This Is Our Love

This Is Our Love
Sayonara



Bayu merasa cukup lega karena tekanan Mahendra Group kepada perusahaannya sudah diangkat. Namun, gurat-gurat kegelisahan masih ada pada tatapan matanya. Suasana pagi yang cerah dengan ditemani secangkir kopi, Bayu duduk melamun di kursi taman.  Udara segar dengan bunga yang masih menguncup, seakan tak mampu membuat hati dan pikiran Bayu ikut segar. 


Diaduknya kopi dengan arah berlawanan jarum jam dengan tatapan kosong ke depan. Bahkan saat Clara, istri tercintanya melangkah menghampiri dirinya dengan membawa nampan berisi roti tawar dan selai, Bayu tetap bergeming. 


"Mas," panggil Clara lembut, duduk di depan Bayu. Kursi taman disusun melingkar dengan meja di tengahnya. Bayu tetap bergeming. 


Kekhawatiran Clara semakin besar. Sejak kembali dari kediaman keluarga Mahendra kemarin siang, Bayu mengurung diri dalam ruang kerja. Tidak makan siang ataupun malam, tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam ruang kerjanya. Kembali ke kamar saat tengah malam dan begitu Bayu membuka matanya di pagi harinya, sudah mendapati Bayu tidak di sisinya. Saat bertanya pada pelayan, dijawab bahwa Bayu berada di taman. Clara menunggu Bayu di meja makan. Namun, setelah lama menunggu Bayu tak kunjung ke ruang makan. 


Clara merasa sudah cukup Bayu menyendiri. Dengan kesal ia membawa roti tawar dan beberapa jenis selai serta segelas susu ke tempat Bayu berada. 


"Mas!"panggil Clara lagi dengan suara sedikit keras disertai dengan tepukan pada pundak Bayu. 


"Ah." Bayu tersadar. Ia terkesiap mendapati Clara duduk di depannya dengan wajah kesal. 


"Mengapa kau di sini?"tanya Bayu kemudian. Clara mendengus. 


"Mas sendiri untuk apa di sini?"tanya ketus Clara. "Bukannya nemani aku sarapan, lalu ke rumah sakit malah melamun nggak jelas di sini," tambahnya lagi dengan masih ketus. 


"Apa yang Mas sembunyikan dari aku? Berbagilah denganku, Mas. Masalah tidak akan selesai jika Mas memendamnya sendiri. Bahkan soal kemarin aku belum mendapat jawaban pasti dari Mas. Please, jangan tertutup seperti ini. We're family. You're not alone." Clara berkata dengan nada yang melemah. 


Mendengar itu, Bayu menghela nafas pelan. Diangkat dan diseruputnya kopi yang sudah kehilangan panasnya. Kopi porsi kecil itu habis dalam sekali minum. 


"Srikaya saja," ujar Bayu saat melihat Clara membuka toples kaca selai coklat. Clara mengangguk. 


"Nanti sore Cia akan kembali ke Singapura denganmu," beritahu Bayu. 


"Aku merasa kita butuh tempat lain. Singapura terlalu dekat dengan Indonesia," pikir Clara. 


"Aku rasa Jepang adalah tempat yang cocok untuk Cia menghabiskan waktu terakhirnya," lanjut Clara. Bayu menatapnya dalam cukup lama. Seperti tengah mempertimbangkannya. 


"Musim gugur akan segera berakhir. Musim dingin akan segera tiba. Di sana banyak festival yang setidaknya bisa membuat Cia melupakan kesedihan hatinya. Aku ingin memberitahunya, walau sedingin atau sesulit apapun kehidupan, masih ada kehangatan tempatnya kembali yakni kita, keluarga. Aku rasa aku harus mulai mempersiapkan hati untuk kepergian Cia." 


Bahu Clara bergetar. Sungguh, Ibu mana yang sanggup menerima kepergian anaknya? Walau sudah tahu, tetap saja Clara belum bisa menerima fakta jika dokter kembali menjatuhkan vonis akan usia Cia. Ingin rasanya ia marah, mengumpat, menunjuk langit karena merasa tidak adil pada putrinya. Setidaknya setelah kehilangan cinta, Cia diberikan kesembuhan dan pengganti Ken, mengapa malah vonis umur yang semakin pendek?!


Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Clara bukan Tuhan, ia hanya makhluk-Nya yang hanya bisa memohon dan meminta pada yang Esa. 


Dan kemarin itu, membuka mata Clara. Belum lagi kondisi Cia yang semakin memburuk dan saat ini berada dalam ruang ICU. Bayu beranjak dan memeluk sang istri. Tangis Clara pecah dalam pelukan Bayu. Bayu juga tak bisa menahan laju air matanya. Pasangan itu sungguh rasanya tidak sanggup menerima kondisi Cia. 


Cia benar-benar kehilangan semangat. Patah dan semakin patah. Mereka kira dengan vonis umur Cia akan mengubah keputusan Ken dan Bella. Nyatanya, mereka malah menerima kabar jika Bella sudah hamil. Tiada cela lagi untuk Cia. 


"Jika kau sudah memutuskannya, pergilah. Berangkatlah ke Jepang nanti sore. Aku akan mempersiapkan keperluan kalian," putus Bayu dengan nada serak, setuju dengan saran istrinya. 


"Mengenai tindakanku kemarin, anggaplah aku berusaha sebagai seorang ayah. Tidak perlu kau pikirkan lagi, semua sudah jelas. Sudah cukup kita merendah pada mereka."


"Aku mengerti, Mas."


*


*


*


Saat ini, Bayu tengah berada dalam perjalanan menuju perusahaannya. Sepanjang perjalanan, Pria paruh baya itu melamun. Membuat sang sopir merasa khawatir. 


"Hahhh."


Helaan nafasnya begitu berat. Ia kemudian melempar panjang keluar jendela mobil. 


Kalian membuat putriku semakin menderita. Jangan salahkan aku jika aku memancing masalah untuk kalian. Lagipula urusan kalian berdualah yang menarikku masuk ke dalamnya. 


Hanya saja …. Bayu menutup matanya.


Maaf. Maaf, aku hanya ingin melindungi keluargaku. Aku yakin kalian bisa menghadapinya. Aku juga pastikan, keluargaku tidak akan menganggu kalian lagi. 


*


*


*


"Apa lagi yang kau pikirkan, Aru?"tanya Ken saat jam makan siang. Diperhatikannya, saat bekerja Bella begitu fokus sebagaimana biasanya. Namun, saat jam istirahat pikiran Bella seperti melambung entah kemana. Makanan di atas meja hanya ia aduk tampak niat untuk disantap. 


"Aru? What's up?"panggil dan tanya Ken lagi. 


"Hm?" Bella menoleh pada Ken dengan tatapan bingung. 


"Hal apa lagi yang kau lamunkan, Aru?" Ken bertanya untuk ketiga kalinya. Namun, bukannya dijawab secara verbal, Bella menjawabnya dengan mencium dan memeluk Ken. Bella seakan tengah membagi kegundahan hatinya dengan cara itu. 


"Keputusan apa yang telah kau ambil, Aru?"tanya Ken setelah ciuman mereka terlepas. Bella menatap dalam suaminya, "kau mendengarnya?"


"Ya, aku mendengarnya," jawab Ken. 


"Kau percaya padaku?"tanya Bella. 


"Aku percaya padamu," jawab Ken tanpa keraguan sedikitpun. 


"Apa kau akan marah karena keputusanku?"tanya Bella, ia ingin mendapat kepastian dan keyakinan akan keputusannya sendiri. 


"Aku percaya, kau tidak akan mengambil keputusan yang berlawanan dengan hatimu. Aku percaya, kau tidak akan mengambil keputusan yang tidak aku sukai. Jangan kecewakan aku, Aru." Ken memeluk erat kekasih hatinya. Mendengar itu mata Bella berkaca-kaca dan beberapa saat kemudian ia menggeleng. 


"Aku tidak akan mengecewakanmu, Ken," balas Bella. 


Hanya saja aku tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan hatiku. Aku tidak ingin. Tapi, hatiku juga tidak nyaman. Aku berada di antara dua sisi, dan aku jatuh, jatuh ke sisi yang tidak pernah aku bayangkan.


