This Is Our Love

This Is Our Love
Plot Twins?



Ken menghela nafasnya. Meskipun perasaannya jauh lebih baik, akan tetapi, tetap saja, harinya tetap pilu dan sangat merindu. Itu adalah satu hal yang tidak bisa dipungkiri.


Wajahnya berubah datar. Ken melangkah menuju kulkas dan mengambil sekaleng bir. Setidaknya itu akan membantunya merasa lebih baik lagi.


Ya, selain dihibur oleh keluarganya, ia juga butuh menghibur dirinya sendiri. Ken kemudian menuju nakas dan mengambil foto cantik istrinya, Bella.


Ken lalu duduk di dekat jendela. Malam tahun itu, ini sudah awal tahun. Hari pertama dari satu bulan Januari. "Ku pikir kita akan melewati tahun baru bersama." Meskipun tahun baru tidak begitu spesial. Namun, bagi orang-orang ini adalah hari yang besar dan penting. Di mana mereka bisa bebas jalan-jalan dan mengunjungi banyak tempat. Ya meskipun bisa dilakukan di hari biasa. Akan tetapi, itu sudah seperti kebiasaan rutin.


Dulu, setiap tahun baru Ken mengikuti acara camping tahunan. Itu diadakan oleh sekolah ataupun acara kampus. Sebelum Cia sakit, mereka akan pergi bersama. Namun, selama Cia sakit, Ken mengikutinya sendiri tanpa Cia. Dan itu juga atas paksaan Cia.


Ken tersenyum tipis. Kenangan itu, tidak hilang dari hatinya. Namun, sekarang berganti dengan kenangan bersama dengan Bella.


Ken mengingat kembali saat ia memberanikan diri untuk membantu Bella. Ya, meskipun ia gagal melindungi Bella ataupun dirinya sendiri, setidaknya ia berhasil melawan rasa takutnya.


"Aru." Dipeluknya bingkai foto itu. Matanya terpejam, ia menikmati alunan lagu yang keluar dari ponselnya. Lagu yang romantis, Nothing's Gonna Change My Love For You. Ken begitu menikmati lagu itu.


Ya, kita memang jauh. Namun, kita selalu dekat. Aru, kau selalu ada di dekatku. Begitu juga denganku yang selalu ada di dekatmu.


"Happy New Year, Aru. Aku harap sebelum hari raya, kita akan berkumpul kembali," gumam Ken. Itu adalah harapannya!


*


*


*


Malam tahun baru. Malam menyambut tahun yang baru itu disambut dengan suka cita oleh penghuni Green Palace. 


Daging dan minuman menjadi menu wajib. Mereka berpesta dengan gembira. "Aku ke kamar duluan," pamit Andry. Ya, dia tidak menikmati malam tahun baru ini karena hatinya gundah dan gelisah. 


"Kenapa? Apa kau sudah merasa mabuk, Andry?"tanya rekannya yang disambut dengan tawa. 


"Hm." Andry mengangguk singkat, melambaikan tangannya kemudian pergi.


"Ada apa dengannya? Aku perhatikan dia murung beberapa hari belakangan ini," ucap rekannya dengan bingung dan penasaran. 


"Entahlah. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kita," sahut rekan yang lain, yang juga bingung dengan Andry belakang ini.


"Apa mungkin dia memikirkan seorang wanita? Usianya sudah cukup matang untuk itu, bukan?"terka yang lainnya, menimpali pertanyaan yang ada. 


"Aku rasa ia. Ia seperti dilema. Tapi, jika memang karena wanita, siapa yang membuatnya seperti itu?" Saling melempar pandang. Mereka sama sekali tidak tahun dan mengedikkan bahu. "Entahlah."


Setibanya di kamar, Andry menghela nafasnya kasar. Andry kemudian duduk dilema di ranjangnya. Andry menggenggam kedua telapak tangannya. Matanya memancarkan rasa dilema yang nyata.


Aku mohon, Andry. Hanya dengan menyingkirkannya, kita akan aman dan bersatu.


