This Is Our Love

This Is Our Love
Memberi Aba-Aba



Pukul 16.00 kurang, keluarga Mahendra, Ken, dan Bella meninggalkan Nusa Dua Beach. Mereka menikmati senja di perjalanan. Tujuan mereka selanjutnya adalah Devdan Show, sebuah teater tradisional dengan konsep modern dan berkelas internasional.


Devdan Show Nusa Dua Bali menawarkan pertunjukan seni yang memadukan budaya Bali dengan budaya daerah lainnya di Indonesia. Devdan Show menggabungkan tari tradisional dan kontemporer, ditambah dengan atraksi akrobatik, membuat tempat ini sangat berkesan lagi memukau. 


Mereka tidak langsung menuju ke Devdan Show melainkan mampir di sebuah restoran guna mengisi lambung yang mulai meronta lapar.


Sekaligus memberi waktu untuk Ken dan Bella menjalankan kewajiban shalat maghrib di mushola restoran. 


Selesai makan malam dan shalat, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 19.30, pertunjukan dimulai. 


*


*


*


Mereka kembali ke resort sekitar pukul 10.00. Karena tubuh yang lelah, mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Ken dan Bella walau harus terpisah kamar. 


Di dalam kamarnya, Bella belum tidur. Ia kesulitan untuk memejamkan matanya walau malam semakin larut. Tidur tanpa Ken di sisinya, yang biasa ia peluk atau memeluknya, rasanya ada yang kurang. Bella berbaring menyamping, meraba sisi kosong di depannya. 


"Apa Ken juga sama?"gumam Bella.


Pikirannya langsung tertuju pada sang suami. Senyum tipis Bella sunggingkan membayangkan Ken yang uring-uringan. Ya jelas, inti dari bulan madu belum bisa terlaksana. 


"Atau?" Alis Bella terangkat, bola matanya bergerak meminang. Sejurus kemudian, Bella bangun dan turun dari ranjang. 


Tok


Tok 


Baru saja ia melangkah, ada yang mengetuk pintu kamarnya. "Siapa?"tanya Bella dengan nada datar, sikapnya langsung waspada.


"Aku," sahut seseorang yang mengetuk pintu itu.


"Kak Louis?" 


"Keluarlah sebentar," pinta Louis. 


Tanpa menjawab, Bella langsung membuka pintu, menyembulkan kepalanya keluar lebih dulu. Terlihat Louis yang mengenakan celana panjang berwarna putih dengan kaos yang dibalut dengan jaket, hanya menggunakan sendal yang disediakan pihak resort. Pria itu langsung tersenyum manis pada Bella. "Ada apa, Kak?"


"Apa aku mengganggumu?"tanya balik Louis. 


"Hm tidak." Bella tidak bisa tidur, jadi Louis tak termasuk mengganggu waktunya. 


"Kalau begitu temani aku ngobrol. Aku tak bisa tidur," ujar Louis. 


Bella menimang sesaat tak lama mengangguk, "aku ambil jaket sebentar." Tak berapa lama, Bella keluar dengan mengenakan jaketnya. Jelas Louis kesulitan untuk tidur. Secara jika di negaranya ini masih sekitar pukul 17.00. 


"Mau ke mana? Pacaran?" Bella dan Louis menoleh ke sumber suara ketus itu. Ken menghampiri mereka berdua dengan wajah dingin. 


"Bukan urusanmu!"sahut acuh Louis. Ia menjawab karena mengerti apa yang Ken ucapkan.


"Jelas urusanku!"ucap Ken penuh tekanan. Ia melirik ketus Bella yang menatapnya rumit.


"Apa urusannya? Kau itu hanya s-e-k-r-e-t-i-s nya!" Louis meraih dan merangkul Bella.


"Sedangkan aku, aku ini kekasihnya!" Mata Ken langsung menatap tajam Louis. Kedua pria berbeda usia itu bersitegang. Bella meringis Bella berada di situasi ini. Tidak ada penyelamat, hanya bisa berusaha sendiri.


"Ken kembalilah ke kamarmu. Kami hanya akan mengobrol," titah Bella pada akhirnya dengan bahasa Indonesia.  Ken langsung menatap protes istrinya. 


"Tidak bisa! Kembalilah ke masuk ke dalam, tidak boleh berbicara malam-malam begini dengannya!"jawab Ken dengan bahasa yang sama pula. Louis menautkan kedua alisnya. Curiga, cemas, dan penasaran bersatu dalam hati Louis. 


