This Is Our Love

This Is Our Love
Soal Pendidikan



Sekitar pukul 18.00, Ken baru pulang dari perusahaan dengan dijemput oleh sopir menggunakan mobil yang sebelumnya biasa ia gunakan. Tadinya Ken ingin nebeng pulang sama Brian dan Silvia. Namun, pasangan itu ternyata tidak langsung pulang ke rumah, katanya mau menghadiri acara temannya kuliahnya Silvia. 


Hampir saja jam setengah Ken untuk tiba di mansion karena terjebak macet cukup lama. Ken menggerutu, jika naik motor gampang mau menyalip, cari jalan tikus pun gampang. Naik mobil, ya harus ekstra sabar jika sudah terjebak macet, apalagi pas jam padarnya. Kemacetan dan Ibukota, dua hal yang sampai ini belum bisa dipisahkan sama dengan ibukota dengan banjir.


"Assalamualaikum," ucap Ken saat memasuki ruang keluarga. 


"Waalaikumsalam," jawab beberapa pelayan yang muslim sedangkan yang non muslim menjawab dengan selamat malam, Tuan Muda. 


Ken menyerahkan jaket yang ia sampirkan pada pelayan, "Abel ada di mana?"


"Nona Bella ada kamar, Tuan Muda Ken." 


"Ya lain?" Ruang keluarga tidak ada siapapun kecuali para pelayan. Dari ruang makan juga tidak terdengar suara Dylan ataupun yang biasanya mencoret. Pelayan menjawab bahwa Dylan dan Calia berada di kamar masing-masing sedangkan Brian dan Silvia belum kembali. "Belum pulang juga?"gumam Ken. 


Betapa betahnya Kak Bri berada di keramaian acara Kak Via. Atau jangan-jangan ada agenda lain? Ahh bodo' ah! Toh itu privasi mereka.


Ken mengangguk mengerti dan langsung menuju ke kamarnya. 


"Assalamualaikum, Aru," sapa Ken saat memasuki kamar.


'Waalaikumsalam, Ken. Baru sampai?" Bella yang duduk di meja memutar tubuhnya ke arah Ken. Ken mengangguk, meletakkan bawaannya yang berada pada tas map dan melepas jasnya, "tadi kejebak macet terus aku magrib di masjid, takutnya nggak keburu kala magrib di rumah," jawab Ken. 


"Ya sudah, lekaslah mandi lalu kita makan malam," ujar Bella, kembali menghadap pada laptopnya.


"Kau mengerjakan apa, Aru?"tanya Ken ingin tahu. Ia kira Bella tengah bersantai. 


"Surat perizinan, mengatur jadwal pertemuan dengan kementerian untuk membahas tentang bakal proyek." Karena Bella tidak melimpahkan semua urusan jadwal pada Ken. 


"Oh … kau sungguh-sungguh berniat dengan proyek yang kau pilih, Aru?"


"Sudah seharusnya kita membangun negeri sendiri, bukan?"tanya balik Bella.


Ken tersenyum, "setelah kembali ke Indonesia, kau sangat berfokus pada pembangunan negeri," komentar Ken, mendaratkan kecupan pada pucuk kepala Bella yang dilapisi dengan hijab. 


"Delapan tahun mencari ilmu, pengalaman, dan teman di luar negeri, setelah itu pulang membangun negeri, aku rasa itu hal wajar. Hm, dan ku rasa-rasa lagi aku seperti Bapak Dirgantara kita. Apa kau tahu, Ken? Aku sudah mengunjungi bahkan merasakan pendidikan di universitas beliau dulu," terang Bella dengan wajah berseri-seri.


 Ken mendengus senyum, bagi seorang Bella, lima tahun di Jerman,tak mengunjungi universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen atau yang dikenal sebagai Universitas Achen, sebagai saksi perjuangan pendidikan Alm. Bapak **. Habibie selama 10 tahun, rasanya mustahil. 


Bella memang pernah mengenyam pendidikan di universitas Aachen. Dapat dikatakan ia satu almamater dengan Pak Habibie. Bella mengambil jurusan ilmu komputer selama ia ditugaskan perusahaan cabang.


 Satu tahun, cukup untuk Bella menamatkan studynya di sana. Oleh karenanya, Bella handal dalam ilmu komputer. Ken tidak bisa untuk tidak semakin kagum pada Bella. 


Ken saja yang bisa masuk salah satu universitas terbaik di Indonesia jalur undangan atau SNMPTN, sudah bangga, merasa bagai butiran debu di hadapan Bella. Yang gelarnya lebih dari dua yakni Sarjana Manajemen Bisnis, Sarjana Komputer, Bachelor of Arts (BA), Master of Arts (MA), dan Master Business Administration (MBA). 