Permintaan gila Ariel membayangi dirinya. Bagaimana bisa?


Andry bahkan gemetar mendengar permintaan gila itu! 


Bagaimana bisa ia menghabisi nyawa majikannya? Tuannya, Desya adalah orang yang telah menyelamatkannya. 


Dia sangat menghormati Desya. Namun, nafsu membutakannya. 


Bagaimana tidak? 


Ia tergoda oleh Ariel. Awal mula perselingkuhan itu juga karena mereka yang sering bertemu di lapangan panah. 


Andry, ia tidak kuasa menahan permintaan dan godaan Ariel. Bisa dikatakan, awalnya ia berada di bawah ancaman. Awalnya, ia sama sekali tidak menikmati perselingkuhan itu. Ariel yang memimpin. 


Namun, lama kelamaan, seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai berani dan mulai mengambil alih permainan. Dan Andry jatuh cinta pada Ariel. 


Terkadang, muncul rasa marah pada Desya karena menganggap Desya mengabaikan Ariel. Terkadang, juga muncul rasa bersalah karena mengkhianati Tuannya. 


Itulah yang membuat Andry dilema. Keputusan apa yang harus ia ambil.


Apa aku mengaku saja? Andry berpikir demikian.


Tidak! Ia menggeleng. Membantah pikirannya sendiri. 


Lalu bagaimana? Jika ia mengaku, sama saja mendatangi kematian. Dan Andry juga akan membahayakan Ariel juga janin dalam kandungannya, itu anaknya! Dan dia juga akan kehilangan nyawa. Andry tidak bisa melakukan hal itu. 


Malam tahun baru adalah kesempatan yang pas untuk itu! Aku mohon, Andry. 


Aku akan membuatnya mabuk setelah itu kau yang akan menghabisi nyawanya!


Ucapan Ariel kembali terngiang-ngiang. Malam tahun baru, itu malam ini. 


Ya, meskipun tidak begitu dekat dengan Desya, Andry tahu Tuannya itu akan mabuk saat tahun baru. Dan menyerang saat target mabuk memanglah sebuah nilai plus untuk menang. 


"Apa yang harus aku lakukan?" Andry menoleh ke nakas. Di sana ada keranjang buah dan pisaunya. 


Bunuh diri! Tercetus ide itu di dalam hatinya. Namun, ia kembali menggeleng. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Jika ia bunuh diri, Ariel juga tidak terlepas dari masalah. Kehamilannya, itu yang menjadi masalah besar. Malah Ariel berkata tidak akan menggugurkannya lagi.


Hah!


Andry menghela nafas besar. Ini memang berat. Pilihan yang menentukan hidup dan matinya. 


Andry menunduk dalam. Ia harus segera memutuskan karena Ariel tidak bisa menunggu lama lagi. 


Matanya terpejam. Menyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan. 


Setelahnya, Andry mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah. Yang semula penuh dengan kegelisahan dan keraguan, kini benar-benar penuh dengan keyakinan. 


Bibirnya melengkungkan senyum tipis, dan sedikit sinis. "Maaf, Tuan! Terima kasih untuk semuanya. Namun, aku juga punya keinginan!"


Dan pada akhirnya, Andry memutuskan untuk menyingkirkan Desya dengan harapan ia akan bersama dengan Ariel. "Aku mencintaimu, Ariel. Aku akan lakukan apapun untukmu." Sepertinya juga gila karena wanita. 


*


*


*


Kini, Andry berjalan mengendap. Ia akan menyusup ke kamar Desya. Ini sudah tahun baru. Satu Januari. Saat memasuki istana Desya, Andry bersembunyi. "Damn!" Ia mengumpat. 


Andry lupa kalau istana ini punya pengamanan yang ketat. But, bukan berarti ia tidak ada cara untuk mengatasinya. 


