This Is Our Love

This Is Our Love
El, Anjani Comeback



Flashback beberapa saat lalu. 


Suasana subuh yang syahdu dan menenangkan di pesantren Baitulsalam. Penghuni pondok pesantren setelah subuh langsung melakukan aktivitas mereka sebelum memasuki jam belajar di kelas. 


Sementara, El ia tengah mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Di sisinya, Zidan duduk dengan wajah murung.


"Kak El serius mau pulang hari ini juga? Nggak bisa gitu tinggal beberapa hari lagi?"tanya dan pinta Zidan. 


"Sebenarnya Kakak juga ingin begitu. Hanya saja di Jakarta Kakak pun banyak urusan yang belum diselesaikan," balas El, menoleh singkat pada Zidan yang menatapnya dengan mata tidak rela.


"Baiklah. Aku mengerti."


Ini sudah bujukan ke sekian kali dari Zidan namun keputusan El tidak berubah.


El ingin cepat kembali ke Jakarta setelah malamnya setelah isya Umi Hani memanggilnya untuk datang ke ruangan beliau. 


Tadinya El mengira ia dipanggil karena melakukan kesalahan. Namun, nyatanya Umi Hani memberikannya secarik kertas yang bertuliskan surat keterangan lulus.


El membaca isi dari surat keterangan itu. Tertulis biodata umumnya, nama lengkap, tanggal lahir, orang tua, dan di bawahnya ada satu kata berwarna biru yang ukurannya lebih besar, LULUS.


El menatap bingung Umi Hani. 


Apa maksudnya? El kan belum genap enam bulan menempuh pendidikan di sini, kok baru empat bulan sudah diluluskan?


El lalu melihat bagian di baliknya. Ada nilainya di dalam sana. Semua berada di atas KKM.


Darimana nilai-nilai ini? Seingatnya, dirinya belum melakukan ujian akhir semester. 


Apa yang sebenarnya terjadi? Di saat itulah Nizam masuk dan menjelaskannya pada El.


El di sini untuk dididik ke arah yang lebih baik. Karakter buruknya yang diubah dan diarahkan ke hal yang lebih baik. Membekalinya dengan ilmu agama sebagai pembatas dalam dunia pergaulannya  yang bisa dikatakan terbuka.


Bukan mengharuskan El mencapai nilai minimum seorang santri karena basicnya bukan menjadi seorang dai, melainkan El adalah seorang sutradara. 


Menurut keduanya, El sudah memenuhi syarat kelulusan. Karena El di sini lebih ditekankan kepada perubahan sikap, bukan nilai akademik. 


"Nanti kalau urusan Kakak di sana sudah senggang, Kakak janji deh bakalan berkunjung ke pesantren. Kamu jangan sedih, dong. Kakak jadi nggak enak nih," ucap El dengan menutup kopernya. 


"Serius, Kak El?"tanya Zidan mulai bersemangat.


"Nanti kalau libur panjang, Zidan boleh deh main-main ke Jakarta, menginap di rumah Kakak. Nanti Kakak yang bakalan jadi pemandu tur kalian, gratis-tis tanpa dipungut buat biaya," ujar El.


"Boleh, Kak?" Zidan ragu.


Kan El biar bagaimanapun anak konglomerat. Jika El setuju, bagaimana dengan penghuni rumah lainnya?


Secara dia anak yang sederhana, penampilan yang sederhana mungkin di mata orang kaya kucel. El menggeleng, ia tahu apa yang Zidan ragukan.


"Kami tidak memandang kasta, Zidan. Yang kami pandang adalah karakternya. Jadi, jangan merasa ragu apalagi takut. Kalau Zidan setuju nanti ajak yang lain, kau tahu kan siapa yang kakak maksud?"tanya El dengan menaikkan alisnya. 


Zidan mengangguk. "Nanti kabarin Kakak lewat Gus Nizam kalau kalian mau, kau sendiri juga tidak masalah," ucap El dengan mencolek pipi Nizam. 