Jika Bella berniat untuk mengambil gelar doktor ataupun profesor untuk melengkapi gelarnya, bukan masalah. Lain hal dengannya yang hanya akan menyandang gelar S.Pd. 


"Aru … setelah wisuda nanti aku akan mengambil kuliah managemen bisnis!"ucap Ken tiba-tiba dengan lantang.


"Hah?" Bella terhenyak dengan semangat Ken yang tiba-tiba. 


"Aku harus menambah gelar dan keahlianku!" Ken berpikir ia setidaknya harus S 2. Jika tidak seimbang nanti, okay Bella tidak mempermasalahkan. Namun, yang lain? Anak-anaknya kelak?? 


"Kau serius?"


"Ya!"


"Kalau begitu, terserah dirimu saja," tukas Bella. Ken tersenyum kemudian bergegas untuk membersihkan diri. Ken sangking berapinya lupa menanyakan tentang terapi Bella. 


"Kuliah lagi?"gumam Bella. "Haruskah aku mengambil S 3?"tanya Bella pada dirinya sendiri.


"Ahh tidak! Aku belum membangun kembali keluarga Chandra dan Buana. Aku juga masih punya misi. Selesai semua baru aku akan memikirkannya lagi."


"Lalu Nesya? Aduh aku belum mengunjunginya! Besok sebaiknya aku harus ke kampus Nesya untuk membahas tentang Nesya yang akan melanjutkan studynya setelah bebas." Bella menambah dua agenda untuk harinya besok.


*


*


*


Selesai shalat isya berjamaah, Ken dan Bella turun ke ruang makan untuk makan malam. Di sana sudah menunggu Calia dan Dylan. "Kak Bri dan Kak Via belum pulang juga?"tanya Ken, sembari menarik tempat duduknya.


"Sudah, Tuan Muda Ken. Tuan dan Nona Muda Pertama berada di kamarnya dan mereka mengatakan sudah makan malam. Jadi, makan malam tidak perlu menunggu mereka," jawab Pelayan. Ken mengangguk mengerti. 


"Kak hari ini aku sudah masuk semester 3," ucap Dylan memberitahu sampai di mana pendidikan.


"Wow, satu bulan satu semester? Apa kau tidak muntah menerima semua materi, Dylan?"lakar Bella. Sedang Calia mengeryit bingung, "bicaralah dengan bahasa yang aku mengerti," ucapnya mencembik.


"Haruskah?"tanya Bella dengan bahasa Jerman. 


"Jika tidak aku makan sendiri saja di paviliun," jawab Calia, entah mengancam atau merajuk. 


"Huh! Ada yang ngambek!"ledek Dylan dalam bahasa inggris.


"Jangan ikut campur bocah!"


"Bocah? Umurku sudah 23 tahun!"


"Bagiku kau itu bocah!"


"Kau yang bocah!"


"Hei mengapa kalian jadi ribut?"lerai Ken. Ia sudah lapar, mau makan tenang malah adu mulut.


"Hmhp!!" Keduanya mendengus dan sama-sama membuang muka satu sama lain. 


"Lupakan saja. Ayo makan!"ajak Bella lebih kepada perintah. 


"Kakak sendiri bagaimana? Apa tidak mau pecah kepala tuh demi mendapatkan semua gelar Kakak?"tanya Dylan balik, menjawab lakaran Bella tadi. Calia bisa mengerti apa yang mereka bicakan tadi, tentang pendidikan rupanya. Bella terkekeh menanggapi pertanyaan Dylan. 


"Bagaimana yang kau rasakan?"


"Ya ada suka dan dukanya," jawab Dylan. "That's true!"balas Bella.


*


*


*


Keduanya kini tengah duduk bersandar di atas ranjang dengan Bella yang membaca beberapa resume data calon mahasiswa magang di Mahendra Group. Perusahaan hanya akan merekrut dua dari sekian banyak resume magang yang diterima perusahaan. 


"Hanya pertanyaan ringan. Tidak ada masalah. Mungkin aku akan merasa beratnya nanti di hipnoterapi sama di bagian praktek langsung. Di saat itu, aku mungkin butuh dirimu menemaniku," jawab Bella mengutarakan analisisnya. 


"Rabu aku akan bekerja keras agar bisa pulang sama denganmu," ucap Ken.


"Hari Rabu sudah kau buat jadwalku untuk menguji mereka, bukan?"tanya Bella memastikan.


"Sudah." Perusahaan sudah melakukan seleksi dan ada sepuluh resume yang diterima. Yang lain sudah gugur dan dari yang sepuluh ini akan dipilih hanya dua orang. Untuk magang saja sudah begitu ketat. Untuk menjadi karyawan resmi, pasti lebih ketat lagi.


