This Is Our Love

This Is Our Love
Penawaran dan Tantangan



"Andry, ada yang mencarimu," ucap salah satu rekan Andry. Pria itu baru saja mendaratkan tubuhnya di ranjang sembari melepas kaos hitamnya, setelah latihan pagi. Tubuhnya yang atletis dan tegap terlihat, begitu menggoda. 


"Siapa?"tanya Andry. 


Rekannya itu mengarahkan Andry untuk melihatnya sendiri. Andry menghembuskan nafas pelan. "Okay." Bangkit dan membuka lemari, mengambil kaos berwarna hitam pula. 


Setelah memakainya, Andry keluar dari kamarnya. "Oh, Anda. Ada apa?"tanya Andry, mendapati bahwa yang mencarinya adalah pelayan pribadi Ariel. 


Pelayan pribadi Ariel itu melihat kanan kiri, kemudian menyuruh Andry untuk mendekat padanya. Postur tubuh Andry tinggi, sekitar 175 cm. 


Andry yang paham langsung mengikuti instruksi tersebut. Pelayan itu kemudian membisikkan sesuatu pada Andry. 


"Hm?" Andry menautkan kedua alisnya. Pelayan tersebut mengangguk kemudian melangkah pergi.


"Wah Andry, kau bermain dengan pelayan Nyonya Ariel?"ledek rekan sekamarnya. 


Andry tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyumnya. Dan kembali masuk ke dalam kamar. 


*


*


*


Tawar-menawar dalam bisnis adalah hal yang wajar. Hal itu dilakukan untuk mencapai kesepakatan di antara kedua belah pihak. 


Desya mempercayakan urusan tawar menawar untuk pembelian perkebunan tembakau di Indonesia itu pada Bella. 


Siang harinya, setelah dijadwalkan kemarin, Bella dan Tuan Muji, pemilik perkebunan tembakau yang akan Desya beli itu melakukan pembicaraan via google meet. 


Bella melakukan itu di ruangan Desya. Ya tentu saja agar bisa diawasi oleh pria itu. 


"Good evening, Pak Muji," sapa Bella setelah video terhubung. 


"Siang, Cah Ayu." 


Errr …. Dari pandangan pertama Bella, pria paruh bayah dengan jenggot halus menghiasi wajahnya itu, menatapnya dengan sedikit mesum. Padahal pakaiannya begitu tertutup. Dan yah, itu memang tidak mampu menyembunyikan kecantikan Bella. 


"Opo kabare, Pak?"tanya Bella. 


Desya mengeryit, bahasa apa yang Bella gunakan? Dan Pria yang dipanggil Pak Muji itu tampak terkesiap. 


"Riko iso ngomong Jowo, Cah Ayu?"tanyanya dengan takjub. 


"Iso. Titik-titik, Pak," jawab Bella dengan tersenyum. 


"Wow. Wong ngendi riko, Cah Ayu?"tanya Pak Muji, antusias dengan Bella.


Bella tertawa renyah. "Ulo wong Indonesia. Tapi, saiki merantau nang ke Rusia. Salam kenal, Pak."


"Oo … ngono toh. Hebat Desya nemu Cah Ayu koyok riko," puji Pak Muji. 


Menemukan? Aku diculik kali. 


"Jadi, bisa kita mulai bicara soal perkebunan, Pak?"tanya Bella, mulai membahas tujuan dari meeting ini setelah basa basi tadi. 


"Jangan buru-buru, toh. Ngomong-ngomong disek lah."


"Hahaha. Iyo, Pak. Ngomong-ngomong, Bapak tinggal nandi?"


"Aku wong Temanggung."


Temanggung. Jawa Tengah. Terkenal dengan perkebunan tembakaunya. Daerah itu merupakan penghasil tembakau terbesar dan terbaik di Indonesia.


"Eneng kendala opo, Pak? Kok dijual perkebunannya?"tanya Bella penasaran.


"Mau ganti usaha. Bapak mau buka peternakan saja. Kebun tembakau angel-angel gitu. Gampang kena hama. Bapak sudah rugi, sudah ampun. Makanya mau Bapak jual saja." Bella melirik Desya. Agaknya Desya sudah tahu alasan Pak Muji menjual kebun tembakaunya yang begitu luas itu. 


