This Is Our Love

This Is Our Love
Kencan Singkat



Sedikit keberanian mendorong Silvia untuk mengeratkan pelukannya pada Brian. Melihat tidak ada respon penolakan dari Brian, Silvia menambah keberaniannya untuk bersandar pada punggung lebar Brian. Awalnya ia was-was Brian tidak suka dengan tindakannya ini. Namun, tetap tidak ada penolakan dari Brian membuatnya bernafas lega dalam hati. Silvia mengembangkan senyumnya. Matanya terpejam menikmati suasana romantis di atas motor dengan background langit senja yang mempesona. 


Seperti ini, aku merasa ada banyak bunga bermekaran di hatiku. Apa dulu aku merasakan hal yang sama?batin Brian, ia mengulas senyum tipis. 


Brian memimpin jalan, sementara Ken berada di belakang motor Brian dalam jarak aman.


"Brian sungguh berniat memanjakan Silvia," ucap Bella.


"Kau benar, Aru. Motor itu seharusnya baru Kak Bri beli tadi. Hubungan mereka mulai berjalan sebagai mestinya hubungan suami dan istri," sahut Ken.


"Apa kau tahu berapa harga motor itu?"tanya Bella. 


"Tidak tahu. Aku tidak pernah beli kendaraan apapun," jawab Ken. 


"Harganya lebih kurang sekitar lima ratus juta rupiah."


"Semahal itu?"


"Kau kira mobil saya yang harganya selangit? Motor juga ada kali!"celetuk Bella.


"Apa Kak Bri tidak bangkrut?"


"Dasar pelupa! Kakakmu itu sudah lama bekerja. Jumlah segitu bukan hal besar baginya terlebih untuk membahagiakan seseorang. Itu tidak sebanding dengan senyum istrinya," terang Bella gemas. Ken tertawa mendengarnya. Bagi Brian yang jabatannya setinggi itu lagi dengan statusnya sebagai Tuan Muda Pertama, uang bukan masalah. 


Di balik tawa itu, Ken tertohok dan merasa tidak nyaman. Ia suami namun kebutuhan sang istri belum sepenuhnya ia penuhi. Bella masih kerap menggunakan uang pribadinya sendiri, bahkan Ken ikut di dalamnya. Ingin sekali rasanya mengambil uang simpanan sebagai uang pegangan. 


Namun, Bella melarang dengan dalih yang yang sudah disimpan jangan diganggu gugat kecuali pada saat genting.


Saat gajiku keluar nanti semua akan aku berikan pada Aru, tekad Ken. Gajian sebentar lagi, Ken tak sabar menerima uang hasil kerja kerasnya sendiri.


*


*


*


"Mas apa kau mendengar harapanku tadi malam?"tanya Silvia setelah ia dan Brian tiba di kamar.


"Kau berkata di dekat telingaku," sahut Brian, melepas jasnya.


"Ah … itu artinya aku membangunkanmu?"tanya Silvia merasa tidak enak.


"Aku memang belum tidur," jawab Brian. Pria itu bersiap untuk mandi.


"Ah!"


Silvia memalingkan wajahnya merasa malu. Ia kira Brian sudah terlelap nyatanya cuma memejamkan matanya. Tunggu! Apa Brian sengaja? Apa Brian mendengar keluhannya yang lalu-lalu? Silvia memejankan matanya, meruntuki dirinya sendiri.


"Tadinya aku ingin berangkat dengan motor. Tapi, kondisi tidak mendukung. Kau tidak masalahkan aku menggantinya dengan sore tadi?" Sebelum memasuki kamar mandi, Brian berbalik menatap Silvia dengan sedikit gurat tidak enak pada Silvia.


"Eh?" Silvia terperanjat. "Tidak masalah kan, Via?"desak Brian meminta jawaban.


"T-tentu saja tidak, Mas! Aku tidak masalah kapan waktunya yang penting moment itu terjadi. Dan aku sangat bahagia. Terima kasih, Mas!"jawab Silvia, ia tersenyum lembut pada Brian. Raut wajah gelisah Brian menghilang. Ia menarik senyum tipis, "baguslah," balasnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. 


Tadi pagi memang hujan gerimis. Brian merasa tidak cocok mengendarai motor di kondisi seperti itu terlebih udara yang berhembus dingin. Lain halnya dengan Bella yang mau hujan panas naik motor ke mana-mana, dan itu sudah menjadi bagian dari Ken juga. Sudah lama ia tidak mengendarai mobilnya sendiri yang kini mangkrak di garasi, hanya mesin mobil saja yang dipanasi setiap pagi dan sore oleh pelayan yang bertanggung jawab atas bagian garasi.


Mas sebenarnya waktu yang kau pilih tadi, sangat-sangat romantis.


Berboncengan denganmu berkeliling kota menikmati surya perlahan menghilang, sungguh romantis!


*


*


*


"Kalian mau ke rumah sakit?"tanya Silvia saat berpapasan dengan Ken dan Bella yang sama-sama baru keluar dari kamar. 


"Ini malam minggu, sekalian nge date," sahut Ken, merangkul Bella.


