This Is Our Love

This Is Our Love
Umi Hani dan Allen (2)



"Apa kau bahagia selama ini, Hani? Apakah kau menemukan seseorang yang  bisa menggantikanku dan menjadi ayah untuk Nizam? Atau apakah kau merasa hal sama sepertiku?" Allen mengatakan hal yang mengusik hatinya sejak ia mencoba memejamkan mata. Apakah mantan istrinya itu sudah ada pasangan atau sama sepertinya? Tetap menjaga hati walau sudah berpisah. 


"Allen, kau itu seorang professor, pertanyaanmu itu seharusnya kau tahu jawabannya. Tapi, ya aku mengerti. Kau ingin memastikannya, bukan?" 


"Pikirkan … jika aku sudah menikah lagi, jika Nizam memiliki sosok penggantimu, mungkin hari ini aku dan Nizam tidak ada di sini. Aku … sama sepertimu, Allen." Sebuah pengakuan Umi Hani ucapkan. Ya, sebelumnya sudah dikatakan, mereka sampai detik ini masih saling mencintai satu sama lain. 


Mereka mencoba melupakan perpisahan itu. Mereka menyibukkan diri dalam dunia pekerjaan. Ya, walaupun itu tidak bisa. Karena setiap melihat wajah Nizam dan Evan, keduanya saling mengingat satu sama lain.


Allen tertegun sesaat. Pancaran matanya menyiratkan sebuah kebahagiaan juga kesedihan. "Maaf, ini semua salahku yang lemah. Maaf … maafkan aku … Hani." 


Allen kembali menunduk. Sebenarnya ia ingin menjadikan bahu Umi Hani sebagai tempat bersandar. Akan tetapi, niat itu tidak ia lakukan. Allen takut, jika ia melakukannya, Umi Hani akan marah. 


"Itu sudah suratan takdir kita, Allen. Pertemuan ini juga sebuah takdir. Kita tidak bisa mencegah ataupun menghindarinya. Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang bersalah. Kita berpisah karena kau melindungiku dan anak-anak. Jadi, jika membahas siapa yang salah … aku juga bersalah, Allen." 


Umi Hani memejamkan matanya. Sebutir kristal bening mengalir di pipinya. "Jangan menangis, Hani." 


"Hani … bisakah kita bersama kembali?" Pertanyaan itu membuat Umi Hani tersentak. Matanya terbuka, sedikit terbelalak mendengar apa yang ditanyakan oleh Allen. 


Apakah bisa mereka bersama kembali? 


Nizam dan Evan saling pandang mendengar percakapan orang tua mereka itu. Keduanya sudah menguping cukup lama. Dan salah satu alasan Evan menarik Nizam agar menemaninya adalah agar orang tua mereka ada waktu untuk berbicara dari hati ke hati. 


Keduanya menantikan jawaban Umi Hani dalam diam. Inilah bahasan mereka kemarin sore. Ayah mereka menunjukkan sikap bahwa Allen ingin rujuk dengan Umi Hani, dalam artian kemungkinan besar Allen akan kembali merubah keyakinannya. 


Umi Hani menggeleng pelan. Allen tercekat melihatnya. Gelengan? Penolakan?


"Tidak?"


"Perbedaan kita terlalu jauh, Allen. Jika aku setuju apa kau akan kembali merubah keyakinanmu? Aku mungkin setuju untuk yang kali pertama. Namun, untuk yang kedua kalinya, maaf … aku tidak bisa menerimanya. Keyakinan bukan sebuah permainan. Dan jarak kita juga terlalu jauh." 


Selain jarak keyakinan, ada juga jarak wilayah. Di mana, pastinya salah satu dari mereka harus ada yang merubah kewarganegaraan. 


Sedangkan untuk Umi Hani, pesantren seakan sudah menjadi jiwanya. Dan laboratorium adalah tempat untuk Evan. Mungkin, jika di alasan jarak keyakinan bisa dihilangkan, maka bukan hal yang mustahil juga untuk Evan yang merubah kewarganegaraan dan pindah tugas di Indonesia? But, artinya Allen yang berkorban terlalu banyak. Dulu, Allen juga yang berkorban. Apakah saat ini, harus Allen juga yang berkorban?


"Allen sejujurnya pertemuan kita ini setelah sekian tahun, aku sudah merasa cukup dan lega. Melihatmu dan Evan hidup dengan baik, aku bahagia. Aku lega, aku sudah cukup dengan itu. Selama ini hati kita saling memiliki satu sama lain walaupun kita tidak bersama." 