Bella kemudian manggut-manggut. "Kok ndak ditawarkan nang Indonesia saja, Pak?" Tentu harus mencari tahu. 


"Saya juga memilih, Cah Ayu. Harga nang kene, kalau kita yang jual mau minta murah gitu. Ya biasalah." 


Ah begitu ya. 


"Jadi, saya dengar dari Desya, harga yang Tuan tawarkan adalah 2 juta dollar?" 


"Benar."


Bella kembali manggut-manggut. "Tapi, harga itu bukankah terlalu …."


"Aku tahu maksudnya rapat ini. Katakan berapa harga yang kau tawarkan, Cah Ayu?"


"Bagaimana dengan 1,2 juta dollar?"tawar Bella. 


"Katakan alasannya." 


"Dari data yang saya lihat, perkebunan Anda berada cukup jauh dari pemukiman. Selain itu, jalan masuknya juga tidak begitu baik. Ada jurang di beberapa titik dan itu tidak akan bisa ditanami, bukan?"ucap Bella. Tadi pagi, Bella kembali mempelajari data tentang perkebunan tembakau itu untuk menemukan kekurangannya yang bisa dijadikan bahan untuk penurunan harga.


Pak Muji tertawa. "Ya, meskipun begitu, memawar hampir separuh harga juga tidak pantas, Cah Ayu. Bapak akui bahwa perkebunan itu memang ada kekurangan. Tapi, masa' sebanyak itu kurangnya."


Hehehe. Bella terkekeh. "Bapak lupa kowe wong kita."


"Maklum, Pak."


"1,5 juta dollar bagaimana?"tawar Bella lagi. 


"Tambahlah," ujar Pak Muji. 


"1,7?"tawar Bella lagi. "Itu penawaran terakhir. Jika Anda setuju akan langsung diproses hari ini. Jika Anda tidak setuju, maaf … saya tidak bisa menaikkan harganya lagi," imbuh Bella. Memainkan kartu bak ibu-ibu yang menawar di pasar. 


"Tambah sedikit lagi, lah," pinta Pak Muji dengan wajah memelas.


Bella melirik Desya. Pria itu tampak tenang. "1,72 juta dollar. Terakhir!"ucap Bella dengan penekanan. 


"Ah … baiklah. Aku terima harganya!"jawab Pak Muji. Ya lumayan tambahan 30 ribu dollar. 


"I,75 dollar. Itu harga yang akan saya bayar." Ucapan Desya itu membuat Bella tercengang. Sementara Pak Muji tersenyum lebar. 


"Hahaha! Terima kasih. Terima kasih. Saya sangat senang dan menerimanya," balas Pak Muji. Kini ia tertawa lebar. 


"Desya?" Bella melayangkan tatapan protes. Desya menyentuh bibirnya, menyuruh Bella diam dan tidak protes.


"Jual beli akan diurus oleh asisten saya. Uangnya akan saya transfer tiga jam dari sekarang," lanjut Desya. 


"Baik-baik. Saya percaya dengan Anda."


"Senang berbisnis dengan Anda," balas Desya sebelum mengakhiri rapat. 


"Apa yang kau lakukan, Desya? Aku sudah menawarnya tadi! Kau membuang 30 ribu dollar!"protes Bella setelah rapat via video itu selesai. 


"Seberapa besar 30 ribu dollar itu?"tanya Desya. Jika dirupiahkan dengan nilai tukar rupiah saat ini, jumlahnya mencapai 420 juta rupiah. Maka, perkebunan itu harganya mencapai puluhan milyar, atau lebih dari 24 milyar. 


"Kau! Sialan! Kau tidak menghargai usahaku!"murka Bella. 30 ribu dollar sebanyak apa? Itu sekitar gajinya satu tahun selama di Jerman. Dan dengan gampangnya …. Ah … astaga! Benar! Desya itu sangat kaya raya. Uang segitu, hal kecil baginya. Tapi, tetap saja Bella tidak menerimanya. 


