This Is Our Love

This Is Our Love
Merasa Heran



Hari Sabtu pun tiba. Surya dan Rahayu meninggalkan apartemen mereka setelah menunaikan shalat subuh menuju bandara untuk kembali ke Jakarta.


Tepat pukul 06.00 waktu Paris, Perancis, pesawat pribadi keluarga Mahendra yang Surya dan Rahayu take off menuju bandara Soekarno-Hatta. Mereka sarapan di pesawat. Selama penerbangan kurang lebih enam belas jam itu, Surya tetap berkerja di depan laptopnya sedang Rahayu menemani Surya dengan kegiatan randomnya.


Mulai dari membaca majalah atau novel, berselancar di media sosialnya, menyuapi Surya, menganggu Surya dengan bermanja, dan pada akhirnya Rahayu tertidur dengan paha Surya sebagai bantal. Surya yang terjaga, tersenyum geli sendiri melihat tingkah random sang istri.


Kini pesawat telah landing. Rahayu masih tertidur. Surya yang tak tega membangunkan Rahayu, memindahkan kepala Rahayu dengan hati-hati dan lembut. Kemudian dengan cepat dan lembut membawa Rahayu dalam gendongannya. Rahayu hanya menggumam pelan dan tak jelas, ia tetap terlelap. Surya langsung melangkah keluar dari pesawat. Barang keduanya dibawa oleh pramugari. 


Di luar, sudah menunggu mobil beserta sopirnya. Dengan hati-hati, Surya mendudukan Rahayu di kursi mobil. Surya menepuk pundak sang sopir mengatakan "jalan". Sang sopir mengangguk paham. 


Mobil melaju meninggalkan bandara kembali ke mansion keluarga Mahendra. Meninggalkan pramugari dan beberapa staff yang berdecak kagum dan merasa iri dengan Rahayu yang mendapatkan sosok yang begitu lembut dan perhatian. Tentu saja, kasih dan cinta Surya tercurah sepenuhnya untuk Rahayu, sebagai istri kedua yang telah menjadi istri satu-satunya. 


Di tengah perjalanan, Rahayu menggerakkan kelopak matanya. Tubuhnya menggeliat dan begitu membuka, Rahayu menatap bingung dengan masih mengantuk Surya.


Wajah Rahayu itu terlihat begitu menggemaskan bagi Surya. "Mas kita di mana?"tanya serak Rahayu, melihat kanan, kiri, depan, dan belakang mobil.  Suasana malam yang diterangi dengan lampu jalan dengan kanan kiri bangunan bertingkat, ada juga warung pinggir jalan yang masih buka.


"Sebentar lagi kita sampai, Sayang. Tidurlah sebentar lagi, nanti Mas bangunkan," tutur Rahayu, membawa Rahayu agar bersandar pada bahunya namun Rahayu menolak. Ia memilih membuka jendela mobil dan merasakan udara hampir tengah malam yakni jam 23.30. 


"Mengapa tidak membangunkanku?"tanya Rahayu setelah ingatannya pulih dan ia dalam keadaaan sadar total. 


"Mana tega Mas membangunkanmu, Sayang," jawab Surya lembut.


"Tetap saja, Mas. Kita bukan anak muda lagi. Ntar kalau pas gendong aku Mas encok gimana? Kan kasihan Mas malang aku juga," ucap Rahayu dengan dengan kesal yang terdengar seperti rengekan manja di telinga Surya. 


"Perlu Mas buktikan kalau Mas masih sehat dan kuat?"tanya Surya dengan senyum smirknya. Rahayu terkesiap. Ia mengerjap, sejurus kemudian ia menggeleng keras. 


"Tidak perlu! Mas kuat! Sangat kuat!" Rahayu menggeser tubuhnya menjauhi Surya.


"Loh kok malah geser ke sana sih? Mas di sini, Sayang," heran Surya yang tentu saja dibuat-buat. Ia mengulurkan tangannya meminta Rahayu mendekat padanya.


"Mas nggak bakal buat tubuh aku remuk, kan?"


"Tergantung," jawab Surya singkat. Mata Rahayu membulat, "tapi, tidak malam ini. Mas juga lelah, Sayang," lanjut Surya menenangkan. Rahayu mendengus. 


"Dasar!" Rahayu langsung masuk dalam pelukan Surya. 


"Mas sangat mencintaimu, mana mungkin Mas menghancurkan dirimu, Sayang," tutur Surya, menciumi pucuk kepala sang istri.


"Tapi, tadi kata Mas tergantung!"sungut Rahayu, ia mendongak menatap wajah sang suami.