*


*


*


Brian dan Silvia makan siang di sebuah restoran yang berada di hotel ternama. Sebuah ruangan dengan ruangan full kaca dihiasi dengan rangkaian mawar mewah. Jumlah mawar itu diklaim sebagai 999 tangkai yang bermakna cinta selamanya dan abadi. Silvia sungguh bahagia dan terharu. Dipeluknya erat sang suami. Brian sungguh romantis. Keduanya berpelukan, Brian menciumi pucuk kepala Silvia. Alunan melodi yang syahdu, menambah keromantisan. Belum lagi teknologi yang membuat dinding kaca itu menampilkan efek suasana seakan berada di gugusan bintang. Pencahayaan adalah sebuah lentera yang bersinar di tengah meja. Makan siang yang serasa makan malam. Walaupun dilakukan pada siang hari, tak mengurangi suasana romantis seperti dinner berdua. Bahkan ini jauh dari ekspektasi Silvia. 


Brian menuntun agar Silvia duduk dan Brian juga mengambil tempat duduk. "Aku tidak pernah menyangka Mas bisa melakukan hal seperti ini."


"Aku bukan tidak bisa, Via. Aku hanya bingung bagaimana cara mengekspresikannya," jawab Brian. 


"Kau adalah dirimu, Mas. Aku bahagia denganmu." Jawaban itu membuat Brian tersenyum lembut. 


"I love you, my wife." Pernyataan cinta lagi. 


"Me too," jawab Silvia. 


"Ayo makan," ujar Brian dengan menyodorkan steak yang sudah diiris tipis. Silvia menemaninya. Mereka makan siang dengan penuh kebahagiaannya. 


"Via, sebelumnya aku melakukan operasi vasektomi," ucap Brian dengan nada pelan.


Silvia mengeryit, "vasektomi? Apa itu?" 


*


*


*


"Sudah keluar dari rumah sakit?"tanya Bella memastikan keberadaan Cia di salah satu rumah sakit di Jakarta tempat Cia dirawat sebelumnya. 


"Benar, Nona."


"Dari kapan?"


"Sekitar 30 menit yang lalu."


"Kita pulang saja," ujar Ken saat keduanya kembali ke parkiran. 


"Tidak. Kita ke bandara!"tolak Bella. Ken menuruti keinginan Bella. 


Dalam waktu 30 menit, keduanya tiba di bandara. Bella yakin kalau Cia pasti akan ke bandara untuk ke luar negeri. Dan di tengah keramaian itu, Bella menangkap siluet Anggara. 


"Cia!"panggil Bella saat menemukan keluarga Utomo yang berada di ruang tunggu. 


"Kak Bella?" Bella berlari menghadiri keluarga Utomo itu. Ken menyusulnya. 


Kini pasangan itu berhadapan dengan keluarga Utomo. Keluarga Utomo tidak bisa menyembunyikan keheranan mereka. Apa gerangan yang membawa Bella mencari dan menyusul mereka hingga ke bandara?


"Jangan pergi," ucap Bella.


"Mengapa?"tanya Cia. Tatapannya heran pada Bella. Wajah pucatnya tampak bingung.


"Aku setuju."


"Setuju? Untuk apa?" 


"Istri kedua Ken." Cia tertegun. Matanya menatap bergantian Ken dan Bella.


"Kalian serius?"tanya Cia memastikan. Clara memegang erat lengan putrinya takut Cia kelepasan. Bayu dan kedua putranya bertukar pandang kemudian menatap Ken yang diam tidak memprotes apa yang Bella katakan. Apa yang membuat keduanya merubah keputusan? Akankah vonis itu menganggu keduanya? 


Bella mengangguk membenarkan. 


"Terima kasih," jawab Cia dengan senyum lembutnya. 


"Tapi, maaf. Aku tidak bisa menerimanya," lanjut Cia. 


"Mengapa? Bukankah kemarin kau yang …."


