada waktu sebentar untuk membuka media sosialnya. Ia tadinya cukup kaget melihat direct message tadi Rahayu yang berada di barisan paling atas.
Clara mengigit bibirnya. Jarinya melayang di atas keyboard. Namun, tiada balasan yang ia ketikkan sampai sekarang.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Bayu, suami Clara yang baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawahnya menatap tanya Clara yang menatap dirinya gusar. "Ada apa?"tanya Bayu, ia mendekati Clara sembari mengeringkan handuknya.
"Rahayu … dia menawarkan bantuan," jawab Clara dengan nada yang gusar pula.
Gerakan mengeringkan rambut Bayu terhenti. Ia menatap tertegun beberapa saat sebelum akhirnya merebut ponsel Clara dan membaca direct message dari sahabat istrinya itu.
"Sudah. Sudah terlambat," ucapnya dengan nada berat.
Bayu duduk di tepi ranjang. Ia mengacak-acak rambutnya.
"Tapi, Ayu mengatakan belum terlambat, Mas! Pernikahan masih bisa dibatalkan!"
Jiwa seorang ibu kini mendadak lebih kuat daripada daripada peran sebagai seorang Nyonya keluarga Utomo. Baik Clara atau Bayu sama-sama berat untuk mengambil keputusan menikahkan Anggara dengan gadis yang menderita retardasi mental atau keterbelakangan mental.
Akan tetapi, di sini, Bayu bertindak sebagai kepala keluarga dan Clara sebagai Nyonya keluarga Utomo.
Sedang Anggara, ia harus berkorban demi kebangkitan dan keberlangsungan keluarga Utomo. Sudah menjadi tugasnya sebagai seorang Tuan Muda keluarga Utomo.
"Clara!"seru Bayu, sedikit membentak Clara.
"Mas?!" Clara memelas.
Sungguh ia tidak tega melihat Anggara yang tertekan setelah keduanya menyepakati pernikahan dengan putri Presdir ASA Bank dengan balasan membantu keluarga Utomo keluar dari keterpurukan.
"Terlambat, Clara! Perjanjian yang kita buat bukan hal kecil! Jika kita membatalkan perjanjian secara sepihak maka masalahnya nanti bukannya selesai makah semakin runyam! Lagi, kita akan melibatkan keluarga Mahendra yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah kita!"
Bayu sadar betul, walaupun keluarga Mahendra membantu masalah mereka, masalah tidak akan berhenti setelahnya.
Presdir ASA Bank tidak akan terima keluarganya dipermalukan di depan publik. Keluarga terpandang pun tak bisa sembarangan bertindak.
"Katakan pada mereka, keputusan sudah dibuat! Pernikahan akan tetap dijalankan. Sampaikan terima kasih atas tawaran mereka. Kita tidak akan melibatkan keluarga Mahendra dalam masalah!"tegas Bayu. Ia berdiri dan menuju ruang ganti untuk berpakaian.
Bahu Clara langsung lemah mendengar ucapan suaminya. Harapannya seketika terhempas.
"Mas, tidak kasihankah kau melihat kondisi putra kita, Angga?"pekik Clara, nadanya menahan tangis.
Clara mencengkeram erat ponselnya, ia berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Bayu keluar dengan wajah yang memerah, kesal. Namun, gurat kesedihan tak disembunyikan dari wajahnya. "Apa kau kira aku tidak tertekan, hah?" Bayu membentak Clara.
"Tapi, aku bisa apa sekarang? Kita bisa apa, hah? Kau yang mementingkan egoismu untuk tidak meminta bantuan keluarga Mahendra. Harga dirimu yang tinggi dibayar oleh anak kita yang akan menjalani hidup dengan gadis keterbelakangan mental! Jadi, untuk apa kau ribut lagi tentang hal ini hanya karena Rahayu menawarkan bantuan?! Jangan jadi orang yang plin-plan! Ini sudah resiko yang harus kita tanggung! Pegang erat harga dirimu yang tinggi! Dan jangan pernah bahas mengenai pembatalan pernikahan!"
