This Is Our Love

This Is Our Love
Aku Terima!



Pukul 18.00, Bella tiba di kediaman Mahendra. Pelayan yang sudah menunggu di teras langsung saja memberi hormat pada Bella. Motor dan helm dibawa oleh salah seorang pelayan ke garasi. 


"Tolong buatkan wedang jahe, lalu antar ke kamar," ucap Bella pada pelayan sembari menyerahkan jaketnya. 


"Baik, Nona." Pelayan itu mengangguk dan mempersilahkan Bella masuk lebih dulu. 


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab lembut seseorang dari arah ruang keluarga. Itu Rahayu. 


"Yang lain belum pulang, Ma?"tanya Bella yang hanya mendapati Rahayu seorang. Ia menyalami Rahayu kemudian duduk.


"Ken ada di kamar. Papa, Brian, dan Via sepertinya sebentar lagi akan pulang. Sedangkan El, mungkin sedang mengadakan perpisahan dengan teman-temannya," jawab Rahayu.


"Abel kata Ken tadi kamu setelah keluar dari rumah sakit langsung pergi ke perusahaan lalu mengantar adikmu kemo, mengapa tak pulang dulu? Atau setidaknya ditemani oleh Ken."


Bella tersenyum, "ini yang terakhir, Ma."


"Baiklah. Mama pegang janjimu. Sudah sana naik, wangimu sudah asam," suruh Rahayu, menyelipkan candaan. Bella tertawa pelan kemudian berdiri dan menaiki tangga menuju kamarnya dan Ken.


"Mama sudah tahu apa alasanmu menghindar dari Ken hari ini. Ternyata di balik sikap kuatmu itu kau memang benar-benar memikul tanggung jawab yang besar. Abel aku bisa menerima adikmu. Aku juga punya anak yang sama persis seperti adikmu, El. Semoga dengan pendidikan agama, dia bisa berubah. Aku bisa menebak salah satu alasanmu masih menyembunyikan hal ini. Kau menjaga nama baik keluarga Mahendra. Terima kasih," gumam Rahayu, menatap dalam foto Nesya yang dikirim oleh Surya padanya. 


"Cantik, alangkah baiknya jika kau cepat keluar. Pasti aku punya teman yang menemaniku juga cucu yang menggemaskan."


Hm … sebaiknya aku melakukan pendekatan agar nanti jika saatnya tiba, tidak akan terlalu terkejut dan asing, pikir Rahayu.


*


*


*


Bella melangkah memasuki kamar. Ia ambang pintu ia diam sejenak mengedarkan pandang.


"Ken kau di mana?" Bella melangkah masuk dan meletakkan tasnya di atas meja sofa.


"Mandi." Sahutan dari kamar mandi. 


"Oh."


Bella menyandarkan punggungnya di sofa. Merelakskan otot setelah sibuk seharian. 


Tok.


Tok 


Tok


"Masuk!"


Pintu terbuka, pelayan masuk dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat gelas, masih terlihat jelas uap panas mengepul.


"Wedang jahe Anda, Nona."


"Terima kasih."


Pelayan tersebut mengangguk kemudian undur diri. Aroma jahe yang kuat, Bella menghirup uap panas itu. Tubuhnya terasa hangat dan rasa lelahnya sedikit terusir.


"Aru …."


Bella menoleh ke arah kamar mandi saat Ken memanggilnya. Ken keluar dengan hanya menggunakan handuk menutupi area pribadinya, rambutnya yang basah masih meneteskan air. 


"Kau? Mengapa tidak menggunakan kimono?!" Bella memalingkan wajahnya seketika. Leher yang begitu menggoda, dada bidang, dan enam tonjolan otot perut. Sebelumnya sudah pernah melihat tapi kali ini lebih terbuka lagi. Bella melirik Ken yang tersenyum penuh arti, melangkah mendekati Bella.


Sial! Aku tergoda!


Bella menelan salivanya sendiri saat melirik paha Ken. Ayolah dia ini wanita dewasa, sudah matang dan disuguhi pemandangan seperti ini, siapa yang tidak akan tergoda? Terlebih mereka sudah sah dan mencintai. Tapi sayangnya, harus ditunda dulu.


Tahan Bella. Bandara masih banjir! 


"Hei kenapa malu? Bukankah saat malam itu kau sudah melihatnya?" Ken duduk di samping Bella, memegang lengannya dan dengan lembut membuat Bella melihatnya. 


"Itu kan tidak sengaja!"sahut Bella, kembali memalingkan wajahnya. Jantungnya berdebar kencang, membeku saat Ken memeluknya dari belakang. Menyandarkan dada pada punggungnya dan meletakkan rahang pada pundaknya. Kedua tangan Ken memeluk erat pinggang Bella. 


"Sekarang tidak ada kata tidak sengaja lagi. Aru lihatlah aku. Tataplah mataku. Jangan menghindar lagi. Kau berjanji akan memberiku kompensasi," ucap Ken dengan nada seraknya.