Zidan mulai tersenyum. Ia lantas berdiri dan memeluk El. Empat bulan, waktu yang singkat dengan kenangan yang berharga. Zidan si anak sulung seakan mendapatkan sosok seorang kakak di dalam diri El. 


"Hei, sudah jangan menangis. Kasihan matamu nanti."


Namun, mata El sendiri juga berkaca-kaca. Matanya memerah menahan tangis. El menyeka sudut matanya. 


Tok


Tok


Ada yang mengetuk pintu. Itu Nizam. "Assalamualaikum," salam Nizam pada kemudian.


"Waalaikumsalam." Zidan melepas pelukannya. 


Nizam tersenyum melihat Zidan yang menghapus air matanya dengan punggung tangan. 


"Mengapa begitu sedih? Kak El kan pulang ke rumahnya, bukan pergi jauh entah ke mana. Masih banyak kesempatan untuk bertemu," tutur Nizam dengan mengacak-acak rambut Zidan.


"Iya, Gus," jawab singkat Zidan.


"Kita berangkat sekarang, Tuan Muda?"tanya Nizam pada El.


Nizam akan mengantarkan El secara pribadi ke bandara. Dan kepulangannya sengaja tidak ia beritahukan pada keluarga karena ini mendadak dan sengaja buat jadi surprise. Pas pula di hari weekend.


Sudah ada rencananya untuk akhir pekan dengan Anjani dan Arka. Hanya saja, El belum tahu kalau Anjani dan Arka belum pulang ke Indonesia. Mereka masih di Singapura.


"Iya," jawab El dengan memakai jaketnya dan menurunkan kopernya dari ranjang kecil yang ditempatinya selama empat bulan itu. 


Nizam mengangguk. Ia kemudian merangkul Zidan keluar. El mengikut. Sebelum menutup pintu, ia mengedarkan pandang ke dalam kamar.


Terlintas kenangan dari awal sampai akhir. Kenangan tak ternilai yang sangat berarti. El tersenyum, "terima kasih," gumamnya.


*


*


*


Sebelum berangkat ke bandara tentu saja ada sesi perpisahan secara simbolis seperti biasanya saat ada siswa yang lulus dari sekolahnya. Disalaminya pengajar di pondok pesantren ini.


Umi Hani dipeluknya dengan erat. Nasihat dan pesan dibekalkan pada El. Juga pesan untuk berkunjung ke pesantren jika El ada waktu senggang. 


Tak lupa dan ketinggalan pula Ken berpamitan pada para santri seperjuangannya. Para santri tak bisa untuk tidak merasa sedih, ada yang kurang pasti jika El sudah lulus dari pesantren. Kembali ke suasana normal, dan itulah yang akan membuat mereka kembali beradaptasi. 


El melambaikan tangannya saat meninggalkan pesantren.


"Tuan Muda, Anda merasa senang bisa lulus lebih cepat?"tanya Nizam.


Itu terdengar aneh dalam pendengaran El.


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu juga dengan hari ini. Aku hanya ditakdirkan selama empat bulan menjadi santri di sini. Mengapa? Kau sedih aku sudah lulus?"tanya El, fokus pada jalan di depannya.


Suasana masih sedikit gelap namun kendaraan sudah tumpah ruah. El yang mengemudi menuju bandara. 


Nizam menjawabnya dengan tersenyum. 


Ia merasa sedih? Ya bisa dikatakan begitu. 


Alasannya?


Karena selama empat bulan ini, di mana ada Nizam di situ ada El. Dan begitu juga sebaliknya. Jika berubah, hati akan merasa ada yang kurang.


"Aku tahu, jangan pura-pura tidak begitu," ucap El. 


"Memang sudah begini, Tuan Muda. Lagipula Anda punya tanggung jawab di Jakarta. Mana mungkin saya menahan Anda untuk tetap tinggal di Jakarta," jawab Nizam. 