"Lagi apa yang akan Anggara lalui nanti adalah bentuk dedikasinya untuk keluarga Utomo. Itu adalah tugas dan kewajiban seorang Tuan Muda untuk menjaga nama baik keluarga sekaligus mempertahankan keberlangsungan keluarga Utomo. Jangan seperti ini, Clara!"
Bayu mengusap kasar wajahnya setelah mengatakan hal itu. Clara terdiam. Ia merosot lunglai. Clara menyesal! Ia menyesali keengganan dan harga dirinya yang terlalu tinggi. Ia menyesali keputusannya yang melarang Bayu meminta bantuan pada keluarga Mahendra padahal itu jalan yang paling baik. Ia merutuki keegoisannya.
Hanya karena enggan berutang budi, anaknya yang menjadi korban perjanjian. Hanya karena malas berhubungan dengan keluarga Mahendra lagi, padahal keluarga itu selalu terbuka untuk mereka, Clara mengantar bahkan menjerumuskan Anggara dalam jurang yang gelap.
"M-maaf! Maafkan aku, Mas!"
Clara tergugu. Air matanya tak lagi terbendung, membanjiri pipinya. Bayu menggeleng lemah, terlambat!
"Kirim balasan seperti yang kau katakan tadi! Jangan menambah runyam masalah, Ckafa!"tegas Bayu, lalu melangkah pergi keluar dari kamar, meninggalkan Clara yang terisak hebat.
*
*
*
"Tanggung jawabku?"gumam Anggara saat tiba di kamarnya.
"Apa ini benar jalan hidupku?" Ia merosot, terduduk lemas dan tatapannya kosong. Anggara mendengar jelas perbincangan kedua orangnya di kamar tadi.
Entah lupa atau bagaimana, baik Clara atau Bayu tidak ada yang mengaktifkan kode kedap suara kamar.
Tadinya Anggara ingin pamit keluar untuk menjernihkan dan menenangkan hatinya. Ia butuh ketenangan dan kekuatan hati untuk menghadapi pernikahan yang akan terjadi lusa.
Angkasa masih menemani kakak tertuanya di Singapura. Rencananya besok pagi baru pulang ke Jakarta. Anggara sendirian, tiada tempat untuk mengadu karena setelah keputusan tentang pernikahannya ditetapkan, Bayu dan Clara melarangnya untuk keluar dari rumah.
Gadis keterbelakangan mental? Anggara tak sanggup membayangkannya. Apalagi usia calon istrinya itu lebih tua 7 tahun darinya.
Namun, apa daya. Mau tau mau ia harus menerima keputusan ini. Setelah keputusan itu ditetapkan, Anggara menghabiskan waktunya di dalam kamar. Mengurung dirinya. Bahkan ia hanya makan beberapa suap nasi dan sedikit air sejak ia tahu akan dinikahkan dengan gadis keterbelakangan mental.
Wajahnya pucat, lingkar matanya begitu jelas. Penampilannya juga kucel. Anggara menyembunyikan wajahnya di balik lututnya.
Terdengar isak yang ditahan, anak itu begitu tertekan. Di saat teman sebayanya sibuk mengejar cita maka ia harus berkorban dengan keluarga. Tidak selamanya menjadi Tuan Muda itu enak, semua saling berhubungan timbal balik. Ada suka dan dukanya.
Anggara mengangkat wajahnya saat mendengar ponselnya berdering. Matanya merah, ia berdiri dan melangkah gontai mencari keberadaan ponselnya.
"Akkhhgg! Di mana itu?!"pekiknya kesal. Ia mengobrak-abrik sprei dan selimut.
Nafas Anggara memburu. Ia diam sesaat menfokuskan pendengarannya. Rupanya ponselnya ada celah kecil antara ranjang dan kepala ranjang. Anggara mengeryit melihat nomor yang tidak dikenal. Dengan ragu ia menjawabnya.
"Hallo?"
"Ku kira kau melakukan tindakan buruk sampai begitu lama menjawab teleponku."
Suara wanita. Familiar namun Anggara tidak mengenalinya.
"Maaf, sebelumnya dengan siapa? Dan dapat nomor saya dari mana?"