Ya cinta tak harus bersama. Mereka saling memiliki walaupun tidak bersama. Cinta mereka tidak lekang oleh waktu meskipun mereka terpisah oleh jarak yang berjauhan. 


"Aku harap kau mengerti akan keputusanku, Allen,"ucap Umi Hani dengan tersenyum lembut. 


"Walaupun kau sekarang bebas. Tapi, tanpa restu … kau tahu kan seberapa menentangnya orang tuamu akan hubungan kita dulu? Aku tidak ingin menjalani pernikahan lagi tanpa restu dan membuatmu kembali berkorban. Aku menolaknya, Allen. Aku menolaknya!"lanjut Umi Hani dengan tergugup. Bahunya bergetar hebat karena menangis.


Allen yang agaknya tadi tengah merenung, refleks langsung mengulurkan tangannya ke arah Umi Hani. Namun, itu terhenti. 


Hati Allen bergemuruh. Antara bingung dan ragu, antara sedih dan juga terharu. Bibirnya terkunci. Hanya ekspresi dan sorot matanya. Matanya memerah. 


"Sepertinya mereka tidak akan bersama meskipun Ayah sudah mengatakan ia ingin rujuk," ucap Evan pelan. Matanya turut memerah. Nizam sendiri menyeka sudut matanya.


"Umi beranggapan jarak di antara mereka tidak bisa dikikis lagi. Mungkin juga, Umi sudah terbiasa dengan hidup sebagai single parent. Jujur saja, selama aku bisa mengingat banyak pria baik pemuda lajang atau duda melamar Umi. Namun, jawaban Umi, seberapa banyak lamaran yang datang padanya, dia menolaknya. Itu karena cinta dan hatinya yang untuk Ayah."


Nizam menanggapinya ucapan Evan. Mereka berdua yang sudah membahas akan hal ini kemarin sore, tidak terlalu merasa sedih. Mereka sudah dewasa dan juga berpendidikan, pasti sudah mengerti akan hubungan orang tua mereka. 


"Hal itu juga sama dengan Ayah. Sejatinya hati mereka tetap bersama, cinta mereka tetap bersatu meskipun raga mereka terpisah. Itulah cinta sejati. Aku iri dengan mereka," sahut Evan. Ya kedua anak yang tidak memaksakan keinginan hati mereka.


"Tidak apa, yang penting kita sudah tahu dan mengenal satu sama lain." Nizam merangkul Evan.


Evan menganggukinya. 


"Apakah itu sudah keputusan bulatmu, Hani?"tanya Allen. Ia tampak tegar walaupun nadanya lirih. 


"Ya ini keputusanku, Allen. Maaf kita tidak bisa kembali bersatu lagi." Allen mengangguk pelan ya menarik senyum.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku menerima dan menghargai keputusanmu, Hani." 


"Kalau begitu kapan kau dan Nizam akan kembali ke Indonesia?"tanya Allen. 


"Aku berencana besok. Aku sudah cukup lama meninggalkan pesantren. Nizam juga harus kembali mengajar."


"Serius?" Evan menatap kembarannya. Ia sedikit memekik. 


"Jika kata Umi begitu, ya begitu," jawab Nizam. 


"Mengapa cepat sekali?"protes Evan. Mereka baru bertemu dan bersama sekitar tiga hari. Lalu besok, Umi Hani dan Nizam akan pulang. Sehari setelah ia menikah terlalu cepat. Evan belum siap kembali berjauhan dengan ibunya. Nizam menepuk pelan punggung Evan. 


"Kami tetap di sini, kau juga akan sibuk karena kembali kerja, bukan? Bukankah cutimu hanya tiga hari?? Mungkin nanti kita bisa atur waktu lagi untuk bertemu. Atau kita bisa saling mengunjungi. Jadi, jangan terlalu sedih. Sekarang sudah ada pesawat terbang yang canggih. Jerman ke Indonesia dalam hitungan jam," tutur Nizam. 


"Boleh aku memeluknya?"tanya Allen. Pancaran matanya menunjukkan harap yang begitu besar. Sungguh sangat ingin ia merengkuh dan memeluk Umi Hani. 


Umi Hani berdiri. Allen juga ikut berdiri. Mereka sama-sama melangkah, langkah yang kecil. Tatapan mereka lekat satu sama lain. Dan pada akhirnya mereka saling memeluk erat. Tangis keduanya kembali pecah. 