Ya anggap saja gladi resik!


"Jadi kompensasi apa yang kau inginkan?"  Bella memutar tubuhnya menghadap Ken. Ken tersenyum, menatap lekat wajah sang istri. 


Kedua tangan kini Bella berada di leher Ken. Ken sempat terperanjat dengan hal itu. 


"Katakan, apa yang kau inginkan dariku?"tanya Bella.


"Cium aku!"jawab Ken.


"Cium?" Bella mengerti. Segera ia mendekatkan wajah pada wajah Ken. Ken memejamkan matanya saat merasakan deru nafas Bella. 


Cup.


Cup.


Dua ciuman mendarat di pipi kanan dan kiri Ken.


"Sudah."


Ken membuka matanya, "bukan pipi, Aru!"protesnya.


"Lantas?" Wajah polos seolah tidak mengerti. Ken mengerucutkan bibirnya, kesal bercampur gemas. 


Bukankah Aru sering melihat drama yang ada screen ciumannya? Dia ini sedang pura-pura polos dan menggodaku, bukan?


Ken menunjuk bibirnya sendiri, "Cium di sini. Jangan pura-pura tidak mengerti karena aku tahu Aru pasti mengerti!"


"Ah baik-baik."


Bella kembali mendekatkan wajahnya pada Ken. Kali ini mata Ken tetap terbuka. 


Cup.


"Sudah."


Saat Bella kembali menjauhkan wajahnya, Ken dengan sigap menahan tengkuk Bella kemudian mendekatkan wajah Bella.


"Itu bukan ciuman tapi kecupan!" Setelah mengatakan hal itu, Ken mencium bibir Bella. Memangut bibir sang istri dengan lembut, memberi ******* dan belitan lidah. Ken meminta Bella membalas ciumannya. Bella yang tengah terdiam, antara kaget juga menikmati ciuman Ken walau masih terkesan berantakan tapi lebih baik dari yang pertama.


Saling membalas, dan menuntut lebih. Tanpa melepas ciuman, Ken membaringkan tubuh Bella di sofa. Satu tangannya mulai bergerak mencari jarum pengikat hijab Bella. Cukup sulit karena memang pertama kali baginya. 


Setelah berusaha, akhirnya hijab Bella terlepas dari tempatnya. Ken menghentikan ciumannya, ia menarik nafas begitu juga dengan Bella.


Mata sayu beradu pandang dengan mata takjub. Ternyata di balik hijab yang Bella kenakan selama ini, tersimpan mahkota yang begitu indah. Mahkota yang panjang sedikit bergelombang dengan warna hitam yang tampak berkilau. Aroma melati, aroma khas Bella tercium begitu wangi, merasuk dan membangkitkan gair*h Ken.


Ditatapnya dalam mata sang istri. Tangannya bergerak menyentuh dan mengusap rambut yang tergerai. 


"Aku sangat bersyukur dan beruntung memiliki dirimu, Aru." Ken kembali mencium Bella dengan perasaan yang lebih dalam lagi. 


Keduanya larut dalam bui kasih. Ken menggerakkan tangannya, mulai menyentuh bagian tubuh lain sang istri. Desah tertahan, keinginan untuk lanjut namun dibatasi oleh kesadaran yang masih ada. Bella membuka matanya dan melepas ciumannya.


"Tidak. Tidak sekarang, Ken!"


Bella menggeleng. 


"Aku sudah siap. Tapi keadaaanku tidak memperbolehkan kita untuk hal itu. Lagipula sudah magrib. Lekaslah berganti pakaian dan ambil air wudhu, setelah itu aku akan mandi," jawab Bella.


Ah!


Ken menepuk dahinya sendiri. Ia tersenyum malu karena lupa bahwa Bella dengan halangan. 


"Maaf, aku lupa." Ken beranjak setelah memberikan kecupan dahi pada Bella. Bella sendiri mengikat kembali rambutnya. Hijabnya tidak ia gunakan lagi, toh Ken sudah melihat mahkotanya, dan Ken adalah suaminya.


Ah gladi resik yang bagus.


Beberapa saat kemudian Ken keluar dengan menggunakan celana pendek dan kemeja lengan pendek. Ia tersenyum lebar saat masuk dan keluar kamar mandi. 


Setelah Ken keluar barulah Bella mandi. Lima belas menit kemudian, Bella keluar dengan mengenakan pakaian kasual, lengkap dengan hijab yang sudah dikenakan.


"Aru."


Ternyata Ken juga baru selesai. Pria itu melepas sarung dan menyimpan sajadahnya.


"Ya?"


"Aku terima!"


"Apa yang kau terima?"tanya Bella bingung.


"Adikmu dan masa lalunya!"


Bella terpaku sesaat. Matanya menyelidik mencari kebenaran dari mata Ken. 


"Dari mana kau tahu?"