"Jika kau ada seminar di Jakarta, jangan lupa menginap di kediaman Mahendra," pesan El yang diangguki oleh El. 


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, El dan Nizam tiba di bandara. Penerbangan El sebentar lagi dan ia langsung pamit pada Nizam.


"Jangan lupa nanti hari Rabu."


"Saya mengingatnya dengan jelas, Tuan Muda."


"Baguslah. Kalau begitu aku berangkat. Assalamualaikum," pamit El.


Setelah El hilang dari pandangnya, Nizam meninggalkan bandara kembali ke pesantren. 


Hari Rabu Nizam dan Umi Hani akan berangkat ke Jerman bersama dengan keluarga Mahendra kecuali Surya dan Rahayu yang berangkat dari Paris.


*


*


*


Setibanya di bandara Soekarno-Hatta, El langsung naik taksi bandara menuju kediaman Mahendra. Jika ditanya dari mana uangnya, tentu saja dari kartu atmnya.


Rupanya Surya menitipkan ponsel dan atmnya pada Umi Hani. Jadi, El tidak kebingungan darimana biayanya untuk pulang. Jika ia tidak memegang uang pun, ada Umi Hani dan Nizam, hehehe.


Tiba di depan gerbang komplek perumahannya yang ketat, dan biasanya taksi dilarang masuk, El tinggal menunjukkan kartu aksesnya yang tidak disita dari dompetnya.


 Alhasil taksi diperbolehkan masuk. Jika tidak, apa tidak kasihan kakinya jalan dari gerbang ke kediaman Mahendra?


El kan mau memberi surprise, kalau minta jemput mah bakalan gagal. 


Setibanya di depan gerbang rumahnya sejak kecil, El tersenyum dan menghela nafas lega. Ia tiba di rumahnya dengan selamat. 


Segera El membunyikan bel gerbang. Penjaga gerbang mengintip dari lubang yang disediakan dan terkejut. Pintu gerbang itu segera terbuka, "Tuan Muda, ada sudah pulang?"tanya Penjaga gerbang terkejut melihat Ken yang berada di depan gerbang dengan membawa koper.


"Assalamualaikum, Paman," sapa El lebih dulu. 


"W-Waalaikumsalam, Tuan Muda," jawab penjaga gerbang dengan sedikit tergagap.


Biarpun tahu Tuan Muda Keduanya itu belajar di pesantren, tidak menduga auranya saat pergi dan pulang jauh berbeda.


"Kelulusanku dipercepat, Paman. Jadi, aku sudah pulang. I'm, Elvano Mahendra comeback!"ucap El kemudian melenggang masuk. 


Saat memasuki pintu, sama biasanya pelayan menerima atau membawakan koper yang dibawa oleh El.


"Assalamualaikum," salamnya saat memasuki ruang makan dimana semua anggota keluarga berkumpul di sana. 


"Waalaikumsalam," jawab mereka dengan terkejut.


"KAK EL/EL?"


"Ya ini aku. Surprise," sahut El dengan merentangkan tangannya.


"Kau kabur dari pesantren, Kak?"tuduh Ken. El langsung cemberut mendengarnya. 


"Sembarangan!' serunya El kesal.


"Jadi?" tanya Brian dengan tatapan mengintimidasinya.


 "Coba tebak!" Biarpun sudah kembali karakter El, sifat jahil nan petakilannya tidak serta merta hilang. Ia malah menggoda kakaknya itu untuk menebak. Brian mendengus. 


"Jika kau sungguh kabur, Kak. Papa pasti akan marah besar. Lebih baik Kakak segera kembali ke pesantren sebelum Papa ngamuk," ujar Ken memberi saran.


"Sudah aku katakan aku tidak kabur! Kenapa kalian malah melihatku seperti itu ?! Lihat ini …."


El mengeluarkan kertas kelulusannya dari balik jaket.


Brian menyambarnya saat hendak memberikannya pada Ken. Silvia ikut membacanya.


