
Dua hari yang lalu Dylan tiba-tiba pingsan dan mengalami demam tinggi. Keesokan harinya Dylan sadar yang pertama kali ditanyakan adalah tentang keluarganya. Perawat dan direktur rumah sakit merasa itu hal wajar. Namun, karena tak mendapat jawaban memuaskan, Dylan mengamuk dan merusak fasilitas rumah sakit. Ia berteriak bagai orang marah juga ketakutan.
Hal itu berakhir setelah Dylan menerima suntikan penenang. Akan tetapi, saat kembali terbangun keesokan paginya, Dylan hanya tenang sebentar kemudian kembali mengamuk, baru tenang tanpa obat penenang karena kehadiran Bella.
Dylan yang sudah tenang dalam pelukan Bella langsung diajak ke rumah sakit guna memeriksa kondisi Dylan. Apa gerangan yang menyebabkannya hilang ingatan? Ingatan Dylan hanya sampai saat sebelum peristiwa maut menimpa keluarganya. Artinya itu saat umurnya 13 tahun.
Bella sempat marah pada Pak Andre yang dikira lalai dalam menjaga Dylan dan menyembunyikan hal penting darinya. Tentu saja Pak Andre membantah hal itu. Dylan tak pernah mengalami benturan apapun, terutama pada bagian kepala. Bak kata Dylan adalah pasien VIP yang mendapat pelayanan lebih. Wajar sudah hampir 9 tahun ia berteduh di rumah sakit jiwa Bahagia itu.
Dan mengenai demam tinggi kemarin, Pak Andre takut mengganggu Bella yang ia ketahui tengah super sibuk. Belum lagi setelah ia tahu bahwa Bella menjadi wakil Presdir, hatinya sedikit mencelos dan ragu.
"Dylan ini adik saya! Sepenting apapun pekerjaan saya di luar sana, Dylan lebih penting! Jika hari ini saya tidak kemari, apa yang akan kalian lakukan padanya? Mengurungnya? Mencekokinya dengan obat penenang? Atau membiarkannya? Jadi saya tegaskan pada Anda, apapun yang terjadi pada Dylan, perkembangan atau penurunan sekecil apapun, Anda harus memberitahu saya!"
Pak Andre hanya bisa meminta maaf dan meyakinkan pada Bella bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi.
Di rumah sakit, Dylan menjalani serangkaian pemeriksaan setelah diyakinkan oleh Bella. Sementara itu Bella menunggu dengan kepala yang serasa hampir pecah. Ia sungguh bingung mau menjawab apa pada Dylan saat anak itu membanjirnya dengan pertanyaan di mana keluarganya?
Mengapa hanya kakak sendiri datang?
Dan mengapa kakak sudah sangat dewasa dan besar padahal baru beberapa hari tidak bertemu.
Mengapa aku ada di rumah sakit jiwa?
Aku tidak gila, Kak.
Aku ingat saat itu aku tengah tidur siang di gazebo, bangun-bangun sudah di sana dan saat aku bertanya di mana aku, mereka malah menyuruhku untuk minum obat dan istirahat.
Dan tubuhku? Mengapa berbeda? Apa bisa seeorang dewasa dalam waktu satu malam?
Kakak apa yang sebenarnya terjadi?
Bella memang sangat dekat pada Dylan jadi tak heran jika Dylan begitu nyaman dan lengket pada Bella.
Kita periksa dulu kondisimu, baru kakak beritahu Mama, Papa, Kak Deo, sama Nesya. Dylan harus sembuh dulu baru kakak beritahu semuanya.
Bella hanya bisa menjawab hal itu. Ia sendiri masih merangkai alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Dylan. Tidak mungkin bukan ia langsung menjawab bahwa Dylan mengalami penyakit jiwa hingga berada di ruang sakit jiwa.
Oh aku tahu, mereka pasti tengah membuat surprise untukku.
Bella hanya bisa mengangguki keyakinan Dylan itu. Memang benar, esok adalah hari ulang tahun Dylan.
Bella tersadar dari lamunannya saat Pak Andre mengatakan pemeriksaan sudah selesai. Mereka diminta ke ruangan dokter untuk mendengarkan hasilnya. Sebelum masuk Bella memeriksa ponselnya lebih dulu. Banyak panggilan tak terjawab, puluhan pesan dari Ken juga dari Surya memenuhi berada notifikasi Bella. Bella berani keluar selama ini karena ia tidak ada jadwal penting, Bella menganggap hal itu bisa diatasi oleh Ken. Biarpun masih termasuk pemula, Ken adalah anak yang memiliki kecerdasan yang cukup tinggi.