"Ayolah. Dia ini bukan pria breng*sek! Aku juga ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padanya. Tolong, mengertilah." Sebuah pinta dengan nada datar dengan wajah yang datar pula. 


"No!"


Ck!


Louis berdecak. Ia hanya ingin mengobrol dengan Bella mengapa sekretaris Bella itu begitu tidak setuju. Over protektif sekali padahal ini kan sudah di luar jam kerja! 


"Sudahlah. Tak usah pedulikan dia!" Setelah berkata begitu, Louis menarik Bella pergi. 


"HEI!"seru Ken. Pria itu langsung mengejar langkah keduanya.


"Stop! Aku tidak mengizinkan kalian pergi!"seru Ken lagi. Langkah Louis terhenti begitu juga dengan Bella. Louis menoleh ke belakang. 


"Abel tidak butuh izinmu! Jika kau takut ikuti saja kami!"sahut Louis, kembali melihat ke depan dan melangkah.


"Sekretarismu itu sungguh menyebalkan!!"sungut Louis yang disambut dengan kekehan Bella.


"Memang."


Niatnya ingin tidur di kamar Bella malah harus memakan hati mengikuti sejoli masa lalu itu! Ingin rasanya memakai cara kasar, menarik Bella dalam pelukannya, memberi Louis sebuah pukulan keras sekaligus membeberkan bahwa ia bukan sekadar sekretaris tapi suami Bella! Namun, semua ia tahan dalam hati. Walau berat ia berusaha untuk tetap mengikuti pengaturan Bella. 


Kini mereka tiba di pendopo yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Angin pantai berhembus, membuat gorden pendopo menari di tempat. Nyiur ikut melambai, bulan di langit terpantul sempurna di air biru. Bella duduk di antara Louis dan Ken. Belum ada pembicaraan, semua masih dalam pikir masing-masing. 


"Wechseln Sie besser die Sekretärinnen, Bel. Er wirkt unzuverlässig und seine Einstellung kann Ihre Arbeit beeinträchtigen," ucap Louis. 


(Sebaiknya kau ganti sekretaris saja, Bel. Dia terlihat tidak bisa diandalkan dan sikapnya itu dapat mengganggu pekerjaanmu.)


Bella menarik senyum tipis. Ken hanya melirik.


"Ich mag meine Sekretärin, Schwester. Noch ein Anfänger, leicht zu führen und zu lenken. In Bezug auf seine Einstellung… das war er. Welche Macht habe ich schließlich, um es durch etwas anderes zu ersetzen? Er ist der Sohn meines Chefs," jawab Bella.


(Aku suka sekretarisku ini, Kak. Masih pemula, mudah dibimbing dan diarahkan. Mengenai sikapnya … dia memang begitu. Lagipula apa kuasaku untuk menggantinya dengan yang lain? Dia itu anak atasanku.)


"Dieser Junge ist also der Junge Meister der Mahendra-Familie? Nicht falsch?"tanya Louis tidak percaya. Ia menelisik Ken yang kini juga melihat ke arahnya.


(Jadi Bocah ini Tuan Muda keluarga Mahendra? Tidak salah?)


"Hem. So ist es," sahut Bella.


(Hem. Begitulah)


"Trotzdem kann ihre Haltung nicht so sein," kritik Louis. Bella kembali tersenyum simpul. 


(Walaupun begitu, sikapnya tidak bisa seperti ini)


Andai saja kau tahu alasannya pasti tidak akan mengatakan hal itu.


Sekretaris hanya sebatas urusan kerja. Urusan pribadi atasannya, sekretaris mana ada kuasa untuk mengatur. Itulah batin Louis. 


"Sein Blick bedeutet, dass er dich mag. Sie mögen es nicht, oder? Du meinst im Zusammenhang mit Gefühlen des anderen Geschlechts," papar Louis, ada nada takut di sana. Bella mengedikkan bahunya. Raut wajah Louis berubah sendu.


(Tatapannya mengartikan bahwa ia menyukaimu. Kau tidak menyukainya, kan? Maksudmu dalam konteks perasaan lawan jenis.)


"Ich kann niemanden bitten oder verbieten, mich zu mögen. Darauf kannst du mich auch nicht einstellen. Bruder, das Leben geht weiter," jawab Bella. 


(Aku tak bisa meminta atau melarang seseorang untuk menyukaiku. Kau juga tidak bisa mengaturku untuk hal itu. Kakak, life goes on.)