"Ya itu kan kalau kelepasan," kilah Surya diiringi dengan kekehannya.


Melihat Tuan dan Nyonyanya bermesraan, sang sopir tersenyum simpul. Ia mengingat dan sangat merindukan keluarganya. Waktu cuti sebentar lagi, rasanya tak sabar untuk pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.


*


*


*


Sekitar lima belas menit kemudian, Surya dan Rahayu tiba di mansion keluarga Mahendra. Suasana rumah sudah sepi, hanya dua pelayan yang menunggu kepulangan Surya dan Rahayu. Sedang Bella, Ken, Brian, dan Silvia telah terlelap, terbuai dalam dunia mimpi.


Tadinya keempatnya ingin menunggu Surya dan Rahayu pulang baru mereka tidur. Namun, Surya melarang keempatnya. Mereka sudah berkerja seharian penuh. 


Dilihat rumah sepi. Begitu memasuki rumah rasa lelah langsung menyerang Surya. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara, Surya langsung membawa Rahayu dalam gendongannya. 


"Mas?!"pekik protes Rahayu. 


"Sayang, Mas sudah lelah. Jangan teriak-teriak," bisik lelah Surya. Rahayu bungkam walau mulutnya masih komat-kamit tanpa suara. 


*


*


*


"Aru, kau mau kemana?"tanya Ken yang melihat Bella selesai membereskan alat shalatnya langsung memakai hijab dan bersiap untuk keluar.


"Ke dapur buat sarapan. Mama dan Papa sudah pulang. Pasti rindu sarapan pagi khas tanah air," jawab Bella.


"Ikut," ucap Ken, buru-buru memakai celana panjangnya. 


Bella mengendikkan bahunya. Ia lalu melenggang keluar kamar. Di dapur, Bella menemukan Silvia yang sudah berkecimpung di dapur bersama dengan pelayan bagian memasak. Sedangkan Brian duduk di meja makan dengan menikmati secangkir kopi dan membaca majalah.


Belakangan ini, Brian dan Silvia selalu turun sebelum waktunya sarapan dan berangkat kerja. Dilihat dari kebersamaan, tanpa ditanyakan pun sudah tahu kalau hubungan Brian dan Silvia mengalami perkembangan.


"Morning, Kak Bri," sapa Ken, duduk di samping Brian dengan pandangan ke arah Bella yang mulai berkutat dengan alat-alat masak. Tak lama kemudian, wangi harum sarapan pagi sudah merasuki penciuman Brian dan Ken. 


Dari arah tangga, Surya dan Rahayu menatap interaksi anak dan menantu mereka dengan tatapan sulit diartikan, sejak kapan interaksi mereka begitu dekat? Apa yang saja yang telah mereka lewatkan di rumah ini sejak mereka tidak berada di rumah?


Terlebih untuk Brian, si wajah datar yang terkenal dengan kecoolannya. Dari yang semula tatapannya acuh, kini memiliki rasa ketertarikan di dalamnya. Dan Silvia, yang mereka kenal pendiam dan anggun, mengikuti bagaimana sikap Brian, kini lebih ceria dan lebih berani mengekspresikan dirinya.


Saat ini, tidak terlihat sosok Nona Muda anggun yang tahunya hanya memerintah, dan jikapun punya kemampuan adalah dalam dunia pekerjaan yang posisinya tinggi. Yang ada adalah menantu idaman setiap mertua, pandai memasak yang juga wanita karier, pandai mengurus suami, diri sendiri, dan apa yang ada dalam tanggung jawabnya. 


Dengan bergandengan tangan, Surya dan Rahayu melangkah menuju dapur. Menyapa anak dan menantu mereka dengan senyum mengembang lebar.


"Bunda." Rahayu tertegun sesaat mendengar Brian memanggilnya dengan lembut dan menyalami dirinya. Ken sendiri juga terhenyak, sedang Surya mengembangkan senyumnya. Rahayu merasakan sangat bahagia saat Brian mengecup punggung tangannya. Rahayu dengan tulus mengusap pundak Brian. 


"Mama!" Ken yang sudah sangat merindukan Rahayu, langsung memeluk Rahayu erat. "Mama kurusan," ucap Ken melirik kesal Papanya.


"Benarkah?" 


"Papa membuat Mama mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian?"selidik Ken.


"Mamamu yang memaksa," sahut Surya santai. Ia tak merasa cemas karena Rahayu kerusan selama tidak mengarah pada hal yang negatif, semisal karena kurang gizi, kurang istirahat, atau penyakit.