Aku ada urusan penting, kemungkinan sore baru kembali. Tolong handle jadwalku setelah makan siang.
Pa … aku ada hal penting di rumah sakit jiwa Bahagia. Aku harap Papa dapat memakluminya.
Setelah mengirim pesan itu, Bella menyimpan kembali ponselnya. Model silent tetap ia aktifkan. Ia lantas masuk ke ruangan dokter untuk mendengarkan penjelasan dokter tentang apa yang terjadi pada Dylan.
"Kak Abel aku takut." Begitu Bella duduk, Dylan langsung menggenggam jemari Bella, ah sebelum Bella duduk Dylan sudah memegangi lengan Bella. Bella tersenyum lembut, "tenanglah."
"Jadi bagaimana, Dok?"tanya Pak Andre tak sabar. Bella kembali menatap dokter sementara Dylan tetap menatap Bella dari sampingnya. Pria muda itu tampak kagum dengan Bella, tanpa sadar ia melengkungkan senyum lebar.
"Begini Bapak, Nona, Dylan, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Dylan sama sekali tidak mengalami cidera serius pada kepalanya yang dapat menyebabkan amnesia."
"Jadi maksud Dokter bukan cidera penyebabnya?" Dokter tersebut mengangguk menanggapi pertanyaan Bella.
"Jika bukan karena cidera artinya Dylan mengalami amnesia karena trauma psikologis?"terka Bella, memastikan dugaannya. Bukan tanpa alasan Bella menerka hal itu, dulu ia punya seorang teman yang tanpa cidera fisik apapun tiba-tiba amnesia.
"Bisa dikatakan begitu, Nona. Namun, untuk lebih pastinya saya sarankan agar Dylan diperiksa oleh psikolog," jawab Dokter tersenyum.
"Baik."
*
*
*
"Halo anak tampan siapa nama kamu?" Wanita berusia sekitar 35 tahunan dengan pakaian khas dokter bertanya lembut pada Dylan.
"Dylan. Dylan Buana," jawab Dylan lengkap dengan senyumnya yang begitu manis. Sebelum menjalani tes, Bella telah memberitahu Dylan untuk menjawab pertanyaan dokter dengan tenang. Jangan takut.
"Kalau begitu berapa umur kamu, Dylan?"
"Besok 13 tahun."
Pembawaan dokter yang lembut membuat Dylan merasa rileks menjawab pertanyaan dokter.
"Hm jadi kamu berumur 12 tahun, 11 bukan, 29 hari, benar bukan?"
"Hehe iya, Dok."
"Baiklah. Kalau begitu dokter ingin mengucapkan selamat ulang tahun lebih dulu pada Dylan. Semoga Dylan sukses selalu, harap dan cita tercapai, dan hidup bahagia."
Dylan mengerjap pelan. Tak lama ia tersenyum manis, "terima kasih, Dok. Dokter adalah orang pertama yang memberikan ucapan ulang tahun sebelum hari lahir saya tiba."
"Aku sangat tersanjung, anak manis. Kamu anak yang cerdas." Dokter terenyuh dan memuji Dylan.
"Kita lanjut ya Dylan." Dylan mengangguk setuju.
"Terakhir yang Dylan ingat atau lakukan hal apa?"tanya dokter.
"Tidur siang di gazebo rumah. Tahu-tahu saat bangun malah di rumah sakit jiwa." Dylan agak bergidik saat menyebutkan kata jiwa.
"Gazebo? Wah keluargamu pasti cukup berada ya."
"Papaku Presdir Buana Corp, Dok."
"Buana Corp?"
"Ehem."
"Oh Kak Abel. Kak Abel itu anak sahabat Papa. Sudah seperti kakak kandung Dylan sendiri. Ah tidak kak Abel akan jadi kakak ipar Dylan karena akan menikah dengan kak Deo!"papar Dylan dengan wajah berseri.
"Kak Deo? Kakak kandung Dylan?" Dylan mengangguk membenarkan.
"Baiklah. Dokter mengerti. Kamu boleh bergabung dengan kakak dan bapak itu," ujar dokter. Dylan mengangguk kecil.
"Apa benar Dylan mengalami amnesia disosiatif, Dok?"tanya Bella serius. Dokter itu menghela nafas pelan kemudian tersenyum.
"Benar. Saya pernah mendengar tentang hal itu. Demam panas yang dialami Dylan beberapa waktu lalu adalah puncak dari trauma psikologis yang dialami olehnya," jawab dokter.
"Apa bisa disembuhkan, Dok?"tanya Bella serius.