"Ah kau ternyata sudah lupa denganku. Baiklah, tidak apa. Aku paham. Kalau begitu aku akan perkenalan diriku lagi. Tapi, sebelumnya aku lupa menyapamu dengan baik. Assalamualaikum, Anggara!"
Anggara melihat layar ponselnya. Nada wanita itu begitu bersahaja. "Hei kau masih sadar, kan?"sentak cemas wanita itu.
"Ah! Waalaikumsalam!"jawab Anggara cepat. Dosa jika tidak menjawab salam seorang muslim.
Anggara kini duduk di tepi ranjangnya. Entah mengapa ada perasaan nyaman berinteraksi dengan seseorang yang tidak ia kenal. Dan ada rasa penasaran, apa wanita itu tahu bahwa dirinya sedang dalam kondisi terpuruk hingga menanyakan dirinya masih sadar atau tidak.
"Kau okay, kan? Sudah makan atau belum? Atau begini saja, kita ngobrol sambil kau makan."
"Hah?" Anggara terhenyak. Batinnya semakin bertanya-tanya. Ia sungguh tidak ingat nada yang familiar ini.
"Kau tidak fokus, makanlah dulu setidaknya minum air dan makan sepotong roti. Aku tahu kau sedang terpuruk dan aku di sini untuk membantumu keluar dari keterpurukan itu!"titah wanita itu dengan nada tegas.
"Kau sebenarnya siapa?"tanya Anggara.
Terdengar kekehan, "isi dulu tenagamu baru aku akan memperkenalkan diriku. Assalamualaikum."
Panggilan diputus sepihak. Anggara bingung dan heran. Ia menatap cukup lama ponselnya yang sudah layarnya sudah gelap.
Tiba-tiba saja, Anggara merasa lapar. Ia langsung memanggil pelayan untuk membawakan makanan ke kamarnya.
*
*
*
Bella memainkan ponselnya. Ia tersenyum penuh arti. Ken yang tengah bekerja, meliriknya. "Apa kau yakin dia akan melakukan apa yang kau katakan?"tanya Ken ragu.
Bella mengangguk, "aku melakukan hipnotis padanya. Ia pasti akan melakukannya," jawab Bella.
"Hipnotis? Lewat ponsel?" Setahu Ken hipnotis itu menggunakan kalung dan korbannya mengikuti gerak kalung tersebut.
"Pada dasarnya hipnotis adalah fenomena psikologi. Intinya adalah saat seseorang membuat seseorang lainnya begitu fokus, dan berkonsentrasi sangat tinggi pada titik fokusnya, ditambah dengan beberapa sugesti, maka orang tersebut akan menuruni apa yang kita katakan. Aku semakin suka jika ia tidak mengenali suaraku. Dengan sugestiku yang memberinya perhatian, dan aku belum memperkenalkan ulang diriku, maka itu akan memancing rasa penasaran dan titik fokusnya pada kondisi tubuhnya. Selain itu aku juga memberinya janji untuk membantunya keluar dari keterpurukan. Setelah itu ia akan kembali menelponku dan dia tidak akan bisa menolakku," terang Bella panjang lebar.
"Wow." Ken berdecak kagum. Ia tak menyangka Bella bisa melakukannya.
"Di mana kau mempelajarinya, Aru?"
"Dari teman. Dia dokter yang biasa melakukan hipnoterapi," jawab Bella.
"Hipnoterapi?" Ken tahu itu.
Hipnoterapi adalah tipe terapi yang menggunakan hipnosis, yaitu tindakan memasuki alam bawah sadar seseorang untuk memberikan sugesti tertentu.
Pada kasus depresi, hipnoterapi bertujuan untuk membuat seseorang fokus dan rileks, sehingga perasaan dan emosi negatif di masa lalu bisa dikendalikan.
"Aru bukankah kau bisa menggunakan itu mengobati traumamu?"
"Sudah ku katakan bahwa aku sudah berhenti terapi sejak lama. Baru tadi malam aku putuskan untuk melakukan terapi lagi."
"Lalu bagaimana jika kau menggunakan dua terapis?"saran Ken.
"Boleh juga."