"Benar, Ken. Di Paris kan Mama dan Papa tinggal berdua. Jadi, kalau ada orang lain misal pembantu Mama kurang nyaman. Jujur saja, mengurus rumah, mengurus suami, memasak, mencuci, apapun itu pekerjaan rumah tangga sungguh ingin Mama lakukan sendiri dan di sanalah tempatnya. Sedangkan di sini, kau lihat sendiri, semua sudah ada yang mengerjakan dan Mama tinggal berpangku tangan. So, anggap saja Mama olahraga," terang Rahayu, meyakinkan putranya bahwa ia baik-baik saja.


"Jika kau keberatan aku memasak, aku tidak masalah, namun jika kau ingin memasak untukku, aku tidak keberatan, Ken," sambung Bella dari arah dapur dengan membawa secangkir kopi dan Silvia secangkir teh untuk Surya dan Rahayu. 


"Minum, Pa, Bun," ujar Silvia lalu mengambil tempat di samping Brian. Ini hari minggu dan kebetulan free, makanya mereka bisa sesantai ini.


"Eh, tidak-tidak!" Ken langsung menolak opsi Bella. Masakan Bella sangat enak dan rasanya ada yang kurang jika setiap pagi tidak sarapan buatan Bella. "Lalu? Kau mau memasak untukku?"


"Ajari aku memasak," jawab Ken mantap. Bella mengangguk, "it's okay!" Bella duduk di hadapan Silvia, disusul oleh Ken yang duduk di samping Bella. Surya dan Rahayu juga mengambil tempat. 


Menu sarapan yakni nasi lemak dan antek-anteknya telah terhidang di meja makan. Waktu makan dimulai. Setelah membaca doa, mereka sarapan tanpa sepatah katapun berbicara kecuali denting alat makan. 


*


*


*


Selesai sarapan, lima belas menit kemudian, Surya mengajak Bella dan Brian untuk berbicara di ruang belajar. Mereka sudah menduga apa yang dibicarakan oleh Surya. Bella juga ada suatu hal yang ingin diberitahukan kepala Surya.


Ken, Silvia, dan Rahayu bercengkrama di ruang tengah. Ken menceritakan apa yang terjadi belakang ini, termasuk kabar tentang pertunangan Louis dan Teresa, kabar El di pesantren yang membuat Rahayu tak hentinya tersenyum. Namun, saat Ken membahas tentang masa lalu Umi Hani dan Nizam yang mempunyai kembaran, Rahayu terlonjak, "jadi … kembaran Nizam, mereka bisa dipertemukan kembali? Sungguh?" Ken mengangguk. Ia tak heran dengan sikap Rahayu yang begitu senang dan terharu bahkan langsung menghubungi Umi Hani. Rahayu dan Umi Hani itu sahabat sejak zaman SMA, pasti sedikit banyaknya tahu akan masa lalu kelam masing-masing. 


Silvia dan Brian sudah diberitahu oleh Bella dan Ken. Jadi, Silvia tidak bingung Ken dan Rahayu membahas apa. "Tentu. Tentu saja bisa. Paris dan Berlin tidak terlalu jauh. Aku juga tidak kau melewatkan moment pertemukan Hani dengan anaknya," jawab Rahayu pasti.


*


*


*


"Jadi, kalian berdua benar-benar yakin?" Brian dan Bella mengangguk. 


"Sanggup akan semua yang akan terjadi ke depannya?"


"Kami percaya bisa melewati dan mengatasinya," jawab Brian yang diangguki Bella. Surya menghela nafas pelan. Ia kemudian mengangguk mengerti.


"Kalian sudah satu hati dan bertekad bulat. Papa hanya bisa mendukung dan memantau kalian," tukas Surya.


"Kalau begitu, hari senin kita sudah bisa mengirim undangan tender?"tanya Bella meminta pendapat.


"Aku setuju," ucap Brian.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Surya.


"Sudah selesai, Pa?"tanya Brian pada Surya. Surya mengangguk dan Brian undur diri meninggalkan Bella dan Surya berdua, berbicara empat mata.


"Hal apa yang ingin kau katakan, Bel?"tanya Surya, ia merasa sangat tertarik dengan apa yang akan disampaikan oleh Bella. Bella tersenyum, seperti biasa, ia tetap tenang. 


"Yang pertama, Abel ingin meminta bantuan Papa untuk menyelidik tentang kecelakaan yang menimpa kakek puluhan tahun silam." 


"Ada yang salah dengannya?"terka Surya.


"Aku merasa ada yang salah, Pa."


"Okay." Tanpa pikir panjang dan keberatan,  Surya mengangguk.


"Yang keduanya, sebulan lagi Abel akan ke Amerika."


"Untuk?"


"Menagih hutang!"