"Jenis amnesia yang satu ini berbeda dari kasus lupa yang biasanya terjadi. Amnesia disosiatif tidak sama dengan jenis amnesia pada umumnya, yang melibatkan hilangnya informasi dari ingatan, akibat dari penyakit atau cedera pada otak. Pada amnesia disosiatif, ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat. Meski begitu, ingatan tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar," ungkap dokter. Bella yang sempat mencari detail tentang amnesia ini di internet, mengangguk paham.
Hilang ingatan bukan hanya disebabkan oleh benturan keras pada kepala. Trauma Psikologis juga bisa menyebabkan amnesia bahkan bisa menimbulkan adanya kepribadian ganda.
Hilang ingatan karena trauma psikologis dikenal dengan amnesia disosiatif. Hal inilah yang terjadi pada Dylan.
"Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan amnesia akibat cedera, hanya saja amnesia psikologis karena pasien enggan untuk mengingatnya lagi. Tersimpan dalam, ingin dikubur sedalam mungkin dan memulai hidup baru tanpa bayang ketakutan lagi," lanjut dokter.
"Ada beberapa cara yang dapat dicoba untuk menyembuhkan pasien, antara lain Psikoterapi, Terapi Kognitif, Terapi Keluarga, dan Terapi Kreatif. Jika Anda dan pasien sudah siap, bisa menghubungi saya untuk membahas tentang penyembuhan."
"Ya saya mengerti," jawab Bella singkat.
*
*
*
"Kakak aku nggak mau balik ke sana lagi," ucap Dylan sebelum naik ke motor Bella.
"Kenapa?"
"Nggak mau takut!"
"Nggak bisa gitu, Lan. Kakak harus konfirmasi dulu sama pihak rumah sakit baru bisa memutuskan kamu bisa keluar atau belum. Kamu sabar sebentar lagi ya."
"Mau ikut sama Kakak. Nggak mau ke sana lagi!"rajuk Dylan.
"Baiklah. Tapi kita ke rumah sakit dulu ya," bujuk Bella. Dylan merenung sejenak kemudian mengangguk.
Apa keluarga Mahendra bisa menerima Dylan?batin Bella, berkecamuk bingung jika seandainya Dylan sudah bisa keluar dari rumah sakit jiwa.
*
*
*
"Dylan kamu tunggu sebentar di sini, ya. Kakak mau bicara dulu sama Pak Andre."
"Jangan lama-lama ya, Kak!"
"Okay."
Bella masuk ke ruangan Pak Andre. Mereka berbicara cukup serius dan setelah beberapa perimbangan dan hasil pemeriksaan, Pak Andre membolehkan Dylan untuk keluar dari rumah sakit jiwa, sudah dinyatakan sembuh.
"Terima kasih banyak atas semua yang Anda lakukan untuk Dylan, Pak Andre!"
"Sudah selayaknya, Nona Bella. Saya berharap Dylan tidak kambuh lagi," harap Pak Andre.
"Saya rasa begini lebih baik," sahut Bella.
"Hari ini Dylan keluar dari sini, ada baiknya berpamitan dengan para perawat," ujar Pak Andre.
"Silahkan, Pak. Anda yang urus saya ada sesuatu yang harus ditangani lebih dulu."
"Baiklah."
Pak Andre keluar sedangkan Bella meraih ponselnya, Bella melangkah ke dekat jendela, melihat taman di balik jendela itu.
"Assalamualaikum, Pa," sapa Bella begitu panggilannya dijawab.
"Waalaikumsalam, Abel. Ada apa? Urusan dengan anak Buana itu sudah selesai?"jawab Surya di sana.
"Sudah, Pa. Bahkan hari ini sudah bisa bebas. Hanya saja …."
"Hanya saja?"
"Dylan mengalami hilang ingatan akibat trauma psikologis. Kini ia adalah anak berusia 13 tahun dalam tubuh pria 22 tahun."
"Bukankah itu lebih baik?"ucap Surya.
"Ya aku pun begitu. Hanya saja aku bingung mau ku titipkan di mana Dylan. Ia pasti tidak mau dengan orang asing. Pa … apa boleh aku membawa Dylan tinggal di rumah Papa?"
"Anak itu kini tanggung jawabmu?"
"Benar. Dia sebatang kara, aku juga tidak mungkin mengirimnya ke panti asuhan. Bagaimana, Pa?"
Terdengar helaan nafas pelan di sana.
"Baiklah. Tidak masalah. Keluargamu juga keluarga Mahendra."
"Terima kasih, Pa." Bella tersenyum lega.