"I you, forever, Hani," ucap Allen lembut.


Umi Hani tidak menjawab. Di saat keduanya berpelukan, Evan dan Nizam muncul dan ikut nimbrung. Satu keluarga itu berpelukan satu sama lain. 


*


*


*


Sementara di belahan bumi lain, Bella, Ken, Brian, Silvia, dan Fajar tengah menikmati makan siang mereka.


Fajar sudah keluar dari rumah sakit setelah bernegosiasi dan mendapat izin dari dokternya. 2 tahun Fajar berada di rumah sakit itu. Tentu saja ia merasa bosan. 


Dan kini, mereka berada di kediaman Tuan Williams. Silvia yang sudah diberi tahu oleh Brian, tidak terlalu banyak tanya dan lebih kepada kagum dengan arsitektur rumah. Walaupun tidak megah layaknya sebuah mansion. Namun, bangunan ini sangat elegan dan sangat nyaman. Perpaduan antara arsitektur dan furniture sungguh pas. 


"Nanti malam kita akan berangkat pulang?"tanya Fajar memastikan. Ia tak sabar untuk kembali ke Indonesia.


"Iya, Fajar," jawab Silvia. 


Fajar mengangguk. Mereka memutuskan berangkat malam hari, setelah isya nanti karena mengejarkan meeting besok pagi. 


Besok pagi, Bella, juga Brian ada agenda meeting akhir tahun. Dan Bella yang diberi tanggung oleh Brian untuk memimpin rapat tersebut. 


Sedangkan Ken, besok siangnya akan terbang menuju Papua untuk melakukan tugasnya sebagai kepala proyek. 


"Bagaimana kabar anak cabang perusahaan, Brian?"tanya Bella ingin tahu.


"Aman. Mereka sesuai dengan yang terlihat." 


"Syukurlah."


"Nona, di pukul 14.00 nanti, jangan lupa Anda akan menghadiri persidangan Tuan Nero dan Tuan Aldric," ucap Tuan Adam mengingatkan. 


"Aku ingat, Paman," sahut Bella. Hari ini ada dua hal penting yang dilakukan Bella. 


Tadi pagi, ia menunjuk seseorang untuk menjadi Presdir Nero Group. Yang pasti itu bukan Tuan Adam juga bukan Ken. Jika Ken yang menjadi Presdir Nero Group, bukanlah ia akan berada di dalam kendali Bella? Bukankah ia bertanggung jawab pada Bella? 


Yang Bella tunjuk adalah seorang yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan, bisa dikatakan dia adalah senior di perusahaan. Dengan pertimbangan karakter, lamanya bekerja, hal apa saja yang ia lakukan untuk perusahaan, juga latar belakang keluarga dan kehidupan sosial, Bella menunjuk direktur dari bagian perencanaan. Tadi pagi, dengan Tuan Adam sebagai perwakilan yang membawa surat penunjukan dan pengangkatan, direkrut perencanaan itu dilantik di depan segenap direksi kecuali Bella yang menyaksikannya dari siaran live. Bukan hal berlebihan itu disiarkan secara live di televisi. 


"Aku penasaran hukuman yang akan pengadilan berikan untuknya," ucap Ken, menerawang.


"Hukumannya pasti tak jauh dari penjara seumur hidup atau hukuman mati," sahut Brian.


"Ya, itu adalah salah satu kemungkinannya," imbuh Bella. 


"Hm …." Bella menoleh ke arah ponselnya. Ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Dari sahabatnya, Calia. Segera, Bella mengangkatnya. 


"Ya ... halo, Calia," jawab Bella. 


"Hai, My Abel. Aku tidak mengganggumu, kan?"tanya Calia. 


"Tidak untuk sekarang. Ada apa? Hm kabar apa yang ingin kau katakan? Ah hubunganmu dengan Evan, bukan?"


"Ah … kau menebaknya terlalu cepat, Abel." Calia terdengar merengek. 


"Jadi … apa kelanjutannya?"


"Aku … aku akan menikah."


"Baguslah. Itu yang terbaik untukmu. Evan is your destiny."


"Sore ini." Calia mengatakannya dengan bersemangat. 


"Sesuai dengan konsep nikah kilat yang dirancang oleh orang tuamu. Congrats, Calia."


"Tapi, maaf aku tidak bisa menghadirinya." 


"I know dan I understand. Bantuan dan doamu adalah yang terpenting, Abel."