"Aus deiner Antwort… magst du diesen Jungen auch, nicht wahr? Abel… liebst du mich nicht mehr?"tanya Louis gusar. Hatinya tidak nyaman. Sorot matanya mengharapkan bahwa jawaban Bella adalah salah.


(Dari jawabanmu … apa kau juga menyukai bocah ini, bukan? Abel … apa kau sudah tidak mencintaiku?)


"Masih atau tidak, itu tiada arti, Kak. Selamanya, kita tidak akan bisa bersatu. Kita tidak bisa terjebak dalam perasaan yang sama sekali tidak diperkenankan untuk bersatu. Hubungan kita hanya bisa berdampingan, tidak akan pernah berpotongan apalagi menyatu," jawab Bella. Louis terhenyak. Hatinya semakin tidak nyaman. Ia menunggu ucapan Bella selanjutnya. 


"Sejak awal kita sudah tahu bahwa perasaan ini pada akhirnya akan menyakiti kita. Tapi … kita mengabaikannya."


Bella menatap lurus ke depan. Riak ombak tak hentinya bermain kejar-kejaran. Irama yang tercipta ditambah hembusan angin menjadi soundtrack. Bella menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. 


"Jika kau menanyakan tentang apakah aku masih mencintaimu atau tidak, maka jawabannya cinta itu sudah pudar dan sisanya sudah terkubur jauh di dalam hatiku."


Mata Louis membulat. Bibirnya terbuka namun tak ada satu kata yang ia keluarkan. Matanya yang sendu, mengandung derai air mata yang siap mengguyur pipinya beradu pandang dengan tatapan sendu Bella pula. 


"K-kau bercanda kan?"lirih Louis. Sungguh ia tidak menduga. Pantas saja Bella enggan memeluknya saat di bandara tadi pagi. 


"Kakak bukan maksudku menyakiti hatimu. Namun, hidupku, perasaanku, tidak bisa terus terjebak padamu. Kita tidak bisa menghancurkan masa depan kita, hanya karena rasa dan cinta yang tidak akan pernah bersatu. Kakak kau juga harus mulai berusaha dan belajar untuk melupakan rasa cintamu untukku." 


Louis tersenyum kecut. Air matanya menitik. Matanya terpejam merasakan tangkupan tangan Bella pada pipi. Menghapus air mata yang mengalir. Ken yang tidak mengerti apa yang istrinya dan masa lalunya itu bicarakan hanya menunjukkan wajah heran. 


Mengapa suasana jadi sedih begini? Ia cukup peka untuk merasakan perubahan suasana.


"Kubur cintamu untukku. Masa kita, kisah kita telah berakhir. Mulailah untuk menata masa depanmu dalam hal asmara. Aku tahu itu sangat sulit, karena aku juga merasakannya. Namun, ku mohon padamu. Aku percaya kamu bisa melakukannya," tutur Bella. Matanya berembun. 


Louis tidak menjawab. Ia menarik Bella dalam pelukannya. Pria itu menangis pilu di bahu Bella. Ken hendak memisahkan mereka namun tatapan melarang Bella membuatnya urung. 


Bella menepuk-nepuk pelan punggung Louis. Hatinya juga sakit mengatakan hal itu. Namun, ia harus memberi Louis aba-aba sebelum mengatakan intinya pada Louis. Louis sudah dewasa, pasti mengerti apa yang ia sampaikan. Konsekuensi dari hubungan cinta mereka pasti Louis sudah mengerti. 


"Abel bagaimana bisa aku melupakanmu? Hatiku sudah memilih dirimu. Namamu sudah bertahta di hatiku. Aku bisa melakukan apa saja yang kau minta, namun … melupakanmu … sungguh aku tidak sanggup," ucap Louis, lirih lagi terbata. 


"Aku tahu ini sulit untukmu. Tapi Kak, percayalah kau pasti bisa!"jawab Bella, lirih pula. 


Mereka ini bicara apa sih? Pakai acara nangis sama peluk lagi? Apa Aru sudah bilang kalau aku ini suaminya? Tapi kok reaksinya nggak seperti bayanganku? 


Tadi Aru juga tidak menyinggung namaku. Ck! Ken kesal sendiri pada dirinya. 


"Sudah malam. Ayo kembali ke kamarmu, Kak," ujar Bella. Louis tidak menjawab. Bella langsung ambil tindakan. Tubuh Louis serasa lemas tak bertulang. Pria itu bahkan tak menggubris kala Ken ikut memapah dirinya bersama dengan Bella. 


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?"


"Masa depan."