Andry mengenakan pakaian seperti biasanya. Celana training dengan kaos hitam yang membungkus tubuh tegapnya. Hanya saja, ia membawa topeng untuk menutupi wajahnya. Juga senjata yang akan ia gunakan untuk mengakhiri nyawa  Desya. 


Andry mengatur nafasnya, mengatur ritme jantungnya. Ia harus terlihat tenang dan biasa saja. 


Setelah itu, Andry menghela nafas dan kembali melangkah. Benar saja, saat Andry melewati koridor untuk sampai di kamar Desya, ia ditahan oleh penjaga koridor. "Aku Andry. Ingin bertemu dengan Tuan!" Nadanya tegas. 


"Ah, Tuan Andry. Silahkan, Tuan."


Andry memang cukup sering menemui Desya untuk memberi laporan. Andry mengangguk dan melanjutkan langkahnya. 


Dan kini ia telah berada di depan kamar Desya. Tidak ditemuinya Irene. Itu sedikit membuat takut. 


Dan rasa ragu kembali hadir. Saat Andry menyentuh gagang pintu, terlintas untuk mengurungkan niatnya. Akan tetapi, itu ditepis olehnya. "Aku harus melakukannya!"gumamnya lirih. 


Ini kesempatan bagus. Dalam hatinya bergumam. 


Jika Desya mabuk dan sudah tidur, itu benar-benar membantunya. Sepertinya ini adalah berkah tahun baru untuknya. 


Andry kemudian memakai topengnya. Dan menarik pisau yang telah diasah tajam yang disembunyikan di belakang pinggangnya. 


Melangkah pelan dan mengendap. Andry mendekati ranjang Desya yang ditutupi kelambu. Perlahan, ia menyingkap kelambu berwarna biru tua itu. 


Andry melihat gundukan yang berselimut. Dan tidak terganggu dengan kehadirannya. Desya sepertinya tidur dengan sangat nyenyak. 


Tanpa menunggu lama, Andry mengangkat pisaunya ke atas, siap untuk menusuk Desya. Sebelum itu, Andry memejamkan matanya. Bulir air mata jatuh. 


Dan saat membuka mata, Andry menghunuskan pisaunya menusuk gundukan yang berada di balik selimut itu, berkali-kali dengan cepat. Sampai warna merah darah mewarnai selimut. 


"Uhhh!" Terdengar suara yang mengadu kasih. Seperti terbelalak dan kesakitan. 


Namun, suara itu bukan suara pria. Dan Andry merasa ia familiar dengan suara itu. 


Andry seketika menjadi takut. Ia benar-benar takut. Pisau di tangannya jatuh. Tangannya gemetar dengan tatapan rumit. 


Sebelum tangannya membuka selimut itu, lampu kamar tiba-tiba menyala dan itu membuat Andry panik dan takut nan terkejut!


"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamar ini?" Itu Irene. Bertanya dengan nada dingin dengan tatapan seperti menguliti Andry. Irene tidak mengenali Andry yang masih memakai topeng.


"Mengapa kau di kamar Tuan?" Irene melangkah maju. Sementara Andry berdiri kaku di tempatnya, bibirnya terasa keluh. Rasa takut menguasai dirinya. Otaknya tidak bisa memikirkan sesuatu. 


"Pisau? Darah? Apa yang kau lakukan?!" Irene terbelalak melihat pisau berlumur darah yang ada tergeletak di lantai. 


"Tidak! Aku tidak melakukannya!" Andry berkata dengan gemetar. 


"Kau … kau membunuh Tuan?" Raut wajah Irene berubah menyeramkan. Ia melangkah cepat menghampiri Andry. 


Bugh!


Bugh!


Tanpa berkata apa-apa lagi, Irene langsung melayangkan pukulan memb*bi buta pada Andry. Pria itu tidak melawannya. Seakan tidak punya kekuatan. Pikirannya tetap tertuju pada suara itu. 


"Baj*ngan tengik! Beraninya kau!"hardik Irene seraya membuka topeng Andry. Wajah tampan Irene sudah babak belur. Irene membeku beberapa saat. 