"Hei, aku bukannya tidak menghargai usahamu. Aku hanya senang, jadi aku memberinya tambahan. Selain itu, aku harus baik bukan pada orang yang satu tanah air denganmu?"jelas Desya, mengutarakan alasannya. 


Ah … Bella tidak mengerti pola pikir Desya. "Lupakan saja. Tugasku sudah selesai!" 


Setidaknya Bella membuat Desya berhemat 250 ribu dollar. "Aku pergi," ucap Bella dan tanpa menunggu jawaban dari Desya langsung meninggalkan tempat.


Ah … ternyata dia tipe yang hemat dan perhitungan, gumam Desya dalam hati. 


"Irene."


"Jika Bella yang mengelola keuangan, bagaimana menurutmu?"


Irene sedikit tercengang. "Menurut saya itu keputusan yang kurang tepat, Tuan. Takutnya jika Nona Bella terlalu banyak memegang hal sentral, istana ini akan menjadi musuhnya," jawab Irene. 


"Begitu, ya?" Irene mengangguk singkat. 


"Tapi, siapa yang berani memusuhinya selama ia dalam perlindunganku?"tanya Desya dengan mata berkilat tajam. 


*


*


*


Slappps


Tap!


Bella terkejut bukan main saat ada anak panah yang hampir mengenai dirinya. Panah itu menancap pada pintu kamarnya. Bersyukur, Bella cepat menghindar, atau panah itu pasti sudah menusuk anggota tubuhnya. 


Bella mengedarkan pandangnya. Mencari siapa yang menembakkan anak panah ini. Tidak ada orang, ataupun yang mencurigakan. Namun, Bella yakin, siapapun itu pastinya adalah orang dalam. Karena anak panahnya sama dengan anak panah yang ia gunakan kemarin.  


"Apa itu?" Bella mencabut anak panah tersebut. Pada pangkalnya terdapat sebuah surat. 


Seperti zaman dulu saja, batin Bella, masuk dengan membawa kertas tersebut dan mematahkan anak panahnya. 


Aku tunggu kau di lapangan panah besok pagi!


Itu adalah surat tantangan. Ada yang menantangnya. Tapi, siapa?


Ini tantangan terbuka dan cara menyampaikannya juga ekstrim. Bella menggerakkan matanya, memikirkan siapa pelakunya. 


Andry? Apa pria itu?


Tapi, apa motifnya? Jika pria itu, bukankah tinggal mencarinya tanpa perlu seperti ini? 


Ah … kita lihat saja besok, batin Bella, membentuk kertas itu menjadi bulatan dan melemparnya ke sembarang tempat. Bella kemudian menuju kamar mandi. Sudah masuk waktunya ashar. 


*


*


*


Lucia tak hentinya tersenyum setelah menyelesaikan perintah Desya kemarin. Teh dan selai anggur, Desya menyukainya. 


Dan Desya juga setuju bahwa Lesta ikut dengannya ke Italia. Apalagi yang kurang? Toh, di sini pun sama saja. 


"Lucia, mengapa kau tersenyum sejak tadi? Hal apa yang membuatmu bahagia?"tanya Evalia saat keduanya tengah menikmati waktu sore di taman. 


"Ah, tidak ada," jawab Lucia. 


"Ayolah. Apa yang membuatmu bahagia? Apa karena tadi malam kau dan Tuan tidur bersama?"tanya Evalia, mendesak dengan mata penasaran. 


Lucia tersenyum canggung. "Ah jangan malu." Sayangnya itu dianggap senyum malu-malu oleh Evalia. 


"Aku juga sudah tidur dengan Tuan. Tuan sangat lembut dan perkasa, bukan?" Evalia senyum-senyum sendiri. Ia kemudian menepuk wajahnya..


"Ah … benar." Meski itu sudah lama, Lucia masih mengingat jelas malam pertamanya dengan Desya. Namun, kemarin mereka memang tidur bersama. Tidur dalam artian sebenarnya, bukan kiasan. 


"Meskipun harapan menghabiskan malam dengan Tuan lagi kecil. Tapi, aku berharap malam kemarin menghadirkan sosok kecil di dalam rahimku. Aku ingin seperti kau dan Ariel, menjadi seorang Ibu," ujar Evalia, menyampaikan harapannya. Rupanya ia mengharapkan seorang anak.