"Nge date?" Silvia melirik Brian yang lagi-lagi setia dengan wajah datarnya. 


"Kalau begitu kalian hati-hati. Titip salam untuk Nesya," ucap Silvia saat tak mendapati Brian ingin ikut ke rumah sakit. 


Ken dan Bella mengangguk. Keduanya melangkah lebih dulu disusul oleh Brian dan terakhir Silvia. Nge date? Sudah berapa lama sejak kami terakhir kali nge date? Silvia bergumam dalam hati menatap punggung suaminya yang tadi sore menjadi tempatnya bersandar. 


*


*


*


Warung sate pinggir jalan menjadi tempat Ken dan Bella menikmati malam minggu kali ini. Dengan pemandangan jalanan yang dilalui banyak kendaraan, didominasi roda empat dan dua, keduanya menunggu sate padang pesanan tiba di atas meja. Lampu kendaraan ditambah dengan lampu jalan dan lampu bangunan menjadi keindahan tersendiri. Belum lagi suara kendaraan yang menjadi melodi yang terdengar unik. Kebisingan bukanlah suatu ketidaknyamanan bagi keduanya. Itu cita rasa tersendiri.


Harum semerbak sate yang tengah dibakar begitu menggugah selera, belum lagi aroma kuah sate. Bella bahkan sudah menelan ludah lebih dulu. Ken terkikik geli, "sudah berapa lama kau tidak makan sate, Aru?"tanyanya dengan nada menggoda.


"Aku lupa," jawab Bella. "Tapi, yang pasti itu sudah sangat lama," lanjutnya.


"Di Jerman dulu, apa kau tidak pernah membuatnya sendiri?"tanya Ken. 


"Terlalu ribet," sahut Bella. 


Bella langsung menarik piring sate miliknya mendekat setelah pesanan tiba. Menambahkan cabai rawit giling dan sedikit kecap. Merasa rasanya sesuai dengan keinginannya, Bella langsung melahap satu persatu potongan lontong yang dibalut dengan kuah sate padang. Ken belum menyentuh sate padang miliknya. Ia sibuk mengabadikan moment dengan ponselnya. "Why?"heran Bella saat Ken memintanya untuk membentuk kata cinta dengan jarinya, saranghae seperti di drama korea yang sering Bella tonton. 


"Begini?"tanya Bella, menyilangkan jari telunjuk dengan ibu jarinya. 


Ken memajukan mendekatkan jarinya yang membentuk sama seperti yang Bella lakukan, "I love you too, more, more, and more." Ken menyimpan video yang ia buat untuk menjadi story nanti setelah setelah selesai makan. 


Setelah itu Ken meletakkan ponsel di meja di antara dirinya dan Bella. 


"Aru … alangkah baiknya jika tetap seperti ini tanpa masalah berat apapun," ujar Ken. Bella melirik, kembali menyantap potongan lontong setelah sebelumnya menarik senyum tipis.


Tidak Ken. Saat ini hanya tenang sesaat. Kau masih terlalu naif dan baru dalam lingkar masyarakat yang begitu luas. Pak Tua itu pasti tengah menyusun rencana. Tinggal menunggu aku mendapatkan alamat IP nya maka aku akan membuatmu tidak akan pernah bangkit! Sekilas sorot mata Bella berkilat tajam. 


Bella menyembunyikan kegelisahan saat Ken menatap dirinya dengan menyodorkan sate padanya. Bella menerimanya. "Apa makan satenya belakangan sudah menjadi kebiasaanmu?"


"Hm."


"Kita bungkus dua untuk Nesya dan Dylan?"tawar Ken. 


"Beli saja. Tapi, pisah kuah," jawab Bella. 


*


*


*


Dylan tengah membacakan novel untuk Nesya yang berjudul Hujan karya Tere Liye. Entahlah, padahal Dokter Rey kemarin sudah membacakan novel itu tuntas untuknya. Namun, rasanya tidak bosan Nesya membaca atau mendengarkan novel itu. Kisah tentang Lail dan Esok itu begitu ia sukai, dalam arti gagal move on. 


 Dokter Rey sudah cukup lama tidak menampakkan batang hidungnya karena ia sedang cuti acara keluarga. Kondisi Nesya yang sudah stabil menjadi alasan Dokter Rey tidak terlalu berat mengambil cuti.


"Assalamualaikum," sapa Ken dan Bella yang baru tiba.


"Waalaikumsalam," jawab Dylan dan Nesya.


"Kami waktu pribadi dulu. Ini kalau lapar makan lagi," jawab Ken, meletakkan kantong plastik yang ia bawa di atas nakas.


"Apa itu?" Dylan langsung bertanya. 


"Sate," sahut Bella. "Kau lapar, Lan?"tanya Bella yang diangguki Dylan dengan senyum polosnya. Nesya menggeleng pelan, padahal Dylan satu saja menghabiskan satu porsi ayam penyet setengah jam lalu. Tapi, sudah tidak heran lagi. 


Ken menyodorkan kantung plastik pada Dylan. Dylan menerimanya dan duduk di sofa. 