"Aku sudah sadar, Ken. Kau masih ingat dengan apa yang kau ucapkan, bukan? Aku mencintaimu, aku tidak akan mengganggu kebahagianmu. Di tengah kalian juga akan hadir seorang anak. Aku tidak bisa menjadi orang ketiga di antara kalian. Aku yang keliru tentang cintaku. Aku menyadarinya, maaf. Maaf telah membuat kalian tidak nyaman atas tindakan dan tingkahku." Cia membungkukkan tubuhnya di hadapan Ken dan Bella. Ucapannya terdengar begitu tulus, benar-benar menyesali. Sorot matanya tidak penuh dengan keinginan memiliki lagi. Kini sudah kepada kerelaan dan kelembutan, arti cinta yang sesungguhnya telah Cia dapatkan kembali. Ia menyadarinya. 


"Cia …." Ken memanggil Cia dengan lembut. Bella sendiri terdiam. 


"Aku akan pergi untuk pengobatan dan mungkin tidak akan kembali lagi. Mungkin ini juga akan jadi perpisahan terakhir kita. Berbahagialah selalu, Ken. Jadilah suami dan ayah yang baik. Jangan pernah kecewakan kak Abel. Maafkan aku karena telah mengecewakanmu. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk lima tahun terindah bersama denganmu. Terima kasih telah pernah menjadikan aku putri di dalam hidupmu." 


Mata mantan pasangan kekasih itu berkaca-kaca. Genggaman Ken pada Bella mengerat. Saat ini, memori masa lalu keduanya terbayang di pelupuk mata. 


Tak lama kemudian, terdengar pengumuman penerbangan untuk Cia dan Clara. "Aku pergi," pamit Cia. 


Ken tanpa sadar melangkah, melepaskan genggaman tangannya pada Bella  dan menahan lengan Cia, menarik Cia dalam pelukannya. Ken memeluk erat Cia. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Cia memejamkan matanya, merasakan kehangatan Ken yang sesungguhnya sangat ia rindukan. Masih aroma yang sama, hangat yang sama. Tangis Cia pecah seketika. Berat, namun ia harus ikhlas. Ini akan jadi perpisahan resmi mereka. 


"Jaga dirimu dengan baik."


"Kau juga, Ken."


"Maafkan aku atas kata-kata kasar yang aku ucapkan padamu."


"Maafkan, aku tidak bisa menjaga arti suci cinta. Maaf."


Sekali lagi, pemanggilan untuk penumpang penerbangan menuju Jepang kembali memenuhi bandara. Ken dan Cia saling melepaskan pelukan. Dengan gemetar, Ken menyeka air mata Cia dan mendaratkan ciuman pada dahi mantan kekasihnya itu. 


"Kak Abel." Cia berpaling pada Bella. Cia memeluk Bella, "jagalah Ken dengan baik, Kak. Jangan kecewakan dia seperti aku yang mengecewakannya," bisik Cia.


"Tentu."


Cia kemudian kembali ke sisi Clara. Melambaikan tangan pada Bella, Ken dan keluarganya. "Sayonara," ucap Cia dengan tersenyum lebar. 


Saat Clara dan Cia berbalik pergi, Ken dan Bella juga berbalik pergi keluar dari bandara. 


Ada kelegaan terpancar di wajah Bella. Begitu juga dengan Ken dan Cia. Urusan hati telah selesai. Perpisahan tekah diucapkan secara resmi. 


Bila yang tertulis untukku


Adalah yang terbaik untukmu


'Kan kujadikan kau kenangan


Yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidupmu


Yang t'lah terukir abadi


Sebagai kenangan yang terindah


Lirik lagu di atas seakan cocok menjadi soundtrack screen saat ini. Kenangan terindah, perpisahan manis. Terima kasih telah menjadi bagian dari kisah cinta ini. 


Sayonara, Ken. Terima kasih untuk segalanya. 


*


*


*


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap kaget Rahayu saat menonton breaking news. Sebuah kecelakaan pesawat baru saja menimpa pesawat boeing xxx milik maskapai penerbangan A dengan tujuan Hodaiko, Jepang. Pesawat membawa penumpang sebagai 125 orang dengan 8 awak pesawat. Pesawat hilang kontak setelah mengudara selama 15 menit dan diperkirakan meledak di udara dan jatuh ke lautan. Sampai berita ini diturunkan belum ada kepastian akan keselamatan korban. Dan dari keseluruhan penumpang, dua di antaranya adalah istri dan putri dari Bayu Utomo, pemilik Utomo Company.


"APA?!"