"Apa kau tidak takut memiliki anak, Evalia?"tanya Lucia. Ia saja takut mengingat persaingan untuk menjadi siapa nanti yang menggantikan Desya. Namun, anaknya sudah tumbuh besar. 


"Sedikit. Aku takut nantinya akan terkena imbas perebutan kekuasaan. Namun, aku akan berusaha melindunginya. Dengan segenap kemampuanku!"jawab Evalia. Terdengar bersungguh-sungguh. 


Lucia menarik senyum tipis. "Jika itu keinginanmu, aku berharap yang terbaik untukmu."


"Namun, agaknya jika kau hamil aku tidak akan bisa menemanimu," lanjut Lucia. 


"Mengapa? Kau akan kemana, Lucia?" Rupanya Evalia belum mendengarnya. Lucia kira sudah menyebar ke seluruh istana. 


Lucia mendongak sejenak. Menatap matahari sore dengan mata yang menyipit. "Tiga tahun lalu aku memasuki istana ini sebagai istri dari Tuan."


"Kau dicerai?" Belum selesai Lucia berbicara, Evalia menyela.


"Mungkin secara tidak langsung iya."


"Hah? Bagaimana? Kau melakukan kesalahan apa? Apa kau melakukan kesalahan saat bersama Tuan?" Evalia heboh. Ia kaget, juga khawatir. 


"Hei-hei! Tenang dulu. Aku belum mengatakan semuanya!"balas Lucia, mendengus sebal.


"Jadi, apa yang terjadi?!" 


"Aku akan ke Italia. Tuan membeli perkebunan anggur di sana dan menunjukku sebagai penanggung jawab. Jadi, dua Minggu lagi, aku dan Lesta akan keluar dari istana ini," jelas Lucia. Singkat dan padat. 


"Wow. Itu mengagumkan!"ucap Evalia. Matanya yang bulat memancarkan rasa takjub. 


Lucia tersenyum. "Ya. Aku juga tidak menyangka Tuan menunjukku."


"Aku iri padamu," celetuk Evalia.


"Kau akan keluar dari istana ini. Sementara aku, CK! Berhadapan dengan nenek tua itu, aku sudah muak!" Evalia bersungut-sungut. 


"Ariel?"


"Siapa lagi?"


"Mentang-mentang istri pertama Tuan, dia sok berkuasa. Lucia, bisakah kau katakan pada Tuan aku ingin ikut?"tanya Evalia dengan mata penuh harap. 


"Ah?" Tidak menduga pertanyaan itu. "Kau akan meninggalkanku sendirian?" Mimiknya menjadi sedih. Lucia merasa tidak enak.


"Aku bisa mengatakannya. Tapi, aku tidak yakin dengan hasilnya," jawab Lucia. 


"Ah. Benar juga." Bagai kerupuk terkena cairan, semangat Evalia menurun. 


Desya hanya memerintahkan satu orang. Jika Evalia statusnya bukan istri Desya, mungkin bisa.


"Tapi, jika kau punya keahlian menonjol dan meminta Tuan membantumu mengembangkannya, mungkin kau bisa memiliki aktivitas lain di luar istana," ujar Lucia. Ia dipilih karena kepandaiannya. Maka, hal itu juga bisa berlaku untuk Evalia. 


"Sungguh?" 


"Iya. Aku yakin hari itu akan tiba."


"Aku punya bakat menyulam dan merajut. Aku juga bisa sedikit fashion. Bagaimana jika butik?" Evalia dalam waktu singkat sudah menemukannya. 


"Saranku, dekatlah dengan Nona Bella. Berteman dengannya akan membawa hal bagus bagimu."


"Sungguh?"


"Jangan terlalu ditunjukkan. Cobalah bersikap wajar namun tidak memusuhinya," saran Lucia yang telah berbicara empat mata dengan Bella. 


"Akan aku coba. Terima kasih atas sarannya. Dan sukses untukmu, Lucia."


"Terima kasih."


"Ah … aku pasti akan sangat merindukanmu dan Lesta."


"Aku juga."