"Aku temani Dylan," ujar Ken. Bella mengangguk. Bella duduk di bangku, membuka lembar novel yang Dylan berikan tadi. 


"Kak kapan aku keluar?"tanya Nesya sendu. Jujur ia sudah jenuh di rumah sakit. Karena ditemani oleh Dylan lah ia merasa tidak terlalu bosan. 


"Besok Kakak baru akan berdiskusi dengan para doktermu. Namun, kemungkinan besar dalam satu bukan ke depan kan akan tetap di rumah sakit. Menjalani perawatan intensif menjelang operasi. Kakak rasa sekitar dua bulanan lagi kau di sini," terang Bella.


"Dua bulan?" Mata Nesya terbelalak. Itu sangat lama baginya.


"Bukanlah lebih baik daripada kembali ke lapas?"


"Iya sih," sahut Nesya. 


"Kan bisa melakukan hal lain di sini selain tetap berada di ranjang. Di sini ada poli anak, ada juga ruangan khusus penderita kanker. Ada taman, dan ruangan lainnya. Asal kondisimu stabil, banyak hal yang bisa kau lakukan," ujar Bella. Nesya mengangguk pelan. Hanya saja beberapa waktu ke depan ia harus tetap bedrest.


"Jika kau merasa sanggup, bagaimana jika besok pagi kita jalan-jalan di taman?"tawar Bella. 


"Boleh?" 


"Of course!"


"Aku mau!" Hilang sudah wajah murung Nesya.


"Kakak menginap?"


"Iya." Tadi ia dan Ken sudah sepakat. Bella menginap sementara Ken dan Dylan pulang. Besok baru kembali lagi. Ya walaupun ada perdebatan tadi, bukan masalah karena Bella memenangkan perdebatan itu.


*


*


*


Petikan senar gitar yang dimainkan oleh Brian mengisi suasana malam minggu di atas rooftop dengan Silvia yang duduk di sebelahnya. Tidak bersandar, Silvia menatap lekat Brian yang begitu tenggelam dalam petikan gitarnya. Di dekat keduanya ada minuman soda dan makanan ringan. Bulan yang bersinar terang di singgasananya menambah kesan syahdu dan romantis. Tadi Silvia kaget saat Brian mengajaknya ke rooftop. Lebih kaget lagi saat menemukan gitar, makanan ringan, dan minuman soda seakan sengaja dipersiapkan dengan matang. 


Silvia lagi-lagi dibuat terkejut saat Brian memetikkan gitar dan menyenandungkan lagu yang berjudul someone love you. Ia baru tahu ternyata Brian punya bakat tersembunyi. 


Brian, tipe yang langsung menunjukkan tindakan tanpa berjanji atau mengatakan apapun lebih dulu. 


"Kau bisa bernyanyi, kan?"tanya Brian, setelah ia selesai dengan nyanyiannya. Silvia mengangguk. 


"Bernyanyilah, aku akan mengiringinya."


"Kau tahu lagu apa yang mau aku nyanyikan?"


"Into your arm," jawab Brian. 


"B-bagaimana kau tahu, Mas?"


"Kau sering menyenandungkan."


Ah, Brian oh Brian. Kau begitu sweet dan perhatian di balik wajah datarmu itu. 


"Ayo bernyanyilah." Brian sudah menguasai kunci gitar lagu itu. Ia bahkan sudah mencoba intronya.


I'm out of my head, out of my mind, oh, I


If you let me, I'll be


Out of my dress and into your arms tonight


Yeah, I'm lost without it


Feels like I'm always waitin'


I need you to come get me


Out of my head, and into your arms tonight, tonight


I'm out of my head, out of my mind, oh, I


If you let me, I'll be


Out of my dress and into your arms tonight


Yeah, I'm lost without it


Feels like I'm always waitin'


I need you to come get me


Out of my head, and into your arms tonight, tonight


I'm out of my head, out of my mind, oh, I


If you let me, I'll be


Out of my dress and into your arms tonight 


 I'm lost without it


Yeah. Feels like I'm always waitin'


I need you to come get me 


Out of my head, and into your arms tonight


Tonight ….


"Mas …." Tatapan Silvia sayu pada Brian. Ia ingin melakukan apa yang ia nyanyikan tadi. Berada dalam pelukan Brian, itu adalah harapannya. Wajah Brian berubah datar dari yang sebelumnya menikmati nyanyian istrinya.


"Maaf." Seusai mengatakan hal itu, Brian beranjak meninggalkan Silvia.


Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Mas?! Berapa lama lagi aku menunggumu untuk menyentuhku? Jika ini tersebar, aku akan jadi lelucon semua orang. Siapa yang percaya jika sampai sekarang aku malah gadis? Namun, sikap manismu belakangan ini, membuatku kembali berharap besar. Maaf, aku akan menunggu waktu di mana kita menjadi suami istri yang sesungguhnya!


*


*


*


Nesya telah tidur sedangkan Bella masih terjaga dengan laptop di hadapannya. Matanya begitu teliti pada apa yang tertera di layar laptopnya.


"Dapat!"gumamnya kemudian tersenyum smirk.


Amerika, keluarga Nero tunggulah kehadiranku di sana!