"Sebenarnya tadi aku ke rumah sakit. Aku ingin menemui adikmu tapi saat itu kalian tengah membahas tentang penyakit dan lapas. Saat itulah aku tahu alasanmu tidak membolehkanku untuk ikut," jawab Ken.


"Kau bersungguh-sungguh?"


"Tentu. Masa lalu semua orang tidak lah sama. Aku rasa Nesya sama seperti Kak El. Mencari perhatian tapi dengan cara yang salah."


"Baguslah." Pasangan itu berpelukan sebelum keluar kamar untuk makan malam bersama.


*


*


*


Pagi setelah menjalankan salat subuh berjamaah, Bella dan Ken ikut mengantar El berserta dengan Surya, Rahayu, Brian, dan Via ke bandara. Hari ini El akan ke Bandung. Seperti pembicaraan kemarin, Bella dan Ken tidak ikut ke Bandung. Brian dan Via ikut juga sekalian ada urusan di Bandung, tentu saja pekerjaan.


Penerbangan pukul 07.00, menggunakan pesawat pribadi keluarga Mahendra. Ken dan Bella yang setelah tadi malam menjadi semakin romantis. Mereka mengikuti laju dua mobil keluarga dari belakang dengan mengendarai sepeda motor. Ken tersenyum penuh arti, sangat bahagia. 


Bella mengizinkan Ken membawa motornya karena sudah mendapat surat izin mengemudi C.


*


*


*


"Anjani!" El melambaikan tangannya pada Anjani yang menunggu di bandara. El memang meminta Anjani mengantarkannya walau hanya sampai di bandara. Anjani yang tengah menemani Arka bermain ponsel mendongak. Ibunda Arka itu terdiam sesaat melihat penampilan El.


Penampilan El yang biasanya kasual dan nyentrik kini berganti dengan celana jeans panjang longgar dan kemeja putih, juga memakai kopiah berwarna hitam. Ya masih sedikit aneh sih, seperti orang yang hendak menikah saja. 


Wajahnya yang biasanya memang ceria kini lebih berseri. Senyum manis itu membuat Anjani tenggelam dalam lamunan.


"Aunty Abel! Oma Ayu!" Seruan Arka menyadarkan Anjani dan mendapati Arka yang tengah memeluk Rahayu kemudian berganti memeluk Bella dan berakhir dalam gendongan Bella.


"Uh Anjani sepertinya anakmu ini sangat bahagia sampai aku sudah kelelahan menggendongnya sebentar," keluh Bella.


"Ah Aunty, Aka makan sedikit, kok!"


"Ya sedikit tapi berkali-kali!"


Arka nyengir sedangkan Anjani tersenyum antara canggung dan malu.


"Biar Uncle Ken saja yang gendong," ucap Ken. Seluruh keluarga menatap Ken heran, termasuk Anjani. 


"Nggak. Aunty Aka turun."


"Sama calon papa saja sini." El mendekati Bella dan meminta Aka dari gendongan Bella.


"Nggak. Aka sudah besar. Aka bisa berdiri sendiri!" Dewasa secara tiba-tiba. Bella hanya bisa menuruti keponakan ini.


Belum sempat kaki Arka menginjak lantai, El sudah merebut dan menggendongnya.


"Uncle!"


"Sudah. Nanti tidak tahu kapan lagi Uncle akan menggendong Aka seperti ini."


Arka yang sebelumnya berontak langsung diam dan menatap bingung El, "memang Uncle mau ke mana?"


"Uncle mau belajar. Belajar jadi iman dan Papa yang baik untuk Mama dan Aka."


Dahi anak itu mengeryit, tidak mengerti. Sedangkan Anjani tersipu. El benar-benar berani! Lihatlah wajah Surya dan Rahayu, juga yang lain kecuali Brian, menatap mereka penuh senyuman. Terlebih saat mereka disandingkan, potret keluarga bahagia.


"Waktunya berangkat," ucap Brian setelah melihat jam tangannya. 


"Jani, tunggulah aku." Kalimat singkat yang penuh arti dan Anjani mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Ken, Abel, doakan aku agar aku secepatnya bisa kembali."


"Tentu," sahut keduanya mantap.


"Aka rindukan Uncle setiap saat, okay?!"


Arka juga mengangguk. Sebelum menurunkan Arka, El mendaratkan kecupan hangat di dahi Arka.


Ibunya? Ah belum boleh. 


"Selamat berjuang, Tuan Muda El," ucap Anjani.


"Pasti!"


"Kak El ingatlah di sana kau belajar bukan menggoda dan membuat onar di pesantren!"ucap Ken memperingati sang kakak.


"Ada hati yang harus dijaga. Aku akan berusaha untuk itu!"


"Hahaha kita nantikan saja kabarnya!"ujar Bella.


Setelah itu, kecuali yang mengantar sampai bandara, kelima orang itu segera naik ke pesawat. 


*


*


*