"KAU! KURANG AJAR! B*JINGAN TAK TAHU DIRI! BERANINYA KAU MEMBUNUH TUAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"


"Hentikan, Irene!" Tiba-tiba, dari balik gorden muncul sosok Desya yang berdiri tegap, tanpa luka apapun. Tangannya memegang gelas wine. 


"Tuan!" Irene tampak terkejut dan segera menghampiri Tuannya.


Lain halnya dengan Andry yang terkejut setengah mati. Wajahnya sungguh pias. Apa yang terjadi? Mengapa Desya di sana dan baik-baik saja? 


Siapa? 


Siapa yang dia bunuh?


"Luar biasa, Andry. Kau mengagumkan!"sinis Desya pada Andry.


"B-bagaimana bisa?" 


"Jika kau penasaran, mengapa tidak kau lihat saja siapa itu yang telah kau tusuk!"


Gemetar. Andry mengarahkan tangannya untuk membuka selimut itu. 


Matanya terbelalak. "Tidak!" 


"Tidak mungkin!" Andry berteriak histeris.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Bagaimana bisa, Ariel yang berada di balik selimut itu? 


Matanya terbelalak dengan bersimbah darah. Andry membunuh Ariel? Bukan Desya?


Melihat itu, Desya menarik senyum miring. Ia lantas kembali melempar pandang ke arah jendela.


*


*


*


Desya adalah pemilik dan pemimpin di istana Green Palace ini. 


Ia tahu apa saja yang terjadi dalam wilayah kekuasaannya. Desya memiliki kepercayaan yang tersebar. Hanya ia yang tahu. Bahkan Irene yang hampir dua puluh empat jam bersama Desya juga tidak tahu. 


Ia memiliki orang-orang di samping orang yang ia awasi. Dan dalam waktu tertentu, mereka akan melapor pada Desya secara rahasia. 


Perselingkuhan Ariel. Desya tahu itu sejak lama. Bahkan sejak awal. Namun, ia membiarkannya saja. Menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.


Keinginan hati orang tua Ariel untuk mengendalikan dan menguasai Black Rose ini juga ia ketahui. Mereka membuat rencana, Desya sudah membuat cara untuk mengatasinya. 


Ia adalah orang yang kompeten dan penuh perhitungan. 


Bahkan perselingkuhan di perpustakaan saja, Desya tahu. 


Apa dia tidak marah? 


Jelas!


Suami mana yang tidak akan marah mengetahui isterinya selingkuh dengan bawahannya? 


Desya ingin segera meleyapkan mereka. Namun, ia menahan diri dan berpura-pura tidak tahu. Bersabar dengan fakta ia telah memakai topi hijau alias diselingkuhi. 


Kehamilan Ariel, Desya juga tahu. Namun, itu tidak membuatnya terlalu marah. 


Andai! Andai saja kedua orang itu mengaku saling mencintai, ada kemungkinan Desya memberikan keringanan. Namun, ia malah mendengar kedua orang itu ingin membunuhnya. Bagaimana mungkin amarahnya tidak meledak?


Mereka yang ingin mati, maka aku akan mengabulkannya!


Saat malam tahun baru, Desya memanggil Ariel. Keduanya minum bersama. 


Ariel, ia tidak curiga pada Desya. Setelah minum, Ariel merasa pusing dan tak sadarkan diri.


"Cih! Gaya ingin membunuhku. Seperti ini saja sudah kalah!"maki Desya. Dengan rasa enggan menggendong Ariel dan dibaringkan di ranjang. Desya kemudian menarik selimut, menutupi tubuh Ariel dari ujung sampai pangkal. 


Desya kemudian mengambil tempat di balik gorden dengan membawa anggurnya. Di sana ada tempat untuknya duduk dan menikmati pemandangan. Dari jendelanya, Desya bisa melihat keluar dengan jelas. Namun, kamarnya tidak akan bisa dilihat dari jendela itu. Itu mirip kaca film yang digunakan pada mobil. 


*


*


*