Ken menunggu giliran dan Bella santai menikmati makanan penutup. Keterkejutannya sudah hilang. Ia ingat El adalah anak yang unik. 


"Ini asli?" Brian tampak masih tidak percaya. Ken meminta kertasnya.


"Ada bukti sah! Jika tidak percaya tanyakan saja pada Umi Hani!"sungut El. Ia mengambil tempat duduk dan minum.


"Kelulusanmu dipercepat, El?"tanya Bella yang diangguki oleh El.


"Aku pun tidak menyangkanya."


"Nilaimu tidak menyakinkan," komentar Brian.


"Itu juga di luar perkiraanku," jawab El.


"Ckckk!" Tiba-tiba El berdecak. "Kalian tidak senang aku kembali?"


"Bukan begitu, Kak El. Kepulanganmu yang tiba-tiba tanpa memberi kabar tentu saja membuat kami terkejut. Kakak jangan salah paham. Semua orang di rumah ini sangat menantikan kau kembali!"jelas Ken. Ia berdiri dan menghampiri kakak keduanya itu. 


"Welcome back, Kak," ucap Ken. E berdiri dan keduanya berpelukan. 


Melihat itu, Brian tidak bisa untuk tidak ikut. Selesai berpelukan dengan Ken, Brian gantian memeluk El. El terperanjat.


"Are you okay, Kak Bri?"


"Jangan buat skandal buruk lagi atau aku akan benar-benar menggantungmu di jembatan Ancol!"ancam Brian.


"Eh? Err aku tidak akan melakukannya lagi," jawab El. Ia merasa asing dengan perlakuan Brian seperti ini.


Biasanya Brian menatapnya sinis dan dingin. Kini, tatapan itu tidak terlihat. Brian menjadi lebih hangat. 


Calia dan Dylan menatap Bella, bertanya siapa gerangan pria yang baru datang dengan pakaian koko ini dan terlihat begitu akrab.


"El," panggil Bella saat El kembali duduk. Kali ini El lebih mengedarkan pandangnya. 


"Abel, wajah-wajah baru ini siapa saja? Dan Kak Via kau berhijab?"


"Masih baru," jawab Silvia. 


"Ini adalah Dylan. Adik angkatku dari keluarga Buana dan ini adalah Calia, sahabat sekaligus terapisku, dari Jerman," ujar Bella memperkenalkan Dylan dan Calia.


"Hai," sapa El.


"Aku Elvano, Tuan Muda Kedua Mahendra Group," ucap El memperkenalkan dirinya.


"Selama aku tidak di rumah, sepertinya banyak hal yang aku lewatkan," lanjut El. 


*


*


*


Sekitar pukul 13.00, dua pasang kaki berbeda panjang melangkah keluar dari bandara. Sang ibu menarik koper dan menggandeng lengan sang putra.


Tak berselang lama, sebuah mercedes benz berwarna putih berhenti tetap di depan keduanya. "Maaf saya terlambat, Nona," ucap sesal sang sopir. Wanita itu membuka kacamata hitamnya.


"Kami juga baru tiba, Pa," jawabnya tersenyum.


"Ma kita langsung pulang ke rumah atau ke rumah Aunty Abel dulu?"tanya sang anak.


"Kita pulang dulu baru ke ruang Aunty Abel, Aka," jawabnya yang tak lain adalah Anjani dan Arka yang baru pulang dari Singapura. 


Sang sopir membukakan pintu untuk Anjani dan Arka. Keduanya naik. Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi, sang sopir melajukan mobil meninggalkan bandara kembali ke kediaman Anjani.


Setelah kurang lebih 3 minggu di Singapura mengurus, melaksanakan event pameran, akhirnya keduanya kembali ke Jakarta. Acara sukses besar dan membuat Diamond Company semakin berkembang pesat. 


Produk mereka semakin go internasional. Pasar Asia Tenggara sudah dalam jangkauan, Anjani memiliki visi untuk menawarkan dan mengenalkan produknya ke pasar yang lebih luas lagi.