"Aru, bye de way, apa kau ada merasakan perubahan pada tubuhmu? Misal … mensmu? Perasaan? Atau berat badan?"tanya Ken karena sejauh pengamatannya, Bella terlihat seperti biasanya. 


"Tanggal mens? Sepertinya agak terlambat sih. Mungkin karena aku sangat sibuk, jadi pengaruh. Dulu, sewaktu kuliah dan di Jerman aku sempat beberapa kali mengalaminya," jawab Bella, tanpa ada curiga ke mana arah maksud Ken sebenarnya. 


"Ah okay. Kau sudah minum vitaminmu kan, Aru?"tanya Ken mengingatkan. 


"Itu rutinitasku," jawab Bella tersenyum. 


"Kalau begitu, boleh …."


"Aku lelah, Ken," jawab Bella yang mengerti arti tatapan puppy eyes itu. Bella meletakkan resume yang ia pegang di atas nakas kemudian berbaring. "Hei jangan berbohong padaku, Aru!" Ken jelas tahu Bella berbohong. Jika ia tidak mengatakan hal itu, pasti Bella masih memegang dan membaca resume itu sampai akhir.


"Sekali saja, ya?"


"Kau penipu!"ketus Bella.


"I swear. Hanya sekali." Ken mengangkat jarinya membentuk peace.


"Jika berbohong kau harus berpuasa selama dua minggu!"


"Fine!"


*


*


*


"Ah ya Dylan, nanti siang rencananya Kakak mau menjenguk Nesya, apa kau mau menjenguk Nesya juga?"tanya Bella  setelah sarapan dan sebelum beranjak dari ruang makan untuk berangkat kerja.


"Mau, Kak!"jawab Dylan langsung.


"Baiklah. Nanti minta antar saja sama sopir, kalau Calia mau ikut, ya kalian berdua," ujar Bella yang diangguki Calia dan Dylan.


"Kami tidak diajak?"tanya Silvia dengan nada sedihnya.


"Memangnya Kak Via mau ikut?"


"Jam 12, kan?" Brian yang menjawab pertanyaan Ken. 


"All right. Kita menjenguk Nesya saat makan siang nanti," tukas Bella.


*


*


*


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Nesya yang baru masuk ke ruang besuk.


"Loh?" Nesya terpana sendiri melihat siapa saja yang mengunjunginya. Bisa dikatakan satu keluarga. Dylan meletakkan makan siang yang ia bawa Nesya di atas meja. Sedang Bella lebih membawakan Nesya snack dan biskuit, juga beberapa buah kering. Untuk Silvia dan Brian, mereka berdua membelikan Nesya madu murni, susu cair kaleng putih, dan beberapa kotak fitbar. 


"Bagaimana kondisimu di sini, Sya? Kau baik-baik saja, kan?"tanya Dylan cemas.


"Seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja."


"Aku lega mwndengarnya."


"Kalian ini janjian ya? Dan ini? Siapa yang akan menghabiskannya?"


Nesya menatap meja yang penuh dengan bawaan keenam orang itu. "Itu bagus untuk kesehatanmu. Dan yang pasti tahan untuk disimpan cukup lama," ujar Silvia. Benar juga sih, tapi … Nesya tetap saja terlalu banyak.


"Jika aku bagi dengan teman-teman satu sel, no problem, kan?"


"Itu hakmu," jawab Brian. 


"Ah … okay." Karena waktu hanya sebentar, Brian dan Silvia pamit lebih awal. Dan Ken ikut dengan mereka karena jadwal Bella setelah ini menguji sendiri ke sepuluh calon magang yang akan masuk ke Mahendra Group.


Bella dan Dylan menambah waktu. Sedang Calia menunggu dengan bermain ponsel di ruang tunggu. 


"Jadi, aku bisa melanjutkan semesterku asal aku lulus tes semester sebelumnya?"tanya Nesya memastikan. Bella mengangguk. Tadi pagi ia sudah mengkontak beberapa dekan berikut rektor tempat Nesya sebelumnya menimba ilmu kedokteran. 


"Tentu saja aku bersedia!"jawab Nesya mantap.


"Good!"


"Nesya, kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu. Aku akan menunggumu keluar dan kuliah bersama!"ucap Dylan semangat.


"Kau mau mengambil jurusan kedokteran?"tanya Nesya dan Bella terkejut.


"Aku rencananya akan mengambil dua jurusan," jawab Dylan dengan senyum polosnya.


"Hei, jangan tunjukkan geniusmu di depanku!"seru Nesya, gemas dengan Dylan.


Dan Bella hanya menggeleng pelan. Terkadang dunia orang genius itu sukar untuk dimengerti.